
Kaisar langit mengangguk dan berkata,
"Baiklah, kalau begitu kita lupakan saja, mungkin itu adalah batasan Wilayah yang di lindungi oleh Hawa iblis.."
"Hanya yang memilki hawa iblis kegelapan, yang bisa masuk kewilayah itu.."
"Kita tunggu saja, bila ada kawanan iblis, yang mencoba keluar dari sana, kita bisa menangkap nya.."
"Lalu kita paksa dia mengantar kita masuk kedalam sana, mungkin hanya dengan cara itu kita bisa masuk kesana.."
"Sama seperti iblis Asura, yang bisa menerobos masuk kedalam San Qing Kuan.."
ucap Kaisar Langit memutuskan.
Seluruh dewa yang hadir mengangguk setuju, tidak ada yang membantah lagi.
"Dewa Er Lang, aku tugaskan kamu segera berangkat ke wilayah Utara."
"Mulai saat ini dan seterusnya, daerah itu menjadi daerah kekuasaan mu, kamu boleh bangun istana kediaman mu dan bangunan baru, untuk seluruh bawahan mu di sana.."
ucap Kaisar Langit memberikan titahnya.
Dewa Er Lang maju memberi hormat.
"Terimakasih Yang Mulia.."
ucap Dewa Er Lang penuh hormat.
Setelah itu, Dewa Er Lang pun meninggalkan ruangan aula utama, di ikuti oleh beberapa bawahan kepercayaan nya dan Siau Thian Cuan.
Setelah Dewa Er Lang pergi, Kaisar Langit menoleh kearah Dewa Pagoda, dan berkata,
"Dewa pagoda dengarkan perintah.."
Dewa pagoda segera maju memberi hormat dan berkata,
"Dewa pagoda siap dengarkan titah Yang Mulia.."
"Dewa pagoda kamu berangkat lah ke istana timur San Cing Kuan, bawalah seluruh keluarga ku kemari.."
"Termasuk Dewi Hua Sien Ku, Dewi pendosa itu juga bawa kemari ."
Ucap Kaisar Langit dengan nada dingin.
"Siap Yang Mulia.."
Ucap Dewa Pagoda sambil memberi hormat kemudian mengundurkan diri dari sana.
Beberapa waktu berlalu, Dewa Pagoda kembali dengan Wang. Mu Niang Niang dan sembilan putri kaisar langit.
Sedangkan Hua Sien Ku datang menghadap di tengah aula di temani oleh Dewi berwajah dingin.
Melihat kehadiran Dewi tersebut di sana, kaisar langit pun bangkit berdiri dan memberi hormat Kearah Dewi itu dan berkata,
"Terimakasih Ciu Thian Sen Ni (Dewi Agung Langit tingkat ke 9), sudi ikut hadir kemari.."
Ciu Thian Sen Ni (Dewi Agung Langit tingkat ke 9), hanya mengangguk kecil menanggapi penghormatan dari Kaisar Langit.
Dia tidak berkata apa-apa, hanya berdiri diam di samping Hua Sien Ku yang terlihat tertunduk sedih, sambil memegangi perutnya yang masih terlihat rata.
Setelah memberikan penghormatan ke Ciu Thian Sen Ni.
Kaisar langit baru menoleh kearah Hua Sien Ku dan berkata,
"Hua Sien Ku, kamu adalah adik ku, tapi demi keadilan.."
"Aku dengan terpaksa harus memberikan hukuman melempar mu ke neraka tingkat ke 18, untuk menjalani siksa neraka..!"
Hua Sien Ku menanggapi hukuman dari kakaknya dengan senyum pahit dan berkata,
"Terimakasih atas kemurahan hati Yang Mulia, Sien Ku menerima titah dan siap menjalani hukuman itu.."
"Tahan..!"
Bentak Ciu Thian Sen Ni yang dari tadi diam, tapi kini dia tiba-tiba buka suara.
Kaisar langit mengerutkan alisnya menoleh kearah Ciu Thian Sen Ni dan berkata,
"Maaf,.. apa Sen Ni punya pendapat lain..?"
