
"Kamu ngomong apa sih dek..." Tanya Bunda Sya dengan wajah bingung. Bunda Sya benar-benar tidak paham kenapa Sandra bisa berbicara seperti itu.
Apa maksud ucapan Sandra mengenai adek menjadi janda?
Sandra tersenyum.
"Bunda, untuk sekarang adek bakal jelasin secara singkat. Tapi kalau Bunda mau bertanya, Bunda tanyanya nanti aja ya? Soalnya hari ini tuh adek capek banget." Ujar Sandra. "Jadi, adek udah menggugah cerai Bang Cio. Adek merasa hubungan rumah tangga adek sama Bang Cio memang udah nggak bisa dipertahankan. Mengenai alasannya, adek bakal jelasin nanti. Sekarang adek mau naik ke kamar, adek capek pengen istirahat dulu." Tambahnya lagi. Tapi sebelum Sandra benar-benar naik ke kamar Sandra melanjutkan kalimatnya. "Adek mohon Bunda jangan sedih ya? Adek sekarang bahagia kok." Ujar Sandra.
Setelah mengatakan hal itu, Sandra langsung naik ke kamarnya meninggalkan Bunda Sya yang masih terdiam terpaku ditempatnya. Bunda Sya sendiri masih belum bisa mencerna semuanya. Mendengar apa yang Sandra katakan tadi benar-benar membuat Bunda Sya menjadi bingung karena saking terkejutnya.
Sementara itu, saat ini entah kenapa Daven merasa sangat gelisah. Daven sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba dia merasakan hal seperti ini. Beberapa hari terakhir sejak mengetahu Sandra hamil, Daven memang gelisah. Tapi kegelisahan yang Daven rasakan saat ini terasa sangat berbeda. Daven merasa seperti...
Brakk...
Tiba-tiba pintu ruangan Daven dibuka dengan kasar oleh seseorang. Dan orang itu adalah Davian, laki-laki itu datang bersama dengan Daddy Dani.
Dari wajahnya, sepertinya keduanya sedang diliputi dengan amarah. Daven tentu saja bingung melihat hal itu.
"Ada apa?" Tanya Daven dengan suara datar.
Davian yang melihat saudara kembarnya bertanya ada apa langsung berdecih. Davian saat ini sangat membenci Daven. Mendengar kabar dari Mama Laras kalau Sandra datang ke rumah memberitahukan kalau wanita itu akan bercerai dengan Daven membuat Davian yakin kalau saudara kembarnya ini sudah membuat Sandra terluka.
"Kenapa kamu nggak bilang ke Daddy dan Mama kalau akan bercerai dengan Sandra?" Tanya Daddy Dani dengan suara tenang.
Mendengar apa yang Daddy Dani ucapkan, sepontan mata Daven melebar karena terkejut.
"Maksud Daddy apa? Aku dan Sandra bercerai? Aku dan Sandra nggak bercerai Dad." Jawab Daven.
Mendengar apa yang Daddy Dani katakan, seketika jantung Daven rasanya ingin meledak detik itu juga. Sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba ada berita perceraian dirinya dan Sandra? Mungkin saat ini Daven dan Sandra memang sedang ada masalah. Tapi bukan berarti dia akan bercerai dari Sandra. Berita bohong darimana itu? Siapa yang sudah membuat berita keterlaluan seperti ini.
"Udah lah nggak usah ngelak lagi. Kalau emang kalian nggak cerai, kenapa Sandra tadi datang ke rumah buat titipin Aileen disana? Kata Mama, Sandra juga kasih tau Mama kalau kalian bakal cerai, Dave." Ujar Davian dengan nada tajam.
Daven menggelengkan kepala sebagai tanda kalau dia menyangkal tuduhan Davian.
"Enggak, gue nggak cerai dari Sandra. Dan selamanya gue nggak akan pernah menceraikan Sandra." Ujar Daven dengan nada tegas.
Dan itu membuat Davian juga Daddy Dani bertatapan dengan wajah bingung. Sebenarnya yang benar yang mana? Mama Laras memberitahu mereka kalau Sandra datang dan mengatakan kalau dia akan bercerai dengan Daven. Tapi sekarang Daven justru menyangkal perceraian itu.
Baru saja Daddy Dani hendak mengatakan sesuatu...
Ponsel Daven yang berada diatas meja bergetar. Membuat Daven dengan segera mengambil ponsel itu saat tau bahwa ternyata Sandra lah yang mengirim pesan.
