Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Tergoda


Setelah acara 7 bulanan Aleera selesai. Anak-anak langsung masuk ke kamar Bunda Sya dan Ayah Radit. Bunda Sya tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa tidur bersama dengan cucu-cucunya. Kamar Bunda Sya yang besar sangat cukup untuk Aileen, Ariel, dan Aidan tidur disana.


Karena itulah, kini Sandra dan Daven hanya berdua saja di kamar. Meski begitu, baik Sandra ataupun Daven sama sekali tidak terlihat canggung.


"Kerjaan Abang masih banyak ya?" Ujar Sandra membuka pembicaraan.


"Lumayan. Kamu tau sendiri kan gimana padatnya kerjaan kita kalau akhir bulan seperti ini." Jawab Daven.


"Apalagi tadi aku nggak masuk kantor." Ujar Sandra bergumam.


Daven tersenyum tipis.


"Nggak papa, dengan kamu masuk ataupun enggak, kerjaan kita emang banyak kan? Santai aja, San." Jawab Daven.


Daven bisa melihat kalau saat ini Sandra sedang merasa bersalah kepadanya. Tapi menurut Daven sendiri sebenarnya Sandra tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Lagi pula hal ini sudah biasa terjadi setiap akhir bulan seperti ini.


"Ada yang bisa aku bantu nggak, Bang?"


"Enggak, ini udah hampir selesai kok." Jawab Daven.


Tidak ingin mengganggu Daven, kini Sandra memilih untuk duduk di ranjang sembari memainkan ponselnya. Dari pada gabut ya kan? Apalagi tidak ada Aileen yang bisa Sandra ajak main.


Namun yang terjadi setelahnya, tanpa sadar Sandra justru tertidur masih dengan posisi duduk. Daven yang melihat itu menggelengkan kepalanya gemas. Sandra terlihat seperti seorang gadis yang tidak memiliki dosa, benar-benar polos.


Melihat posisi tidur Sandra, Daven yang sudah menyelesaikan pekerjaannya beranjak dari sofa dan menghampirinya.


Dengan lembut, Daven membenarkan posisi tidur Sandra agar lebih nyaman. Karena kalau dibiarkan lebih lama lagi, leher Sandra pasti akan sakit.


Tapi...


Tanpa sengaja gerakan Daven saat membenarkan posisi tidur Sandra membuat dress tidur yang Sandra gunakan tersingkap hingga memperlihatkan separuh paha gadis itu.


Tidak ingin menjadi laki-laki brengsek, Daven memutuskan untuk segera membenarkan dress yang Sandra pakai.


Tidak munafik, jujur saja sebagai seorang laki-laki normal yang sebelumnya pernah merasakan nikmatnya hubungan suami istri, Daven pun tergoda oleh tubuh Sandra. Apalagi tubuh Sandra bisa dikatakan sangat ideal dan... seksi.


Dengan cepat Daven menggelengkan kepalanya.


"Jangan gila Dave..."


Setelah memastikan tubuh Sandra tertutup dengan rapi, Daven memutuskan untuk duduk di balkon untuk menjernihkan pikirannya yang mendadak menjadi kotor setelah melihat tubuh Sandra.




Entah karena apa, tiba-tiba Sandra terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 11 malam.



"Aku ketiduran ya?" Ujar Sandra kepada dirinya.



Sandra menatap sekitar, namun tidak dia temukan Daven yang biasanya tidur di sofa. Bahkan selimut dan bantal yang Sandra siapkan saja masih tertata rapi disudut sofa.



"Bang Cio kemana?" Lagi-lagi Sandra hanya bisa bergumam seorang diri.



Baru saja Sandra hendak beranjak untuk mencari Daven, mendadak kandung kemihnya terasa penuh. Hingga akhirnya Sandra memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.



Selesai dari kamar mandi, Sandra dikejutkan dengan kehadiran Daven yang ternyata sudah ada dikamar.



"Abang dari mana? Tadi aku bangun kok nggak ada?" Sandra bertanya guna untuk menuntaskan rasa penasarannya.



"Dari balkon, abis cari angin." Jawab Daven jujur.



Bukannya Daven berniat mesum, tapi entah karena apa mendadak dia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Sandra. Daven sendiri merasa aneh, padahal bukan sekali atau dua kali dia melihat Sandra tidur menggunakan dress tidurnya seperti ini, bahkan bisa dikatakan sudah sangat sering. Tapi kenapa hari ini Sandra terlihat menarik dimata Daven?



