
Meskipun awalnya agak sedikit sedih, tapi setelah berpikir dengan kepala dingin, Sandra akhirnya bisa menerima keputusan Daven. Entah saat ini lagi-lagi Sandra sedang membohongi dirinya atau tidak, tapi Sandra akhirnya juga setuju bahwa adanya Aileen diantara dirinya dan Daven sudah lebih dari cukup. Karena bagi Sandra, yang terpenting saat ini adalah hubungan rumah tangganya bersama Daven sudah lebih baik. Sandra tidak ingin membuat rumah tangganya menjadi kacau karena keegoisan dirinya kalau dia ngotot ingin memiliki anak.
Lagi pula, kenapa juga saat ini Sandra harus memikirkan masalah anak? Sedangkan proses pembuatan anaknya saja Sandra belum pernah melakukan.
Oke oke, mari kita lupakan masalah anak.
Ya, pada intinya setelah pembahasan mengenai anak, hubungan Sandra dan Daven tetap baik-baik saja. Sandra yang bersikap santai seperti biasanya, membuat Daven juga tidak lagi memikirkan rasa bersalahnya kepada Sandra. Daven pikir, kalau Sandra saja tidak mempermasalahkan keputusannya dirinya, Daven juga tidak perlu merasa bersalah. Itu berarti, Sandra juga sama seperti dirinya kan? Sama-sama tidak ingin memiliki anak selain Aileen.
Daven tidak tau saja, kalau keputusannya ini nanti bisa saja menjadi sebuah boomerang untuk hubungan rumah tangganya dengan Sandra.
"Bang, besok malem kan acara 7 bulanan Aleera, aku boleh ambil cuti 2 nggak?" Tanya Sandra kepada Daven.
Daven yang tadinya sedang sibuk dengan laptopnya, lalu mengangkat kepala menatap Sandra.
"Emang besok ya acara 7 bulanan Aleera?" Daven justru balik bertanya.
Sandra menganggukkan kepalanya.
"Iya, kemarin sih aku dikasih tau Aleera katanya besok." Jawab Sandra.
"Kira-kira aku harus ikut cuti nggak, San?"
Sandra mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Daven.
"Kenapa Bang Cio juga harus ambil cuti?"
"Ya kan kamu bilang acara 7 bulanan Aleera besok malem. Kamu ambil cuti pasti buat bantu-bantu persiapan disana kan? Nah, besok aku perlu ambil cuti juga buat bantu-bantu disana apa nggak?" Ujar Daven menjelaskan.
"Oo gitu-- Kayaknya Bang Cio nggak perlu ambil cuti sih. Soalnya kata Aleera, Bang Kendra juga nggak ambil cuti. Lagian udah ada orang yang ngurus kok. Jadi besok pulang dari kantor, Abang langsung ke rumah Bunda aja. Aku sama Aileen kesana duluan." Jawab Sandra.
Daven sendiri hanya menganggukkan kepalanya paham.
"Uuhh... Nggak nyangka banget kandungan kamu udah 7 bulan aja Ly. Itu berarti nggak lama lagi kita bakal ketemu sama baby." Sandra dengan bahagia mengusap-usap perut buncit Aleera.
Sandra merasa bentuk perut Aleera berbeda dengan kehamilan sebelumnya. Ya sebenarnya wajar saja sih, kan yang kemarin Aleera hamil kembar. Jadi baik dari segi bentuk atau ukuran jelas sangat berbeda.
"Iya dong, 2 bulan lagi. Doakan semoga persalinan aku lancar ya San." Ujar Aleera sembari tersenyum manis.
Sandra menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Disaat seperti ini, jujur saja Sandra menjadi sedih saat mengingat dirinya kemungkinan besar tidak akan merasakan hamil seperti Aleera saat ini. Mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi keputusan Daven, dan Sandra pun juga sudah setuju. Jadi, disini tidak perlu ada yang disalahkan. Karena menurut Sandra, apapun yang terjadi didalam sebuah pernikahan, tentu tidak bisa hanya dengan keputusan sepihak.
"Kenapa bengong?" Tanya Aleera seraya menghentikan tangan Sandra yang sedang mengusap perut buncit miliknya.
