Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Memadu kasih


Kali ini Daven sudah memakai bajunya. Tidak-tidak, lebih tepatnya Daven hanya memakai celana tanpa atasan. Ya, Daven membiarkan tubuh bagian atasnya polos tanpa ada kain yang menutupi. Nyatanya Daven memang lebih nyaman tidur dengan kondisi tanpa atasan. Apakah tidak dingin? Jawabannya tidak. Kalaupun dingin, Daven bisa menggunakan selimut dan juga memeluk Sandra untuk dia jadikan sebagai penghangat.


Dilihatnya Sandra yang sudah bergelung dibalik selimutnya. Daven tidak mengatakan apa-apa, hanya saja setelahnya dia keluar kamar begitu saja.


Sandra yang sadar kalau Daven keluar kamar, seketika langsung membuka selimut yang sejak tadi dia gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Bang Cio kemana ya?" Gumam Sandra seorang diri. "Apa dia marah sama aku? Kayanya enggak mungkin deh dia marah. Emangnya marah karena apa coba?"


Tidak ingin menghiraukan itu, Sandra memutuskan untuk beranjak dari ranjang guna mengganti bajunya yang sedikit basah karena pelukan Daven tadi. Memang hanya sedikit, tapi Sandra merasa tidak nyaman kalau tidur dengan baju yang terasa basah.


Sementara itu, Daven keluar kamar untuk ke kamar Aileen. Tadi saat Daven pulang dari kantor, Aileen memang sudah tidur. Ya, Daven tadi lembur di kantor, karena itulah dia pulang malam. Jadi sebelum tidur Daven akan ke kamar Aileen terlebih dahulu untuk menemui putri kecilnya.


Ceklek...


Dengan hati-hati Daven membuka pintu kamar Aileen. Tampak lampu utama sudah diganti dengan lampu tidur. Hingga membuat kamar Aileen menjadi temaram.


Tanpa suara, Daven melangkahkan kakinya kearah Aileen. Tampak putri cantiknya itu sudah tertidur dengan pulas. Melihat wajah Aileen, sebuah senyum tersungging dibibir Daven.


Dengan lembut tangan Daven mengusap puncak kepala Aileen.


"Selamat tidur putri Daddy... Maaf ya kalau akhir-akhir ini Daddy jarang nemenin Kakak main." Gumam Daven.


Sejak kelahiran Saga dan Dewa, Daven memang jadi lebih peduli dengan Aileen. Kalau dulu Daven hampi tidak pernah meluangkan waktu untuk bermain dengan putrinya, maka sekarang sudah tidak lagi. Daven menjadi seorang Daddy yang cukup sering menemani anak-anaknya bermain. Belajar dari kesalahannya dulu pada saat Aileen masih kecil, Daven tidak ingin lagi kehilangan moment tumbuh kembang anak-anaknya, terutama tumbuh kembang Saga dan Dewa yang saat ini masih bayi.


Hanya saja karena beberapa hari terakhir ini Daven cukup sibuk dan harus lembur, jadi Daven tidak memiliki waktu untuk bermain bersama dengan anak-anaknya. Setiap Daven pulang, anak-anaknya seringkali sudah tertidur. Daven hanya memiliki waktu di pagi hari saja, itu pun sangat sebentar.


"Selamat tidur ya, Kak. Semoga Kakak mimpi indah."


Cupp...


Daven memberikan sebuah kecupan didahi Aileen.


Setelan membenarkan posisi selimut Aileen, Daven beranjak untuk keluar dari kamar sang putri. Baru saja Daven membuka pintu kamar, itu bertepatan dengan Sandra yang hendak masuk.


"Eehh... Bang Cio disini ternyata." Ujar Sandra.


Sandra cukup terkejut saat tiba-tiba pintu kamar Aileen terbuka dan ternyata Daven keluar dari dalam.


Daven tampak tersenyum.


"Iya." Jawab Daven. "Kenapa? Nyariin aku ya?" Tanya Daven dengan tatapan menggoda.


Dengan cepat Sandra menggelengkan kepala.


