LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT

LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT
SILUMAN KELELAWAR


Yu Ming balas menggenggam lembut telapak tangan kekasihnya, lalu dia menarik Ping Ru Meng masuk kedalam pelukannya.


Mereka berdua duduk dalam diam, saling berpelukan, menikmati suasana di kala senja yang syahdu.


Hingga langit gelap, bulan dan bintang mulai bermunculan, mereka berdua baru bangkit berdiri.


Bergandengan tangan menuruni bukit, menuju pedesaan di bawah sana.


Tapi tidak seperti tadi siang yang suasana nya terlihat ramai, kini keadaan desa terlihat sepi.


Tidak ada satupun orang yang mereka temui di jalan.


Tidak ada kedai apalagi rumah makan dan restoran yang buka, semua pintu tertutup rapat.


Tidak ada toko yang masih buka, begitupula dengan rumah rumah penduduk semua pintu tertutup rapat.


Hanya lampu lampu lampion di depan setiap rumah yang terlihat tetap menyala.


Sehingga jalan menjadi terang benderang, tapi sangat sepi.


Yu Ming dengan suara heran berkata,


"Meng Er apakah desa kecil ini bila malam tiba selalu seperti ini..?"


Ping Ru Meng mengerutkan alisnya dan berkata,


"Seingat ku tidak, dulu aku dan ayah ku sering kemari bila malam tiba ."


"Tapi semuanya normal, bahkan sering ada pasar malam, pesta lampion dan lain sebagainya.."


"Semuanya sangat normal.."


Jawab Ping Ru Meng heran.


"Kelihatannya desa ini pasti mengalami sesuatu.."


"Ayo coba kita lihat ke bagian yang lebih ketengah, dan lebih padat pemukimannya.."


"Mungkin saja disana ada petunjuk lainnya..*


Ucap Yu Ming pelan.


Ping Ru Meng mengangguk, lalu dia segera mengikuti Yu Ming, menuju ketengah desa.


Saat mereka berdua tiba di bagian tengah desa, mereka melihat sekelompok pemuda, sedang duduk mengelilingi api unggun.


Di samping mereka masing masing terlihat tergeletak senjata tajam, seperti tombak, tombak cagak tiga, Toya, hingga golok dan parang, juga terlihat tergeletak di samping mereka.


Melihat kedatangan Yu Ming dan Ping Ru Meng, belasan anak muda itu terlihat kaget.


Mereka buru buru berdiri dan bersiaga dengan senjata mereka masing masing.


Salah satu diantara pemuda pemuda itu, ada seorang pria berusia 30 an berkumis tebal.


Dia yang melangkah kedepan dan berkata,


"Kalian berdua siapa..?"


"Ada keperluan apa kalian malam malam datang kemari .?"


"Bila tidak ada keperluan penting, sebaiknya kalian kembali saja kerumah, jangan berkeliaran malam malam.."


"Akhir akhir ini, situasi sedang sangat tidak aman.."


Ucap Pria berkumis itu mengingatkan.


"Paman saya dulu dan ayah ku tinggal di atas bukit sana.."


"Kami sudah lama pindah dari sini, kali ini saya dan tunangan saya datang kemari hanya untuk merapikan makam ibu ku.."


"Setelah itu kami pun akan pergi dari sini.."


Ucap Ping Ru Meng menjelaskan.


Pria itu mengamati Ping Ru Meng lekat lekat, lalu dia menunjuk Ping Ru Meng dengan ragu dan berkata,


"Apa kamu ini Siao Meng..?"


Ping Ru Meng buru buru mengangguk dan berkata,


"Kakak mengenali ku, kakak ini..?"


Pria berkumis itu langsung tersenyum lebar dan berkata,


"Aku Kakak mu A Niu, apa kamu lupa..?"


"Ehh A Niu ke, benarkah itu kamu..?"


Ucap Ping Ru Meng sambil mendekati nya sambil tertawa gembira.


Pria itu maju memegang pundak Ping Ru Meng, dia mengamatinya dari atas kebawah dan berkata,


"Siao Meng kamu sudah dewasa, hebat kamu cantik sekali.."


"Aku sampai tidak mengenali mu lagi.."


