
Siang ini Sandra dan Aileen datang mengunjungi keluarga kecil Aleera. Sejak beberapa hari yang lalu Aileen terus merengek kepada Sandra ingin ke rumah Aleera untuk bertemu dengan baby Arzan. Dan baru hari ini Sandra bisa mengajak Aileen ke rumah Aleera.
"Enda... Ilin mau adek yang kaya adek Ajian." Aileen lagi-lagi merengek menginginkan seorang adik.
"Iya, Aileen sabar dan terus berdoa ya nak, semoga Allah cepet kasih Aileen adek yang Aileen pengen." Jawab Sandra dengan lembut.
"Ilin beldoa setiap hali, tapi adek Ilin mana?" Tanya Aileen dengan wajah cemberut.
"Pokoknya Aileen terus berdoa, nanti pasti Allah kasih." Jawab Sandra.
Aleera yang melihat itu hanya diam. Dapat Aleera lihat ada kesedihan dimata Sandra saat ini. Aleera sendiri tidak tau apa. Karena Sandra yang sekarang benar-benar tertutup mengenai masalah pribadinya, terutama masalah pernikahannya. Aleera sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut mengenai hal itu, tapi Aleera merasa tidak enak. Aleera merasa itu bukan lagi ranahnya untuk mencampuri urusan rumah tangga Sandra. Memang antara Aleera dan Sandra memiliki hubungan sebagai ipar dan mereka juga bersahabat, tapi Aleera yang memang sejak dulu tidak suka mencampuri urusan orang lain semakin tidak enak kalau dia harus ikut campur. Apalagi kemarin Aleera sudah banyak ikut campur mengenai rumah tangga Sandra dengan Daven. Tapi kalau Sandra mau bercerita, Aleera akan dengan senang hati mendengarkannya.
Untungnya tidak lama kemudian Ariel mengajak Aileen untuk bermain. Hingga gadis kecil itu melupakan rengekannya yang menginginkan seorang adik. Dan kini hanya tinggal Aleera dan Sandra yang duduk bersisian bersama baby Arzan yang tertidur dengan pulas.
"Hubungan kamu sama Bang Daven udah semakin baik kan San?" Ujar Aleera membuka pembicaraan.
Aleera yang awalnya tidak ingin ikut campur tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Karena biar bagaimanapun, Aleera merasa kalau dia adalah sahabat Sandra, dan Aleera peduli dengan sahabatnya itu.
"Iya baik Ly, jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi...." Sandra menghentikan ucapannya.
"Kenapa?" Tanya Aleera dengan lembut.
Sandra menghela nafas pelan, meyakinkan diri bahwa bercerita kepada Aleera akan membuat beban yang selama ini ada dipundaknya akan sedikit terangkat. Sandra sendiri tentu tidak bisa menceritakan apa yang terjadi sebenarnya dalam rumah tangganya selain kepada Aleera. Karena saat ini hanya Aleera yang Sandra percaya untuk dia berbagi keluh kesah dan menyimpan rahasianya ini.
Tapi bukan berarti Sandra tidak percaya dengan anggota keluarganya yang lain. Sandra sangat percaya, hanya saja jika Sandra bercerita kepada mereka, terutama kepada Ayah Radit, Kendra dan Rendra, mereka pasti akan... Ya kalian tau sendirilah apa yang akan mereka lakukan jika tahu kalau selama ini ternyata Sandra menderita karena Daven.
"Kalau kamu belum siap buat cerita, nggak papa San. Jangan dipaksa." Ujar Aleera.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Enggak Ly, aku mau cerita sama kamu." Jawab Sandra.
Setelah menarik nafas panjang, mengalirlah sebuah curhatan dari bibir Sandra. Dari bibirnya yang bergetar dan matanya yang mulai memerah, Sandra dengan sekuat tenaga mencoba untuk menahan air matanya.
"Bang Cio nggak mau aku hamil." Ujar Sandra mengawali ceritanya.
Aleera mengerutkan dahinya. Ternyata ada ya seorang suami yang tidak ingin istrinya hamil?