Sandra tersenyum.
"Aku nggak bengong Ly, cuma lagi menikmati perut kamu ini. Kaya udah lama aku nggak pegang, eeh tau-tau udah sebesar ini aja." Jawab Sandra.
"Udah lama kamu bilang? Baru juga seminggu yang lalu kita ketemu. Dan kamu nggak pernah lupa buat usap perut aku." Ujar Aleera.
Sandra tertawa geli.
"Ya seminggu itu udah lama Ly. Buktinya ini perut kamu udah tambah besar aja dibandingkan seminggu yang lalu." Jawab Sandra santai.
Aleera juga ikut tertawa. Aleera sudah paham, kalau berbicara dengan Sandra pasti dia yang akan selalu kalah. Karena Sandra selalu saja bisa menjawab setiap ucapan Aleera.
"Kamu masih pakai kontrasepsi, San?" Tanya Aleera tiba-tiba.
Pertanyaan yang membuat Sandra agak sedikit terkejut.
"Masih, Ly." Jawab Sandra berbohong.
Benar, Sandra mengatakan kepada Aleera bahwa sejak menikah dia memang memakai alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Seperti yang kita tau, Sandra pernah bilang kepada Aleera kalau dia dan Daven memang menunda untuk memiliki anak dengan alasan ingin fokus kepada Aileen. Padahal kenyataannya meskipun sekarang hubungan Sandra dan Daven sudah membaik, mereka belum pernah melakukan yang namanya hubungan suami istri. Karena sampai saat ini saja Sandra dan Daven masih tidur dikamar terpisah. Walaupun tidak jarang dia dan Daven tidur bertiga di kamar Aileen, tapi yang mereka lakukan hanya sebatas tidur saja. Tidak lebih.
"Jangan lama-lama di tundanya, San. Aku juga pengen punya keponakan dari kamu." Ujar Aleera seraya mengerlingkan matanya jahil.
"Nanti ya, tunggu baby di perut kamu ini lahir dulu." Jawab Sandra santai.
Hari ini acara syukuran 7 bulanan kehamilan Aleera di langsungkan. Dan seperti yang sudah Aleera katakan kepada Sandra sebelumnya, jenis kelamin baby tetap tidak akan di beritahukan. Jadi tidak akan ada acara baby shower dan dan semacamnya. Aleera bilang, dia ingin jenis kelamin baby menjadi surprise untuk keluarga. Ya walaupun sebenarnya Sandra kepo, tapi Sandra menghargai keputusan Aleera dan Kendra.
Pengajian syukuran 7 bulanan ini berlangsung dengan sangat hikmat dan khusyuk. Keluarga Santoso juga mengundang 1000 anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan untuk ikut mengaji di acara syukuran ini.
Acara syukuran 7 bulanan sendiri diadakan di rumah utama keluarga Santoso di mulai sejak habis maghrib dan selesai sekitar jam setengah 9. Sengaja acara tidak dimulai sehabis Isya, karena khawatir nanti justru selesainya terlalu malam. Kasian anak-anak juga kalau acara selesai kemalaman.
Apakah keluarga Persada hadir? Tentu saja mereka hadir. Tidak mungkin mereka absen dalam acara penting dari besannya. Hanya saja setelah acara mereka memang langsung pulang. Padahal Bunda Sya dan Ayah Radit sudah menawarkan untuk lebih baik menginap. Tapi Mama Laras dan Daddy Dani menolak dengan halus tawaran itu, hal ini karena besok pagi Daddy Dani ada acara di luar kota. Dan seperti biasa, Mama Laras sudah jelas harus ikut. Karena sejak dulu hingga sekarang, Daddy Dani tidak akan bisa tidur kalau tidak ada Mama Laras disampingnya. Jadi, kemanapun Daddy Dani pergi, Mama Laras juga harus ikut.
Sandra? Yang dia bisa lakukan hanya tersenyum simpul sembari berdoa dalam hati semoga suatu saat nanti Daven akan menjadi suami seperti Ayah Radit, Daddy Dani, atau Bang Kendra.
Untuk saat ini Sandra sudah amat sangat bersyukur dengan perubahan Daven yang semakin baik.