Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Mencoba bertahan


Sejak sore, Sandra dan Daven tidak saling bertegur sapa setelah pembahasan itu. Keduanya bersikap seolah mereka adalah orang asing yang terpaksa harus tinggal dibawah atap yang sama.


Kalau biasanya Sandra selalu melayani Daven makan, kini tidak sama sekali. Sandra bahkan tidak memanggil Daven saat makan malam sudah siap. Dan Daven juga tidak terlihat turun untuk makan.


Saat Aileen bertanya kepada Sandra kenapa Daddy-nya tidak turun untuk makan malam bersama dengan mereka, Sandra hanya menjawab kalau Daven sedang banyak pekerjaan. Seolah mengerti, Aileen tidak lagi bertanya kepada Sandra.


Dan kini, seperti sebelumnya, Sandra memilih untuk tidur di kamar Aileen. Sandra merasa kalau dia sudah tidak bisa lagi mentotelir sikap Daven setelah secara tidak langsung laki-laki itu meminta Sandra untuk menggugurkan kandungan dirinya.


"Bunda... Adek Ilin nanti cowok atau cewek?" Tanya Aileen kepada Sandra.


Ya, Aileen memang sudah tau kalau saat ini Sandra tengah hamil dan sebentar lagi akan memberikan adik kepada Aileen. Karena tadi di rumah Aleera, orang-orang juga mengucapkan selamat kepada Aileen dengan mengatakan kalau sebentar lagi gadis kecil itu akan menjadi seorang kakak. Dan Aileen yang pada dasarnya sangat ingin memiliki adik pun langsung bersorak dengan bahagia.


Sandra tersenyum mendengar pertanyaan Aileen.


"Aileen pengennya punya adek cowok atau cewek?" Ujar Sandra balik bertanya.


"Eehhmm... Ilin mau adek cowok, bial kaya adek Alzan." Jawab Aileen dengan semangat.


Sandra mengusap dengan lembut puncak kepala Aileen.


"Kalau gitu, Aileen terus berdoa ya sayang. Biar adek Aileen cowok." Jawab Sandra dengan lembut.


"Ilin halus beldoa lagi, Bunda?" Tanya Aileen dengan polosnya.


"Iya.. Karena kalau Aileen pengen sesuatu. Aileen harus minta sama Allah. Dan cara mintanya yaitu dengan berdoa." Ujar Sandra menjelaskan.


Dan seperti biasa, Aileen yang pada dasarnya memang cerdas langsung mengerti dengan apa yang Sandra katakan.


"Iya Bunda... Ilin bakal beldoa telus bial adek Ilin cowok kaya adek Alzan." Jawab Aileen.


"Tapi kalau adek Aileen nanti cewek gimana? Aileen bakal tetep sayang kan?" Tanya Sandra.


Meskipun Sandra mendukung Aileen untuk berdoa agar kelak adiknya berjenis kelamin laki-laki, tapi Sandra juga merasa perlu untuk memberikan pengertian kepada Aileen bahwa mau laki-laki ataupun perempuan, Aileen nantinya harus tetap menyayangi adiknya.


"Ehmm... kalau cewek nggak papa dech. Ilin juga syuka adek cewek. Nanti Ilin sayang-sayang..." Jawab Aileen seraya tersenyum.


Lihat, betapa pintar dan dewasanya seorang Aileen. Gadis cilik yang sebentar lagi akan berusia 4 tahun ini sudah mengerti bahwa sebagai seorang kakak dia harus menyayangi adiknya.


"Hebat deh... Makasih ya sayang." Sandra memberikan kecupan pada dahi Aileen. "Sekarang Aileen bobok ya, besok harus berangkat sekolah kan?" Tanya Sandra dengan lembut.


Aileen menganggukkan kepalanya. Kemudian langsung membaca doa tidur sebelum akhirnya gadis cilik itu memejamkan matanya.


Kini setelah Aileen tertidur dengan nyenyak, yang bisa Sandra lakukan hanya menatap gadis cilik yang selama hampir 2 tahun ini berstatus sebagai putrinya.


"Aileen tau kan sayang kalau Bunda sayang banget sama kamu?" Tanya Sandra dengan lembut. Dan tentu saja pertanyaan Sandra tidak mendapatkan jawaban dari Aileen. "Kalau misal Bunda sampai berpisah sama Daddy, Aileen masih tetap mau kan anggep Bunda sebagai Bunda-nya Aileen?" Tanya Sandra lagi.


