
Kini lampu utama kamar sudah dimatikan dan digantikan dengan lampu tidur. Daven dan Sandra sudah naik ke ranjang. Seperti yang sudah dikatakan, posisi Sandra berada ditengah. Sementara Aileen ada disisi kanannya dan Daven ada disisi kirinya. Sandra sendiri tidur dengan posisi menyamping menghadap Aileen. Tapi bukan karena Sandra sengaja ingin membelakanginya Daven, ini karena Sandra memang terbiasa tidur dengan posisi miring ke kanan.
Sementara itu, tangan Daven saat ini sudah bersandar di pinggang Sandra. Tangannya mengusap-usap perut Sandra dengan lembut.
"San..." Panggil Daven dengan suara lirih.
"Hmm..." Sandra hanya berdehem dengan pelan sebagai tanda bahwa dia belum tidur. Hal ini karena Sandra tidak ingin membuat tidur Aileen terganggu karena suaranya.
Hening... Daven tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi Sandra masih bisa merasakan kalau Daven masih mengusap-usap perutnya.
"Kapan kamu mau cabut gugatan cerai kita." Bisik Daven tetap dengan suara lirih.
Sejujurnya gugatan cerai yang sudah Sandra daftarkan ke pengadilan benar-benar membuat Daven sejak kemarin merasa sangat cemas. Sebelum Sandra benar-benar mencabut gugatan cerainya, Daven terus saja dibayangi dengan ketakutan kalau Sandra akan meninggalkan dirinya. Daven tidak mau itu sampai terjadi. Daven tidak mau bercerai dengan Sandra.
Kini ganti Sandra yang terdiam. Sandra baru ingat perihal gugatan cerainya itu.
"Mungkin besok." Jawab Sandra pada akhirnya.
Mendengar jawaban Sandra, seketika Daven merasa sedikit lega.
"Besok aku temani." Ujar Daven.
"Tapi besok Bang Cio harus ke kantor kan? Nggak papa biar aku sendiri aja." Jawab Sandra.
Mereka mengobrol masih dengan posisi Sandra yang memunggungi Daven.
"Besok kamu belum mau berangkat ke kantor? masih mau di rumah?" Tanya Daven.
Sandra terdiam lagi. Sepertinya Daven belum tau kalau Sandra sudah memberikannya surat pengunduran dirinya.
"Aku emang bakal di rumah terus, Bang." Jawab Sandra.
"Maksud kamu?" Tanya Daven bingung.
"Aku udah nggak kerja di kantor lagi. Kemarin aku udah ngasih surat pengunduran diri." Jawab Sandra jujur.
Syok? Jelas saja Daven syok setelah mendengar fakta itu. Usapan tangan Daven di perut Sandra bahkan terhenti.
"Kenapa? Kamu bener-bener mau ninggalin aku ya?" Nada suara Daven saat ini kembali terdengar seperti sedang ketakutan. Mendengar kalau Sandra sudah mengundurkan diri dari perusahaan, Daven sadar kalau dia benar-benar berpisah dengan Sandra, maka selamanya dia tidak akan bisa bertemu lagi.
Sementara itu, Sandra langsung mengubah posisinya jadi menghadap Daven. Samar-samar Sandra bisa melihat ekspresi sendu diwajah Daven.
"Kemarin mungkin iya, tapi sekarang udah enggak. Bang Cio sendiri yang udah janji kalau mau berubah. Jadi, nggak ada alasan buat aku ninggalin Bang Cio." Jawab Sandra dengan lembut.
Apakah Daven merasa lega setelah mendengar jawaban Sandra? Iya, meskipun hanya sedikit. Karena sejujurnya Daven ingin agar Sandra tetap bekerja di kantor menjadi sekretarisnya. Karena dengan begitu, Daven bisa terus berdekatan dengan istrinya itu.
"Jangan pernah lagi berpikir kalau kamu bakal ninggalin aku. Aku nggak mau, Sandra. Aku mau kamu terus ada bersama dengan aku." Ucap Daven.
