Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Resepsi


Di sofa tempat dirinya duduk saat ini, Daven menatap Sandra dan Aileen yang sudah tertidur pulas setelah sebelumnya mereka berdua bercanda bersama. Melihat interaksi keduanya, Daven semakin yakin kalau keputusan dirinya menikahi Sandra adalah keputusan yang sejauh ini tepat. Karena Daven bisa melihat dan merasakan bahwa Sandra benar-benar tulus menyayangi Aileen.


Mengenai tadi saat dirinya mengucapkan ijab kabulnya, mungkin Daven terlihat sangat tenang. Tapi yang sebenarnya, Daven merasakan perasaan yang sama gugupnya seperti saat dia mengucapkan ijab kabul di pernikahan pertamanya. Apalagi saat Daven melihat Ayah Radit meneteskan air matanya, Daven juga merasa terharu. Daven juga mendadak sadar kalau suatu saat nanti dia harus melakukan hal yang sama seperti yang Ayah Radit lakukan saat ini, yaitu menikahkan putrinya kepada laki-laki lain. Sungguh Daven tidak bisa membayangkannya. Mungkin Daven memang bukan sosok ayah yang baik dan sempurna, tapi percayalah, Daven sangat-sangat mencintai dan menyayangi Aileen. Baiklah, lupakan hal sentimentil seperti ini.


Lalu apa yang Daven rasakan saat melihat Sandra turun dengan riasan pengantin dan kebaya ada jawanya? Jujur untuk sejenak Daven terpesona karena Sandra terlihat sangat cantik saat turun didampingi oleh Aleera dan Della. Tidak ingin ketahuan kalau dirinya terpesona, dengan pengecutnya Daven justru mengalihkan pandangannya dari Sandra saat wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu semakin mendekat.


Dan saat untuk pertama kalinya Sandra mencium tangannya dan dia mencium kening Sandra, Daven semakin kembali merasa gugup. Namun, tentu saja Daven bisa dengan lihai bisa mengatasinya. Karena Daven dengan sigap kembali memasang topengnya untuk bersikap senormal mungkin.


Kalau boleh jujur, jika ditanya apakah dirinya saat ini bahagia atau tidak dengan pernikahannya dengan Sandra, maka Daven bisa menjawab kalau dia sedikit merasa bahagia. Tapi, disisi lain Daven juga merasa bersalah kepada Larisa, mendiang istrinya. Walaupun sebenarnya tidak ada yang salah jika Daven menikah lagi, tapi... sudahlah, sulit untuk dijelaskan. Karena meskipun Daven menjelaskan, orang-orang pasti akan tetap menganggap dirinya bersalah karena telah membuat Sandra seolah menjadi pelampiasannya. Padahal kenyataannya, pernikahan ini terjadi karena keinginan Sandra sendiri.



![](contribute/fiction/4851411/markdown/13389695/1663850685615.jpg)



...***photo by pinterest***...



Malam ini menjadi malam dimana Sandra menjadi seorang ratu dalam sehari. Bahagia? Sudah pasti Sandra bahagia. Meskipun sebenarnya ada sesuatu yang saat ini mengganjal didalam hatinya. Tapi meski begitu, Sandra mencoba untuk mengabaikannya. Sandra berusaha untuk tetap bahagia di moment bersejarah yang Sandra harap akan menjadi moment satu kali dalam seumur hidupnya. Apapun yang terjadi kedepannya nanti, Sandra berharap rumah tangganya dengan Daven akan bertahan sampai maut memisahkan. Tidak peduli meskipun pondasi awal rumah tangga antara dirinya bersama Daven sebenarnya tidak terlalu kuat. Bahkan bisa dikatakan sangat rapuh. Karena seperti yang kita tau, pernikahan ini terjadi dengan Aileen menjadi alasannya.



“Menurut Abang, malam ini gimana penampilan aku?” Tanya Sandra dengan senyum cerah. Sandra benar-benar berusaha menampilkan wajah bahagianya. Sandra juga tetap bersikap seperti biasa kepada Daven. Bersikap seperti dia benar-benar bahagia.



Saat ini Sandra dan Daven duduk diatas kursi pelaminan setelah sebelumnya menyalami tamu-tamu yang hadir. Sejak tadi sama sekali tidak ada pembicaraan diantara Sandra dan Daven. Jadi, Sandra memutuskan untuk membuka pembicaraan. Tidak enak kan kalau mereka duduk berdua tapi malah justru diam-diaman saja.



Daven menoleh kearah Sandra, menatap sejenak


“Cantik.” Jawab Daven singkat. Namun yang aneh adalah ekspresi wajah Daven, eehmm mungkinkah Daven salah tingkah? Kenapa mendadak telinga Daven memerah ya?



