Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Takut kehilangan


"Dit, gue mau minta maaf atas apa yang udah Daven lakukan ke Sandra. Gue juga nggak nyangka kalau Daven bakal melakukan itu. Maaf banget... Karena Putri loh terluka karena anak gue." Ujar Daddy Dani kepada Ayah Radit.


Ayah Radit tersenyum, kemudian menepuk bahu Daddy Dani dengan pelan.


"Nggak Dan, ini semua bukan sepenuhnya salah Daven. Karena biar bagaimanapun, aku juga nggak bisa menutup mata kalau nyatanya Sandra juga bersalah. Seperti apa kata Sandra, alat yang terjadi dalam rumah tangga mereka itu karena kesalahan mereka berdua. Bukan hanya kesalahan sepihak saja." Jawab Ayah Radit.


Sekarang, seorang ayah sedang meminta maaf atas kesalahan yang anaknya sudah perbuat. Dan seorang ayah lagi berlapang dada memaafkan laki-laki yang sudah menyakiti putrinya. Bukankah ini ada pemandangan yang cukup mengagumkan?


Nyatanya permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga anak-anak mereka sama sekali tidak membuat persahabatan keduanya jadi berakhir begitu saja.


Sementara itu, apa yang terjadi dengan Mama Laras dan Bunda Sya juga tidak jauh berbeda. Mama Laras bahkan meminta maaf dengan amat sangat atas kesalahan yang sudah Daven perbuat kepada Sandra hingga dia meneteskan air mata. Dan seperti Ayah Radit, Bunda Sya juga dengan lapang dada memberikan maafnya.


Sekarang yang perlu mereka semua lakukan adalah mendukung Daven untuk sembuh dari rasa traumanya. Karena biar bagaimanapun, hidup dalam jerat trauma dan ketakutan itu bukan hal yang mudah. Daven pasti membutuhkan dukungan dari meter semua untuk bisa sembuh dari traumanya itu.



Sekarang hanya ada Sandra, Daven dan Aileen saja disini. Tadi Daven meminta yang lain untuk mereka lebih baik pulang. Karena dia yang akan menjaga Aileen dan Sandra disini.



Baik Ayah Radit, Bunda Sya, Daddy Dani, Mama Laras, Davian dan Della, mereka sama sekali tidak protes. Begitu Daven meminta mereka untuk pulang, mereka langsung berpamitan untuk pulang.



Padahal awalnya Daven pikir pasti mereka tidak mau pulang dan membiarkan Daven juga Sandra hanya berdua disini. Mengingat hubungan Daven dan Sandra belum sepenuhnya baik. Tapi nyatanya dugaan Daven itu salah. Dan Daven sangat bersyukur karena mereka secara tidak langsung juga memberikan Daven kesempatan kedua.



Kini jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam. Terlihat Aileen sudah terlelap dalam pelukan Sandra yang juga sudah terlelap. Demam gadis cilik itu juga sudah mulai turun sejak kedatangan Sandra tadi. Dan itu membuat Sandra juga Daven merasa sangat lega.



Sekarang hanya Daven sendiri yang masih terjaga seorang diri di sofa. Sejak tadi matanya sama sekali tidak melepaskan Sandra dan Aileen dari tatapannya. Daven bersyukur, dia tidak sampai kehilangan mereka berdua. Karena kalau Daven benar-benar kehilangan mereka, entah apa jadinya hidupnya ini. Mungkin Daven akan memilih lebih baik mati dari pada harus hidup tanpa mereka.



Sekarang Daven mulai sadar betapa berharganya Sandra dan Aileen dalam hidupnya. Sekarang Daven janji, mulai saat ini dia tidak akan menyakiti Sandra ataupun Aileen lagi.



Sampai akhirnya tanpa sadar Daven tertidur karena tubuhnya yang memang sudah sangat lelah ini menuntut untuk diistirahatkan. Apalagi Daven baru mendapatkan pukulan dari Davian dan juga Rendra, tentu saja itu membuat tubuh Daven terasa remuk semua.



Entah sudah berapa lama Daven tidur. Rasanya baru saja sebentar, tapi sekarang dia mulai terbangun lagi. Sepertinya efek karena Daven tidur di sofa, jadi tidak bisa tidur dengan nyaman.


