LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT

LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT
KEDATANGAN WARGA DESA


Yu Ming langsung bergulir kesamping Ping Ru Meng, lalu dia segera memunggungi kekasihnya dan berkata,


"Ngawur,.. sudah malam.."


"Ayo kita tidur.."


"Jangan bercanda lagi.."


"Wuutttt..!"


Yu Ming mengibaskan tangannya kearah lilin, yang menerangi kamar mereka.


Sehingga kamar pun menjadi gelap, sedikit remang remang, hanya mengandalkan bantuan sinar rembulan dan bintang, yang bertaburan di langit.


Di mana cahaya itu masuk lewat jendela kamar, yang sedikit di biarkan terbuka, agar hawa udara bisa keluar masuk dengan bebas.


Melihat reaksi Yu Ming, sambil menahan senyum, Ping Ru Meng malah sengaja mepet kearah Yu Ming, dia dengan gaya sesuka hati menjadikan Yu Ming sebagai gulingnya.


Yu Ming yang menerima ulah kekasihnya, dia seluruh tubuhnya sampai memegang panas dingin sulit tidur .


Untung nya menjelang subuh, Ping Ru Meng yang sedang terlelap, tanpa sadar, berpindah posisi tidur.


Sehingga dia melepaskan pelukannya, saat itu Yu Ming baru bisa bernafas lega, dan bisa melanjutkan tidurnya, dengan nyenyak, sampai sinar matahari masuk lewat jendela mengganggu pelupuk matanya.


Yu Ming baru terjaga dari tidur pulas nya.


Begitu bangun, melihat keadaan kekasihnya, Yu Ming dengan hati hati, menggunakan selimut, untuk menutupi tubuh kekasihnya.


Lalu dia meninggalkan Ping Ru Meng yang masih tidur pulas di sana, dengan langkah ringan.


Yu Ming langsung pergi ke halaman belakang rumah, untuk melakukan pembersihan.


Dia melakukan nya dengan cara yang sama, seperti cara dia lakukan sebelumnya, saat dia membersihkan halaman depan rumah kekasihnya kemaren.


Setelah rumput di bersihkan, makam ibu Ping Ru Meng kini terlihat dengan jelas.


Di bagian ini, Yu Ming khusus Menggunakan tangan nya, untuk membersihkan nya secara hati hati, agar jangan sampai senjatanya malah merusak makam ibu mertua nya.


Setelah menyusun semua alat sembahyang, dan buah buahan persembahan, serta makanan kering, yang sudah dia siapkan dengan hati hati.


Yu Ming pun berjalan menghampiri jendela kamar Ping Ru Meng.


Di sana Yu Ming sengaja membuka jendela nya lebar lebar, agar udara segar dan cahaya matahari bisa masuk sepenuhnya.


Tanpa perlu di bangunkan, Ping Ru Meng yang terganggu oleh sinar cahaya matahari, segera memguletkan badannya, seperti seekor kucing malas bangun tidur.


Yu Ming yang memperhatikan gerak gerik kekasihnya dari pintu jendela, dia hanya menanggapinya dengan senyum simpul.


Ping Ru Meng setelah memguletkan badan meregangkan otot tubuhnya.


Dia baru menoleh kearah jendela di mana Yu Ming berada


"Ehhh Ming ke ke kamu sudah bangun duluan.."


"Maaf aku telat.."


Ucap Ping Ru Meng sambil tersenyum malu.


Yu Ming sambil tersenyum lembut, berkata,


"Tidak apa-apa.."


"Semalam kita tidur terlalu malam, banyak kejadian tidak terduga, yang membuat mu banyak menguras tenaga dan pikiran.."


"Wajar pagi ini kamu sulit bangun pagi.."


"Ayo bersiaplah,."


"Semua aku sudah siapkan, tinggal menunggu mu untuk sembahyang bersama.."


"Takutnya sebentar lagi warga desa malah kemari, sebelum kamu siap.."


Ucap Yu Ming mengingatkan.


Ping Ru Meng mengangguk pelan, dia menatap kearah Yu Ming dengan penuh terimakasih.


"Baiklah Ming ke ke, terimakasih.."


"Maaf aku tidak bantu apa apa, di halaman belakang sana ."


Yu Ming tersenyum dan berkata,


"Tidak apa apa, pergilah membersihkan diri.."


"Aku menunggumu di sana, dekat makam ibu mertua "


Ping Ru Meng mengangguk cepat, dia segera meninggalkan ranjang, sambil merapikan rambutnya yang terurai.


