
Di tempat lain nya, Yu Ming yang baru saja tiba di dapur, langsung mendapat teguran.
"Mau apa kamu kemari,.. ?"
Sambil tersenyum, Yu Ming tetap melangkah menghampiri Hua Sien Ce yang sedang membelakanginya dan berkata,
"Tentu saja aku datang untuk melihat, apa ada yang bisa ku bantu di sini.."
"Tidak perlu,.! kamu di sini malah menghalangi ku,.!."
"Awas minggir minggir..!"
"Bikin cuaca jadi semakin panas saja.."
Ucap Hua Sien Ce ketus.
Yu Ming sambil tersenyum lembut berkata,
"Ya sudah aku duduk di sebelah sana saja, kalau ada butuh sesuatu panggil saja.."
"Aku siap melayani mu,.."
Selesai berkata, Yu Ming berpindah ketempat, yang agak jauh, dan duduk disana.
Dia duduk diam sambil menatap bayangan punggung Hua Sien Ce yang sedang sibuk masak.
Ternyata si Niang Niang Ciang ini, setelah berubah menjadi seorang gadis, dia cukup cantik juga..
Bahkan bila di bandingkan dengan Ru Meng, dia kelihatan nya sedikit lebih cantik,.dia menang natural.
Batin Yu Ming sambil terus menatap Hua Sien Ce dengan tatapan mata sedikit kagum.
Tiba-tiba Hua Sien Ce, menoleh kebelakang dan berkata,
"Apa yang terus kamu lihat ? percaya tidak bila terus begitu, aku akan mengeluarkan nya buat di masak..?"
Yu Ming buru buru mengalihkan pandangannya, pura pura tidak dengar apapun.
Padahal di dalam hati Yu Ming, sedang memaki maki dirinya sendiri, yang sikapnya sangat tidak pantas.
Dia sudah akan segera bertunangan dengan Ru Meng, mana boleh dia punya pemikiran tidak benar seperti tadi.
Hua Sien Ce sendiri setelah menegur Yu Ming, saat kembali memasak, wajahnya justru mengkhianati ucapan dan sikapnya barusan.
Wajahnya justru terlihat tersenyum sumringah, ada rasa bangga dan bahagia yang jelas terlihat di wajah nya.
Yu Ming yang sedang melihat kearah kebun bunga, tiba tiba melihat bayangan wajah Ru Meng sedang menatapnya dengan sedih.
Tatapan mata itu seolah olah sangat kecewa dan terluka.
Yu Ming seperti di sadarkan, dia langsung bergumam sendiri,
"Ru Meng,.. ya Ru Meng... bagaimana keadaan mu sekarang..?"
"Aku tidak boleh berlama lama di sini,.. ya benar.."
"Si Niang Niang Ciang terlalu memikat, bila aku terus di sini dan terjadi hal yang bersalah pada Ru Meng.."
"Itu sangat lah tidak adil bagi nya.."
"Benar aku harus segera tinggalkan sini.."
"Jaga jarak dengan Hua Sien Ce, agar tidak menimbulkan masalah lain.."
"Dia sekarang adalah gadis tulen, bukan pria lagi, bila kita terus bersama pasti akan timbul masalah.."
Batin Yu Ming menegur dirinya sendiri.
Tanpa sadar Yu Ming tiba tiba bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan tempat tersebut.
"Hei kamu mau kemana !?"
"Masakan hampir siap nih !"
"Tunggu lah sebentar, habis makan baru pergi..!"
Tegur Hua Sien Ce saat dia mendengar langkah kaki Yu Ming hendak pergi dari sana.
Yu Ming menghentikan langkahnya, lalu dia berbalik lagi berjalan menghampiri Hua Sien Ce.
Yu Ming meminjam sumpit panjang, yang biasanya di gunakan sebagai alat masak.
Tapi kini Yu Ming menggunakan nya untuk mencicipi semua masakan Hua Sien Ce.
"Ming ke ke kamu kenapa terburu-buru ..?"
"Sebentar lagi kita bisa makan sama sama..?"
Tanpa menghiraukan teguran Hua Sien Ce, Yu Ming terus mencicipi nya satu persatu.
"Sempurna..lezat sekali.."
"Aku bakal akan merindukan nya.."
Gumam Yu Ming pelan.
Setelah itu, dia langsung berbalik menghadap kearah Hua Sien Ce.
