Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Disetujui


Sementara Sandra di rumahnya sedang memberitahu keluarganya perihal hubungannya dengan Daven, di rumah keluarga Persada, Daven pun melakukan hal yang sama. Daven sedang duduk di ruang keluarga bersama dengan Daddy Dani, Mama Laras, Davian, dan Della. Aileen? Saat ini balita berusia 2 tahun itu sedang di kamar bersama baby sitternya.


"Dad, Ma... Aku cuma mau kasih tau kalau aku akan menikahi Sandra." Ujar Daven tanpa berbasa-basi.


Davian yang memang sudah tau sejak awal tidak sama sekali tidak terkejut. Keputusan yang Daven ambil ini juga atas persetujuan dari Davian. Setelah Davian memberikan syarat kepada Daven untuk berjanji agar saudara kembarnya itu akan selalu memperlakukan Sandra dengan baik, barulah Davian setuju Daven menikahi Sandra.


Sementara itu Daddy Dani pun sepertinya tidak. Hanya Mama Laras dan Della yang terlihat sedikit terkejut.


"Emangnya Abang pacaran sama Sandra?" Tanya Della. Setau Della hubungan Daven dan Sandra tidak terlihat sedekat itu. Karena selama ini Daven terlihat acuh tak acuh kepada Sandra.


"Enggak, kita hanya berkomitmen." Jawab Daven singkat.


Ya, Sandra dan Daven memang sudah menyamakan jawaban jika ada yang bertanya seperti ini, kebohongan yang sudah terencana. Dan yang tau mengenai kebohongan itu lagi-lagi adalah Davian.


Kenapa Davian tetap mendukung meskipun ini semua adalah kebohongan? Itu karena Davian yakin kalau perempuan yang tepat menjadi pendamping Daven adalah Sandra. Ditambah Daven sudah berjanji tidak akan menyakiti Sandra. Sebenarnya alasan Davian mengatakan kalau Sandra cocok menjadi ibu sambung untuk Aileen hanyalah alasan yang Davian gunakan agar Daven mau menikah dengan Sandra. Jujur sebagai saudara Davian tidak tega melihat Daven yang seperti kehilangan semangat hidup setelah Larisa meninggal. Katakanlah Davian sama jahatnya dengan Daven yang memanfaatkan rasa sayang Sandra kepada Aileen, tapi bukan maksud Davian mengorbankan hidup Sandra demi Daven. Davian memiliki keyakinan bahwa lambat laut Daven dan Sandra pasti akan saling mencintai. Dan nantinya tidak akan ada diantara mereka yang merasa menjadi korban. Lagi pula pernikahan ini adalah keinginan Sandra, Davian hanya mempermudah dengan memberikan alasan-alasan kepada Daven agar saudara kembarnya itu mau menikahi Sandra. Dan juga janji yang Daven buat membuat Davian tidak terlalu khawatir.


"Sejak kapan? Kok Mama baru tau sih? Kamu enggak pernah cerita apa-apa sama Mama." Ujar Mama Laras.


"Sejak 3 bulan yang lalu. Aku enggak cerita karena Mama nggak pernah tanya hubungan aku sama Sandra." Ujar Daven. Jawaban yang sebenarnya sama sekali tidak memuaskan Mama Laras dan juga Della. Meskipun sebenarnya mereka berdua senang mendengar Daven ingin menikah lagi. Itu berarti setidaknya Daven sudah tidak lagi meratapi kematian Larisa kan? Begitu pikir Mama Laras dan Della.


"Ya kan Mama pikir hubungan kamu Sandra cuma sebatas atasan sama sekretaris dan kakak adekan aja, Bang." Ujar Mama Laras.


Daven hanya diam tidak menanggapi lagi.


"Kapan kita ke rumah keluarga Santoso untuk melamar Sandra?" Tanya Daddy Dani yang sejak tadi hanya diam menyimak.


"Setelah keluarga Santoso menyetujui hubungan aku dan Sandra." Jawab Daven.


"Memangnya Bang Radit sama Mbak Aleera nggak setuju kamu punya hubungan sama Sandra, Bang?" Mama Laras sedikit terkejut dengan ucapan Daven. Kenapa sahabatnya itu tidak memberikan restu kepada Daven? Karena jujur Mama Laras juga berharap Sandra menjadi menantunya. Entah itu menikah dengan Daven ataupun Davian, yang penting Sandra menjadi menantunya.


"Bukan enggak setuju Ma, malam ini Sandra juga sedang memberitahu hubungan kita ke keluarganya. Aku juga belum tau mereka setuju atau tidak." Jawab Daven tenang.