*Bang, Aileen udah aku titipin ke Mama. Maaf kalau sebelumnya aku nggak izin dulu ke Bang Cio. Tapi aku yakin kalau Mama bisa merawat Aileen lebih baik dari aku*.
*Oo iya, sama satu lagi. Tadi aku udah daftarin perceraian kita ke pengadilan. Aku rasa ini keputusan yang tepat buat kita. Mungkin sidang pertama kita bakal dilakukan sekitar 3 bulan lagi*.
*Sebelumnya makasih ya. Selama hampir 2 tahun ini aku benar-benar bahagia bisa menikah sama Abang. Tapi mungkin emang sesuatu yang dipaksakan itu pada akhirnya nggak bakal baik. Dan juga, mungkin kita memang cuma berjodoh sampai sini. Sekali lagi makasih ya, Bang*.
Membaca pesan itu, tanpa mengatakan apa-apa, Daven langsung berlari keluar dari ruangannya. Meninggalkan Davian dan Daddy Dani yang kebingungan.
Perasaan Daven benar-benar sangat tidak karuan. Dan yang Daven rasakan saat ini sebagian besar adalah perasaan takut kehilangan dan juga rasa bersalah.
Para karyawan yang melihat Daven berlari dengan wajah tegang tentu saja penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah telah terjadi sesuatu di rumah?
Sepanjang perjalan, Daven benar-benar tidak bisa tenang. Bahkan saat ini Daven melajukan mobilnya dengan kecep diatas rata-rata. Saat ini Daven hanya ingin sampai rumah untuk segera meminta penjelasan kepada Sandra. Selama menyetir, Daven juga beberapa kali mencoba untuk menghubungi Sandra, tapi ponsel istrinya itu tidak bisa dihubungi karena tidak aktif.
Perjalanan yang biasan harus ditempuh selama 30 menit jika tidak sedang macet, kini berhasil Daven tempuh hanya dalam waktu 20 menit saja.
Daven sendiri langsu memarkirkan mobilnya secara sembarangan di halaman rumahnya. Hal ini membuat Pak Eko mengerutkan dahinya. Karena sebelumnya Daven tidak pernah melakukan hal seperti ini. Bahkan saat menunggu pintu gerbang di buka saja Daven membunyikan klakson sampai berkali-kali seolah meminta Pak Eko untuk segera membukakan pintu untuk dirinya.
Daven masuk ke rumah tanpa membuka sepatu yang dia pakai. Dengan segera dia langsung naik ke kamar.
"San.... Sandra... Kamu dimana." Sepanjang menuju kamar, Daven tidak hentinya memanggil nama Sandra. Tapi tentu saja tetap tidak ada jawaban karena Sandra memang sudah tidak berada di rumah.
Sementara dibawah, Mbok Sumi dan Mbok Ras saling bertatapan. Dalam hati mereka...
"Mungkinkah Sandra pergi dari rumah tanpa memberitahu Daven terlebih dahulu?"
Begitu masuk kamar, yang Daven dapati hanyalah sebuah ruangan kosong. Tapi Daven tidak menyerah, dia mencoba untuk mencari Sandra ke kamar mandi dan walk in closet. Sampai akhirnya pencariannya terhenti saat Daven melihat cincin, kartu ATM, dan lain-lain yang Daven ingat itu adalah milik Sandra.
Daven terduduk diatas ranjang dengan lesu.
"Kamu melepas cincin nikah kita San? Memangnya siapa memberi kamu izin buat melakukan itu? Aku tidak pernah mengizinkannya Sandra." Ucap Daven seraya menatap nanar cincin Sandra yang merupakan cincin pernikahan mereka.
Kini Daven menatap sekitar, sebuah perasaan kosong tiba-tiba menyusup kedalam dirinya.
"Enggak Sandra... Kamu nggak boleh begini. Sampai kapanpun kita nggak akan pernah bercerai. Aku nggak akan pernah melepaskan kamu." Gumam Daven.
Dari raut wajah Daven, terpancar sebuah ketakukan yang amat sangat.
Daven beranjak, sekarang dia akan ke rumah Mama Laras. Tadi Davian bilang kalau Sandra kesana kan? Oke, Daven akan menjemputnya disana. Daven yakin Sandra masih ada disana. Karena Sandra tidak akan meninggalkan Aileen begitu saja. Sandra sangat menyayangi Aileen, istrinya itu tidak akan pernah meninggalkan Aileen. Itu berarti Sandra juga tidak akan pernah meninggalkan dirinya.