Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Pagi yang cerah


Sandra membuka sedikit matanya saat sinar matahari menyorot ke wajahnya melalui sela-sela jendela gorden yang tidak tertutup rapat. Awalnya Sandra berniat untuk kembali melanjutkan tidurnya lagi, karena jujur saja Sandra masih merasa sangat mengantuk dan ditambah tubuhnya saat ini terasa sangat pegal. Tapi, baru saja Sandra memejamkan matanya, tiba-tiba memori akan kejadian semalam berputar di kepalanya. Membuat Sandra dengan segera kembali membuka matanya.


Wajah Sandra seketika saja memerah. Apalagi saat ini dia bisa dengan jelas merasakan sebuah hembusan nafas yang terasa hangat mengenai leher belakangnya. Ditambah sebuah tangan yang saat ini melingkar di pinggang rampingnya. Tanpa melihat pun Sandra tau kalau yang ada dibelakangnya adalah Daven. Karena kalau bukan Daven, memangnya siapa lagi?


Sekarang rasa kantuk benar-benar sudah hilang. Rasanya sangat tidak mungkin untuk Sandra melanjutkan tidurnya lagi. Sandra juga tidak berani menggerakkan tubuhnya. Hal ini karena Sandra baru sadar kalau saat ini, tubuhnya dan tubuh Daven yang berada dibawah selimut, masih dalam keadaan tanpa busana. Sandra khawatir kalau dia bergerak justru akan membangunkan Daven. Sementara saat ini Sandra tidak tau harus bersikap bagaimana kepada suaminya itu.


Sandra benar-benar merasa salah tingkah sendiri.


Sampai akhirnya entah beberapa menit berlalu, Sandra bisa merasakan pergerakan Daven yang ada dibelakangnya. Dengan cepat Sandra memejamkan matanya lagi dan berpura-pura untuk tidur.


Sandra pikir setelah bangun tidur Daven akan langsung beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Tapi ternyata dugaan Sandra salah besar. Karena yang terjadi selanjutnya adalah Daven yang justru semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Sandra. Bahkan saat ini Sandra bisa merasakan bagaimana Daven memberikan banyak ciuman pada punggung polos miliknya. Hal itu membuat tubuh Sandra seketika langsung bereaksi tidak normal.


Daven sendiri langsung tau kalau saat ini Sandra sudah bangun.


"Selamat pagi, Sandra." Bisik Daven ditelinga Sandra.


Sekali lagi Sandra tentu saja tidak bisa untuk tetap berpura-pura tidur disaat dirinya sudah tertangkap basah seperti ini.


"Selamat pagi, Bang." Jawab Sandra dengan suara lirih.


Hening, tidak ada pembicaraan lagi antara Sandra dan Daven. Sampai akhirnya....


"Terima kasih karena membuat aku menjadi yang pertama untuk kamu." Bisik Daven ditelinga Sandra.


Mendengar ucapan Daven, jelas saja wajah Sandra semakin memerah karena malu sekaligus salah tingkah. Sandra juga tidak menyangka kalau akhirnya dia benar-benar menjadi perempuan dewasa. Menjadi seorang istri yang melakukan kewajibannya dengan melayani suami sebagaimana mestinya.


"Sama-sama." Jawab Sandra dengan suara lirih.


Sandra benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Sandra masih merasa malu saat ini. Dan syukurlah Daven bisa mengertikannya.


Cup... cup... cup...


Lagi-lagi Daven memberikan banyak kecupan pada punggung dan bahu Sandra.


"Udah siang, bangun yuk? Yang lain pasti juga udah nunggu buat sarapan bareng." Bisik Daven ditelinga Sandra.


"Eehmm... Bang Cio duluan aja, nanti aku nyusul." Jawab Sandra.


Dari balik punggung Sandra, bibir Daven menyunggingkan senyum. Daven tidak menyangka kalau Sandra bisa malu-malu seperti ini. Karena biasanya Sandra terkenal dengan wanita yang kadang tidak punya malu. Sandra adalah wanita yang dengan rasa percaya diri yang cukup tinggi. Dan rasa percaya diri Sandra itulah salah satu alasan yang membuat Daven menyukai Sandra.


