
"Hufff..!"
Keluh Yu Ming, dengan langkah terhuyung-huyung kedepan.
Karena punggung nya di sodok, pinggulnya di tendang oleh pengawal, yang bertugas mengantarnya menuju tempat pembuangan.
Yu Ming hanya mengepalkan sepasang tinjunya, menahan sabar.
Dia sedang dalam proses menjalani masa hukuman, dia tidak boleh melawan.
Batin Yu Ming.
Mereka terpaksa harus menempuh jalan darat, karena Yu Ming sama sekali tidak bisa menggunakan Hawa Dewa nya untuk terbang.
Para pengawal itu sebenarnya mampu, tapi mereka malas menenteng Yu Ming terbang di udara.
Yu Ming hanya menjadi beban buat mereka.
Lagipula lewat perjalanan darat, waktunya menjadi panjang.
Mereka ada kesempatan menyiksa Yu Ming sesuka hati.
Setelah menempuh perjalanan hingga matahari terbenam, Yu Ming dengan tubuh manusia awamnya.
Mulai terlihat jalan raya semakin melambat, peluh terlihat membasahi seluruh tubuh nya.
Nafasnya mulai tersengal sengal, bibirnya kering dan pecah pecah, karena oleh pengawal keji itu.
Yu Ming sengaja tidak di beri minum.
"Kamu ini seperti babi pemalas, jalannya lambat sekali..!"
"Dasar anak haram tidak berguna..!"
Bentak salah satu pengawal yang menjadi komandan pasukan tersebut.
Sambil membentak kakinya menendang bokong Yu Ming.
"Dessss..!"
Yu Ming yang kedua kakinya memang sudah sangat lemas, dan lelah hampir tidak sanggup berjalan lagi.
Mendapatkan tendangan seperti itu, tanpa ampun lagi tubuhnya langsung tersungkur kedepan.
"Ha..ha..ha..ha...!"
"Dasar lemah tak berguna, pantas saja di hukum buang..!"
Ucap komandan itu mengejek dan menertawai Yu Ming.
Yu Ming yang tersungkur diatas tanah, dia mengempos semangatnya untuk bisa bangun.
Akhirnya perlahan lahan meski agak sempoyongan, Yu Ming berhasil bangun juga.
Tanpa menghiraukan mereka,Yu Ming dengan celana di bagian lutut robek, menampilkan lututnya yang lecet berdarah, begitupula dengan kedua siku tangan dan telapak tangan nya.
Dia dengan susah payah dan sepasang kaki gemetaran mencoba untuk memaksakan diri melangkah setindak demi setindak.
"Kelamaan..!"
"Kamu seperti keong saja jalannya,..!"
"Kapan kita mau sampai..!?"
Bentak salah satu pengawal di belakang Yu Ming.
Sambil membentak ujung tombak yang tumpul kembali bermain.
"Blukkkkk..!"
Dia kembali menghantam tengkuk Yu Ming.
Sekali ini Yu Ming tidak lagi sanggup bertahan, tiba tiba pandangan matanya menjadi gelap.
Tubuhnya tumbang kedepan seperti sebatang pohon roboh.
"Blukkk..!"
Yu Ming jatuh dengan wajah duluan mencium tanah.
Yu Ming tidak lagi merasakan apa apa, dia sudah pingsan.
Yu Ming tergeletak di sana dengan kening pipi mengalami luka lecet berdarah.
Hidung dan mulutnya yang membentur tanah keras di bawah sana, juga terlihat mengalirkan darah segar.
Salah satu pengawal maju kedepan berjongkok di samping Yu Ming.
Setelah memeriksanya sejenak, dia berkata.
"Masih bernafas, tapi melihat kondisinya, kita tidak mungkin bisa melanjutkan perjalanan lagi."
"Terpaksa kita melewatkan malam di sini."
Ucap pengawal itu, sambil menatap kearah rekannya yang lain.
"Pangeran haram itu biarkan saja di sana, hidup syukur, matipun juga siapa yang perduli..!"
Ucap pengawal yang lain nya santa.
Yu Ming yang baru saja mendusin, dia bisa mendengar dengan jelas, semua perbincangan mereka.
Tapi dia memilih diam, menelan semuanya sambil terus memejamkan matanya.
Yu Ming memilih melanjutkan istirahat nya agar besok, dia bisa fit segar lagi.
