
Setelah membelikan Aileen es krim, Sandra langsung membawa gadis kecil itu ke rumah Mama Laras. Seperti kata Sandra tadi, dia akan menitipkan Aileen disana.
"Bu Sandra mau kemana? Kok banyak koper dibelakang?" Suster Ati tidak bisa menahan rasa penasarannya saat melihat 3 koper berada di bagasi belakang.
Untung saja Suster Ati bertanya saat Aileen sudah tidur, jadi Sandra tidak perlu berpikir mengenai bagaimana dia haru menjelaskan kepada Aileen.
"Mau pulang Sus." Jawab Sandra dengan senyum tipisnya.
Mendengar jawaban Sandra, Suster Ati tidak lagi bertanya. Dalam pikiran Suster Ati, pulang yang ke rumah yang Sandra tinggali bersama dengan Daven. Suster Ati sama sekali tidak berpikiran kalau pulang yang Sandra maksud adalah ke tempat lain.
Sesampainya di rumah keluarga Persada, seperti biasa Sandra akan selalu disambut dengan hangat. Karena hari ini masih jam 2 siang, jadi yang ada di rumah hanya Mama Laras saja. Karena yang lainnya saat ini pasti masih sibuk bekerja.
Aileen sendiri sudah dibawa Suster Ati ke atas untuk ditidurkan di kamar. Sebelum Suter Ati naik, Sandra memberikan beberapa kecupan di dahi dah kedua pipi Aileen. Karena Sandra tidak tau kapan lagi dia bisa mencium Aileen seperti ini. Bisa saja setelah ini mereka tidak akan pernah bertemu kan?
Saat ini Sandra dan Mama Laras duduk berdua di meja makan. Tadi Mama Laras menawarkan kue brownies yang dia buat, dan akhirnya membuat Sandra duduk disini.
"Ma, sebenarnya ada yang mau Sandra bicarakan sama Mama." Ujar Sandra dengan wajah seriusnya.
Mama Laras yang awalnya terlihat santai mendadak langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi serius juga. Karena sejujurnya Mama Laras mendadak merasa seperti akan ada sesuatu yang buruk terjadi.
Oo iya, mengenai kehamilannya, Sandra tidak memberitahu siapapun dari keluarga Persada. Dan Sandra juga yakin kalau keluarganya pasti tidak memberitahu mereka karena beranggapan kalau Sandra dan Daven sendirilah yang akan memberitahukan kabar ini. Sejujurnya Sandra tidak berniat untuk menyembunyikan kehamilannya ini dari keluarga Persada, hanya saja Sandra ingin Daven sendirilah yang memberitahukan kabar ini. Karena bagaimana bisa Sandra memberitahu kabar kehamilan dirinya kepada keluarga sang suami sedangkan suaminya saja tidak suka dengan kabar kehamilannya ini.
"Kamu mau bicara apa sama Mama, San?" Tanya Mama Laras dengan lembut.
Sebelum menjawab pertanyaan Mama Laras, Sandra menarik nafas dalam.
"Maaf sebelumnya kalau apa yang Sandra katakan ini akan membuat Mama sedih. Tapi, Sandra harus mengatakan ini." Ujar Sandra. Sandra kembali mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Sandra dan Bang Cio akan bercerai, Ma." Sambung Sandra.
Tentu saja ucapan Sandra ini bagaimana sebuah petir di siang bolong untuk Mama Laras. Selama ini yang Mama Laras tau kehidupan rumah tangga Daven dan Sandra baik-baik saja, tapi sekarang kenapa jadi seperti ini? Kenapa bisa sampai berpisah. Sedangkan Daven sendiri tidak pernah mengatakan apa-apa kepada Mama Laras ataupun Daddy Dani.
Meskipun Mama Laras merasa sangat terkejut dan juga sedih, tapi Mama Laras mencoba untuk tetap tenang. Mama Laras perlu mendengar penjelasan dari Sandra terlebih dahulu.
"Kenapa sampai bercerai? Apa kalian udah memikirkan keputusan ini dengan matang? Sebenarnya kalian ada masalah apa? Boleh Mama tau alasannya?" Tanya Mama Laras.
"Ada sesuatu yang membuat aku dan Bang Cio nggak bisa buat terus bersama Ma. Keputusan bercerai ini juga sudah bulat. Dan... Soal apa yang membuat kita memutuskan untuk bercerai, biar nanti Bang Cio sendiri yang menjelaskan sama Mama." Ujar Sandra.
Mama Laras terdiam mendengar penjelasan Sandra. Apakah rumah tangga Daven dan Sandra benar-benar sudah parah hingga membuat keduanya memutuskan untuk bercerai?