"Alasannya?" Tanya Aleera dengan tenang.
Sandra menggelengkan kepalanya.
Aleera terdiam mencoba untuk mencerna cerita Sandra.
"Kalau Bang Daven pengen free child, kayanya itu bukan alasannya deh. Secara di pernikahan pertama Bang Daven dan almarhum istrinya hadir Aileen. Jadi..." Aleera berbicara dalam hati dan menatap Sandra.
"Penyebab almarhum istrinya Bang Daven dulu meninggal apa San?" Tanya Aleera kepada Sandra.
Sandra terdiam sejenak.
"Setau aku karena pendarahan pasca melahirkan Aileen." Jawab Sandra.
"Nahh... Itu, itu pasti alasan Bang Daven nggak pengen kamu hamil San. Karena Bang Daven nggak mau apa yang terjadi sama istrinya dulu, terjadi juga sama kamu. Bang Daven tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu." Ujar Aleera memberikan tanggapannya.
Sementara itu Sandra terdiam.
"Apa mungkin karena itu ya, Ly?"
Pikiran-pikiran buruk mengenai Daven yang melarang dirinya hamil, mendadak hilang dari kepala Sandra. Sandra pikir apa yang Aleera katakan benar. Daven tidak ingin Sandra hamil karena dia tidak ingin Sandra juga mengalami hal yang sama dengan Larisa. Tapi...
"Tapi hidup dan mati seseorang sudah takdir, Ly. Harusnya Bang Cio nggak boleh seperti itu. Belum tentu kalau aku hamil aku juga bakalan meninggal juga seperti Kak Larisa. Dan, walaupun nantinya memang begitu, aku enggak masalah kalau aku meninggal karena melahirkan anak aku." Ujar Sandra.
Aleera menghela nafas.
"Kita yang enggak punya trauma itu mungkin bisa dengan mudah berpikir seperti itu, San. Tapi Bang Daven memiliki trauma. Seperti yang kamu tau, Ayah menjalani operasi vasektomi juga karena trauma melihat Bunda keguguran. Setelah itu Ayah tidak mau membuat Bunda hamil lagi kan? Dan aku juga pernah mengalami trauma dengan yang namanya ditinggalkan setelah orang tua aku meninggal dan setelah Chyara juga meninggal. Lalu apa yang dulu kamu sarankan ke aku? Konsultasi dengan psikolog. Ada baiknya juga kalau kamu mengajak Bang Daven untuk konsultasi juga, San." Ujar Aleera.
Aleera pikir Daven memang membutuhkan bantuan profesional untuk menghilangkan traumanya itu.
Sandra menghela nafas. Dalam hati Sandra membenarkan semua ucapan Aleera.
"Tapi sebelum itu, kamu tanyakan sama Bang Daven masalah ini sampai jelas, San. Baru setelah itu kalian bisa mengambil keputusan yang terbaik." Ujar Aleera.
Dulu Sandra lah yang secara tidak langsung membantu Aleera dan Kendra menyelamatkan rumah tangga mereka. Kalau dulu Sandra tidak ikut campur, entah apa yang akan terjadi. Mungkin saja saat ini Aleera dan Kendra sudah bukan lagi sepasang suami istri. Dan sekarang Aleera merasa kini adalah giliran dirinya membantu Sandra mengatasi permasalahan rumah tangganya. Aleera berharap apa yang dia lakukan ini membuat rumah tangga Sandra dan Daven menjadi lebih baik.
"Iya Ly, sepertinya aku harus segera menyelesaikan masalah ini. Dan seperti yang kamu bilang, aku pikir Bang Cio memang membutuhkan bantuan profesional untuk mengatasi masalah ini." Jawab Sandra.
Aleera tersenyum tipis.
"Sabar ya San, aku yakin kamu dan Bang Daven bisa mendapatkan jalan keluar terbaik." Aleera menggenggam dengan erat tangan Sandra untuk mengalirkan sedikit kekuatan untuk sahabatnya itu.