Begitu mata Daven terbuka, hal pertama yang Daven lakukan adalah melihat kearah ranjang dimana Aileen dan Sandra tidur. Tapi...


Deg...


Deg...


Deg...


Jantung Daven langsung berdetak dengan sangat cepat karena dia tidak mendapati Sandra disana. Hanya ada Aileen yang masih terlihat tidur dengan sangat nyenyak.


Dengan segera Daven langsung beranjak dari sofa. Dan sekarang kepalanya terasa sangat pusing karena dia beranjak dengan tiba-tiba. Tapi tentu saja itu bukan masalah besar untuk Daven. Karena sekarang yang menjadi masalah utama adalah Sandra. Ya, kemana Sandra pergi? Padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah 2 dini hari. Apa mungkin Sandra meninggalkan dirinya lagi? Meninggalkan dirinya hanya berdua saja dengan Aileen?


Sampai tiba-tiba...


"Bang... Kenapa bangun?" Terdengar suara lembut dari seseorang yang sudah sangat Daven hafal siapa pemiliknya. Ya, benar sekali. Itu adalah suara Sandra.


Dengan segera Daven menoleh kearah sumber suara. Tapi Daven sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Daven hanya diam sembari menatap Sandra. Membuat Sandra menjadi bingung.


Sandra berjalan menghampiri Daven. Sampai akhirnya Sandra tersadar akan sesuatu.


"Bang Cio kenapa pucet banget? Abang juga keringetan kaya gini. Kenapa Bang? Abang sakit? Aku panggilin dokter ya." Ujar Sandra dengan raut wajah cemasnya.


Bukannya menjawab pertanyaan Sandra. Daven malah mengajukan pertanyaan lain kepada istrinya itu.


"Kamu darimana?" Tanya Daven kepada Sandra.


"Aku dari kamar mandi, tadi perut aku sakit." Jawab Sandra jujur.


Mendengar jawaban Sandra, Daven langsung melebarkan matanya, mendadak ekspresi cemas terlihat diwajah laki-laki itu. Daven sangat ingat kalau saat ini Sandra sedang hamil.


"Perut kamu sakit? Aku panggilin dokter ya, kamu disini aja." Ujar Daven.


Daven baru saja hendak beranjak saat tiba-tiba Sandra menghentikan dirinya.


"Aku baik-baik aja, Bang. Perut aku sakit bukan karena aku atau baby kenapa-napa. Tadi perut aku sakit karena mules, Bang. Sekarang udah enggak kok." Jawab Sandra dengan malu-malu.


Bagaimana bisa Daven sampai tidak sadar kalau ternyata Sandra tadi ada di kamar mandi. Padahal Sandra sudah menyalakan kran air. Tapi nyatanya Daven sama sekali tidak mendengar. Daven justru langsung panik karena Sandra yang tiba-tiba tidak ada diatas ranjang.


Mendengar jawaban Sandra, Daven merasakan perasaan lega yang amat sangat.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja."


Tanpa kata, Daven langsung memeluk Sandra yang saat ini masih dalam posisi berdiri dihadapannya. Daven membenamkan wajahnya di perut Sandra.


"Waktu aku nggak liat kamu disebelah Aileen, aku pikir kamu pergi ninggalin aku lagi, Sandra." Ucap Daven dengan suara lirih.


Jika sebelumnya Daven selalu menyembunyikan apapun yang dia rasakan. Maka mulai sekarang tidak lagi. Daven benar-benar akan memberitahu Sandra mengenai apapun yang dia rasakan. Karena Daven tidak ingin Sandra salah paham lagi dengannya.


Sandra yang mendengar ucapan Daven tersenyum tipis. Tangannya mengusap-usap rambut Daven.


"Kenapa juga aku harus ninggalin Bang Cio? Selama Abang berniat untuk memperbaiki semuanya, aku nggak akan ninggalin Bang Cio. Aku juga nggak akan ninggalin Aileen." Jawab Sandra dengan lembut.


.


.


.


Doakan setelah ini bisa rajin update dan bisa kasih double up ya temen-temen 😍


Sebenarnya tuh pengen banget kasih double up, tapi ya gimana... Waktu masih belum memungkinkan 🥲


Jangan lupa kritik dan sarannya 😍


Terima Kasih 😘🥰