Kini salah satu tangan Daven mengusap dengan lembut wajah Sandra. Daven bahkan menatap sangat dalam mata dan juga wajah Sandra. Dan itu membuat Daven semakin sadar kalau nyatakan dia sudah sangat mencintai Sandra. Mungkin inilah alasan kenapa Daven sangat tidak ingin Sandra meninggalkan dirinya.
Tapi kalau kalian bertanya apakah Daven masih mencintai Larisa? Jawabannya iya. Daven masih mencintai Larisa. Hanya saja Larisa sudah memiliki ruang tersen didalam hatinya. Dan kini sebagian besar hari Daven sudah terisi oleh Sandra tanpa dia sadari.
"Abang nggak papa kan kalau aku resign dari kantor?" Tanya Sandra.
Entah kenapa Sandra merasa kalau dia perlu menanyakan hal ini kepada Daven. Sandra ingin mendengar jawaban Daven apakah laki-laki itu mengizinkan dirinya resign atau tidak.
"Nggak papa." Jawab Daven.
Padahal jelas-jelas saat ini dia dan Sandra bahkan sudah sepakat untuk tinggal di rumah keluarga Santoso. Tapi kenapa Daven masih merasakan ketakutan itu? Mungkinkah ini karena trauma yang Daven alami?
Sementara Sandra merasa lega karena nyatanya Daven sudah memberikan dirinya izin resign. Dengan begini Sandra tidak lagi merasa bersalah karena sudah mengambil keputusan sepihak.
Jam masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Tapi Sandra justru terbangun dari tidurnya. Kenapa? Karena tiba-tiba saja Sandra ingin makan sesuatu. Dan ini mungkin menjadi ngidam Sandra yang pertama di kehamilannya ini. Memangnya Sandra ingin makan apa? Sandra ingin makan nasi padang.
Bayangan telur dadar padang yang bersatu dengan ayam pop dan juga perkedel benar-benar menari-nari di kepala Sandra. Saat ini Sandra ingin makan itu semua.
Dengan perlahan Sandra melapaskan tangan Daven dari pinggangnya. Kemudian duduk bersandar di kepala ranjang. Kini tatapannya tertuju kepada Daven yang terlihat tidur dengan sangat pulas. Sandra yang awalnya ingin membangunkan Daven dan meminta tolong untuk mencarikan makanan yang dia inginkan, menjadi tidak tega. Sandra tidak ingin mengganggu tidur Daven. Apalagi besok Daven harus berangkat ke kantor.
Sandra sempat berpikir untuk lebih baik dia mencarinya besok saja. Tapi nyatanya kedua baby didalam perutnya ini tidak setuju dengan keputusan Sandra. Karena nyatanya Sandra justru semakin menginginkan itu semua.
Sandra sadar kalaupun dia memutuskan untuk tidur, dia tidak akan bisa karena keinginannya belum terpenuhi.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Sandra. Kalian tau apa? Benar sekali, Sandra akan menggunakan jasa delivery order untuk memenuhi ngidamnya ini.
Dengan perlahan Sandra turun dari ranjang dan mengambil ponsel miliknya yang tergelak diatas meja nakas. Kemudian dengan mengendap-endap Sandra keluar dari kamar.
Dan saat ini Sandra sudah duduk diruang keluarga. Tangannya dengan lihai mencari restoran Padang yang buka 24 jam. Dan ternyata ada banyak restoran Padang yang buka 24.
Dengan segera Sandra mulai memesan. Dan lihat betapa bahagianya Sandra saat ini. Sandra benar-benar tidak tahan ingin segera menikmati makanannya.
Saking tidak sabarnya menunggu, begitu ada notifikasi kalau pesanannya sedang diantar, Sandra memutuskan untuk keluar dan menunggu di depan teras.
Sebenarnya agak sedikit dingin, tapi tidak apa-apa. Sandra masih bisa menahannya. Salah Sandra sendiri karena dia turun tanpa membawa jaket atau sejenisnya. Sandra hanya menggunakan setelan piyama panjang.
Melihat suasana di tengah malam seperti ini, ternyata rasanya sangat menenangkan. Sebelumnya Sandra tidak pernah melakukan hal seperti ini. Dan sekarang Sandra benar-benar menikmatinya.