
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam, dan Daven baru bisa masuk ke kamar karena sebelumnya bersama dengan Daddy Dani, Ayah Radit, Davian, Kendra dan Rendra berada dibawah untuk menemani beberapa tamu kolega mereka.
Begitu Daven membuka pintu kamar hotel dengan tipe presidential suite yang tidak hanya terdapat kamar saja didalamnya. Karena di kamar ini terdapat juga dapur, ruang tamu, dan beberapa ruangan lagi yang tentu saja memiliki fasilitas mewah. Suasana sudah sangat sepi tentu saja karena sepertinya Sandra sudah tidur dikamar. Dan karena sudah tengah malam, yang lain juga pasti sudah masuk ke kamar masing-masing.
Tapi ternyata dugaan Daven salah, karena nyatanya Sandra sama sekali belum tidur. Saat Daven masuk ke kamar, terlihat Sandra masih duduk diatas ranjang dengan posisi bersandar sembari memainkan ponselnya.
“Belum tidur?” Tanya Daven menyapa Sandra.
Membuat Sandra yang tidak menyadari kalau Daven sudah masuk kamar menjadi sedikit terkejut.
“Eehh, belum Bang. Belum ngantuk soalnya.” Jawab Sandra.
Daven hanya menganggukkan kepalanya. Tangannya sibuk membuka jas dan juga kancing kemeja putih yang dia pakai.
“Tamu-tamu udah pada pulang Bang?” Tanya Sandra berbasa-basi. Karena rasanya akward saja. Disaat mereka sedang berdua seperti ini tapi sama sekali tidak ada pembicaraan diantara mereka.
“Iya, udah pulang semua.” Jawab Daven. “Kenapa?” Tanya Daven sembari membalikkan tubuhnya kearah Sandra. Memperlihatkan pahatan-pahatan sempurna pada tubuhnya yang merupakan hasil dari gym pada perutnya kearah Sandra.
Sandra menggelengkan kepalanya. Mendadak merasa gugup saat matanya melihat pahatan sempurna pada tubuh Daven.
“Enggak, enggak papa. Cuma tanya doang.”Ujar Sandra yang kemudian kembali mengalihkan matanya kearah ponselnya lagi. Tidak kuat kalau harus lama-lama melihat tubuh Daven. Bisa-bisa nanti Sandra mendadak menjadi perempuan agresif karena menyerang Daven lebih dulu.
Daven bukan tidak menyadarinya. Daven tau kalau Sandra yang kali ini salah tingkah. Lihat saja bagaimana wajah Sandra yang mendadak terlihat memerah itu. Namun Daven tidak mengatakan apa-apa, dia berlalu begitu saja meninggalkan Sandra berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Begitu Daven masuk ke kamar mandi, barulah Sandra bisa bernafas dengan lega. Selalu saja seperti ini, jantungnya akan berdetak menjadi tidak normal setiap kali Daven ada didekatnya, terutama saat Daven sedang dalam penampilan paling menggodanya. Ditambah ini adalah malam pertama mereka setelah tadi pagi sah menjadi sepasang suami istri. Bagaimana Sandra tidak ketar-ketir coba?
Daven sengaja memperlama waktu mandinya, berharap saat keluar dari kamar mandi nanti Sandra sudah tidur. Tapi nyatanya Daven salah, karena saat Daven keluar dari kamar mandi, Sandra masih terjaga dan sedang memainkan ponselnya seperti saat pertama Daven masuk tadi.
“Tidur San, udah malem.” Ujar Daven dengan suara datar khasnya.
Sandra mengangkat kepalanya dan menatap kearah Daven. Kali ini Sandra bisa bernafas dengan lega. Karena tidak seperti yang Sandra bayangkan, Daven ternyata keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap dengan atasan kaos dan celana tidur panjang. Dasar, memang otak Sandra saja yang mesum. Tadi Sandra berpikir kalau Daven akan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya saja. Oke mari lupakan itu. Eeehh... Tunggu-tunggu, tapi tadi Sandra tidak melihat saat Daven mengambil bajunya. Apa Sandra terlalu terpesona dengan dada bidang dan perut kotak-kotak milik Daven?
“Iya Bang, sebentar lagi. Abang tidur duluan aja.” Jawab Sandra.
Setelah Daven duduk di sofa, barulah Sandra bisa mencerna semuanya.
