
Daven yang saat ini tengah duduk diatas ranjang sembari melamun. Sampai tiba-tiba Daven disadarkan oleh suara ponsel miliknya.
Terlihat paanggilan telefon itu dari Daddy Dani.
Melihat itu, Daven menghela nafas. Sebenarnya Daven tidak ingin menjawab panggiln telefon itu karena dia tau kalau Daddy Dani pasti akan memarahinya.
“Halo.” Ucap Daven begitu mengangkat panggilan telfon itu.
“Aileen demam tinggi, sekarang ada di Rumah Sakit Ibu dan Anak.”
Dan…
Tut… Tut… Tut…
Kemudian panggilan terputus begitu saja.
Tanpa menunggu lama, Daven langsung beranjak dari ranjang dan berlari turun. Pikiran Daven saat ini benar-benar tidak karuan sekali rasanya. Biasanya Aileen tidak pernah demam yang sampai masuk rumah sakit. Tapi sekarang? Apa sakit Aileen sangat parah? Tidak-tidak, Daven yakin putrinya ini baik-baik saja. Aileen tadi masih baik-baik saja kan? Kenapa sekarang mendadak demam tinggi?
Dengan kecepatan tinggi, Daven mengendarai mobilnya. Hingga tidak butuh waktu lama, kini dia sudah sampai di rumah sakit. Sebelumnya Daven sudah bertanay kepada Mama Laras dimana Aileen di rawat. Dan sekarang, disinilah Daven berada. Di ruangan dimana Aileen tengah dirawat. Terlihat tangan kiri Aileen sudh dipasang dengan infus. Jujur, melihat pemandangan ini benar-benar membuat hati Daven terasa sakit. Karena ini adalah kali pertama Daven melihat Aileen dalam keadaan tidak berdaya seperti ini.
Dengan lembut Daven mengusap puncak kepala Aileen.
“Anak Daddy kenapa bisa sampai sakit seperti ini? Maafin Daddy ya, nak.” Bisik Daven dengan suara yang teramat lirih.
Melihat itu, Daddy Dani yang awalnya masih merasa sangat marah kepada Daven kini mulai sedikit mereda. Tidak dipungkiri kalau Daddy Dani juga merasa kasihan dengan Daven. Sementara Davian dan Della hanya duduk terdiam di sofa. Situasi seperti ini benar-benar membuat mereka bingung. Sama seperti Daddy Dani, mereka juga marah kepada Daven. Tapi mereka juga tidak bisa membenci laki-laki berstatus sebagai kembaran mereka ini. Apalagi saat melihat luka di wajah Daven semakin banyak, membuat mereka yakin kalau salah satu keluarga Santoso pasti sudah memberikan pelajaran kepada laki-laki itu.
“Tadi Aileen nangis terus cariin Bunda-nya. Dan setelah itu, mendadak Aileen langsung demam tinggi dan nyaris mendekati 40 derajat. Karena itu, Daddy dan Mama langsung buru-buru bawa Aileen ke rumah sakit.” Ujar Mama Laras kepada Daven.
Diantara yang lain, hanya Mama Laras yang mau berbicara dengan Daven. Tentu saja, sebagai seorang ibu, Mama Laras tidak akan tega mendiamkan anaknya sendiri. Apalagi Mama Laras tau kalau kondisi Daven juga sedang tidak baik-baik saja.
Daven hanya menganggukkan kepalanya. Fokusnya saat ini adalah Aileen. Daven tidak bisa memikirkan hal lain selain Aileen.
Sampai tiba-tiba Aileen membuka matanya, dan gadis kecil itu kembali merengek memanggil Sandra.
“Bunda… Ilin mau Bunda…” Aileen kembali menangis.
Daven mencoba untuk menenangkan, yang lain juga ikut mencoba. Namun sama sekali tidak berhasil. Aileen terus saja menangis sembari memanggil Bunda-nya. Saat diberi susu, Aileen bahkan menolak. Aileen menolak apapun yang diberikan kepada dirinya. Karena yang Aileen inginkan hanya Bunda-nya.
Padahal biasanya saat menginap di rumah keluarga Persada dan Sandra tidak ikut, Aileen biasa saja. Aileen tidak pernah rewel sampai demam seperti ini.
Hingga salah seorang perawat masuk karena mendengar tangisan dari dalam ruangan Aileen.
“Apa tidak sebaiknya Bunda-nya diminta untuk datang kesini Pak? Saya pikir dengan begitu maka Aileen bisa cepat sembuh.” Ujar sang suster.
