
Malam ini Daven sedang merasa gelisah sendirian di kamar hotelnya. Kenapa? Karena sejak tadi dia tidak bisa menghubungi Sandra. Entah kenapa saat ini Daven sangat ingin mendengar suara istrinya itu. Dan dengan Sandra yang saat ini tidak bisa dihubungi, Daven merasakan sebuah kegelisahan yang luar biasa. Bahkan sebelumnya Daven tidak pernah merasa segelisah ini.
"Angkat Sandra... Kenapa HP kamu nggak aktif sih." Sudah lebih dari 10 kali Daven mencoba untuk menghubungi Sandra. Sejak pukul 9 sampai saat ini jam menunjukkan pukul 11 malam, tapi tetap saja nomor HP Sandra tidak aktif.
Sampai akhirnya Daven menyerah. Meski begitu, Daven mencoba untuk tetap berpikir positif. Mungkin saja Sandra tidak bisa dihubungi karena ponselnya lowbat, dan Sandra ketiduran selagi ponselnya sedang di charger. Ya, mungkin seperti itu.
Dan setidaknya dengan tadi pagi Sandra masih menanyakan kabarnya lewat Beni, itu berarti Sandra baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan dirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan Sandra belum bisa memejamkan matanya. Yang dia lakukan hanya rebahan di ranjang, kemudian bangun untuk membaca novel, dan dilanjut dengan rebahan lagi. Kalau kalian tanya dimana Aileen, jawabannya Aileen tidur dikamar orang tua Sandra. Seperti biasa gadis kecilnya itu akan diambil alih oleh Ayah Radit dan Bunda Sya jika sedang menginap disini.
Sebenarnya Sandra ingin sekali memainkan ponselnya. Tapi mengingat bisa saja Daven menghubungi dirinya, Sandra kembali mengurungkan niatnya itu. Jujur, entah kenapa saat ini Sandra sangat tidak ingin berbicara dengan Daven. Sandra tidak suka saat dia membayangkan akan mendengar suara Daven. Sandra sendiri tidak tau kenapa dia bisa seperti ini. Padahal kalau dipikir-pikir, sebelum Daven berangkat ke Surabaya mereka sama sekali tidak ada masalah.
Ditambah Sandra sedang tidak sabar untuk segera mengetahui hasil tes yang akan dia lakukan besok. Sandra ingin segera mengetahui apakah dirinya benar hamil atau tidak. Jadi perasaan Sandra semakin tidak karuan saja.
Lelah memikirkan itu semua, akhirnya tanpa sadar Sandra tertidur dengan sendirinya.
Sandra menggeliat saat dia mendengar adzan subuh berkumandang. Jika biasanya Sandra masih akan malas-malasan sembari menunggu adzan subuh selesai, maka kali ini berbeda. Sandra langsung beranjak dari ranjang. Dan tujuan utamanya adalah untuk melakukan tes kehamilan menggunakan testpack yang kemarin sore dia beli.
Sandra benar-benar tidak tau apakah dia harus berharap hamil atau tidak. Kalau Sandra sendiri tentu saja inginnya dia benar-benar hamil. Karena Sandra memang sangat menginginkan hadirnya seorang anak dari rahimnya. Tapi disisi lain, Sandra juga tidak bisa mengabaikan ucapan Daven yang mengatakan kalau dia tidak ingin Sandra hamil.
Dengan 3 testpack berbeda, akhirnya Sandra mengetahui hasilnya.
Dengan mata berkaca-kaca antara bahagia dan juga sedih, Sandra menutup mulutnya tidak percaya dengan hasilnya.
Positif
Iya, hasil testpack menunjukkan garis dua yang berarti Sandra positif hamil.
Tanpa bisa ditahan lagi, air mata menetes melewati kedua pipi Sandra.
"Ternyata benar feeling Bunda. Kamu sudah ada didalam perut Bunda, nak." Ujar Sandra dengan nada suara yang terdengar bergetar.
Saking Sandra masih merasa terkejut dengan hasilnya. Sandra masih tidak percaya. Di usia pernikahan dirinya dan Daven yang akan menginjak 2 tahun, akhirnya Sandra bisa merasakan hamil.
Tapi, disini Sandra merasa bimbang. Bagaimana cara dirinya memberitahu Daven mengenai kabar kehamilannya ini? Apa Daven akan marah jika tau kalau Sandra hamil anaknya?
Tidak, untuk sekarang Sandra tidak akan memikirkan itu. Sandra tidak ingin dirinya menjadi setres dan nantinya malah membahayakan kandungannya.
Masalah Daven, biar Sandra selesaikan nanti. Saat ini Sandra sedang ingin merasakan perasaan bahagia atas kehamilannya tanpa memikirkan sesuatu yang membuat pikirannya terganggu.
