LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT

LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT
GUBERNUR WEI


"Aduhhh..! Ahhh..! sakit..! ampun..!"


Terdengar suara Jerit ngeri dari Tuan muda Wei.


Tuan muda Wei seterusnya, tidak berani banyak bicara lagi, dia terus mempercepat pergerakan nya.


Hingga nafasnya memburu, dan dia sedikit kesulitan bernafas.


Akhirnya dia tidak kuat lagi, pandangan matanya menjadi gelap.


Dia langsung jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.


Nacha melompat turun dari punggung Tuan muda Wei, saat merasakan ba bi tunggangan nya, akhirnya jatuh pingsan kelelahan.


Nacha segera menyeret tubuh Tuan muda Wei, dengan menjambak rambutnya.


"Kamu anjing penindas, kamu sekarang yang menggantikan dia menjadi penunjuk jalan.."


"Berani macam macam, aku akan membuat mu lebih menderita daripadanya.."


Ucap Nacha melontarkan ancaman yang tidak main main.


Yu Ming dan Ping Ru Meng berjalan santai di belakang ayah dan anak itu.


Mereka mengawal dari belakang sambil bergandengan tangan dengan mesra.


Mereka seolah-olah sedang menikmati tamasya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, di mana semakin lama semakin banyak masyarakat kota Hang Zhou, yang mengikuti mereka menuju balai kota.


Menuju kediaman gubernur, untuk menyaksikan puncak keramaian.


Kira kira tindakan apa yang akan di lakukan oleh Gubernur Wei, yang terkenal tiran dan bertangan besi.


Dalam menghukum siapapun yang berani menantang kekuasaannya, dan berani membuat masalah dengan keluarganya.


Saat Nacha diantar komandan Liu, tiba di depan gedung kediaman gubernur Wei.


Seluruh kediaman itu, telah di pagar oleh pasukan keamanan kota Hang Zhou.


Selain itu juga terlihat ada beberapa pengawal bayaran yang ikut bersiaga di sana.


Khusus untuk melindungi keamanan gubernur Wei , yang terlihat berada di tengah tengah barisan pasukan yang melindunginya.


Pasukan keamanan kota Hang Zhou sebenarnya sedikit ngeri dan keder, dengan kedatangan rombongan Nacha.


Karena sebelum nya, mereka sudah menyaksikan dan mendengar peringatan yang datang dari atas langit.


Mereka siap melawan siapapun, tapi melawan langit ini adalah sesuatu yang berbeda.


Mereka semua berkumpul di sana, hanya untuk sekedar memenuhi tuntutan atasan mereka.


Bila ada situasi tidak benar, mereka semua sudah bersiap melarikan diri ataupun menyerah.


Keadaan ini jelas terlihat dari wajah mereka, yang tegang pucat dan berkeringat.


Nacha yang cerdas tentu saja sudah bisa melihat itu semua.


Dia begitu tiba di depan halaman gedung kediaman gubernur.


Dia pun berkata,


"Kalian semua jangan bodoh, tiada gunanya kalian menantang langit, demi membela seorang pendosa.."


"Aku sarankan sebelum terjadi sesuatu, yang mengundang kemarahan langit."


"Segeralah kalian tinggalkan tempat ini.."


"Sebelum semuanya jadi terlambat..'


Mendengar ucapan Nacha, seluruh pasukan itu terlihat ragu, mereka saling pandang, diantara rekan mereka sendiri.


Melihat mental pasukan nya terganggu,, gubernur Wei segera berteriak,


"Jangan perdulikan ocehannya..!"


"Serang,..! serang,..! serang..,!"


"Per kepala hadiahnya seratus Tael perak.."


"Segera habisi para pemberontak itu, jangan ada sisa..!"


Teriak Gubernur Wei, mencoba membangkitkan semangat bertarung pasukannya.


Sebagian pasukan masih terlihat ragu dan memilih bertahan, tapi sebagian lagi.


Sudah bergerak menyerang di bawah pimpinan Jendral Xu langsung.


Sedangkan pasukan pengawal berpakaian preman, mereka adalah ahli bela diri sewaan gubernur Wei.


Mereka segera bergerak melindungi Gubernur Wei dengan rapat.


Mereka masing masing terlihat sudah menghunuskan senjata andalan mereka di tangan.


"Hyaaaaaat...!"


Di sertai teriakan keras, senjata senjata tombak, pedang, golok, mulai berseliweran menyerang kearah Nacha.


"Singggg..!"


Singggg..!"


"Wutttt..!"


"Wutttt..!"


"Sraattt..!"


"Sraattt..!"


"Tidak tahu diri, bentak Nacha..!"


Dia langsung melempar tubuh tuan muda Wei, untuk menyambut serangan yang berdatangan.


Dalam sekejab mata saja, darah daging berhamburan ke segala arah.


Tuan muda Wei yang belum sadarkan diri, sudah tewas dengan tubuh menjadi seonggok daging cacahan, yang tidak berbentuk lagi.


Yu Ming yang melihat hal itu, segera mengirim pesan suara ke Nacha,


"Pangeran ketiga, lumpuhkan saja mereka.."


