Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Lagi-lagi Davian


Drama ngidam Sandra memang tidak ada habis-habisnya. Memang sih ngidam Sandra ini termasuk mudah untuk di dapatkan. Tapi terkadang ngidamnya bisa dikatakan cukup aneh. Bagaimana tidak, pernah Sandra ngidam mangga muda, tapi yang makan bukan dia, melainkan Davian. Yap... Lagi-lagi yang menjadi korban dari ngidam Sandra adalah Davian. Entah ada dendam apa sebenarnya Sandra kepada Davian. Sampai-sampai dia selalu menjadikan kembaran dari suaminya itu menjadi korban. Dan kalian tau? mangga muda yang Sandra inginkan harus yang benar-benar asam. Dan dengan bumbu rujak yang sangat pedas.


Flashback


Semalam, Sandra memang sudah berpesan kepada salah seorang asisten rumah tangganya yang biasa berbelanja ke pasar untuk membelikannya mangga muda. Dan ya, Sandra mendapatkan apa yang dia inginkan. Setelahnya, Sandra juga meminta untuk dibuatkan bumbu rujak dengan menggunakan 17 cabai setan. Tau kan cabai itu? Itu loh, yang cabainya warna oren kemerahan. Dan rasa pedasnya lebih pedas dari pada cabai biasanya. Kalau di tempat kalian namanya cabai apa nih?


Selesai dengan segala persiapannya, Sandra langsung menghubungi dan memberitahu Daven kalau dia akan datang ke kantor.


Tutt... Tutt... Tutt...


"Halo, sayang..." Terdengar suara Daven menyapa telinga Sandra. Hanya dengan mendengar suara Daven saja sudah membuat Sandra jadi sangat merindukan laki-laki itu. Karena semenjak hamil, rasanya Sandra ingin selalu berada di dekat suaminya. Bahkan kalau bisa, Sandra pengennya setiap hari ikut Daven ke kantor. Sebenarnya kalau Daven pasti akan sangat memperbolehkannya, tapi Sandra yang tidak mau. Sandra cukup sadar diri, kalau dia terlalu sering ikut ke Kantor, dia akan merepotkan Daven. Pasalnya Daven pasti akan lebih fokus kepada dirinya dibandingkan dengan pekerjaannya. Daven jadi sibuk memperhatikan kebutuhan Sandra. Mulai dari minum, makanan, cemilan, Daven mengurus semuanya untuk memastikan Sandra nyaman.


Karena itu, Sandra tidak mau ke kantor kalau dia tidak memiliki tujuan yang terlalu penting. Dan tujuan penting Sandra kali ini, dia ingin melihat Davian makan mangga muda beserta dengan bumbu rujak. Otomatis Sandra harus datang ke Kantor Davian. Yang mana Daven juga bekerja disana.


"Halo, Bang. Abang lagi sibuk enggak? Aku mau ke kantor." Jawab Sandra.


Tanpa berpikir panjang, Daven langsung menjawab kalau dia tidak sibuk.


"Enggak, aku enggak sibuk kok. Mau kesini? Aku jemput ya." Jawab Daven.


"Enggak usah, aku sama Pak Abdul aja. Ini juga udah mau jalan kok. Ya udah ya, aku tutup telefonnya. Aku cuma mau kasih tau Bang Cio itu aja." Ujar Sandra.


Setelah Daven menjawab iya, sambungan telfon segera ditutup oleh Sandra.


Sandra turun dan meminta Pak Abdul, supir pribadi yang Daven pekerjakan untuk mengantar dirinya ke kantor.



*Sudah sejak 20 menit Sandra mematikan telfonnya. Daven segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Sandra. Daven ingin tau sudah sampai dimana Sandra sekarang*.



*Tut.. Tut*...



"*Halo, Bang. Ada apa?" Tanya Sandra kepada Daven*.



"*Enggak ada apa-apa. Kamu udah sampai mana Yang*?"



"*Ini bentar lagi sampai kok. Paling enggak sampai 5 menit. Kenapa Bang*?"



"*Enggak papa kok, aku cuma mau tau aja kamu udah sampai mana. Ya udah, aku tutup ya. Assalamualaikum*."



"*Wa'alaikumsalam*."



*Begitu sambungan terputus, Daven langsung keluar dari ruangannya. Untuk apa? Untuk menjemput Sandra di loby. Karena Daven tidak mau Sandra naik ke ruangannya sendirian. So sweet? Tidak, Daven tidak bermaksud seperti itu. Apa yang Daven lakukan memang atas dasar keinginan hatinya. Bukan karena Daven ingin dianggap so sweet*.



*Setibanya di loby, Daven langsung duduk di kursi tunggu. Resepsionis yang melihat itu pun tampak salah tingkah dengan kedatangan Daven. Soalnya, sebelumnya Daven tidak pernah melakukan hal seperti ini. Duduk seorang diri di kursi tunggu? Untuk apa*?



