
"Bagus Putra ku, punya semangat dan cita cita itu sangat baik.."
"Kamu memang Putra ayah yang paling membanggakan.."
Ucap Yu Ti sambil tersenyum bahagia.
Sesaat kemudian dia menoleh kearah kedua putranya yang lain dengan serius dan berkata,
"Kalian berdua harus banyak banyak belajar dari kakak kalian."
"Apa kalian paham..?"
"Kami paham ayah.."
Jawab Yu Long dan Yu Lek kompak.
Tapi di dalam hati masing-masing punya pemikiran sendiri.
Yu Long yang berjiwa sempit, justru berpikir, dia akan berlatih lebih keras agar bisa melampaui kakaknya.
Sedangkan Yu Lek yang cuek, justru berpikir ada kakak pertama nya yang melindunginya, buat apa dia capek capek berlatih.
Lebih baik selama bisa menikmati nikmati saja, tanpa perlu ada kekhawatiran berlebihan.
Kesempatan menikmati kehidupan yang bebas dan menyenangkan seperti ini, tidak akan datang dua kali.
Tapi tentu saja mereka tidak ada yang berani menunjukkan apa yang mereka pikirkan ke ayahanda mereka.
Mereka takut menuai teguran dan amarah dari ayahnya.
Setelah menegur kedua putranya yang lain, Yu Ti kembali menoleh kearah Yu Ming dan berkata,
"Ming er,.. kamu juga pasti sudah lelah, kembali lah ke istana mu untuk beristirahat.."
"Ayah masih ada hal hal penting yang perlu di bahas dengan paman paman mu.."
Ucap Yu Ti memberi ijin Yu Ming untuk mundur dari sana.
Yu Ming segera memberi hormat dengan diikuti oleh Siau Sien Ce.
Setelah itu segera mengundurkan diri dari tempat itu.
Yu Long Yu Lek juga ikutan memberi hormat kemudian pamit dari tempat itu.
Sehingga hanya Yu Ti dan ketiga istrinya, yang melangkah masuk kedalam ruang aula sidang istana langit.
Untuk mendengarkan para Dewa Dewi melaporkan hasil kinerja mereka, dan melaporkan masalah dan kendala yang mereka hadapi, dalam menjalankan tugas mereka.
Sementara itu, Yu Ming setelah meninggalkan istana Ling Xiao Bao Tran.
Dia langsung terbang menuju Yu Ming Kung ( Istana Yu Ming )
Y Ming Kung adalah sebuah bangunan komplek istana berukuran kecil, yang di hadiahkan oleh Kaisar langit sebagai tempat kediaman pribadi bagi putra mahkota nya.
Istana itu dari penampilan luarnya, membuat Siau Sien Ce terpesona, dengan kemewahan tampilan depan istana yang berukuran kecil tapi sangat mewah itu.
Tapi begitu dia mengikuti Yu Ming masuk kedalam istana tersebut, Dia langsung terbelalak tak percaya, dengan penampilan bagian dalam, yang berbanding terbalik dengan penampilan di luar sana.
Di dalam sana, justru terlihat sangat sederhana. Semua perabot terlihat terbuat dari kayu kasar, yang sangat sederhana.
Tidak ada unsur kemewahan maupun seni sedikitpun.
Para pelayan dan dayang, juga terlihat bergerombol sesuka hati.
Mereka bahkan tidak memberikan sambutan semestinya, terhadap kepulangan tuan mereka.
Mereka semua terlihat sibuk dengan obrolan dan kegiatan santai mereka masing-masing.
Yu Ming sendiri juga terlihat tidak ambil peduli, dengan sikap para pelayan dan dayang nya itu.
Dia memilih melewati mereka semua begitu saja, seolah olah mereka semua, dia anggap tidak ada.
Yu Ming langsung berjalan memasuki gedung bagian dalam.
"Siau Sien Ce yang ini kamar mu.."
"Kamu bebas di sini,.. pokoknya di istana ini, kamu bebas, sebebas bebasnya, mau apapun boleh.."
"Kecuali saat ibu ku berkunjung kemari.."
"Sisanya, kamu bebas.."
"Tapi ingat saat keluar dari istana ini, sebaiknya kamu baca dan ingat baik baik, beberapa bingkai peraturan kahyangan, yang tergantung di dinding kamar mu.."