Meski saat ini Sandra belum memiliki keinginan untuk berpisah dengan Daven. Tapi siapa yang akan tau dengan masa depan? Karena sejujurnya saat ini Sandra mulai ragu untuk mempertahankan rumah tangganya ini.



Sementara itu, saat ini Daven sedang duduk termenung sendirian di kamarnya. Wajahnya terlihat bingung dan putus asa. Karena jujur saja, kabar kehamilan Sandra benar-benar mengguncang Daven. Daven sangat terkejut saat ini. Daven masih sangat menyayangkan kenapa Sandra begitu ceroboh sampai membuat dirinya hamil. Padahal selama ini Daven sudah dengan jelas mengatakan kalau dia tidak ingin memiliki anak lagi.



Dan sekarang nasi sudah menjadi bubur. Kini Sandra sedang mengandung anaknya. Lalu sekarang apa yang harus Daven lakukan? Daven benar-benar bingung. Tidak mungkin juga Daven meminta Sandra untuk menggugurkan kandungannya. Daven masih memiliki hati nurani, dia tidak mungkin tega membunuh dara dagingnya sendiri. Lagi pula bukan anak yang menjadi masalahnya. Karena sejujurnya Daven juga sangat ingin memiliki anak lagi. Yang menjadi masalah hanyalah kehamilan Sandra. Daven tidak ingin Sandra hamil... Daven takut... Takut dengan sesuatu yang sebelum terjadi kepada Larisa di kehamilannya dulu.



Dan mengenai ucapan Daven tadi, sungguh Daven tidak berniat mengatakan itu. Daven hanya terlalu kalut. Dan saat Sandra bertanya seperti itu, Daven tanpa berpikir menjawab hal itu. Daven tau kalau Sandra pasti sangat tersakiti dengan ucapannya. Tapi Daven tidak bisa menarik kata-katanya kembali. Semua sudah terjadi.



Daven menyugar rambutnya dengan kasar. Dilihat jam di dinding yang saat ini sudah menunjukkan pukul 11 malam. Itu berarti sudah sejak sore Daven duduk berdiam diri seperti ini. Dan Daven baru sadar, kalau sejak Sandra keluar dari kamar setelah mandi tadi, istrinya itu sama sekali tidak pernah masuk lagi.



Daven tau kalau saat ini Sandra pasti sangat marah kepada dirinya. Dan wanita itu memutuskan untuk tidur di kamar Aileen.



Keesokan paginya, lagi-lagi tidak ada obrolan apa-apa diantara Sandra dan Daven. Mereka masih tetap sama-sama diam. Hanya saja kali ini Sandra tetap menyiapkan baju kerja yang akan Daven pakai. Tapi setelah itu, tidak ada lagi. Sandra langsung turun ke bawah meskipun Daven belum menyelesaikan mandinya.


Kalau Sandra terlihat biasa saja di depan ART mereka, maka berbeda dengan Daven yang memang terlihat sangat menghindari Sandra. Entahlah, tapi perubahan sikap Daven begitu sangat terlihat.


Sesampainya di kantor pun seperti itu, meskipun mereka tetap jalan bersisian, Daven sama sekali tidak menggandeng tangan Sandra seperti yang biasa dia lakukan. Saat Sandra menawarkan diri untuk membuatkan kopi, Daven juga menolak. Daven benar-benar menghindari semua interaksi yang melibatkan Sandra.


Dan satu lagi, di jam makan siang, Daven juga memilih untuk makan di luar dengan dalih sekalian rapat. Daven sama sekali tidak menghubungi Sandra dan memberitahunya. Sehingga membuat Sandra menunggu di kantor sepanjang istirahat. Sampai akhirnya Sandra memutuskan untuk tetap makan sendiri meskipun perasaannya saat ini sedang sangat campur aduk. Sandra sangat sadar kalau dia tidak boleh mengabaikan keberadaan calon bayi dalam perutnya.


Pada intinya, sejauh ini Sandra masih bertekad untuk tidak menyerah dengan rumah tangganya. Sandra masih mencoba untuk bertahan.