
Setelah 1 tahun lebih Sandra dan Daven tinggal di rumah Ayah Radit, hari ini mereka memutuskan untuk pindah ke rumah yang saat ini sudah selesai di renovasi. Meski berat, nyatanya akan lebih baik kalau Sandra dan Daven memang tinggal terpisah dengan orang tua masing-masing. Biar bagaimana pun mereka sudah memiliki rumah tangga sendiri. Dan keputusan Sandra juga Daven untuk pindah nyatanya mendapat dukungan dari semua orang, termasuk Bunda Sya dan Ayah Radit sendiri. Mungkin memang ada rasa sedih, tapi Bunda Sya dan Ayah Radit memang sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan anak-anak mereka tinggal terpisah setelah memiliki keluarga masing-masing.
Dan semua itu oke, karena toh jarak rumah mereka tidak terlalu jauh juga dengan rumah Ayah Radit. Hanya Rendra saja yang saat ini tempat tinggalnya cukup jauh, karena Rendra dan Viola kan tinggal di rumah Mama Nisa. Lagi pula meskipun tinggal terpisah, toh setiap weekend mereka akan selalu berkumpul bersama seperti yang sudah-sudah. Dan kalau Bunda Sya maupun Ayah Radit kangen dengan cucu-cucu mereka, mereka juga bisa kapan pun datang ke rumah.
Ayah Radit dan Bunda Sya sendiri ikut mengantarkan Sandra, Daven dan cucu-cucu mereka ke rumah. Selain itu, Mama Laras dan Daddy Dani juga sudah menunggu kedatangan mereka di rumah.
Rencananya malam nanti akan diadakan acara syukuran untuk penempatan rumah. Ya meskipun ini bukan rumah baru, tidak ada yang salah juga kalau mereka mengadakan acara syukuran sebelum menempati rumah yang sudah lama tidak Daven dan Sandra tinggali. Sebenarnya rumah ini tidak kosong sih, secara ada Mbok Suti, Mbok Ras, dan juga 2 orang satpam yang menjaga dan mengurus rumah ini.
"Ugghh..." Sandra merebahkan dirinya diatas ranjang.
Tubuhnya terasa cukup lelah setelah tadi siang dia membereskan barang-barang milik Saga dan Dewa yang dia bawa dari rumah Ayah Radit. Itu pun sebenarnya Sandra juga dibantu oleh Suster Feni dan Suster Nina.
Padahal acara syukuran tadi yang mengurus juga Bunda Sya dan Mama Laras, tapi tetap saja Sandra merasa sangat lelah.
Daven yang melihat itu tampak tersenyum, kemudian berjalan menghampiri Sandra dan duduk tepat disamping istrinya itu.
"Capek?" Tanya Daven dengan lembut.
Dan dijawab Sandra dengan anggukkan kepala.
"Iya, punggung aku rasanya pegel banget. Kenapa ya Bang? Padahal biasanya enggak pernah." Jawab Sandra.
"Mungkin karena tadi kamu lama gendong Saga sama Dewa." Ujar Daven.
Benar, siang tadi Saga dan Dewa memang agak sedikit rewel dan hanya mau digendong Sandra atau Daven saja. Mungkin karena mereka merasa agak asing dengan tempat baru, jadi masih belum nyaman.
Tapi syukurnya menjelang sore Saga dan Dewa sudah mulai nyaman, terbukti dengan keduanya yang malam ini tetap bisa tidur dengan nyaman di box bayi mereka.
"Iya kali ya Bang." Jawab Sandra.
"Ya udah, sini biar aku bantu pijitin punggungnya, biar nanti jadi agak enakan." Ujar Daven.
Biasanya Sandra yang sering memijit Daven, tidak ada salahnya kalau kali ini gantian Daven yang memijit Sandra kan? Terlebih ada sesuatu yang sedang Daven rencanakan saat ini. Benar sekali, Daven memiliki niat terselubung saat menwarkan diri untuk memijat punggung Sandra.
"Beneran?" Tanya Sandra kepada Daven.
Daven menganggukkan kepalanya.
"Iya sayang, masa aku bohong." Jawab Daven.
Sandra tersenyum dengan lebar.
Sandra langsung mengubah posisinya menjadi telungkup. Daven yang melihat itu seketika langsung terdiam, tatapannya memindai tubuh Sandra dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Bagaimana tidak, saat ini Sandra memakai dress tidur diatas lutut, bisa bayangkan bagaimana keadaan dress yang Sandra pakai saat wanita itu mengubah posisinya menjadi telungkup? Keadaannya... yang jelas sangat-sangat menggoda iman Daven.
"Ekhmm..." Daven berdehem pelan sebelum mulai memijat punggung Sandra.
Sebisa mungkin Daven menahan diri untuk tidak menyerang Sandra saat ini juga. Biarlah Sandra rileks merasakan pijitannya terlebih dahulu.
"Ugghh... Enak banget deh." Ujar Sandra.
Nyatanya sedikit \*\*\*\*\*\*\* yang keluar dari bibir Sandra berhasil membuat Daven semakin tidak tahan.
"Enak?" Tanya Daven dengan suara parau.
Tangannya memang aktif memijat punggung Sandra, tapi matanya juga tidak kalah aktif memindai tubuh Sandra.
"Iya enak banget." Jawab Sandra.
Dari punggung, dengan perlahan pijitan tangan Daven mulai turun kearah pinggang.
"Geli Abang, jangan ke pinggang." Ujar Sandra.
Daven mengulum senyum. Menuruti keinginan Sandra, tangannya tidak lagi berada di pinggang wanita itu, melainkan turun lagi kearah bagian tubuh Sandra yang memiliki paling banyak lemak.
Hal ini membuat Sandra lagi-lagi terpekik pelan karena terkejut.
"Abang... nakal banget sih, tadi bilangnya mau pijitin. Ini kenapa aku malah di \*\*\*\*\*-grepein jadinya." Ujar Sandra.
Ucapan frontal Sandra ini membuat Daven tertawa. Untung saja Saga dan Dewa tidak lagi tidur di kamar mereka. Kedua bayi itu sudah mulai tidur di kamar mereka yang memang terhubung dengan kamar Sandra dan Daven.
"Ya apa salahnya, istri sendiri ini yang aku grepein." Jawab Daven santai.
Dan ya, niat awal yang tadinya hanya memijat akhirnya berakhir dengan kegiatan lain. Daven terlalu lemah iman kalau hanya sekedar memijat tubuh Sandra saja. Jadi ya...
"Untung aja setelah melahirkan kemarin aku langsung pasang KB, kalau enggak bisa-bisa Aileen, Saga sama Dewa, bakalan punya adik lagi." Ujar Sandra.
Hal ini membuat Daven kembali tertawa. Apa yang Sandra katakan benar adanya, kalau saja Sandra tidak langsung memakai KB, mungkin anak ke 4 Sandra dan Daven akan segera launcing lagi dalam waktu kurang dari 1 tahun.