"Enggak, aku enggak nyariin Abang kok. Aku cuma mau ngecek Aileen aja." Jawab Sandra menyangkal tuduhan Daven.


Tidak, Sandra berbohong. Karena pada kenyataannya Sandra memang mencari Daven. Hampir 10 menit Daven tidak kunjung masuk ke kamar, Sandra pikir Daven marah kepada dirinya. Oleh karena itu Sandra keluar kamar untuk mencari Daven. Dan tujuan awal Sandra mencari Daven memang kamar Aileen. Dan ternyata Daven memang benar ada disana. Hanya saja Sandra memilih untuk menyangkalnya. Gengsi dong kalau dia ketahuan mencari Daven.


"Halah... bohong kan pasti? Aku tau, kamu pasti cari aku sayang." Ujar Daven.


"Udah ah, mau ke kamar aja. Udah ngantuk." Jawab Sandra.


Baru saja Sandra hendak membalikkan tubuhnya untuk kembali ke kamar, pergelangan tangannya ditangkap oleh Daven.


"Katanya tadi mau ngecek Aileen, kok langsung balik ke kamar sebelum masuk." Ujar Daven.


Daven menaik-turunkan alisnya menggoda Sandra. Dan itu berhasil membuat Sandra menjadi salah tingkah. Apalagi posisi mereka saat ini sedang berhadapan. Dan... mata Sandra tertuju tepat didada bidang Daven.


Gugup? Ya, saat ini Sandra mendadak merasa gugup.


"Yaa-ya kan Bang Cio udah ngecek Aileen. Aku percaya kok kalau Aileen pasti tidur dengan nyenyak." Jawab Sandra pada akhirnya.


Daven mengangguk-anggukkan kepalanya memilih untuk percaya. Walaupun sebenarnya Daven sama sekali tidak percaya. Tapi ya sudahlah, Daven tidak ingin membuat Sandra semakin salah tingkah karena dirinya. Kenapa? Karena saat ini Daven sudah memiliki misi lain. Jangan sampai misinya ini gagal karena Sandra ngambek dengan dirinya.


"Ya udah iya, aku percaya kok. Ayo kita ke kamar." Ujar Daven.


Daven menggandeng tangan Sandra dan membawanya masuk ke kamar. Sebelumnya, Daven mendudukkan Sandra terlebih dahulu diatas ranjang. Sementara dirinya ke kamar Saga dan Dewa. Seperti yang Daven lakukan kepada Aileen, Daven juga melakukannya kepada Saga dan Dewa juga. Daven meminta maaf karena akhir-akhir ini dia tidak bisa menemani kedua putranya itu bermain. Dan Daven juga memberikan sebuah kecupan selamat malam untuk Saga dan juga Dewa.


Dan setelah semuanya sudah dilakukan, kini Daven kembali kepada Sandra. Saat ini Sandra masih duduk ditepi ranjang, posisi yang sama seperti terakhir Daven mendudukkannya.


Daven duduk disamping Sandra. Sebuah senyum tampak tersungging dibibirnya.


"Cantik..." Ujar Daven seraya menyelipkan rambut Sandra ke telinga.


Sandra sendiri memilih untuk tetap diam. Sandra sudah tau dan hafal mengenai apa yang akan terjadi setelahnya.


"Maaf ya kalau dari tadi aku godain kamu. Abis kamu gemes banget." Ujar Daven lagi.


Dan lagi-lagi Sandra memilih untuk tetap diam.


"Jadi, aku dimaafin enggak?" Tanya Daven kepada Sandra.


Kali ini Sandra tampak tersenyum tipis, sebelum akhirnya menganggukkan kepala.


"Iya, aku maafin Bang." Jawab Sandra.


Cup...


Daven memberikan sebuah kecupan didahi Sandra.


"Makasih ya sayang..." Ujar Daven.


Dan hal yang terjadi selanjutnya, tanpa bisa dicegah Sandra masuk kedalam rencana Daven. Dimalam yang dingin ini, keduanga bergelung bersama saling berbagi keringat.


Tau kan apa yang Daven dan Sandra saat ini tengah lakukan? Benar, mereka tengah memadu kasih.