*Tidak lama kemudian, pintu terbuka, Daven langsung menoleh ke arah pintu. Dan ya, Sandra-lah yang datang. Dengan segera Daven langsung beranjak dari kursinya untuk menghampiri Sandra*.



*Sandra tentu saja agak sedikit terkejut saat melihat Daven yang berjalan ke arahnya*.



"*Loh, Bang Cio disini? Ngapain?" Tanya Sandra kepada Daven*.



"*Nunggu kamu." Jawab Daven singkat*.



*Daven langsung meraih pinggang Sandra dan membawanya masuk ke lift. Apa yang Daven lakukan itu tentu saja tidak lupus dari perhatian para karyawan yang lain. Mereka merasa Daven dan Sandra adalah pasangan yang sangat manis*.



"*Sengaja nunggu aku?" Tanya Sandra saat mereka sudah masuk ke dalam lift*.




"*Kenapa? Padahal enggak perlu loh Bang. Abang pasti lagi sibuk kan*?"



*Daven menggelengkan kepalanya*.


"*Enggak papa pengen jemput kamu aja. Dan aku juga enggak sibuk." Jawab Daven. "Oo iya, ini bawa apa?" Tanya Daven kepada Sandra. Pasalnya ditangan kanan Sandra, dia menenteng sebuah paper bag*.



*Sandra mengangkat paoerbagnya*.


"*Oo ini... Ini buat Kak Davi." Jawab Sandra*.



*Mendengar jawaban Sandra, Daven langsung mengerutkan dahinya. Maksudnya apa? Sandra membawa sesuatu buat Davian? Kenapa bukan buat dirinya saja*?


"*Kenapa buah Davian? Kenapa bukan buat aku?" Tanya Daven kepada Sandra*.



"*Soalnya twins pengen uncle Davi mereka yang makan ini." Jawab Sandra*.



"*Memangnya itu apa?" Tanya Daven*.



*Daven merasa kalau itu adalah sesuatu yang pasti akan membuat Davian tersiksa. Daven tau betul, ngidam Sandra ini bukanlah sesuatu yang akan membuat Davian bahagia*.



"*Mangga muda asam sama sambal rujak dengan cabai 17." Jawab Sandra dengan wajah polosnya*.



*Mendengar itu, Daven mengulum senyum. Karena Daven sangat tau bagaimana Davian sangat tidak suka makanan yang terlalu asam ataupun yang terlalu pedas. Kalau begini, Daven yang tadinya mau cemburu kan akhirnya tidak jadi. Masa iya Daven mau cemburu sementara Davian tersiksa*.



Tujuan Sandra dan Daven langsung ke ruangan Davian. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Daven langsung membuka ruangan Davian.


Melihat kedatangan 2 orang yang akhir-akhir ini dia benci, Davian langsung menghela nafas. Davian tau kalau kedatangan keduanya bukan tanpa alasan.


"Kali ini apa lagi?" Tanya Davian kepada Sandra.


Sandra tersenyum dengan wajah polosnya.


"Enggak ada apa-apa kok, aku cuma pengen liat Kak Davi makan mangga sama sambal rujak. Itu aja, enggak aneh-aneh." Jawab Sandra.


Davian menghela nafas lelah. Sementara Daven hanya diam dengan wajah cool-nya.


Sandra dengan cekatan mengeluarkan isi paper bag yang dia bawa. Ada sekotak mangga dan semangkuk kecil bumbu rujak.


Davian beranjak dari kursinya untuk melihat mangga yang Sandra bawa.


"Ini mangga mentah ya, warnanya masih ijo gitu." Tanya Davian kepada Sandra.


Sandra menganggukkan kepalanya.


"Iya, ini emang mangga mentah. Lebih tepatnya mangga muda. Ayo Kak, dicicipin." Ujar Sandra.


Tau kalau dia tidak bisa menolak, Davian langsung meraih satu potong. Dan...


"Weekkk... Asem banget San." Ujar Davian sembari melepehkan mangga yang baru saja dia gigit.


"Kalau pakai bumbunya enggak kok, Kak. Coba aja deh." Sandra tetap membujuk Davian agar mau memakannya.


Dan ya, Davian menurut. Dia mencoba untuk mencocolkan mangga muda dengan sambel rujaknya.


Dan....


"Uhukk... uhukk..."


Saking kuatnya rasa asam dan pedas, Davian sampai terkejut dan langsung terbatuk. Dengan santainya Daven langsung memberikan air minum kepada Davian.


"Makanya pelan-pelan aja makannya Kak. Aku sama Bang Cio enggak mau minta kok." Ujar Sandra.


Dan itu membuat Davian seketika menatap Sandra dan Daven dengan tatapan horor. Ini maksudnya mangga dan sambal rujak yang Sandra bawa memang khusus untuk dia? Ooohh tidak. Davian tidak mau.


Flashback off