Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Aku suka Abang cemburu


"Iya, itu Dokter Rian suka sama kamu. Dan aku nggak suka liat dia." Jawab Daven.


Sandra mendengar ucapan Daven justru tertawa. Menurut Sandra, Daven saat ini sangat berbeda dengan yang biasanya. Kenapa Daven terlihat seperti laki-laki posesif yang sedang cemburu ya? Tapi tidak mungkin Daven cemburu kan? Apalagi kepada Dokter Rian.


"Bang Cio nggak lagi cemburu kan? Ada-ada aja Abang nih." Ujar Sandra menanggapi dengan santai.


Tapi nyatanya wajah serius Daven sama sekali tidak berubah. Dan hal itu membuat Sandra langsung menghentikan tawanya.


"Bang..." Panggil Sandra saat Daven hanya menatapnya dengan wajah seriusnya.


Terlihat Daven menghela nafas. Sebelum akhirnya...


"Iya, aku cemburu. Aku cemburu waktu Dokter Rian ngeliatin kamu kaya tadi. Aku nggak suka kamu dilihatin sama laki-laki lain sampai kaya tadi." Jawab Daven jujur.


Daven sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikan perasaannya. Saat ini Daven cemburu, dan dia memilih untuk memberitahu Sandra.


Sandra yang mendengar itu terdiam karena sedikit syok. Untuk pertama kalinya Sandra mendengar Daven mengatakan kalau laki-laki itu cemburu. Sejujurnya sejak menikah dengan Daven, Sandra tidak pernah sedikitpun berpikir kalau Daven bisa memiliki rasa cemburu kepada dirinya. Sandra tau dengan pasti bagaimana sifat Daven selama ini. Dan rasanya mustahil kalau Daven cemburu. Tapi sekarang, baru saja Daven mengaku kalau dirinya cemburu karena Dokter Rian. Apakah Sandra tidak sedang bermimpi?


Sandra tersenyum tipis, tanpa mengatakan apa-apa, dia berjalan menghampiri Aileen yang sedang asik menonton Coco melon di tabletnya. Karena Aileen sedang sakit, Sandra memberikan kelonggaran gadis kecil itu untuk menonton video yang disukainya.


"Sandra... Aku bilang aku cemburu." Ujar Daven tiba-tiba.


Daven kesal saat melihat Sandra seolah tidak peduli kalau dirinya sedang cemburu.


"Iya, tadi kan Abang udah bilang. Aku udah denger kok." Jawab Sandra.


Sandra bukan mau bersikap tidak peduli. Sandra hanya tidak tau dia harus bersikap bagaimana untuk menanggapi pernyataan cemburu yang baru saja Daven katakan. Karena ini pertama kalinya Daven mengatakan cemburu setelah sekian lama.


"Kamu nggak mau ngomong sesuatu sama aku? Kamu nggak mau tenangin aku biar aku nggak cemburu lagi?" Tanya Daven.


Dan untungnya Aileen tidak terpengaruh dengan pembicaraan yang sedang terjadi antara Sandra dan Daven.


Sandra menggelengkan kepalanya.


"Enggak, aku suka kok Bang Cio cemburu. Jadi nggak papa kalau Abang cemburu." Jawab Sandra.


"Kenapa gitu?" Kini ganti Daven yang bingung.


"Ya enggak kenapa-napa. Ini pertama kalinya Bang Cio cemburu ke aku. Biasanya kan Bang Cio nggak pernah cemburu kalaupun aku sama laki-laki lain. Jadi aku seneng aja akhirnya Bang Cio bisa cemburu." Jawab Sandra. "Selama ini aku bahkan nggak berani berharap kalau Bang Cio bakal cemburu sama aku loh." Tambahnya lagi.


Mendengar itu, Daven mendadak speechless sendiri. Daven tidak menyangka kalau ternyata Sandra juga ingin merasakan yang namanya dicemburui.


Saat ini Daven bisa melihat sebuah senyum yang tersungging dibibirnya Sandra. Sepertinya Sandra memang sangat bahagia karena Daven cemburu.




Saat Sandra sedang menyuapi Aileen sarapan, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Dan masuklah satu persatu mulai dari Mama Laras, Daddy Dani, Bunda Sya, dan Ayah Radit.



"Gimana keadaan Aileen, San?" Tanya Mama Laras kepada Sandra.



"Alhamdulillah, Ma. Aileen udah baik, udah sehat. Bahkan setelah infusnya habis, kata dokter Aileen udah boleh pulang." Jawab Sandra.



Mendengar itu, semuanya mengucapkan syukur. Bersyukur karena Aileen tidak harus lebih lama dirawat di rumah sakit. Karena sejujurnya mereka juga tidak tega melihat jarum infus terpasang di pergelangan tangan Aileen.



