
Tiba-tiba...
"Kok kamu kaya aku waktu hamil si kembar si San. Mual kalau liat ikan. Kamu hamil?" Tanya Aleera.
Deg... Sandra tidak mengira kalau Aleera akan mengatakan hal itu. Dan itu membuat semua orang menatap Sandra dengan tatapan bertanya.
Sandra terdiam sejenak... Kemudian sebuah senyum muncul dibibir Sandra.
"Sebenarnya aku nggak mau kasih tau kalian dulu, karena aku pun belum kasih tau Bang Cio soal ini. Dan niat awal tadinya aku mau kasih tau kabar ini bulan depan dimana itu bertepatan sama hari ulang tahun Aileen. Tapi..." Sandra menghentikan kalimatnya. Kemudian Sandra menatap satu-persatu semua orang yang saat ini sedang menatap ke arah dirinya. Semua menunggu kelanjutan dari ucapan Sandra. "Tapi karena sudah ketahuan, ya udah aku kasih tau aja. Benar... Seminggu yang lalu, aku coba tes pakai testpack, dan hasilnya... Positif." Sambung Sandra. "Aku hamil..."
Mendengar ucapan Sandra, seketika semua orang riuh dengan kebahagiaan. Terutama Bunda Sya, Aleera, dan Viola. Mereka serempak langsung memeluk tubuh Sandra. Kabar kehamilan Sandra adalah kabar yang sudah mereka nanti-nantikan cukup lama.
"Selamat dek.. Bunda nggak nyangka akhirnya bakal gendong cucu dari adek." Ujar Bunda Sya. Bunda Sya benar-benar merasa sangat terharu.
"Akhirnya keinginan kita buat hamil bareng tercapai San. Besok kita priksa bareng ke tempat Dokter Susan ya." Ujar Aleera dengan semangat.
"Selamat dek, semoga lancar terus sampai lahiran." Ujar Viola
Ayah Radit, Kendra, dan Rendra, mereka juga turut bahagia mendengar kabar kehamilan Sandra. Berbeda dengan Daven yang saat ini tengah terdiam kaku ditempatnya. Dan untungnya tidak ada yang memperhatikan ekspresi Daven saat ini, kecuali Sandra. Melihat ekspresi Daven saat mendengar kabar kehamilannya membuat Sandra merasa sangat sedih. Sandra tau kalau Daven pasti tidak suka dengan kabar kehamilan dirinya.
Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahu Daven.
"Selamat Dave, akhirnya sebentar lagi bakal jadi bapak dua anak." Ujar Rendra kepada Daven.
Dengan cepat Daven langsung mengubah ekspresi wajahnya.
"Iya, makasih." Jawab Daven seraya tersenyum.
Senyum yang sebenarnya sangat Daven paksakan. Dan kemudian satu persatu juga mengucapkan selamat kepada Daven atas kehamilan Sandra.
Sejak kabar kehamilan Sandra diumumkan, Daven menjadi sangat diam, lebih diam daripada biasanya. Tapi karena orang-orang mengenal Daven dengan pribadi yang dingin dan tidak banyak bicara, jadi mereka tidak berpikir kalau Daven seperti ini karena kehamilan Sandra. Semua orang disini berpikir kalau Daven pastilah sangat bahagia dengan kehamilan Sandra. Karena yang mereka tau, Sandra dan Daven butuh waktu cukup lama untuk sampai akhirnya Sandra bisa hamil.
Sandra sendiri juga sama sekali tidak mengatakan apa-apa kepada Daven setelah pengumuman kehamilannya itu. Sandra memilih untuk menyibukkan diri dengan anggota keluarganya yang lain.
Sampai akhirnya, menjelang sore mereka berpamitan untuk pulang. Tidak terkecuali dengan Sandra dan juga Daven.
Sepanjang perjalanan, sama sekali tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Kalian tau sendirilah bagaimana keadaan Daven dan Sandra saat ini. Apalagi sepanjang perjalanan pulang Aileen tertidur di mobil. Menambah suasana didalam mobil menjadi sangat dingin.
Begitu sampai di rumah, Daven langsung turun dari mobil. Kemudian menggendong Aileen yang masih tertidur masuk ke dalam rumah. Daven tidak mengatakan apa-apa kepada Sandra seperti keberadaan wanita itu tidak terlihat dimatanya.
Sandra sendiri juga memilih untuk diam. Tatapannya saat ini terlihat datar dan kosong. Entah apa yang sedang Sandra pikirkan saat ini.