"Ya udah, kalau gitu aku yang bersih-bersih dulu. Kamu istirahat lagi nggak papa." Ucap Daven sembari memberikan satu kecupan lagi pada bahu Sandra.


Sandra sendiri hanya menganggukkan kepalanya.


Setelahnya Daven menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Apa yang Daven lakukan itu tanpa sengaja membuat selimut juga mengekspos tubuh polos Sandra.


"Abang..." Dengan cepat Sandra langsung menarik selimut lagi guna untuk menutupi tubuhnya. Sandra benar-benar malu saat ini.


Daven justru malah tertawa melihat hal itu.


"Kenapa malu? Tubuh kami seksi kok. Kamu harus percaya diri didepan aku, Sandra." Ucap Daven santai.


Tawa Daven semakin tergelak karena itu. Tanpa mengatakan apa-apa, Daven beranjak dari ranjang dan berjalan santai didepan Sandra meskipun saat ini tubuhnya benar-benar polos tanpa adanya satu helai kain pun yang menutupinya. Daven benar-benar tidak tau malu.


"Abang..." Lagi-lagi Sandra memekik. Kali ini matanya langsung tertutup begitu melihat Daven yang melewatinya.


"Apa sih San? Kamu dari tadi teriak-teriak terus. Padahal semalam juga udah banyak teriak-teriak. Nanti suara kamu habis loh." Ujar Daven menanggapi teriakan Sandra.


Kali ini Sandra langsung mengubah posisinya menjadi membelakangi Daven.


"Ya Abang, kenapa jalan didepan aku nggak pakai baju begitu? Emangnya Abang nggak malu apa?"


"Malu sama siapa? Malu sama kamu? Ya buat apa malu Sandra. Lagian kan kamu semalam juga udah lihat semua. Udah ngerasain juga. Jadi buat apa malu?" Daven masih tetap santai menanggapi rasa syok yang sedang Sandra alami akibat melihat tubuh polos miliknya.


"Iihh... Udah sana-sana. Katanya mau ke kamar mandi, cepetan Bang." Sandra memilih untuk mengganti topik dengan mengusir Daven kembali.


"Bareng aja gimana San? Biar kita jadi hemat waktu." Ujar Daven yang masih saja menggoda Sandra.


"No... Cepetan Abang..."


Daven kembali tertawa melihat reaksi Sandra itu. Tapi kali ini Daven memutuskan untuk langsung ke kamar mandi. Karena Daven merasa tidak enak kalau dia turun terlalu siang.


Setelah terdengar pintu kamar mandi dibuka dan ditutup kembali, barulah Sandra membalikkan tubuhnya.


"Hufftt...." Kali ini Sandra sudah bisa bernafas lega. Dapat Sandra rasakan kalau wajahnya sejak tadi terasa panas karena apa yang Daven lakukan.


Dengan cepat Sandra beranjak dari ranjang, dan memakai dress tidur yang semalam dia pakai. Kalian tau dimana Sandra menemukan dress tidurnya? Benar sekali, dress tidurnya tergeletak dengan mengenaskan diatas lantai.


Setelah memakai dress nya lagi, Sandra langsung melepas seprai, selimut, dan sarung bantal juga guling. Kemudian menggantinya dengan yang baru.


Saat Sandra hendak meletakkan seprai di keranjang kotor, Sandra dibuat terkejut dengan pantulan dirinya di kaca. Pasalnya, banyak sekali tanda merah yang muncul di kulit Sandra. Mulai dari lengan, dada, hingga leher.


"I-ini aku harus gimana?" Sandra benar-benar merasa syok sendiri.


Sandra bukan tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Sudah pasti ini adalah hasil dari apa yang Daven lakukan semalam.


Masalahnya sekarang, bagaimana bisa Sandra turun kalau dirinya dalam keadaan seperti ini? Sandra tentu saja akan sangat malu kalau orang lain melihatnya.


"Bang Cio... Kenapa bikinnya banyak banget kaya gini." Ujar Sandra menggeram dengan pelan.


.


.


.


Pokoknya jangan lupa buat kritik dan sarannya 😍


Karena jujur aja, baca-baca komen temen-temen itu buat aku semangat dan selalu punya ide buat bisa terus lanjutin setiap cerita yang aku buat😍


Terima Kasih 😘πŸ₯°