"Jangan melanggar pantangan membunuh.."


Nacha mengangguk pelan kearah Yu Ming.


Setelah itu, Nacha mengeluarkan gelang dan tombak nya, dengan di lengkapi roda angin api, dia beterbangan kesana kemari, melumpuhkan lawan lawannya.


Gubernur Wei yang melihat keponakan kesayangan nya tewas menjadi cacahan daging.


"Kalian semua tangkap bocah itu, aku ingin mengulitinya hidup hidup..!"


"Cepat..!"


Bentak gubernur Wei emosi.


Pengawal pengawal bayaran kini segera ikut bergerak maju, menerjang kearah Nacha yang beterbangan lincah di udara.


Mereka berusaha melempar senjata rahasia, untuk menghujani Nacha, yang berada di atas jangkauan mereka.


Sesekali di antara mereka, yang berkepandaian cukup tinggi, memiliki ilmu meringankan tubuh cukup mumpuni.


Mereka melompat ke udara, untuk memberikan serangan tebasan maut kearah Nacha.


Ada juga yang di bantu oleh rekannya, sebagai batu pijakan, untuk di lemparkan ke udara.


Mereka berusaha menjangkau posisi Nacha.


Tinggg..! Tangggg..,!"


Tinggg..! Tangggg..,!"


Tinggg..! Tangggg..,!"


Terdengar bunyi berbagai senjata, beradu di udara, dengan tombak dan gelang emas di tangan Nacha.


"Sraaat,.! Sraaat..! Sreeettt..!"


"Sraaat,.! Sraaat..! Sreeettt..!"


"Sraaat,.! Sraaat..! Sreeettt..!"


Satu persatu mereka semua berhasil di lumpuhkan oleh Nacha.


"Wusssss...!"


"Wusssss...!"


"Wusssss...!"


Nacha juga mulai menggunakan semburan api untuk menyerang para pengepungnya.


Sehingga keadaan para pengepung segera menjadi kacau balau berantakan.


Mereka mulai gentar dan tidak berani menghadapi Nacha secara langsung.


Terutama semburan api itu, benar benar membuat mereka semua jerih.


Akhirnya satu persatu mulai mundur melarikan diri meninggalkan arena pertempuran.


Melihat hal itu, sisa pasukan keamanan kota Hang Zhou yang tadinya ragu


Kini mereka benar benar tidak ragu lagi, tanpa menghiraukan teriakan marah marah tuan mereka.


Mereka segera melemparkan senjata, lalu berlari berhamburan menyelamatkan diri masing-masing.


Melihat barisan belakang melarikan diri, barisan depan yang sedang melakukan pengepungan di bawah pimpinan jenderal Xu.


Mereka juga segera mundur ingin ikut menyusul melarikan diri.


"Hei kalian mau kemana..!"


Bentak jendral Xu marah.


Kemudian Jendral Xu bergerak menyerang dan membunuh bawahan nya sendiri, yang sedang mencoba melarikan diri.


"Melarikan diri hukuman nya mati..!"


Teriak Jendral Xu, sambil terus menebaskan pedangnya.


"Trangggg..!"


"Sreeettt..!"


"Trangggg..!"


"Sreeettt..!"


"Trangggg..!"


"Sreeettt..!"


"Trangggg..!"


"Sreeettt..!"


Jendral Xu dengan ganas terus membantai bawahan nya sendiri yang mencoba kabur.


Nacha dari udara yang melihat hal itu menjadi sangat marah.


Dia segera melemparkan salah satu gelang emasnya, melesat menyerang bagian punggung Jendral Xu.


"Wungggg...!"


"Duaakkkk..!"


"Bressss..,!"


Jendral Xu terlihat terpental jatuh tertelungkup di atas tanah.


Bagaimana pun caranya, dia berusaha untuk bangkit, dia selalu gagal.


Hingga akhirnya, dia jatuh tergeletak dalam posisi tengkurap, tidak sadarkan diri, saat itu seluruh pandangan nya, tiba tiba menjadi gelap.


Roboh nya Jendral Xu, membuat sisa pasukan keamanan kota, semakin mantap memutuskan, untuk melarikan diri dari pertempuran berat sebelah itu.


Gelang emas yang menyerang Jendral Xu, sudah kembali ketangan Nacha.


Kini Nacha dengan kekuatan sepuluh gelang nya, bergerak cepat memporak porandakan sisa pengawal bayaran Gubernur Wei yang masih mencoba mengepungnya dengan ketat.


"Wungggg..! Wungggg..!"


"Desss..!"


"Wungggg..! Wungggg..!"


"Desss..!"


"Wungggg..! Wungggg..!"


"Desss..!"


Satu persatu tubuh para pengepung terlempar keluar dari arena pertempuran menyusul keadaan Jendral Xu.


Tergeletak pingsan tidak sadarkan diri.


Setelah menghabisi seluruh pengepungnya, kini Nacha dengan wajah dingin, terbang menghampiri Gubernur Wei, yang berdiri dengan wajah pucat ketakutan.