“Bang Cio nggak tidur di ranjang aja? Kayanya sofa terlalu kecil deh buat Abang.” Ujar Sandra. Dari suara dan ekspresi wajah yang Sandra tampilkan, Sandra mencoba untuk terlihat biasa saja seolah pertanyaan itu hanyalah pertanyaan tidak penting dan hanya sekedar basa-basi saja.
“Enggak papa, takutnya kalau aku tidur disitu justru ganggu dan buat kamu nggak nyaman." Jawab Daven.
“Ooo...” Hanya respon singkat yang Sandra tunjukkan. “Ya udah, kalau gitu lampunya tolong matiin semua ya Bang, aku udah mau tidur dan nggak bisa tidur kalau masih ada cahaya lampu yang nyala.” Ujar Sandra kepada Daven.
Daven menganggukkan kepalanya, kemudian mengambil remot lampu yang tergeletak diatas meja disampingnya dan mematikan semua lampu seperti permintaan Sandra. Sementara itu, Sandra yang tadi sudah memejamkan matanya sesaat sebelum Daven mematikan lampu, membuka matanya lagi. Dan sekarang kamar sudah dalam keadaan gelap gulita. Hanya ada beberapa cahaya yang bersumber dari luar yang sama-samar masuk sampai dalam.
Jujur, Sandra sama sekali tidak berekspektasi apapun mengenai malam pertamanya dengan Daven. Sama sekali Sandra tidak membayangkan kalau malam ini akan menjadi malam yang romantis antara dirinya dan Daven. Tidak, Sandra tidak berani membayangkan itu semua. Dia cukup tau diri untuk tidak membayangkan hal seperti itu disaat dirinya sangat tau bahwa hati Daven bukanlah miliknya, melainkan masih milik mendiang istrinya.
Tapi, Sandra juga tidak mengira kalau Daven akan memilih tidur di sofa dibandingkan dengan tidur di ranjang bersama dengannya. Sandra pikir, setidaknya kalaupun jelas tidak seperti malam pengantin seperti pada umumnya, Daven akan tetap tidur satu ranjang dengannya. Bukan malah seperti ini. Karena jujur, ini membuat Sandra benar-benar terluka. Tapi sekali lagi Sandra tidak bisa menyalahkan Daven. Sandra sadar, Daven melakukan semua ini karena laki-laki itu tidak ingin menghianati Larisa. Tapi disisi lain, Sandra pun bisa merasakan kalau ego didalam dirinya sendiri pun tidak terima dengan apa yang Daven lakukan saat ini. Bukankan Sandra dan Daven sudah sah menjadi suami istri? Tapi kenapa hanya untuk tidur dalam satu ranjang pun Daven seperti tidak sudi. Kenapa pula harus berasalan kalau laki-laki itu tidak ingin mengganggu dan membuat dirinya tidak nyaman? Padahal jelas-jelas Sandra tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Sekarang apakah Sandra harus mengatakan kalau dirinya justru ingin Daven tidur disampingnya agar laki-laki itu tidak mengambil kesimpulan sendiri? Tidak-tidak, itu justru akan merendahkan harga diri dirinya.
Memikirkan bagaimana Daven sampai sebegitunya menjaga perasaan Larisa yang jelas-jelas raganya saja sudah tidak ada di dunia ini, jujur itu membuat Sandra sedih hingga akhirnya air mata menetes begitu saja ditengah-tengah kegelapan kamar ini. Sekarang, sanggupkah Sandra bersaing dengan seseorang yang telah meninggal dunia untuk mendapatkan hati Daven? Awalnya Sandra optimis dia bisa melakukannya. Tapi hari ini, rasa optimis itu berubah menjadi pesimis. Sandra benar-benar merasa tidak peraya diri. Ya, Sandra seperti kehilangan kepercayaan dirinya.
“Tidak apa-apa Sandra, ingat bahwa tujuan utama kamu menikah sama Bang Cio bukan untuk mendapatkan hatinya. Melainkan menjadi ibu yang baik untuk Aileen.” Ujar Sandra dalam hati.
Sekali lagi, Sandra menggunakan Aileen untuk menjadi penyemangat dan kekuatannya. Malam ini Sandra kembali menguatkan tekadnya untuk menjadi ibu terbaik Aileen. Sandra juga bertekad untuk mengubur dalam-dalam keinginannya untuk memiliki hati Daven. Biarlah perasaan ini menjadi milik dirinya saja. Kalau suatu saat nanti Daven memberikan hatinya untuk dirinya, Sandra anggap itu hanya bonus atas perjuangannya. Dan sekali lagi Sandra katakan, kalau Sandra sama sekali tidak berharap.