
Sandra, Daven beserta anak-anak mereka baru saja pulang dari kediaman keluarga Persada. Mereka memutuskan untuk tidak menginap karena besok Aileen masih harus sekolah dan Daven pun harus ke kantor. Untuk Daven, sebenarnya dia memiliki banyak setelan kerja yang dia tinggal di rumah orang tuanya. Tapi untuk Aileen, tidak ada seragam yang besok harus dia gunakan. Jadi ya sudah, lebih baik pulang saja.
Sesampainya di rumah, Sandra langsung membantu Aileen bersih-bersih. Sementara Saga dan Dewa dibantu oleh Suster Feni dan Suster Nina. Daven? dia mengurus dirinya sendiri sembari menunggu Sandra. Nah kan, kalau tadi Daven tidak meminta Sandra untuk naik, sesampainya di rumah pun dia tidak memiliki kesempatan untuk berduaan dengan Sandra. Mengingat Sandra harus mengurus anak-anak terlebih dahulu.
Tidak apa-apa, lagi pula kalau malam kan Sandra menjadi hak milik Daven seorang. Aileen sudah tidur di kamarnya sendiri, begitu juga dengan Saga dan Dewa.
Tapi tiba-tiba saja...
Ditengah acara makan malam, Aileen mengatakan sesuatu yang membuat harapan Daven untuk bisa berduaan dengan Sandra musnah.
"Kakak mau bobok sama Bunda, boleh kan?" ujar Aileen memasang wajah polos.
Daven lupa kalau Aileen tetaplah anak kecil yang sewaktu-waktu ingin tidur bersama dengan orang tua nya. Dan sekarang ini, disaat waktu yang menurut Daven sangat tidak tepat tiba-tiba saja Aileen bilang ingin tidur bersama dengan sang Bunda. Kalau begini, Daven jadi tidak bisa menikmati waktu quality time nya bersama dengan Sandra dong?
Mendengar ucapan Aileen, Sandra menoleh kearah Daven. Biar bagaimana pun Sandra tau kalau sudah sejak tadi pagi Daven ingin berdua saja dengan dirinya. Dan saat ini Sandra bingung harus menjawab apa. Olaeh karena itu Sandra menoleh kearah Daven untuk meminta jawaban dari suaminya itu. Kalau Daven menggelengkan kepala, dia akan mencoba untuk membujuk dan memberikan pengertian kepada Aileen agar malam ini tidak tidur di kamar mereka. Biar bagaimana pun Sandra harus memprioritaskan Daven sebagai suami nya.
Tapi ternyata Daven menganggukkan kepala, itu artinya Daven tidak masalah kalau Aileen tidur bersama dengan mereka.
Kali ini Sandra menoleh kearah Aileen, tampak sebuah senyum tersungging dibibir merah mudanya.
"Iya boleh, nanti kakak bobok sama Bunda dan Daddy," jawab Sandra.
Tampak Aileen bersorak kegirangan setelah mendapatkan izin dari Sandra. Memang sudah semingguan ini Aileen tidak tidur bersama dengan Bunda dan Daddy nya, dan saat ini Aileen sedang merasa rindu dan ingin tidur bersama.
Selesai makan malam dan bermain sebentar, Sandra dan Daven membawa anak-anak mereka ke kamar. Sandra menggendong Saga, sementara Daven menggendong Dewa. Aileen sendiri berjalan lebih dahulu di depan Sandra dan Daven.
"Kakak, ayo gosok gigi dulu, Bunda temenin," ujar Sandra kepada Aileen.
Sandra sengaja langsung mengajak Aileen ke kamar mandi untuk gosok gigi terlebih dahulu agar nanti kalau sudah mengantuk Aileen bisa langsung tidur.
Aileen sendiri langsung menuruti ucapan sang Bunda. Dengan segera dia beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi ditemani oleh Sandra.
Sementara Daven, saat ini dia menemani Saga dan Dewa bermain. Dua bayi tampan dan menggemaskan itu sepertinya belum mengantuk sama sekali. Mereka masih tampak asik bermain dengan mainan masing-masing. Tapi yang namanya laki-laki, terkadang cara bermain mereka memang agak ekstrim. Tidak jarang Saga dan Dewa akan saling memukul kalau sedang berebut mainan. Padahal semua jenis mainan yang Daven, Sandra dan yang lainnya beli selalu berjumlah 2 agar mereka tidak berebut saat memainkannya. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, sesekali Saga dan Dewa akan tetap saling berebut.
"Udah malem loh, nak. Ayo bobok," Daven mengajak Saga dan Dewa untuk tidur.
"Noo, aga ain," jawab Saga dengan suara menggemaskan.
"Ewa ain eddyy," Dewa juga tidak mau kalah.
Daven tersenyum tipis. Baiklah, dia akan memberikan waktu sebentar lagi untuk Saga dan Dewa bermain.
Sampai akhirnya Aileen dan Sandra keluar dari kamar mandi, Saga dan Dewa baru melupakan mainan mereka. Bisa dibilang Saga dan Dewa itu bucin sekali kepada Aileen, mereka berdua selalu ingin menempel dengan sang kakak. Dan karena Aileen hanya satu, sudah pasti tidak jarang Aileen menjadi rebutan keduanya.
"Atakkk, aga ndong aga ndong," Saga berjalan menghampiri Aileen dan merentangkan kedua tangannya meminta untuk digendong oleh Aileen.
Tidak mau kalah, Dewa pun berjalan menghampiri Aileen dan Saga. Dewa juga merentangkan kedua tangannya meminta hal yang sama kepada Aileen.
Melihat kelakukan kedua putranya, Sandra dan Daven tampak menggelengkan kepala dengan senyum yang tersungging dibibirnya. Rasanya gemas sekali setiap melihat interaksi mereka bertiga. Tidak menyangka kalau Saga dan Dewa akan sebucin ini kepada Aileen. Tapi tidak heran juga sih, selama ini Aileen selalu baik dan menyayangi adik-adiknya, tidak heran kalau adik-adiknya pun jadi tidak mau lepas dari dirinya.
"No, Kakak Aileen punya Bunda," ujar Sandra jail.
Dengan tiba-tiba Sandra menggendong Aileen dan membawanya keatas ranjang. Hal ini membuat Saga dan Dewa tidak terima karena dijauhkan dari sang kakak.
"No endaa... no akall," ujar Saga menjerit.
"akalll, endaa akalll," Dewa pun tidak mau kalah lagi.
Kalau sudah begini, Daven hanay bisa menggelengkan kepala. Karena tidak seperti ibu, terkadang Sandra justru seperti kakak dari Aileen, Saga, dan Dewa. Bagaimana tidak, Sandra suka sekali kalau untuk urusan menjahili Saga dan Dewa.