“Abang? Abang kenapa?” Sandra yang menyadari perubahan ekspresi pada Daven langsung memanfaatkan keadaan ini untuk menggoda Daven. Kapan lagi kan? Selama ini untuk sekedar bercanda dengan Daven saja Sandra tidak berani. Tapi, mulai sekarang Sandra akan terus mencoba untuk mendekatkan diri kepada Daven. Dengan harapan semoga suatu saat nanti Daven akan membuka hati untuk dirinya.



“Kenapa?” Tanya Daven dengan ekspresi wajah bingung.



“Abang kok kaya lagi salting gitu, kenapa hayo?” Ujar Sandra seraya memperlihatkan senyum yang semakin lebar pada bibirnya.



“Ha? Enggak, kata siapa aku salting. Biasa aja, lagian salting karena apa coba?” Daven tetap saja mengelak bahwa dirinya saat ini sebenarnya sedang salah tingkah.



Sandra menganggukkan kepalanya.


“Iya deh, aku percaya/” Jawab Sandra.



“Beneran, aku nggak salting kok.” Ujar Daven kepada Sandra.



“Ya iya, aku percaya. Kenapa Abang memperjelas terus kalau Abang nggak salting?” Tanya Sandra santai.



Mendengar itu, Daven langsung menutup mulutnya tanpa mengatakan apa-apa lagi.




Dan... lagi-lagi Daven salah tingkah dibuatnya, karena kali ini terlihat sangat jelas. Padahal selama ini banyak orang yang terang-terangan memuji ketampanan Daven/ Dan Daven juga biasa saja mendapatkan pujian seperti itu. Tapi sekarang mendapat pujian dari Sandra kenapa dirinya merasa malu dan salah tingkah seperti ini.



“Endaa,,,,” Terdengar teriakan seorang balita yang sudah sangat Sandra dan Daven hafal suaranya. Siapa lagi kalau bukan Aileen.



Terlihat saat ini Aileen tengah berada di gendongan Rendra. Ya, hampir semua anak kecil bisa dengan mudah akrab dengan laki-laki itu. Bisa dikatakan, Rendra adalah pawangnya menaklukan anak kecil dan bayi-bayi. Entah jimat apa yang laki-laki itu miliki. Karena untuk bisa membuat seorang anak kecil bisa dekat dengan kita tentu saja itu bukan hal yang mudah, dan Rendra bisa melakukannya dengan mudah.



Kedatangan Aileen tentu saja disyukuri oleh Daven karena dia bisa langsung menyembunyikan salah tingkahnya.



Sandra langsung melambaikan tangannya kepada balita yang saat ini sudah sah menjadi putri sambungnya itu untuk datang kepadanya. Tentu saja dengan sigap Rendra langsung membawa Aileen kepada Sandra dan Daven.



“Dari tadi Aileen nyariin kamu terus dek/” Ujar Rendra setelah dia memberikan Aileen kepada Sandra.



Sandra tersenyum tipis.


“Aileen kangen sama Bunda ya nak?” Dengan gemas Sandra menciumi pipi Aileen. Untung saja lipstik yang Sandra pakai transferproof. Jadi tidak menempel dipipi gembul Aileen.



“Enda tantikk,,,,” Ujar Aileen mengabaikan pertanyaan Sandra.



“Iiihh, makasih loh atas pujian Aileen buat Bunda.” Aleera tersenyum semakin cerah.



Rendra dan Daven yang melihat interaksi itu tersenyum tipis.



Akhirnya setelah kurang lebih 3 jam berlalu, rangkain acara resepsi pernikahan Sandra dan Daven selesai. Kini Sandra sudah ada di kamarnya ditemani oleh Aleera dan beberapa orang wardrobe untuk membantu melepaskan gaun dan membersihkan riasannya.


Sementara Daven, tentu saja laki-laki itu masih ada dibawah bersama para laki-laki lain untuk menemani tamu-tamu yang masih ada dibawah


“Ly...” Sandra memanggil Aleera.


“Hmm, kenapa?” Tanya Aleera.


Sandra justru diam tidak menjawab ucapan Aleera.


“Kenapa San?” Ujar Aleera.


“Enggak, enggak jadi. Aku cuma pengen panggil kamu aja kok.” Jawab Sandra.


“Beneran?” Aleera terlihat tidak yakin dengan apa yang Sandra katakan.


“Iya beneran Aleera.” Jawab Sandra seraya tersenyum tipis. ”Eehmm, makasih ya hari ini kamu udah temenin aku.” lanjut Sandra.


Mendadak Aleera sadar kalau ada sesuatu yang sedang Sandra sembunyikan. Karena Aleera bisa melihat mata Sandra tidak memancarkan kebahagiaan yang semestinya sahabatnya itu rasakan. Dan Aleera memilih untuk tidak bertanya.