
"Kau...! kau bunuh saja kami..!'
"Kami keluarga Dewa Matahari boleh di bunuh tidak boleh di hina..!"
Yu Ming yang hampir pergi menghentikan langkahnya, tanpa menoleh dua tersenyum dingin dan berkata,
"Tidak semudah itu.."
"Berani berbuat hina, tentu harus siap menerima di hina.."
Selesai berucap Yu Ming baru melanjutkan langkahnya menuju tempat Yang Jiu terbaring..
"Kau..!"
Teriak Dewa Matahari kesal setengah mati.
Kedelapan saudara Yang Jiu secara bergantian mencoba memegangi kaki Yu Ming.
Dengan tatapan mata penuh permohonan, mereka menggelengkan kepalanya.
Memohon tanpa suara agar Yu Ming membatalkan niatnya menghukum adik mereka yang tidak ada bedanya seperti orang mati.
Tapi Yu Ming dengan kasar menghempaskan tangan mereka, dengan ayunan kakinya yang memancarkan hawa halilintar langit.
Mereka satu persatu merasakan tangan mereka terkena setrum listrik tegangan tinggi.
Setelah kejang kejang sejenak, mereka terpaksa melepaskan pegangan tangan mereka.
Yu Ming akhirnya tiba di hadapan Yang Jiu dan berkata dengan suara dingin tanpa ekspresi.
"Ceritakan dosa mu secara jujur, apa yang telah kamu lakukan pada Hua er.."
"Aku akan kurangi penderitaan mu, saat hukuman berlangsung.."
"Bila tidak, kamu boleh mencobanya.."
"Breeet...!"
Dengan satu kibasan tangan seluruh pakaian yang menempel di tubuh Yang Jiu hancur pecah berantakan, beterbangan di udara.
Kini Yang Jiu meringkuk dengan keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
"Hentikan,..! anggaplah aku yang tua ini mohon pada mu.."
Ucap Dewa matahari terpaksa mengalah.
Karena tidak sanggup melihat putra kesayangan nya, di permalukan dan di siksa oleh Yu Ming.
Dia yakin Yu Ming tidak akan segan segan menyiksanya secara keji.
Yu Ming menanggapinya dengan senyum mengejek dan berkata,
"Tahu akan seperti ini, mengapa waktu itu tidak berpikir sebelum berbuat..?"
Selesai berkata, Yu Ming menjejakkan kakinya keatas tanah, pedang yang tergeletak di samping Yang Jiu segera terbang masuk kedalam genggaman tangan Yu Ming.
"Cepat akui dan ceritakanlah..!"
"Aku tidak punya banyak waktu dan kesabaran menanti.."
Ucap Yu Ming sambil menodongkan ujung pedang ditangannya kearah bahu Yang Jiu yang masih berlengan.
Dia menekannya sedikit sehingga darah terlihat bercucuran dari luka baru di bahu Yang Jiu.
Yang Jiu mengatupkan mulutnya rapat rapat, dia berkeras tidak ingin mengakuinya.
Dia tahu persis, mengaku juga mati, tidak mengaku juga mati lebih baik tidak.
Bila Yu Ming terus menyiksanya, Yu Ming sendirilah yang akan terjerumus kedalam lembah dosa.
Dia pasti akan menerima hukuman dari langit pada akhirnya.
Dengan pikiran seperti itu, Yang Jiu dengan tekad penuh memilih tidak mengakuinya.
Dia menatap mata Yu Ming dengan berani, seolah olah menantang Yu Ming untuk membuktikan ucapannya.
Sekali ini pancingan dia berhasil, Yu Ming dengan ringan menarik pedang itu dari bahunya, hingga darah terlihat muncrat keatas.
"Desss..!"
Yu Ming dengan ujung sepatunya menendang wajah Yang Jiu hingga dia kembali ke posisi terlentang diatas tanah.
Setelah itu dengan gerakan cepat pedang Yu Ming bermain di bawah pusar Yang Jiu.
"Sraaat...!"
"Arggghhh...!"
Yang Jiu menjerit histeris, secara otomatis dia menggunakan sisa tangannya yang lain, untuk menutupi area bawah pusarnya, yang terlihat darah segar menyembur deras dari sela sela jari Yang Jiu.
Sepotong daging lembut dan sebuah kantong kulit kecil, terbang keudara.
Kemudian jatuh tepat di hadapan kedelapan saudara Yang Jiu dan di depan mata Dewa Matahari.
