Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Permasalahan tanda cinta


Daven keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. Dan kalau saja saat ini Sandra tidak sedang dalam kondisi bingung, mungkin Sandra akan terpesona dengan pemandangan itu.


Tapi masalahnya sekarang adalah...


"Abang, kenapa bikin ini-nya banyak banget. Aku harus gimana? Malu tau kalau dilihat sama orang lain." Ujar Sandra menggerutu kepada Daven. Dengan wajah kesalnya Sandra memperlihatkan semua tanda merah yang terdapat dipermukaan kulitnya kepada Daven.


Melihat itu, bukannya merasa bersalah, Daven justru tertawa.


"Bagus kok San, kenapa juga harus ditutupi? Udah biarin ajalah." Jawab Daven santai.


Ada perasaan bahagia saat melihat Sandra dengan wajah kesalnya. Bukannya menakutkan, wajah kesal Sandra justru terlihat sangat menggemaskan dimata Daven.


"Jangan bercanda Bang... Ini aku harus tutupin pakai apa?" Ujar Sandra dengan wajah seperti orang hendak menangis.


Daven berjalan melangkahkan kakinya menuju Sandra.


"Kan bisa pakai baju lengan panjang, San. Dan yang dileher juga nggak terlalu di depan posisinya, jadi kami bisa gerai rambut. Atau kalau enggak... eehmm, pakai apa ya? Aku juga kurang tau gimana caranya nutupin kiss mark." Jawab Daven dengan wajah serius.


Dengan frontalnya Daven menyebutkan tanda merah yang dia buat itu dengan nama aslinya. Memang ya, yang namanya laki-laki itu sukanya to the point.


Sementara Sandra, berhadapan dengan Daven seperti ini barulah membuat Sandra sadar dengan kondisi suaminya yang masih menggunakan handuk itu. Tentu saja hal ini membuat wajah Sandra seketika menjadi merah kembali karena efek dirinya yang mendadak salah tingkah.


"Ehhmm ya-ya udah nanti aku pikirin lagi gimana cara buat nutupinnya. Sekarang aku mau mandi." Dengan cepat Sandra langsung berjalan masuk ke kamar mandi meninggalkan Daven yang berdiri didepan meja rias dengan wajah bingung.


Disaat Daven sudah mulai serius, Sandra justru meninggalkan dirinya begitu saja.



Tok... tok... tok...



"Sandra... Mandinya belum selesai juga?"



Saat ini Daven sedang mengetuk pintu kamar mandi. Karena sudah hampir 30 menit Sandra tidak kunjung juga keluar dari sana.



"Belum, Bang Cio kalau mau turun duluan aja, nanti aku nyusul." Jawab Sandra dari dalam.



"Beneran aku turun duluan?" Tanya Daven memastikan.



"Iya, turun duluan aja."



Setelah mendengar jawaban dari Sandra. Akhirnya Daven memutuskan untuk turun terlebih dahulu.



Dan benar dugaan Daven, dibawah semua keluarga besar sudah berkumpul untuk sarapan bersama. Bahkan Aileen juga sudah duduk manis di baby chair-nya bersama dengan Aidan dan Ariel.



Selamat pagi…” Ujar Daven menyapa semua semuanya.



Dilihat dari beberapa wajah-wajahnya, sepertinya mereka tau penyebab Daven turun kesiangan seperti ini.



“Pagi… Sarapan Dave.” Ujar Bunda Sya.



Daven menganggukkan kepalanya. Kemudian duduk disalah satu kursi kosong.



“Mau Bunda bikinin kopi?” Tanya Bunda Sya.



Daven menggelengkan kepalanya.



“Enggak usah Bunda, terima kasih. Daven air putih saja.” Jawab Daven sembari mengambil gelas yang memang sudah tersedia di atas meja.




Karena Rendra dan Daven memiliki usia yang hampir sama, jadi mereka jauh lebih akrab dibandingkan Daven dengan Kendra.. Karena kalau Kendra kan usianya berbeda agak jauh, jadi pastinya ada rasa segan Daven kepada Kendra.



“Udah, masih mandi di kamar. Sandra minta sama aku buat turun dulu.” Jawab Daven singkat.