Jadi besok saat melanjutkan perjalanan tidak mudah loyo, sehingga tidak perlu mengalami banyak siksaan dari mereka.
Sementara Yu Ming sedang menempuh perjalanan nya, yang penuh derita dan siksaan.
Di tempat lain, pagi itu, di langit lapis ke 36, dari angkasa terlihat sebuah kereta kencana yang di tarik oleh Lung Ma.
Sedang bergerak mendekati pondok sederhana kediaman Hua Sien Ku.
Hua Sien Ce yang melihat hal ini saat sedang duduk sendirian di ayunan depan rumahnya.
Dia menatap dengan heran, dan bergumam sendiri.
"Siapa penumpangnya,..Yu Ming ke ke bersama istrinya kah yang datang berkunjung..?"
Tanya Hua Sien Ce di dalam hati, dia buru buru bangkit berdiri merapikan baju dan rambutnya.
Lalu dia mengeluarkan sebuah batu cermin kecil untuk berkaca, memastikan keadaan nya sudah rapi dan layak.
Sambil tersenyum puas menatap kaca, Hua Sien Ce segera menyimpan kembali batu kaca tersebut.
Setelah itu dengan wajah riang, dia segera berlari pergi menyambut kedatangan kereta kencana, yang baru saja mendarat tidak jauh dari halaman rumah mereka.
Hua Sien Ce berdiri sambil tersenyum manis, bersiap menyambut tamu yang dia kira adalah Yu Ming dan Ping Ru Meng.
Hua Sien Ce tidak pernah berpikir Yu Ming ke ke nya saat ini justru sedang menjalani siksa penghinaan dan penderitaan yang tiada habisnya.
Saat penumpang kereta itu keluar dari dalam kereta, senyum Hua Sien Ce seketika hilang berganti dengan wajah kaget.
Dia buru buru menjatuhkan diri berlutut memberi hormat dan berkata,
"Salam hormat Yang Mulia Kaisar Langit dan Ratu Langit.."
"Terimalah Hormat dari Hua Sien Ce , semoga Yang Mulia, panjang umur sehat dan sejahtera.."
Ucap Hua Sien Ce sambil menyembah kearah Kaisar Langit dan Ratu Langit.
Wang Mu Niang Niang setelah turun dari kereta kencana nya, dia buru buru maju menghampiri Hua Sien Ce .
Wang Mu Niang Niang buru buru membantu Hua Sien Ce berdiri dan berkata dengan suara bergetar penuh haru,
"Anak baik berdirilah tak perlu banyak peradatan.."
"Coba angkat wajahmu biar ibu melihatnya dari dekat.."
Hua Sien Ce dengan wajah bingung, dia mengikuti permintaan Wang Mu Niang Niang untuk bangkit berdiri.
Lalu mengangkat wajahnya menatap kearah Wang Mu Niang Niang.
Melihat sepasang mata Wang Mu Niang Niang telah basah airmata.
Hua Sien Ce menjadi semakin heran dan bingung.
Dia hanya bisa menatap Wang Mu Niang Niang dengan heran dan penuh tanda tanya.
Akan sikap Wang Mu Niang Niang begitupula Kaisar langit yang hadir disebelahnya.
Hua Sien Ce merasa mereka berdua menatap nya dan bersikap sangat aneh, sangat berbeda dengan biasanya.
Sebelum Hua Sien Ce sempat bertanya maksud tujuan kedatangan kedua orang di hadapannya.
Tiba tiba dari balik pondok terdengar suara lembut Hua Sien Ku.
"Hua er siapa yang datang ? Yu Ming kah..?"
Sesaat kemudian dari balik pintu berjalan keluar Hua Sien Ku.
Hua Sien Ku sesaat terpana kaget di depan pintu pondok rumahnya.
Melihat kedatangan Kakak dan kakak iparnya di sana.
Dia benar benar di buat kaget, tidak tahu mau bicara apa.
Tapi sesaat kemudian Hua Sien Ku akhirnya sadar.
Dia segera melangkah menghampiri kakak nya dan berkata,
"Salam hormat kakak Ti dan Kakak ipar.."
"Ada apa gerangan, sehingga kakak Ti dan kakak ipar yang berstatus tinggi jauh di sana.."
"Sudi datang mengunjungi tempat kami yang sederhana dengan status yang paling rendah ini.."