
Kaisar langit memberi kode kearah pengawal nya, agar Hua Sien Ku di bawa pergi untuk menjalani hukuman buang nya.
Para pengawal yang merupakan pasukan dewa langit, segera bergerak mengikuti arahan kaisar langit, untuk membawa Hua Sien Ku meninggalkan ruangan aula sidang utama itu.
Hua Sien Ku sendiri setelah memberi hormat kearah kakaknya, dengan cucuran air mata.
Dia segera berlalu dari sana, mengikuti para pengawal Istana Langit, tanpa banyak bicara ataupun membantah.
Sejak saat itu Kaisar Langit kembali berkuasa penuh di dua wilayah Utara dan Selatan.
Semua peraturan di wilayah kekuasaan Kaisar Langit kembali di tata ulang.
Dewa besar kecil diangkat kembali, untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing, yang bertanggung jawab penuh terhadap Kaisar Langit.
Setelah kondisi langit mulai aman dan tentram, Kaisar Langit mulai berpetualang ke wilayah dua kerajaan misterius di wilayah selatan.
Untuk mempererat hubungan persahabatan, agar mendapatkan dukungan aliansi penyatuan kekuatan.
Misi kausar langit berhasil, dia akhirnya mendapatkan dukungan aliansi dari dua kerajaan gaib misterius yang sangat tertutup.
Dengan jalan memperistri putri Fei Yen, putri sayap emas dari kerajaan Dewa Dewi bersayap.
Setelah itu dia juga memperistri putri Ping Lian, putri salju dari kerajaan Es Abadi.
Dengan dukungan dua kekuatan baru, kursi kepemimpinan kaisar langit menjadi semakin kokoh.
Hari hari berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa Hua Sien Ku yang tinggal sendirian di langit lapis 36.
Usia kandungannya sudah memasuki hari mendekati masa masa kelahiran.
Hal yang sama juga terjadi di Istana Halimun mukjizat, ternyata Ratu langit Wang Mu Niang Niang juga sedang mengandung.
Kini dia juga sedang mendekati masa masa kelahiran.
Di tempat terpisah di wilayah timur, di sebuah ruangan pelatihan Dewa Agung.
Hasil kerja keras mereka selama berbulan bulan akhirnya mendekati rampung.
Bola cahaya emas kini sudah berubah warna menjadi cahaya pelangi berwarna warni, yang menyilaukan mata yang melihatnya.
Kelima Dewata Agung terlihat sangat fokus di detik detik akhir, dimana tugas dan misi mereka hampir rampung.
Di luar dugaan di detik detik akhir, di mana keadaan sedang kritis,
Di mana terlihat kelima Dewa Agung, sedang hampir kesulitan mengendalikan kekuatan bola cahaya pelangi, yang mereka ciptakan selama ini.
Tiba-tiba dari sebuah wilayah jauh di Utara, sebuah roh suci misterius yang sangat tua.
Mungkin usia dan kekuatannya, tidak di bawah kekuatan kelima Dewa Agung, yang sedang bekerja keras.
Roh Suci tersebut tiba-tiba muncul dari sebuah portal cahaya putih, yang mendadak muncul di dalam ruangan tersebut.
Tanpa sempat kelima Dewa Agung mencegahnya, Roh suci itu langsung ikut bergabung, bersama roh roh para Dewa lainnya, yang pernah gugur 5000 tahun yang lalu.
Bergabungnya roh suci itu, menimbulkan sebuah kekuatan yang maha dahsyat, yang tidak mampu lagi di kendalikan oleh kelima Dewa Agung, yang saat itu terlihat seperti lampu hampir kehabisan minyak.
"Boooom...!!!"
Terdengar suara ledakan maha dahsyat, yang langsung meluluh lantakkan seluruh ruangan meditasi tersebut.
Perisai dewa yang pernah di buat oleh 3 dewa maha agung, kemudian di perkuat lagi oleh Tai Yi Chen Jen.
Tetap saja tidak mampu menahan ledakan kekuatan bola cahaya pelangi itu.
Tubuh kelima Dewa Agung terlihat terpental keluar dari dalam ruangan meditasi, yang kini telah berubah menjadi puing puing reruntuhan bangunan.
Mereka berlima terpental kelima jurusan, tapi mereka masing masih mampu mempertahankan diri, untuk tetap duduk bersila, saat mendarat.