Dan itu membuat Daaven kambali bingung. Daven tidak ingin dianggap memanfaatkan Aileen agar Sandra datang kesini. Apalagi hubungan mereka bisa dikataka sedang tidak baik-baik saja. Meskipun sebenarnya sudah ada kesepakatn diantara mereka.
Sementara Daven terlihat bingung, Daddy Dani memutuskan untuk keluar.
Ya, Daddy Dani akhirnya memutuskan untuk menghubungi Ayah Radit dan memberitahu mengenai kondisi Aileen. Dan berharap Ayah Radit akan memberitahukan kabar ini kepada Sandra.
Sejak masuk ke kamar, Sandra sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Apalagi saat ini jam masih menunjukkan pukul setengah 9 malam. Biasanya jam segini Sandra sedang membacakan buku dongeng untuk Aileen yang akan bersiap untuk tidur.
“Sekarang Aileen lagi apa nak? Aileen kangen sama Bunda nggak? Bunda kangen banget loh, padahal belum sampai 24 jam kita nggak ketemu.” Ujar Sandra berbisik.
Sampai tiba-tiba…
Tok… Tok..
“Dek, Ayah sama Bunda boleh masuk?” Terdengar suara Ayah Radit dari luar kamar Sandra.
Pintu kamar terbuka, dan Ayah Radit juga Bunda Sya masuk kedalam.
“Lagi apa dek?” Tanya Bunda Sya kepada Sandra.
“Nggak lagi ngapa-ngapain Bunda. Lagi duduk aja sambil main HP. Ada apa?” Jawab Sandra.
Sandra tau kalau pasti ada sesuatu yang ingin Bunda Sya atau Ayah Radit katakan kepada dirinya.
“Tadi Ayah dapat kabar dari Daddy nya Daven. Katanya Aileen dibawa ke rumah sakit karena demam tinggin.” Ujar Bunda Sya.
Sandra yang mendengar itu tentu saja langsung terkejut bukan main.
“Aileen masuk rumah sakit? Aku harus kesana Bun.” Ujar Sandra.
Saat sedang demam biasa saja Aileen tidak bisa lepas darinya, bagaimana dengan sekarang? Apa Aileen tidak apa-apa.
Bunda Sya menganggukkan kepalanya.
“Ya udah, sekarang adek siap-siap dulu. Bunda sama Ayah tunggu dibawah. Kita kesana bareng-bareng.” Ujar Bunda Sya.
Sandra menganggukkan kepalanya. Dengan segera dia langsung beranjak dari ranjang untuk bersiap-siap. Sementara itu, Bunda Sya dan Ayah Radit menunggunya dibawah.
Sekarang Sandra, Bunda Sya, dan Ayah Radit sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Benar, mereka hanya bertiga saja. Hal ini karena Kendra sudah pulang ke rumahnya, sementara Rendra juga pulang ke apartemen.
Sepanjang perjalanan, Sandra benar-benar terus memikirkan Aileen. Tidak dipungkiri kalau Sandra juga merasa sangat bersalah kepada putrinya itu.
Hingga tidak lama kemudian, Sandra dan orang tuanya sudah sampai di rumah sakit. Saat mulai mendekat ke kamar Aileen, Sandra bisa mendegar bagaimana Aileen menangis sambil memanggil dirinya. Mendengar itu hati Sandra benar-benar sakit sekali rasanya. Dengan cepat Sandra melangkahkan kakinya. Tanpa mengetuk pintu, Sandra langsung masuk begitu saja.
Terlihat saat ini Aileen sedang menangis digendongan Daven.
“Aileen…” Ujar Sandra memanggil nama putrinya itu.
Aileen yang melihat keberadaan Sandra langsung berontak ingin turun dari gendongan Daven. Melihat hal itu, Sandra segera menghampiri Aileen dan mengambil alih dari gendongan Daven.
Begitu berada digendongan Sandra, tangis Aileen langsung reda.
“Ilin mau susu Bunda…” Ujar Aileen masih dengan suara sesenggukkan.
Aileen langsung bersikap seolah baru saja dia tidak sedang rewel. Karena Aileen benar-benar langsung terlihat tenang.
“Susu punya Aileen mana, Bang?” Tanya Sandra kepada Daven.
Dengan sigap Daven langsung meraih botol susu milik Aileen. Sebenarnya Aileen sudah mulai minum susu menggunakan gelas, tapi karena tadi kondidi sedang tidak terkendali, jadi Mama Laras membuatkan susu menggunakan botol.
Sementara itu, satu persatu mulai meninggalkan ruang rawat Aileen. Mereka semua membiarkan Daven, Sandra, dan Aileen menikmati waktu mereka bersama.
Lagi pula ada yang hendak Daddy Dani dan Ayah Radit bicarakan.