Ping Ru Meng dengan gembira balas memegang tangan sahabat kecilnya itu, dan berkata,


"Terimakasih atas pujiannya A Niu ke, keadaan ayah sangat baik.."


"A Niu ke sendiri bagaimana ? kakak ipar di mana ?"


Tanya Ping Ru Meng bersemangat.


"Kakak ipar mu A Ling ada di rumah bersama anak anak.."


A Niu menoleh kearah rekannya dan berkata,


"Tenanglah,.. dia teman lama ku.."


"Bukan orang asing.."


Rekan rekannya mengangguk lalu, mereka kembali duduk mengeliling api unggun.


"A Niu ke, anaknya berapa sekarang..?"


Tanya Ping Ru Meng gembira.


"dua..yang pertama umur 5 yang kedua umur 3 .."


Jawab A Niu sambil tersenyum.


Dia lalu menatap kearah Yu Ming dan berkata,


"Jadi ini calon mu Siao Meng ?"


"Kamu pandai memilih Siao Meng, dia bahkan lebih tampan dari paman Ping.."


Ucap A Niu sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah ke arah Yu Ming.


Yu Ming balas menjura dengan hormat kearah A Niu dan berkata,


"Salam kenal A Niu ke,.. Nama ku Yu Ming.."


"Panggil saja saya Siao Ming.."


Ping Ru Meng sendiri tersenyum malu, menanggapi candaan teman masa kecilnya itu.


Untuk menutupi rasa canggung nya Ping Ru Meng pun mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan ke A Niu.


"A Niu ke, kenapa desa kita makan hari jadi begini sepi dan lenggang.."


"Apa yang sebenarnya terjadi..?"


A Niu menghela nafas panjang dan berkata,


"Bila di ceritakan panjang, ayo kita duduk di sana ngobrol beramai ramai sambil makan ubi bakar..."


"Juga ada sedikit arak dan teh untuk menghangatkan badan.."


Ping Ru Meng mengangguk, lalu dia menggandeng tangan Yu Ming mengikutinya berjalan menuju kearah Api unggun.


Setelah saling memperkenalkan diri sejenak, mereka semua kini duduk bersama sama mengelilingi api unggun.


Setelah Yu Ming dan Ping Ru Meng ikut duduk di sana.


A Niu pun mulai bercerita,


"Kejadian ini bermula dari kejadian di hutan sebelah barat, yang terletak di seberang sungai sana.."


"Sebulan yang lalu seperti biasa beberapa orang di desa ini, yang berprofesi sebagai pemburu, pencari kayu, dan tanaman obat obatan.."


"Mereka berangkat ke hutan Cemara di sebelah barat sana."


"10 orang yang berangkat, yang pulang hanya tinggal dua.."


"Setelah berhasil pulang mereka bercerita, di hutan sana mereka di serang oleh Siluman Kelelawar raksasa.."


"Mendengar cerita mereka penduduk menjadi sangat marah dan merasa terancam."


"Setelah kejadian ini di laporkan ke kepala desa, kepala desa Lu, segera mengumpulkan orang, untuk pergi kesana, mencari dan berusaha membasmi siluman yang meresahkan tersebut.."


"Tapi setiba di sana, setelah mencari kesana kemari, selain menemukan mayat mayat 8 teman kami yang lainnya."


"Di sana kami hanya menemukan seekor Siluman kelelawar berukuran sebesar anjing.."


"Mengandalkan pengepungan yang di lakukan di siang hari, kami akhirnya berhasil menggunakan jala menjeratnya.."


"Lalu kami beramai-ramai menyeretnya keluar dari dalam hutan, untuk di basmi, dengan cara di bakar hidup hidup.."


"3 hari setelah kejadian tersebut, Siluman Kelelawar Raksasa datang menyerang dan memporak porandakan desa kami.."


"Siluman itu mengancam, setiap malam dia akan datang menculik seorang anak kecil.."


"Agar kamu semua merasakan penderitaan yang sama dengan yang di alaminya.."


"Setelah kejadian itu, usut punya usut, ternyata awal mula terjadinya malapetaka itu, adalah akibat dari ulah para pemburu kami sendiri, yang ingin menangkap anak dari Siluman Kelelawar itu ."