Setelah melihat Daven masuk ke dalam rumah, barulah Sandra turun dari mobil. Memasang kembali *poker face* yang membuat dirinya seolah terlihat baik-baik saja.
Sandra masuk dengan santai ke kamarnya. Terlihat saat ini Daven sedang duduk diatas ranjang dengan tatapan datarnya.
Sandra hendak melewati Daven, tapi tangannya dicekal oleh laki-laki itu. Membuat langkah Sandra langsung terhenti.
Sandra menatap Daven, menunggu laki-laki itu untuk berbicara. Tapi karena Daven tidak kunjung berbicara, Sandra memutuskan untuk bertanya lebih dulu.
Kini Daven menatap Sandra, kemudian melepaskan cekalan tangannya pada Sandra.
"Bukannya ada sesuatu yang harus kamu jelasin ke aku?" Ujar Daven dengan nada suara yang terdengar sangat dingin.
Sandra menghela nafas sebentar, kemudian mendudukkan dirinya disamping Daven.
"Seperti yang Bang Cio tau, saat ini aku hamil." Ujar Sandra dengan tenang.
Daven menghela nafas mendengar ucapan Sandra yang terdengar sangat tenang tanpa rasa bersalah.
"Tapi kenapa kamu bisa sampai hamil? Bukannya kamu selalu menggunakan kontrasepsi. Apa kamu memang sengaja membuat diri kamu hamil?" Tanya Daven dengan nada menuduh.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Mungkin Bang Cio nggak akan percaya sama yang aku katakan. Tapi aku tidak dengan sengaja membuat diri aku hamil. Seperti kata Bang Cio, aku selalu menggunakan kontrasepsi. Tapi, kalau Tuhan sudah berkehendak membuat aku hamil. Kita bisa apa?" Jawab Sandra tetap tenang.
"Bukan, ini bukan karena kehendak Tuhan. Ini karena kamu ceroboh Sandra. Seharusnya janin itu tidak tumbuh di rahim kamu Sandra. Tidak boleh." Ujar Daven dengan suara lirih.
Dan ucapan Daven ini benar-benar membuat Sandra merasa sangat sakit. Bisa-bisanya Daven mengatakan hal seperti itu. Sedangkan saat ini janin didalam rahimnya sedang tumbuh.
Tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya kepada Daven, Sandra tetap menunjukkan sisi tenangnya.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana? Anak kita sudah terlanjur tumbuh di dalam rahim aku. Apa tidak bisa Bang Cio menerima anak ini? Memang dia salah apa? Kenapa Bang Cio sebegitu tidak inginnya aku hamil?" Tanya Sandra.
Dan seperti biasa, Daven hanya diam tanpa mengatakan penjelasan apa-apa. Sebuah kebiasaan yang membuat Sandra saat ini merasa sangat muak. Apa sebegitu sulitkah untuk Daven memberikan penjelasan atas alasan kenapa Sandra tidak boleh hamil?
Kini Sandra menatap Daven dengan tatapan datarnya.
"Apa aku harus menggugurkan anak ini?" Tanya Sandra tiba-tiba.
Membuat Daven seketika langsung menoleh kearah Sandra. Hening beberapa saat sampai akhirnya Daven menjawab pertanyaan Sandra.
"Apa kamu mau melakukan itu?"
Sandra terdiam setelah mendengar ucapan Daven. Kedua telapak tangannya mengepal dengan erat. Tapi sesaat kemudian sebuah senyum muncul dibibir Sandra.
"Tidak... Tentu saja aku tidak akan melakukan itu. Karena asal Bang Cio tau, anak didalam rahim aku lebih berharga daripada apapun." Jawab Sandra.
Setelah mengatakan itu, Sandra langsung masuk ke kamar mandi meninggalkan Daven yang masih terdiam diatas ranjang. Menyalakan shower, kemudian menangis. Benar, Sandra sudah tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak menangis. Ucapan Daven yang secara tidak langsung mengatakan setuju kalau Sandra menggugurkan anak didalam rahimnya ini benar-benar membuat hari Sandra sakit. Dan ini adalah rasa sakit terparah yang pernah Sandra rasakan.
"Kamu jangan dengarkan omongan Daddy nak. Karena Bunda akan tetap mempertahankan kamu. Sekarang tidak ada yang lebih penting di dunia ini daripada kamu." Ujar Sandra seraya mengusap perutnya dengan lembut.