Tapi meskipun Daven dan Rendra sangat akrab, tidak pernah Daven berbicara dengan panggilan lo-gue. Karena semua anak-anak keluarga Santoso hampir tidak pernah berbicara menggunakan panggilan itu. Apalagi di rumah, tidak boleh ada yang saling memanggil dengan kata lo-gue. Sangat berbeda dengan Daven dan Davian.



“Udah jadi istri bangunnya tetep aja siang.” Ujar Rendra seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.



Sementara Daven hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Rendra. Kalau saja Rendra tau apa yang terjadi semalam, sepertinya... Oo tidak-tidak, Daven tidak akan mungkin menceritakan apa yang sudah terjadi semalam diantara dirinya dan Sandra.



“Eddy… Enda Ilin mana?”  Tanya Aileen saat menyadari kalau Daven hanya turun sendiri tanpa Sandra.



“Bunda masih mandi sayang, sebentar lagi turun.” Jawab Daven singkat.



Aileen menganggukkan kepalanya paham. Daven kira Aileen akan kembali fokus dengan sarapannya. Tapi ternyata…



“Adek Ilin udah jadi beyum?” Tanya Aileen dengan wajah polosnya.



Mendapat pertanyaan seperti itu di tengah keluarga besar seperti ini membuat Daven bingung sendiri bagaimana cara menjawabnya. Apalagi tidak ada Sandra yang bisa dia mintai bantuan karena istrinya itu belum kunjung turun juga.



Sementara itu, Aleera dan yang lainnya mengulum senyum karena pertanyaan polos Aileen. Mereka semua berdoa semoga saja adik Aileen segera hadir diperut Sandra.



“Nanti tanya Bunda ya, udah jadi atau belum. Daddy belum tau soalnya.” Jawab Daven pada akhirnya.



Itu sudah jawaban terbaik yang bisa Daven berikan. Karena Daven sendiri tidak ingin berbohong dengan mengatakan kalau adik Aileen sudah dalam proses pembuatan. Pasalnya Daven dan Sandra hanya melakukan prosesnya saja tanpa berniat untuk menjadikannya seorang adik untuk Aileen.



Setelah hari mulai siang, Sandra, Daven dan Aileen berpamitan untuk pulang. Soalnya setelah jam makan siang nanti Daven harus berangkat ke kantor guna menghadiri sebuah rapat. Sementara Sandra untuk hari ini masih ambil libur.


"Itu kiss mark dileher yang aku buat kamu tutupin pakai apa, San?" Tanya Daven kepada Sandra.


Sandra yang mendengar pertanyaan frontal yang Daven layangkan kepadanya tentu saja terkejut. Dengan segera Sandra menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Aileen mendengarnya atau tidak.


"Tenang aja San, Aileen tidur kok." Ucap Daven dengan santai seolah tau apa yang sedang Sandra pikirkan saat ini.


Sandra menghela nafas lega saat mendapati Aileen memang tertidur di car seat-nya. Bukan apa-apa, mungkin Aileen memang belum paham mengenai pembicaraan ini jika saja balita itu mendengarnya. Tetap saja, Aileen adalah balita yang cukup kritis dan sering bertanya mengenai apapun yang dia lihat ataupun dia dengar. Dan Sandra tidak ingin Aileen mendengar kata yang Daven ucapkan tadi, karena pasti Sandra akan kebingungan sendiri untuk bagaimana dia menjelaskan kepada Aileen.


"Tadi aja nggak kasih solusi. Jangan tanya-tanya." Ujar Sandra sok ketus.


Bukannya marah dengan jawaban ketus Sandra, Daven justru tertawa.


"Ya udah sih, nggak penting juga buat aku. Yang penting aku bisa bikin itu kapanpun aku mau." Jawab Daven santai.


Seketika Sandra memelototkan matanya. Benarkah ini Daven, suaminya yang terkenal dingin, datar dan tanpa ekspresi? Kenapa sekarang jadi begini? Kenapa Daven berubah menjadi laki-laki mesum sekali?


"Ini beneran Bang Cio kan?" Tanya Sandra kepada Daven.


"Benerlah, emang siapa lagi? Davian? Itu nggak mungkin." Jawab Daven santai.


"Kenapa Bang Cio jadi mesum banget?"


Mendengar pertanyaan Sandra, Daven menolehkan kepalanya sejenak kearah wanita berstatus sebagai istrinya itu. Kemudian tersenyum tipis.


"Baru tau kalau aku mesum?" Jawab Daven tetap santai.