"Oo iya, ini Mama sama Bunda bawain kalian sarapan. Belum pada sarapan kan?" Tanya Mama Laras kepada Sandra dan Daven.



Keduanya kompak menggelengkan kepalanya.



"Ya udah, kalian makan dulu aja, biar Mama yang lanjut buat suapin Aileen." Ujar Mama Laras.



Tapi Sandra menolak dengan halus usulan itu.


"Nggak usah Ma, ini bentar lagi makanan Aileen udah habis kok. Abis ini baru Sandra makan." Jawab Sandra.



Mama Laras menganggukkan kepalanya. Tidak masalah kalau Sandra ingin menyuapi Aileen sendiri.



"Kalau gitu kamu makam duluan aja Dave." Ujar Bunda Sya.



Berbeda dengan Bunda Sya yang bersikap biasa saja kepada Daven, Mama Laras sepertinya masih marah kepada putra sulungnya itu. Terbukti dengan Mama Laras yang sejak tadi sama sekali tidak mengajak Daven berbicara.



"Nanti aja Bun. Daven tunggu Sandra." Jawab Daven.



Apa yang Daven ucapkan ini tentu saja tidak luput dari pendengaran Ayah Radit dan Daddy Dani yang sejak tadi sedang mengobrol. Mereka berdua memang terlihat tampak acuh tak acuh kepada Daven. Tapi sebenarnya mereka sama-sama sedang mengamati gerak-gerik Daven. Keduanya seperti sedang menyelidiki kalau Daven benar-benar sudah berubah. Dan nyatanya, perbedaan sikap Daven kepada Sandra dari sebelumnya sangat terlihat dengan jelas. Tatapan mata Daven saat melihat kearah Sandra juga sudah terlihat berbinar, tidak seperti sebelumnya. Bahkan sejak tadi Daven sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari Daven. Daven bahkan seolah tidak peduli dengan sekitar karena fokusnya hanya kepada Sandra saja.



Dan sebagai sesama laki-laki, Ayah Radit dan Daddy Dani sangat tau apa arti dari tatapan Daven saat ini. Tatapan cinta yang bercampur dengan rasa takut kehilangan. Dulu, Ayah Radit dan Daddy Dani pernah mengalami apa yang sedang Daven alami saat ini. Jadi mereka sangat paham.



Selesai menyuapi Aileen, barulah Sandra berjalan kearah Daven untuk sarapan bersama. Sementara Bunda Sya dan Mama Laras menemani Aileen menonton. Ayah Radit dan Daddy Dani juga masih terlibat obrolan yang tidak jauh dari perusah dan saham.



"Ayah sama Daddy udah sarapan?" Tanya Sandra kepada Ayah Radit dan Daddy Dani.



"Iya, Ayah udah sarapan kok tadi." Jawab Ayah Radit dengan lembut.



"Daddy juga udah sarapan sebelum kesini." Jawab Daddy Dani.



Sementara Daven hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Ayah Radit dan Daddy Dani.



Sandra membuka semua bekal yang Bunda Sya dan Mama Laras bawakan. Tapi saat membuk salah satu bekal, Sandra langsung berlari ke kamar mandi karena mual.



Hueekk....



Daven dengan segera beranjak mengikuti Sandra ke kamar mandi. Dengan telaten Daven memijat tengkuk Sandra.



"Sana... Aku bisa sendiri, Bang." Ucap Sandra.



Tapi Daven menghiraukan ucapan Sandra. Wajah Daven justru terlihat pucat karena apa yang Sandra alami ini.



Sementara itu...


"Ini kayanya Sandra mual karena cium bau ikan, Ras. Waktu itu juga Sandra mual waktu cium bau ikan." Ujar Bunda Sya.



"Oo iya... Aku nggak tau, Mbak." Jawab Mama Laras.



Dengan segera Mama Laras langsung menutup salah satu kotak bekal yang berisi ikan.



Ayah Radit dan Daddy Dani sendiri hanya mendengarkan dengan seksama. Meskipun sebenarnya mereka juga terkejut sekaligus khawatir saat Sandra tiba-tiba saja berlari. Mereka mencoba untuk tidak panik karena yakin kalau Daven pasti bisa membantu Sandra mengatasi mualnya.



"Habis ini kita ke dokter kandungan ya. Aku mau pastiin kalau kamu sama anak kita baik-baik aja." Ujar Daven kepada Sandra.



"Aku mual cuma karena bau ikan, Bang. Aku nggak papa kok." Jawab Sandra.



"Iya memang... Tapi, kamu juga belum pernah memeriksakan kandungan kamu kan?"



Sandra menggelengkan kepalanya. Dia memang belum sempat memeriksakan kandungannya.



"Ya udah, pokoknya habis sarapan, kita langsung periksa." Ujar Daven.