
Seperti yang di rasakan oleh Hua Sien Ku tadi, Yu Ming juga tidak tahu mengapa.
Dia bisa merasakan kenyamanan yang luar biasa, dan sangat haus akan belaian kasih lembut dari tulus dari bibirnya itu.
Saat inipun, dia sedikit iri dengan keberuntungan Siau Sien Ce, yang bisa menikmati sepuasnya, kasih sayang yang sangat dia inginkan, tapi tidak mungkin bisa dia ungkapkan itu.
Hua Sien Ku sambil membelai dan mencium lembut kepala putrinya.
Dia melirik kearah Yu Ming, melihat ekspresi wajah Yu Ming, yang terlihat agak menyedihkan.
Hua Sien Ku pun mengalihkan topik pembicaraan tadi.
Sambil menatap Yu Ming dengan lembut, Hua Sien Ku berkata,
"Ming Er,.. kamu sudah punya tunangan, bibi turut gembira dan mengucapkan selamat untuk mu.."
"Meski bibi tidak bisa menghadiri pernikahan kalian kelak, tapi bibi pasti akan kirim doa untuk kebahagiaan kalian.."
Ucap Hua Sien Ku setulus hati.
"Terimakasih bibi..tapi itu masih lama, bibi mungkin butuh waktu 3 tahun lagi.."
Ucap Yu Ming sejujurnya.
"Loh mengapa kamu menundanya begitu lama..?"
Tanya Hua Sien Ku heran.
Yu Ming tersenyum canggung dan berkata,
"Ming Er merasa belum siap untuk terikat, Ming Er masih ingin hidup bebas.."
"Ming Er ingin bertualang kemana pun Ming Er suka, tanpa harus terikat dengan tanggung jawab sebagai seorang suami.."
Ucap Yu Ming sejujurnya.
Selesai berkata, Yu Ming baru sadar, dia telah kelepasan berbicara.
Tidak seharusnya dia berbicara sejujur itu, tapi mau bagaimana lagi.
Semuanya sudah terucap tidak mungkin bisa di tarik lagi.
Yu Ming sedikit tenang hatinya, karena dia yakin pembicaraan di sini, tidak mungkin sampai ke ayah ibunya.
Karena hubungan ayah ibu nya dan bibi nya ini, termasuk hal rumit yang sulit diuraikan.
Tapi supaya hatinya jauh lebih tenang, Yu Ming pun berkata,
"Bibi,.. Hua Sien Mei Mei.. Yu Ming mau minta tolong satu hal.."
"Ada apa katakan saja Ming Er, jangan sungkan,.."
Ucap Hua Sien Ce meniru gaya bicara ibunya, sambil menahan tawa, dia mengulurkan tangannya hendak membelai kepala Yu Ming.
Yu Ming tentu saja menghindar dan menggeleng gelengkan kepalanya, menanggapi kenakalan,.adik misannya ini.
Mereka sudah lama bergaul, jadi Yu Ming tidak pernah memasukkan ke hati, sikap adik misannya yang jarang serius itu.
"Hua er.. kamu yang serius, jangan nakal dan tidak sopan.."
Tegur Hua Sien Ku ke putrinya yang nakal itu.
"Ming Er jangan perdulikan dia, kamu tadi mau bilang apa, katakan lah..?"
Ucap Hua Sien Ku menatap kearah Yu Ming dengan serius.
"Begini bibi, Yu Ming mohon agar alasan Yu Ming tadi, jangan sampai ada orang ketiga yang mendengarnya.."
Ucap Yu Ming pelan.
"Ceeee,.. kirain ada apa, ? ternyata cuma itu.."
Ucap Hua Sien Ce sambil mencibir.
Hua Sien Ku menggeleng gelengkan kepalanya, lalu sambil menatap kearah Yu Ming dengan tidak enak hati, dia berkata,
"Ming Er harap di maklumi, adik mu ini memang begini sifatnya, nakal dan tidak sopan, sulit di kasih tahu.."
"Aku sudah nyerah, semoga saja kelak suaminya kuat menghadapi, dan mau dengan sabar mengajari dan membimbingnya.."
Ucap Hua Sien Ku pasrah.
Hua Sien Ce wajahnya langsung merah padam, dia tidak banyak bicara lagi.
Begitu ibunya menyinggung soal jodohnya kelak.
Yu Ming tersenyum dan berkata,
"Bibi tenang saja, aku yakin pasti bisa.."