"Arggghhh...!"
Gereng Dewa Matahari dengan tubuh gemetaran, melihat penyiksaan putra kesayangannya di mulai di depan mata nya.
Yu Ming bersikap santai dia kembali menunjuk dengan ujung pedang di depan wajah Yang Jiu dan berkata,
"Bagaimana mau mengaku tidak..!?"
Yang Jiu sambil meringis menahan rasa nyeri yang luar biasa.
Tiba tiba dia bergerak maju, ingin mengakhiri hidupnya dengan cara membiarkan lehernya tertembus ujung pedangnya sendiri.
Tapi pergerakannya kalah cepat oleh Yu Ming.
Sedikit pergelangan tangan Yu Ming bergerak.
Pedang itu melejit menusuk bola mata kiri Yang Jiu.
"Arggghhh...!"
Lagi lagi Yang Jiu menjerit ngeri penuh kesakitan.
Apalagi saat ujung pedang di tarik keluar bersama bola mata yang menempel di ujung pedang.
Yang Jiu semakin menjerit jerit seperti Ba BI mau di bawa pergi sembelih.
Kedelapan saudara nya dan Dewa Matahari segera membuang muka, tidak sanggup melihat siksa yang Yu Ming mainkan untuk Yang Jiu.
"Kesempatan terakhir mau cerita tidak,. !?"
Ucap Yu Ming sambil mengerahkan hawa api surgawi ke mata pedang nya, sehingga bola mata Yang Jiu yang menempel langsung hangus sirna tak berbekas.
Yang Jiu dengan mata berlumuran darah dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Keturunan iblis hari ini kamu pasti akan menerima hukuman dari langit, atas semua kekacauan ini.."
"Bila hari itu tiba, aku benar benar ingin melihat bagaimana nasib mu nanti di tentukan nya..?"
Yu Ming tersenyum dingin dan berkata,
"Baiklah tidak mau bicara bukan ?ingin melihat dan mendengar bukan..?"
"Aku justru sengaja tidak akan membiarkan kamu tercapai tujuan nya .."
"Creebbb..!"
"Sraaat..! Sraaat..! Sraaat..!"
"Arggghhh...!"
Jerit Yang Jiu sekali.lagi, dengan mata hidung telinga dan mulut berlumuran darah.
Dia kini di buat tidak bisa melihat mendengar mencium bau dan berbicara, lidahnya telah di potong oleh Yu Ming.
Dewa matahari sudah membuang muka tidak kuat menyaksikan keadaan putera nya yang sudah tidak berbentuk manusia lagi.
"Dessss..!"
Sekali lagi Yu Ming menendang tubuh Yang Jiu yang tidak berdaya hingga tergeletak dengan posisi tengkurap.
"Kamu menusuknya secara biadab, aku akan membuat mu merasakan perasaan di tusuk itu bagaimana..!?"
Ucap Yu Ming sambil melemparkan gagang pedang menancap di lubang pembuangan air besar Yang Jiu.
"Arggghhh...!"
Jerit Yang Jiu dengan sepasang kelopak mata tanpa isi terbuka lebar, saking nyeri luar biasa yang dia rasakan.
Tubuhnya yang tengkurap tanpa sehelai benang pun terlihat kejang kejang disana, saking merasakan kesakitan hebat.
Yu Ming setelah menyiksa Yang Jiu dengan sadis, kini dengan wajah dingin tanpa ekspresi, dia berjalan menghampiri Yang Pa dan berkata,
"Adik mu yang bajingan tidak mau cerita, sekarang giliran mu binatang ini yang bercerita .."
"Atau kamu boleh memilih menerima hukuman yang sama seperti dia.."
Ucap Yu Ming sambil menyeringai sadis.
Hawa kegelapan merembes dari sekujur tubuh Yu Ming, kejadian yang menimpa Hua Sien Ce .
Adalah pukulan batin yang sangat berat baginya, rasa menyesal bersalah berubah menjadi amarah.
Di tambah dengan sikap Dewa Matahari dan keluarganya yang tidak tahu diri.
Hal ini memicu Yu Ming semakin tenggelam dalam dendam dan kebenciannya.
Sehingga sisi gelap yang mengalir dalam darahnya kini berkembang cepat menguasai hati dan pikirannya.
Semua sisi baiknya terkubur, tertelan oleh hawa kegelapan yang menutupi kesadarannya.