"Sandra titip Aileen ya Ma. Sandra yakin Mama pasti bisa merawat Aileen lebih baik dari pada Sandra. Kalau nanti Aileen rewel dan kangen sama aku, Aileen tetap boleh kok main ke rumah. Mama bisa ajak Aileen ke rumah, karena mulai sekarang Sandra bakal pulang ke rumah Ayah dan Bunda." Ujar Sandra. Kali ini mata Sandra sudah mulai berkaca-kaca. Sekuat apapun dirinya menahan untuk tidak menangis, tapi nyatanya sangat sulit.
"Sandra juga minta maaf ya Ma kalau selama ini Sandra mungkin banyak salah sama Mama. Maaf karena Sandra belum bisa jadi memantu yang baik buat Mama. Belum bisa jadi ibu yang baik buat Aileen. Dan... Belum bisa jadi istri yang baik buat putra Mama." Ujar Sandra.
Kali ini air mata sudah jatuh menetes. Bersamaan juga dengan menetesnya air mata Mama Laras.
"Boleh Mama peluk Sandra?" Tanya Mama Laras dengan mata yang terbata-bata.
Sandra tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. Dan kini Sandra dan Mama Laras saling berpelukan.
Mama Laras sadar, kalau terjadinya perceraian ini penyebab pasti adalah Daven. Melihat dari perangai putra sulungnya itu, Mama Laras sangat yakin kalau Daven pasti sudah membuat sebuah kesalahan besar yang mengakibatkan Sandra sampai memilih untuk menyerah akan rumah tangganya.
Setelah itu, Sandra berpamitan kepada Mama Laras. Sandra tidak bisa berlama disini, khawatir nanti Aileen malah terbangun dan putri kecilnya itu merengek untuk ikut bersama dengannya.
Setelah memberitahu Mama Laras dan menitipkan Aileen disana, kini Sandra merasa sangat lega. Sekarang Sandra hanya harus memberitahu keluarganya. Dan sekarang Sandra sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Tempat yang sepanjang hidupnya selama ini benar-benar menjadi rumah untuk tempat Sandra pulang.
Kalau kalian berpikir kenapa Sandra langsung pulang ke rumah dan tidak memilih kabur ke luar kota atau luar negeri, jawaban adalah Sandra tidak akan melakukan hal itu. Dengan kabar yang dia bawa mengenai perceraian dirinya dan Daven saja pasti sudah akan membuat keluarganya sangat sedih. Apalagi kalau sampai Sandra kabur? Tidak, Sandra tidak akan menyakiti keluarganya sedalam itu. Lagi pula kenapa juga Sandra harus kabur? Sandra yakin keluarganya akan menerima apapun kondisinya. Keluarganya juga akan menjaga Sandra dengan amat sangat. Juga memberikan kasih sayang untuk dirinya. Jadi tidak ada alasan yang membuat Sandra untuk lebih baik memilih kabur.
Walaupun sebenarnya bisa-bisa saja kalau Sandra kabur ke luar kota atau luar negeri. Karena uang tabungannya sudah amat sangat cukup untuk dirinya hidup bersama anaknya selama beberapa tahun kedepan. Tapi tetap, Sandra tidak akan melakukan hal itu.
Sementara itu, sesampainya di rumah, seperti biasa hal yang pertama Sandra lakukan adalah berteriak memanggil Bunda Sya.
"Bundaa.... Adek pulang..." Teriak Sandra memanggil sang Bunda.
Tidak lama kemudian Bunda Sya turun.
"Ya ampun, udah berapa kali Bunda bilang dek. Jangan teriak-teriak." Ucap Bunda Sya dengan nada lembutnya.
Melihat Bunda Sya, Sandra langsung berlari kearah wanita yang paling dia cintai itu, kemudian memeluknya dengan erat.
Tapi sebelum itu, terlebih dahulu Sandra mendapatkan teguran dari Bunda Sya yang mengingat untuk tidak berlari karena saat ini dirinya sedang hamil.
"Adek kangen sama Bunda..." Ujar Sandra mengabaikan teguran Bunda Sya. Karena yang saat ini Sandra inginkan hanyalah pelukan sang Bunda.
"Tumben kangen, padahal baru 3 hari yang lalu kita ketemu." Jawab Bunda Sya.
Karena biasanya mereka saja bisa tidak bertemu sampai 1 Minggu lebih.
"Sekarang kita bakal ketemu setiap hari kok. Adek bakal tinggal disini lagi." Ujar Sandra.
Mendengar itu, Bunda Sya mengerutkan dahinya.
"Loh kenapa gitu? Adek kan sekarang tinggalnya sama Bang Daven." Tanya Bunda Sya.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Sekarang enggak Bun. Sekarang adek selamanya bakal tinggal sama Bunda." Jawab Sandra. "Bunda nggak papa kan kalau adek jadi janda?" Tanya Sandra dengan santainya.
Dan...
"Kamu ngomong apa sih dek..."