Mendengar ucapan Yu Ming, Hua Sien Ce tanpa sadar kembali terpancing, dengan sedikit emosi dia berkata,
"Bisa apa, ? kamu tahu apa ? emangnya kamu suami ku..?"
"Lebih baik kamu urus aja Ru Meng mu, yang sempurna itu.."
Hua Sien Ce menoleh kearah ibunya dan berkata,
"Kalian teruskan saja, aku mau ke belakang siapkan makan siang kita.."
Selesai berucap, Hua Sien Ce, dengan sikap uring uringan, dia langsung beranjak pergi dari sana.
Hua Sien Ku menghela nafas panjang dan berkata,
"Ming Er masalah alasan mu itu, kamu boleh tenang, bibi akan merahasiakannya, begitupula adik mu yang nakal itu.."
"Kamu tidak perlu khawatir.."
"Adik mu itu meski mulutnya sedikit tajam, agak keras kepala, sulit di atur, pada dasarnya sifatnya sangatlah baik.."
"Dia hanya keras di mulut lembut di hati, kamu jangan terlalu mengambil hati dengan nya.."
Ucap Hua Sien Ku, berusaha memberikan pembelaan pada putrinya.
Yu Ming tersenyum dan berkata,
"Bibi tenang saja, hubungan ku dengan Hua Sien Mei Mei itu bukan sehari dua hari.."
"Aku sangat memahami nya, begitupula dia.."
"Kami berdua adalah sahabat baik, yang tidak terpisah kan.."
Ucap Yu Ming sambil tersenyum lembut.
Hua Sien Ku mengangguk dan berkata,
"Adik mu itu termasuk sangat kasihan nasibnya, sejak kecil, selain aku dan gurunya.."
"Dia tidak punya teman bicara, selain bunga bunga dan kupu kupu di tempat ini.."
"Kini ada kamu jadi temannya, bibi sangatlah gembira dan merasa jauh lebih lega.."
"Tapi bibi harus ingatkan satu hal pada mu, tempat ini bukanlah tempat yang baik untuk kamu kunjungi.."
"Setelah ini, bila kamu ingin mengunjungi Hua Sien Ce, lebih baik kalian bertemu di tempat guru nya saja.."
"Bila kamu ada perlu dengan bibi, kamu tetap boleh saja datang, tapi harus hati hati jangan sampai ketahuan.."
"Bibi benar benar tidak mau melihat kamu di hukum karena itu.."
Ucap Hua Sien Ku serius.
Yu Ming mengangguk dan berkata,
"Terimakasih atas perhatian dan nasehatnya, Ming Er akan selalu ingat itu.."
Sesaat mereka berdua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.
Beberapa waktu kemudian, Yu Ming baru memecah keheningan dan berkata,
"Bibi, Ming Er mau kebelakang lihat lihat, apa yang bisa Ming Er bantu di sana.."
"Bibi sudah lama berpisah dengan paman, kini akhirnya bisa berkumpul kembali.."
"Tentu banyak yang ingin di bicarakan, silahkan saja.."
"Ming Er permisi dulu.."
Ucap Yu Ming sambil bersujud didepan bibi nya.
Setelah itu dia segera beranjak dari sana.
Setelah Yu Ming pergi, Hua Sien Ku bergeser mendekati suaminya dan berkata,
"Suamiku tidak tahu kenapa,? begitu bertemu aku langsung merasa akrab dan dekat dengan anak itu.."
"Sayangnya dia justru adalah putra mereka, dan sudah bertunangan, bila tidak aku benar benar ingin dia yang menjadi anak menantu kita."
"Bagaimana menurut mu..?"
Tanya Hua Sien Ku sambil menatap lekat lekat wajah suaminya yang terbungkus di dalam lapisan es beku.
"Hah.. bodohnya aku,.. kamu tidak akan pernah bisa menjawab ku lagi.."
Ucap Hua Sien Ku sambil memalingkan wajah nya dengan muram .
"Kamu jangan kecewa, menyesal, dan bersedih, kamu harus percaya bila waktunya tiba aku pasti akan bangkit lagi.."
"Aku pasti akan menebus semua yang pernah ku lewatkan selama ini.."
"Hua er perasaan ku padamu selamanya tidak akan pernah berubah.."
"Mengenai anak anak kamu tidak perlu khawatir, biarkan jodoh dan takdir yang mengaturnya."
Ucap sebuah suara bisikan halus di dalam lubang telinga Hua Sien Ku, yang membuat Hua Sien Ku langsung terpana kaget.
Dia buru buru menatap kearah patung batu kristal itu, dengan tatapan mata tidak percaya.