
Akhirnya hari ini syukuran 7 bulanan Sandra diadakan. Seperti yang sudah direncanakan, syukuran 7 bulanan Sandra ini dilakukan di rumah keluarga Persada. Seperti saat acara 4 bulanan Viola seminggu yang lalu, diacara 7 bulanan Sandra ini semua anggota keluarga juga berkumpul.
Dengan perut besarnya ini, Sandra tidak bisa kalah harus duduk lesehan bersama dengan yang lain. Untuk itu, ditemani oleh Aileen dan juga para keponakannya yang lain, Sandra duduk diatas sofa. Bukan bermaksud tidak sopan, yang pernah hamil, apalagi hamil anak kembar pasti paham bagaimana rasanya saat mereka harus duduk dibawah. Perut pasti akan terasa tidak nyaman karena tertekan. Sementara itu Daven duduk dibawah tepat didepan Sandra. Seperti biasa, Daven tidak mau kalau harus berjauhan dengan istrinya itu.
Untuk acara syukuran 7 bulanan ini, Sandra dan Daven memang tidak melakukan rangkaian adat-adat, keduanya sepakat hanya melakukan acara pengajian dan santunan anak yatim piatu saja.
Selama acara berlangsung, Aileen tampak tenang. Terlihat kalau gadis kecil itu sangat menyayangi adik-adiknya yang masih ada didalam perut sang Bunda. Bagaimana tidak, sejak tadi tangan Aileen aktif mengusap dengan lembut perut Sandra.
Sampai tiba-tiba, perut Sandra yang sedang diusap oleh Aileen tiba-tiba melakukan sebuah pergerakan. Aileen tentu saja tampak sangat antusias. Tau kalau saat ini pengajian sedang berlangsung dan dia tidak boleh ribut, Aileen berbisik ditelinga Sandra.
"Bunda... Adek di dalam pelut tadi gelak-gelak." Bisik Aileen.
Sandra tersenyum, kemudian menganggukan kepalanya. Tangannya juga ikut terulur untuk mengusap perutnya.
"Iya, adek-adek Kakak lagi main didalam." Bisik Sandra.
Dan pembicaraan antara Sandra dan Aileen terdengar ditelinga Daven. Sebenarnya Daven sangat ingin ikut mengusap perut Sandra juga, tapi untuk saat ini Daven tidak bisa melakukannya. Daven tentu saja tidak boleh bersikap seperti itu ditengah pengajian yang sedang berlangsung.
"Nanti Dave, kamu bisa usapin perut Sandra sepuas yang kamu mau kalau kalian udah di kamar." Bisik Daven dalam hati.
Dan acara syukuran 7 bulanan Sandra berjalan dengan lancar. Satu persatu mulai berpamitan untuk pulang. Sandra sendiri langsung dibawa Daven untuk naik ke kamar. Benar, malam ini Sandra dan Daven memutuskan untuk menginap di rumah keluarga Persada. Sementara Aileen, gadis cilik yang sudah mengantuk itu dibawa Mama Laras ke kamarnya. Seperti biasa, kalau sudah menginap disini maka Mama Laras akan mengajak Aileen untuk tidur bersama dengan dirinya.
Sebelum membersihkan diri, Sandra memilih untuk duduk di sofa kamar terlebih dahulu. Ya, Sandra perlu mengumpulkan niat untuk beranjak membersihkan dirinya. Kalau sudah malam seperti ini, paling malas memang ke kamar mandi dan mengganti baju. Rasanya Sandra sangat ingin merebahkannya dirinya diatas ranjang sekarang juga. Tapi tidak, Sandra tidak bisa kalau harus tidur dalam keadaan seperti ini. Wajah berpoleskan make up, tubuh yang masih berbalutkan gamis, sudah pasti nanti Sandra tidak akan bisa tidur kalau dia nekat tidak membersihkannya diri terlebih dahulu.
Daven duduk disamping Sandra, tangannya terulur untuk mengusap perut sang istri.
"Tadi dibawah kaya Aileen, mereka gerak-gerak ya? Kok sekarang enggak kerasa sih, Yang." Ujar Daven kepada Sandra.
Sandra tersenyum.
"Mungkin mereka udah pada bobok, Bang. Soalnya kan ini juga udah malam. Capek juga mungkin karena dari tadi mereka udah main tendang-tendangan." Jawab Sandra.
Daven tersenyum, tangannya masih aktif mengusap dengan lembut perut Sandra.
Beberapa kali twins memang menendang. Dan kalau sudah menendang secara bersamaan, tidak jarang Sandra akan kesakitan. Jujur, ini adalah kali pertama Daven melihat tendangan janin bisa sampai seaktif ini. Karena saat Larisa hamil Aileen dulu, Aileen hanya memberikan tendangan-tendangan kecil saja. Dan itu tidak pernah membuat Larisa sampai kesakitan. Sangat berbeda dengan yang terjadi kepada Sandra. Rasa sakit akibat tendangan twins biasanya membuat Sandra sampai mengeluarkan keringat dingin. Dan kalau sudah seperti itu biasanya baru berhenti kalau Daven yang sudah turun tangan. Secara tidak langsung Daven akan memarahi twins kalau mereka membuat Sandra kesakitan.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Kalau tadi enggak sakit kok, mereka nendangnya pelan doang. Mungkin karena tau kalau Kakaknya lagi usap-usap mereka." Jawab Sandra.
Kalau Daven sudah mulai memarahi twins karena membuat Sandra sakit, biasanya Sandra akan langsung memberikan pembelaan.
"Jangan dimarahin, Bang. Nendangnya enggak sakit kok. Mereka cuma ajak main aja."
Setelah semua biaya terkumpul, akhirnya Sandra beranjak dari sofa untuk membersihkan diri. Karena gamis-gamis yang Sandra miliki hampir semuanya beresleting belakang, jadi mau tidak mau Sandra harus meminta bantuan Daven untuk membukanya.
Daven tentu saja dengan sigap membantu Sandra menurutkan resleting gamis yang dia pakai. Mereka membersihkan diri bersama di kamar mandi sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur. Tapi, sebelum tidur Daven tidak melupakan rutinitasnya untuk menyapa. dan memberikan ciuman kepada calon anak kembarnya.
"Bobok yang nyenyak ya sayang. Kalau mau main, jangan kencang-kencang, jangan sampai bikin Bunda jadi sakit ya."
Cup...
Cup...
Cup...
Setelah mengatakan itu Daven memberikan beberapa kecupan di perut Sandra. Ya beginilah Daven, mungkin dia terlihat agak sedikit galak, tapi sebenarnya dia sangat menyayangi calon anak kembarnya. Hanya saja ya itu, Daven kasihan kalau Sandra kesakitan karena tendangan calon anak mereka. Rasanya cintanya yang besar kepada Sandra, membuat Daven tidak ingin kalau Sandra sampai tersakiti apalagi sampai terluka.