Setelah itu tanpa memperdulikan respon Siau Sien Ce, Yu Ming langsung menghilang kedalam kamarnya.
Di dalam kamar nya yang sederhana, Yu Ming duduk diatas sebuah dipan bambu berkultivasi seorang diri di sana.
Sesaat saja Yu Ming sudah tenggelam dalam kultivasinya, dia sudah lupa dengan keadaan sekitarnya.
Siau Sien Ce sendiri setelah masuk kedalam kamar nya, dia menemukan sebuah ruangan sederhana, yang penuh dengan debu dan sarang laba laba di mana mana.
Sambil menghela nafas panjang, Siau Sien Ce kembali keluar dari dalam kamar tersebut.
Dia membawa sendiri semua selimut, dan alas tempat tidur, untuk dia bawa pergi jemur dan di bersihkan dari debu.
Siau Sien Ce juga merapikan sendiri kamarnya.
Dia tidak mau sembarangan memerintah dayang dan pelayan di tempat barunya itu.
Hingga jelang sore, Siau Sien Ce baru menyelesaikan semua pekerjaan nya, merapikan dan membereskan kamar tidur pribadinya.
Sama seperti keadaan di bagian ruang tamu, interior di dalam kamar juga sama sederhana nya.
"Tok..tok..tok..!"
Kamar Siau Sien Ce tiba tiba di ketuk dari luar.
Siau Sien Ce yang baru saja berbaring santai, terpaksa turun dari tempat tidur nya.
Pergi membuka pintu kamarnya, begitu pintu kamar terbuka.
Di depan kamar Siau Sien Ce berdiri seorang dayang muda cantik, tapi wajah nya terlihat dingin dan jutek.
Begitu melihat Siau Sien Ce, dia segera menyodorkan sebuah piring berisi buah buahan segar.
"Ini untuk makan malam dan pagi mu.."
"Besok siang baru ada yang akan antarkan makan siang mu.."
Ucap dayang itu dengan wajah datar.
Setelah menyerahkan piring berisi buah kedalam tangan Siau Sien Ce.
Dia pun langsung berlalu dari tempat tersebut.
Siau Sien Ce menatap dengan mata terbelalak lebar tak percaya, saat dia melihat sepiring buah di geletakkan begitu saja di depan kamar Yu Ming.
Dengan penuh penasaran, setelah dia meletakkan buah buahan di tangan nya kedalam kamar.
Dia pun pergi mengetuk pintu kamar Yu Ming.
"Tok..tok..tok..!"
Tidak perlu menunggu lama pintu pun terbuka dari dalam dengan sendirinya.
Siau Sien Ce sadar Yu Ming pasti menggunakan kesaktian nya, untuk membuka pintu dari jarak jauh.
Tanpa perlu dirinya bergeser dari atas dipan bambu, di mana dia sedang duduk berkultivasi.
Siau Sien Ce yang melihat kondisi kamar Yu Ming, diam diam harus menghela nafas prihatin.
Seorang pangeran putra mahkota kahyangan, menempati sebuah kamar yang lebih buruk dari kandang monyet.
Dia benar benar sulit percaya melihat nya.
Kamar itu menurut Siau Sien Ce, yang paling mewah adalah cahaya kemilau keemasan, yang terpancar dari seluruh tubuh Yu Ming, saat dia sedang berkultivasi.
Sisanya tidak ada yang enak di lihat, bahkan hawa di dalam kamar itupun terasa sumpek dan agak berbau aneh.
Siau Sien Ce yang melihat keadaan ini, sudah tidak bisa menahan diri, untuk bergerak pergi membuka pintu jendela, agar udara segar bisa keluar masuk dengan bebas.
Siau Sien Ce juga membantu membersihkan meja dan kursi di dalam ruangan tersebut, sebelum dia meletakkan piring berisi buah buahan, yang menjadi santap malam dan pagi buat mereka.
Sambil membereskan dan membersihkan perabotan kamar yang penuh debu.
Siau Sien Ce pun berkata,
"Kakak apakah dewa kahyangan, semuanya setiap hari hanya makan buah untuk isi perut.?"
Yu Ming menghentikan latihannya, dia menutup latihannya dengan menghembuskan nafas panjang.
Setelah itu dia baru membuka matanya menatap kearah Siau Sien Ce.