Yu Ming tiba-tiba menarik Hua Sien Ce kedalam pelukannya, memeluknya dengan erat.
"Ming ke ke kamu kenapa !?"
"jangan macam macam..!?"
"Lepaskan..!"
Jerit Hua Sien Ce sambil berusaha meronta, ingin melepaskan diri.
Tapi dia tidak pernah berhasil, karena Yu Ming memeluknya dengan sangat erat.
Perlahan-lahan Hua Sien Ce tidak meronta lagi, dia kini balas memeluk Yu Ming dengan erat.
Hua Sien Ce menangis dalam diam, bersandar di dalam pelukan Yu Ming.
Airmata mengalir bercucuran tidak tertahankan lagi, membasahi baju Yu Ming.
Beberapa saat kemudian, Yu Ming pun melepaskan pelukannya, dan berbisik pelan, di dekat telinga Hua Sien Ce
"Aku pergi dulu, jaga diri mu baik baik.."
Setelah itu Yu Ming tanpa menghiraukan panggilan di belakangnya.
Dia sudah melesat jauh meninggalkan langit lapis 36.
Hua Sien Ce dengan airmata bercucuran berlari mengejar keluar.
"Yu Ming Ke ke jangan pergi..!"
"Jangan tinggalkan aku...!'
"Aku mencintaimu..! jangan tinggalkan Hua er..!"
"Hu..hu..hu..hu..!"
Tapi orang yang dia panggil, sudah pergi jauh, tidak mendengar juga tidak melihatnya lagi.
Kini hanya tersisa dirinya sendiri, yang terjatuh lemas duduk bersimpuh di sana, menangis seorang diri.
Hua Sien Ku, yang sempat mendengar keributan tersebut, dia sempat keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Hua Sien Ku akhirnya mengerti apa yang terjadi, dia menghela nafas sedih.
Setelah nya dia perlahan-lahan berjalan menghampiri putrinya.
Hua Sien Ku tanpa berkata-kata, dia hanya memberikan rangkulan lembut ke putri nya.
Rangkulan hangat dan belaian lembut penuh kasih sayang dari ibunya.
Seketika membuat Hua Sien Ce, tangisannya langsung meledak.
Dia tidak lagi bisa menahan kesedihannya lagi.
Hatinya serasa hancur berkeping, setelah Yu Ming benar benar pergi meninggalkannya.
Hua Sien Ce tidak bisa lagi menutupi perasaannya, yang selama ini menyukai Yu Ming secara diam diam.
"Ibu apa dosa ku,? apa dosa kita.?"
"Mengapa kita tidak bisa bebas pergi mencintai dan mencintai.."
"Aku sungguh sungguh membencinya ibu.."
"Hu..hu..hu.hu..!"
Ucap Hua Sien Ce mencurahkan isi hati nya, ke ibunya.
Di dunia ini, dia kini kembali hanya punya ibu dan gurunya lagi.
Yu Ming sahabat satu satunya, kini sudah pergi, pergi selamanya meninggalkan dirinya..
Tidak tahu kapan mereka baru punya kesempatan bertemu kembali.
Mungkin selama nya, mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Sewaktu berpisah dari Yu Ming dulu dia sudah merasakan nya sekali.
Tapi dia masih berusaha menahannya, mencoba merelakan dan melupakan nya.
Tapi kini saat mereka kembali bertemu, di mana dia tampil sebagai seorang gadis.
Dia jadi sadar sepenuhnya, ternyata Yu Ming juga tertarik dengan nya, tapi dia terpaksa memilih pergi karena keadaan dan kondisi mereka.
Tatapan mata Yu Ming terhadapnya, cara Yu Ming memuji masakan nya, dan terakhir pelukan mesra dan lembut dari Yu Ming.
Semua itu sudah lebih dari cukup, bagi dirinya yang memiliki perasaan halus dan kepedulian tinggi.
Menangkap sinyal perasaan Yu Ming pada dirinya.
Tapi justru semua kenyataan inilah, yang membuat hatinya sangat hancur dan bersedih karena nya.
Hua Sien Ce hanya bisa menangis pilu dalam pelukan ibunya.
Hua Sien Ku selain memberikan belaian lembut dalam diam.
Dia juga tidak tahu harus bagaimana berbicara untuk menenangkan kesedihan putri kesayangannya itu.
Sementara itu Yu Ming dengan perasaan yang gundah bimbang dan kacau balau.
Dia terus terbang, menembus langit lapis demi lapis.
.