Mama Laras menghela nafas lega, setidaknya Daven masih memiliki kesempatan. Karena Mama Laras sudah terlanjur berharap kalau Sandra benar-benar akan menjadi menantunya.


"Oke, kalau sudah ada keputusan dari Radit, kamu kasih tau Daddy. Kita akan segera kesana untuk melamar Sandra." Ujar Daddy Dani.


Daddy Dani bahkan sama sekali tidak bertanya apapun mengenai hubungan Daven dan Sandra. Daddy Dani sepertinya langsung setujui saja saat Daven mengatakan kalau dia akan menikahi Sandra.


Berbeda dengan Sandra yang sedikit kesulitan untuk bisa mendapatkan persetujuan keluarganya. Daven justru sangat mudah mendapatkannya.



Pagi ini Sandra sudah ada di ruangan Daven lagi. Sekarang mereka sedang duduk saling berhadapan dipisahkan oleh meja.



"Ayah setuju, dan Ayah bilang supaya Abang secepatnya datang ke rumah untuk melamar aku." Ujar Sandra kepada Daven.



Wajah Daven tetap saja dengan ekspresi datarnya setelah mendengar ucapan Sandra.


"Kapan kamu mau aku datang ke rumah?" Tanya Daven.




"Aku bingung." Jawab Sandra.



Padahal Sandra yang ngotot ingin segera menikah dengan Daven. Tapi saat ini gadis itu justru merasa bingung. Bukan karena Sandra ragu dengan keputusannya, Sandra hanya... Entahlah, sulit untuk dijelaskan.



"Kalau begitu minggu depan aku dan keluarga akan datang ke rumah untuk melamar kamu." Ujar Daven memutuskan. "Mengenai hantaran, kalau kamu mau, kamu bisa membahasnya sama Mama. Karena semua sudah aku serahkan ke Mama untuk mengurusnya." Ujar Daven memberitahu.



"Iya." Jawab Sandra singkat. Sandra bahkan tidak tau jawaban iya yang dia katakan ini untuk apa.



Dari apa yang Daven katakan ini, sepertinya Daven sama sekali tidak tertarik dengan persiapan acara lamaran dirinya dengan Sandra. Daven benar-benar tidak berniat sedikitpun untuk ikut berpartisipasi dalam persiapan nantinya.



"Ya sudah, kalau enggak ada perlu lagi, kamu boleh kembali ke ruangan kamu, San." Ujar Daven yang secara tidak langsung meminta Sandra untuk segera keluar dari ruangannya.



Sandra yang sadar dengan pengusiran secara halus yang Daven lakukan ini segera beranjak dari duduknya dan berpamitan untuk kembali ke ruangannya.



Harusnya Sandra senang karena sebentar lagi keinginannya akan segera terwujud. Sandra akan segera menikah dengan Daven dan menjadi ibu untuk Aileen. Tapi saat ini yang Sandra rasakan justru berbeda, Sandra merasa aneh dengan keputusan yang sudah dia ambil.



"Huftt..." Sandra menghela nafas panjang.


Hal itu menarik perhatian Marcel.


"Kenapa lagi San? Kayanya lagi banyak pikiran banget." Tanya Marcel kepada Sandra.


"Aku juga enggak tau Mas, rasanya kaya capek aja." Jawab Sandra.


"Istirahat aja kalau gitu. Lagi nggak banyak kerjaan kan? Selesaiin nanti lagi aja San." Ujar Marcel.


Marcel tidak tau saja kalau bukan pekerjaan yang membuat Sandra merasa lelah. Sandra sendiri bingung dia lelah karena apa.


"Akhir-akhir ini kamu tuh sering banget bengong loh San. Udah gitu kaya lagi banyak banget pikiran. Kalau kamu enggak punya tempat buat cerita, kamu bisa cerita ke aku kali San."


Bekerja bersama dan berada dalam satu ruangan yang sama selama kurang lebih hampir 1 tahun, tentu saja membuat Marcel secara tidak langsung mengenal dan paham dengan gerak-gerik Sandra.


Apalagi Sandra biasanya ceria, sementara akhir-akhir ini gadis itu terlihat lebih banyak diam. Tentu perubahan ini sangat Marcel sadari.


Sandra hanya tersenyum tipis. Sebenarnya apa yang Marcel katakan itu memang benar. Sandra tidak memiliki seseorang untuk dia berbagi cerita. Tidak juga dengan Aleera, Sandra memilih untuk merahasiakan masalah ini dari sahabatnya itu. Biarlah Aleera hanya tau kalau dengan dia dan Daven akan menikah, itu berarti laki-laki itu sudah mulai mencintainya.