Dengan cepat Sandra menghapus air matanya.
"Bunda bahagia karena kamu ada di dalam perut Bunda nak. Jadi, apapun yang terjadi nantinya, kamu harus kuat dan bertahan. Bunda akan terus menemani kamu tumbuh dan besar." Ujar Sandra seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Sandra keluar dari kamar mandi dengan wajah yang ceria. Setelah melakukan sholat subuh, barulah Sandra memberanikan diri untuk mengaktifkan ponselnya.
Dan seperti dugaan Sandra, ada banyak panggilan tak terjawab dari Daven. Ditambah juga beberapa pesan dari laki-laki itu.
from Bang Cio
San, kok tumben nomer kamu nggak bisa dihubungi? Lagi di charger?
San, kenapa masih belum aktif juga?
Membaca pesan itu, terasa hati Sandra menjadi menghangat. Mendadak rasa bersalah muncul karena Sandra telah dengan sengaja mematikan ponselnya sehingga Daven tidak bisa menghubungi dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, semalam Sandra merasa sangat tidak ingin mendengar suara Daven apalagi melihat wajahnya.
Tapi sekarang tidak dipungkiri kalau Sandra juga merindukan Daven.
^^^to Bang Cio^^^
^^^Maaf Bang, semalam HP lagi di charger terus aku ketiduran. Ini baru buka HP sekarang.^^^
^^^Aku juga kangen Bang Cio kok.^^^
Begitu pesan terkirim, Sandra tidak menyangka kalau Daven akan langsung membuka pesan darinya. Jam segini Daven sudah bangun? Tidak biasanya.
Bukan balasan pesan yang Sandra dapatkan dari Daven. Melainkan panggilan video call darinya.
Dan kini wajah Sandra dan Daven saling bertatapan.
"Akhirnya kamu bisa dihubungi lagi, San. Aku nggak bisa tidur karena kamu nggak bisa dihubungi. Semalem aku mau tanya sama Ayah atau Bunda, tapi aku nggak enak karena takut ganggu." Ujar Daven membuka pembicaraan.
Apakah ini salah satu kalimat terpanjang yang pernah Daven ucapkan? Sepertinya begitu.
Sandra tersenyum.
"Maaf Bang... Semalem aku benar-benar ketiduran dan baru buka HP tadi." Jawab Sandra. Dalam hati Sandra terus menggumamkan kata maaf karena dia sudah berbohong. Karena tidak mungkin Sandra berterus terang mengenai alasan kenapa dia tidak bisa dihubungi.
"Kamu baik-baik aja kan San?" Tanya Daven.
Dan... Ini adalah kali pertama Daven menanyakan kabar Sandra disaat laki-laki itu sedang berada di luar kota. Padahal sebelumnya Daven tidak pernah seperti ini.
"Iya, aku baik-baik aja kok. Bang Cio juga baik-baik aja kan? Nanti pasti sibuk banget ya? Pokoknya sesibuk apapun, Bang Cio jangan sampai lupa makan ya." Jawab Sandra.
Jika seperti ini, maka siapa yang akan menyangka jika sebenarnya Sandra sangat lelah dengan rumah tangganya. Bahkan, meski saat ini Sandra merasa rindu kepada Daven, tapi rasa lelah ini tetap Sandra rasakan.
"Hari ini enggak terlalu sibuk. Jadi kalau kamu mau ingatin aku makan, kamu bisa langsung kirim pesan atau telfon aku. Jangan tanya lewat Beni lagi, San." Ujar Daven kepada Sandra.
Sandra mengerutkan dahinya.
"Kenapa? Aku tanya lewat Mas Beni karena aku khawatir kalau aku ganggu kerjaan Bang Cio." Jawab Sandra.
Padahal biasanya memang seperti ini kan? Tapi kenapa sekarang Daven memprotesnya?
"Nggak papa, telfon aku aja kapanpun kamu mau. Kamu sama sekali enggak ganggu kerjaan aku." Ujar Daven.
Tidak tau harus merespon apa, Sandra hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya sebagai pengganti jawaban iya.
"Mau aku bawain oleh-oleh apa dari Surabaya?" Tanya Daven tiba-tiba.
Sepertinya hari ini Daven banyak melakukan hal-hal yang tidak terduga dan sebelumnya tidak pernah laki-laki itu lakukan.
"Apa aja, kalau Bang Cio yang bawain aku pasti terima." Jawab Sandra seraya memperlihatkan senyumnya.
.
.
.
Yeayy... Akhirnya Sandra positif hamil. Tapi gimana dengan Daven?
Jangan lupa kritik dan sarannya 😍
Terima Kasih 😘🥰