"Ibu,.. Meng Er datang menjenguk mu, maafkan Meng Er yang sampai saat ini baru datang kemari menyembahyangi ibu.."


Ucap Ping Ru Meng dengan mata sedikit berkaca kaca.


Hatinya di penuhi rasa haru dan rindu, akan belaian kasih sayang seorang ibu, yang selama ini, belum pernah dia alami.


Yu Ming ikut berlutut di sebelah Ping Ru Meng dengan kepala tertunduk.


"Ibu kedatangan Meng Er hari ini, selain ingin mengunjungi dan menyembahyangi mu, Meng Er juga mau memperkenalkan Yu Ming ke ke, di hadapan Ibu.."


"Meng Er memohon doa restu dari ibu, agar kami di ijinkan untuk hidup bersama sebagai suami istri.."


Ucap Ping Ru Meng sambil memberi hormat tiga kali di depan makam ibunya, Yu Ming pun mengikutinya.


Selesai memberikan penghormatan, Ping Ru Meng pun maju menancapkan dupa di tangannya, di depan makam ibunya.


Lalu Ping Ru Meng menoleh kearah Yu Ming, memberi kode, bahwa kini giliran Yu Ming.


Yu Ming mengangguk pelan, lalu dia berkata,


"Bibi, ijinkanlah Yu Ming memanggil mu ibu mertua.."


"Meski aku dan Meng Er belum resmi menikah.."


"Ibu Mertua,.. Yu Ming sangat mencintai dan menyayangi Meng Er begitu pula Meng Er.."


"Jadi disini Yu Ming mohon ijin dari ibu mertua.."


"Mohon ibu mertua sudi kiranya, merestui hubungan kami sampai ke jenjang pernikahan..'


"Ijinkan aku menggantikan Ayah dan ibu mertua menjaga, merawat, menyayangi dan mencintai Meng er selama lamanya.."


Ucap Yu Yu Ming setulus hati.


Sambil memberi hormat tiga kali di depan makam ibu mertua nya.


Sebelum dia kemudian menancapkan dupa di tangannya, tepat di depan makam ibu mertua nya.


Ping Ru Meng dari sebelah Yu Ming menatap dengan penuh haru, sambil tersenyum bahagia, dengan sepasang mata sedikit berkaca kaca.


Setelah itu mereka berdua berbarengan memberi hormat sekali lagi di depan makam ibu Ping Ru Meng.


Tepat mereka selesai memberikan penghormatan, Yu Ming menangkap langkah kaki orang banyak, sedang bergerak menuju bukit.


Yu Ming menoleh kearah Ping Ru Meng dan berkata,


"Meng Er kelihatannya penduduk desa sebentar lagi tiba."


"Ayo kita kedepan menyambut mereka.."


Ping Ru Meng mengangguk dan berkata,


"Itu sudah semestinya,.."


"Yuk kita kedepan.."


Ucap Ping Ru Meng sambil bangkit berdiri.


Lalu dia merangkul lengan Yu Ming, mereka berdua berjalan berdampingan menuju halaman depan rumah.


Bersiap menyambut kedatangan tamu tamu dari desa lembah ketenangan.


Sesuai perkiraan Yu Ming, tak lama kemudian tamu tamu dari desa pun tiba


Mereka di pimpin oleh kepala desa Lu, yang berjalan paling depan bersama putranya Lu Pai, yang masih mengenakan pakaian berkabung.


Di belakang mereka terlihat hadir A Niu ke bersama istri dan ketiga anaknya.


Mereka semua juga mengenakan pakaian berkabung.


Menyusul di belakang mereka adalah penduduk desa, yang berbaris teratur, dalam kelompok kelompok kecil.


Kedatangan mereka semua pada membawa sesuatu, ada yang bawa buah makanan dan lain lain.


Semuanya mereka siapkan, untuk menyembahyangi makam ibu mertua Yu Ming, sebagai wujud rasa terimakasih mereka.


Yu Ming dan Ping Ru Meng selaku tuan rumah memberikan sambutan baik.


Yu Ming dan Ping Ru Meng mengantar mereka semua ke halaman belakang, secara bergiliran untuk melakukan sembahyang.


Yu Ming hanya menerima sedikit dari persembahan warga, sisanya dia kembalikan ke warga agar tidak mubajir.


Yu Ming dan Ping Ru Meng juga mengucapkan belasungkawa, dan turut berduka cita kepada Lu Pai dan A Niu ke, suami istri.