"Bang..."



"Bang..."



"Ha? Kenapa?" Tanya Daven dengan wajah sedikit terkejut.



"Abang kenapa? Kok kayanya lagi nggak fokus gitu sampai aku panggil-panggil aja nggak nyaut. Abang sakit?" Terlihat jelas kalau Sandra menghawatirkan Daven.



Sementara itu, Daven hanya menggelengkan kepalanya.



Jawab Daven membuat Sandra bisa bernafas dengan lega. Sandra benar-benar khawatir kalau ternyata Daven sakit.



"Kenapa bangun?" Tanya Daven mengganti topik pembicaraan.



"Enggak tau, tiba-tiba aja tadi kebangun." Jawab Sandra.



Sandra sendiri memutuskan untuk kembali naik ke ranjang, sementara Daven hanya terdiam menatap kearah Sandra.



"Bang Cio belum mau tidur?" Tanya Sandra kepada Daven.



Daven menggelengkan kepalanya.



"Ya udah, kalau gitu aku tidur duluan ya. Lampunya aku matiin nggak papa kan?" Sandra yang memang sudah merasa mengantuk memutuskan untuk tidur lagi.



Lagi pula sudah jam segini kalau nggak tidur mau apa coba? Ngobrol sama Daven? Tidak-tidak, tau sendiri kan kalau Daven bukan orang yang bisa diajak ngobrol lama. Yang ada nanti Sandra bingung sendiri karena harus terus mencari topik pembicaraan.



Setelah Daven menganggukkan kepalanya, Sandra langsung mematikan lampu utama kamar dan menggantinya dengan lampu tidur temaram.



Baru saja Sandra memejamkan mata, tiba-tiba Sandra merasakan ada pergerakan dari ranjang yang dia tiduri. Hal ini membuat Sandra langsung menolehkan wajahnya ke sisi ranjang disebelahnya yang memang kosong. Sandra sama sekali tidak berpikir kalau Daven akan tidur di ranjang ini bersama dengannya. Tapi... pada kenyataannya, memang Daven yang naik ke atas ranjang.



"Bang..." Sandra memanggil Daven dengan suara lirih.



Dari matanya, Sandra bisa melihat ada sebuah sorot yang berbeda pada Daven.



"Aku boleh tidur disini kan? Badan aku pegel-pegel kalau tidur di sofa." Ujar Daven kepada Sandra.



Sandra yang masih terkejut menganggukkan kepala.


"Boleh, lagian disini masih luas kok." Jawab Sandra dengan suara lirih.



Setelah mengatakan itu, Sandra langsung mengubah posisinya menjadi membelakangi Daven. Bukan apa-apa, hanya saja saat ini Sandra merasa sangat gugup. Kenapa gugup? Karena ini menjadi kali pertama Sandra dan Daven tidur disatu ranjang yang sama.



Tanpa Sandra tau, saat ini pun Daven juga sedang merasa sama gugupnya dengan Sandra. Daven sendiri tidak tau kenapa hari ini rasanya dia sangat ingin bisa merasakan tidur dengan Sandra ada disampingnya.



Oke, Daven tidak akan mengelak dan berputar-putar mencari alasan. Saat ini Daven akan mengatakan dengan jujur bahwa dia menginginkan Sandra. Menginginkan gadis itu menjadi milik dirinya seutuhnya.



Setelah kematian Larisa selama 3 tahun. Daven kira dia sudah tidak memiliki nafsu dengan wanita lain. Tapi ternyata salah, untuk pertama kalinya Daven merasa dia kehilangan kontrol dirinya. Daven benar-benar menginginkan Sandra.



Dengan tekad dan keberanian, Daven mendekat kearah Sandra. Kemudian memeluk tubuh semampai Sandra yang seperti biasa selalu terasa pas dalam pelukannya. Sudah pernah Daven katakan sebelumnya, kalau dengan memeluk Sandra membuat dirinya merasa nyaman.



"Kamu sudah tidur, San?" Ujar Daven berbisik di telinga Sandra.


.


.


.


*Hohoho... Bentar lagi, sabar-sabar ya buat yang udah nunggu momen ini🀣🀣*



*Jangan lupa kritik dan sarannya 😍*



***Terima Kasih πŸ₯°πŸ˜˜***