Sedangkan bola pelangi yang mereka ciptakan, setelah ledakan mereda, kabut asap hilang.
Bola cahaya pelangi itupun sudah ikut menghilang dari sana.
Yuan Se Thian Cun langsung membuat sebuah lingkaran sinar diudara.
Di mana mereka bisa menyaksikan kemana bola pelangi ciptaan mereka, yang tidak terkendali itu bergerak.
Bola pelangi itu terlihat muncul berputaran di sebuah pondok sederhana.
Bola pelangi terlihat berputar-putar di atas atap pondok sederhana itu.
Sebelum kemudian melesat masuk kedalam pondok tersebut.
Sebelum kemudian terlihat jelas siapa penghuni pondok sederhana, yang disekitar pondok nya terlihat penuh dengan bunga berwarna-warni bermekaran.
Yuan Se Thian Cun pun menghilangkan cahaya lingkaran di udara.
Sehingga apa yang terjadi selanjutnya, tidak ada yang melihatnya.
"Inilah kehendak alam semesta, semua takdir sudah ada yang atur, baik atau buruk.."
"Petaka bencana ataupun berkah, kelak semuanya akan jelas.."
"Biarlah kita menjadi pengamat perputaran roda takdir alam ini.."
Ucap Yuan Se Thian Cun, yang mengandung makna mendalam, dan ramalan masa depan yang tidak bisa di prediksi.
Sementara itu di dua tempat terpisah, yang perbedaan nya, bagaikan langit dan bumi, dalam waktu bersamaan.
Terlihat dua orang wanita cantik sedang terbaring dengan perut membusung keatas.
Mereka terlihat sedang berteriak menahan mules dan sakit, menyambut proses kelahiran bayi mereka.
Wanita pertama ada di sebuah ruangan mewah di kelilingi oleh banyak dayang, dan seorang petugas khusus, yang biasa menangani proses kelahiran di istana.
Sedangkan di tempat lain, wanita kedua di suatu tempat berbeda.
Dia terlihat sedang berjuang seorang diri menjalani proses melahirkan, kondisinya justru terlihat sangat mengenaskan.
Dia hanya terbaring diatas rumput kering, dengan pondok yang sangat sangat sederhana.
Di katakan pondok, mungkin lebih mirip tenda atap Rumbia.
Wanita itu berjuang menyambut proses kelahirannya, berjuang seorang diri, tanpa ada siapa pun yang perduli dan datang membantunya.
Kedua wanita yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawa, di kedua tempat terpisah.
Akhirnya masing masing berhasil melahirkan seorang bayi, yang begitu lahir, masing masing langsung mengeluarkan tangisan nyaringnya.
Kedua wanita yang sangat kelelahan, sebelum sempat menyaksikan bayi, yang mereka kandung dan lahirkan dengan susah payah.
Mereka berdua sudah terlanjur pingsan tidak sadarkan diri.
Di tempat wanita pertama yang berada di kamar mewah dan di kelilingi oleh banyak dayang.
Terlihat seorang nenek yang merupakan kepala para dayang, dengan sigap, dia menyelimuti bayi mungil, yang baru lahir itu dengan kain selimut tebal hangat.
Sambil menggendong bayi tersebut didalam pelukannya dia berkata,
"Putra Kaisar Langit sang legenda telah lahir, harap semuanya silahkan keluar dari dalam ruangan ini..!"
"Sisanya putra mahkota biar saya yang urus..!"
ucap nya tegas
Tidak ada yang berani membantah nya, semua dayang segera meninggalkan ruangan tersebut, termasuk petugas yang membantu proses kelahiran.
Setelah membereskan peralatan nya, petugas yang membantu proses kelahiran tersebut, dia sempat dengan wajah heran menatap nenek berwajah dingin itu sekilas.
Tapi tanpa berkata apapun, dia akhirnya terburu-buru, langsung bergerak meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah semua orang pergi, nenek kepala dayang itu menggunakan jari nya, seperti sedang menghitung hitung sesuatu.
Sesaat kemudian dia tersenyum gembira dan berkata,
"Ada harapan.."
Lalu dia menoleh kearah wanita cantik yang sedang tidak sadarkan diri dan berkata pelan,
"Niang Niang demi kelanggengan kekuasaan mu, aku tidak bisa tidak harus lakukan dosa ini.."
"Ini semua adalah takdir alam.."