"Yu Ti demi keadilan, Yu Ti harus jelas kan dengan jelas apa dosanya,? sehingga Yu Ti bisa memberikan hukuman seperti itu.."
Kaisar langit menghela nafas panjang dan berkata,
"Dia menikah dengan raja iblis tanpa persetujuan orang tua dan keluarga."
"Bahkan suami tidak sah nya, si raja iblis mengacau di wilayah San Qing, merusak di sana.."
"Untuk semua dosa itu, dia pantas menerimanya.."
ucap Yu Ti dengan ekspresi wajah datar.
Ciu Thian Sen Ni mengangguk dan berkata,
"Sebagai senior mu, yang setingkat dengan ibu mu, Thai Yuan Seng Mu.."
"Bolehkah aku berbicara beberapa kata demi keadilan dan kenetralan..?"
Kaisar langit mengangguk pelan dan berkata,
"Silahkan Sen Ni, Yu Ti siap mendengarkan.."
"Yu Ti, aku mau tanya 5000 tahun yang lalu, bagaimana kamu dan keluarga mu serta seluruh bawahan mu bisa berhasil selamat mengungsi ke San Qing Kuan..?"
"Mengenai Hua Sien Ku dan Che You bisa tiba di San Qing Kuan, bukankah kamu yang meminta ku untuk menjemput mereka..?"
"Bukankah kamu yang bilang Thai Yuan Seng Mu rindu ingin bertemu Sien Ku, sedangkan Che You di minta menanti di luar..?"
"Bukan begitu..?"
"Apa kamu mau kita mengupas semuanya hingga tuntas,..?"
"Atau kamu ingin masalah ini aku bawa ke hadapan Thian Cun untuk di putuskan.."
"Sehingga ratusan jiwa roh penasaran dewa yang gugur 5000 tahun lalu, gak perlu di bantu untuk bereinkarnasi lagi menjadi putra mahkota mu..?"
ucap Ciu Thian Sen Ni dingin.
Sekejab wajah Yu Ti sebentar pucat, sebentar hijau, sebentar merah, kemudian normal kembali.
Sambil tersenyum sedikit menyeringai, Yu Ti berkata,
"Sen Ni ucapan nya terlalu berat, Sen Ni cukup katakan saja, hukuman apa yang pantas, untuk adik ku ini, aku siap mendengarkan dan menjalankan petunjuk dari Sen Ni.."
Ciu Thian Sen Ni menatap tajam kearah Yu Ti dan berkata,
"Ini urusan keluarga, aku orang luar tidak berhak ikut campur.."
"Silahkan Yu Ti yang putuskan, asalkan adil.."
"Aku berjanji tidak akan ikut bicara lebih jauh lagi.."
Ucap Ciu Thian Sen Ni dingin.
Jawaban Ciu Thian Sen Ni justru membuat Kaisar Langit jadi serba salah.
Memutuskan terlalu berat, Ciu Thian Sen Ni pasti tidak setuju, dan ada kemungkinan akan membawa masalah ini ke Thian Cun.
Memutuskan terlalu ringan, dia takut kelak masalah ini, bisa menjadi bumerang bagi dirinya.
Tentu akan berbeda, bila Ciu Thian Sen Ni yang memutuskan,
Bila Ciu Thian Sen Ni yang memutuskan, kelak bila terjadi sesuatu.
Dia bisa dengan mudah melepaskan tanggung jawab, mendorongkan semua tanggung jawab ke Ciu Thian Sen Ni.
Tapi dengan Ciu Thian Sen Ni memintanya, yang memutuskan dia menjadi dilema.
Kaisar langit terpaksa memutar otaknya dengan cepat, akhirnya dia berkata,
"Baiklah mengingat dan menimbang jasa dan dosa Hua Sien Ku, aku putuskan keputusan sebelumnya di ralat."
"Hua Sien Ku akan di hukum buang ke langit lapis 36.."
Langit lapis ke 36 adalah lapis langit tingkat terendah, yang paling dasar, dan paling dekat dengan alam manusia, hewan dan tumbuhan.
Ciu Thian Sen Ni tidak berkata apa-apa, dia langsung membalikkan badannya, dan melayang meninggalkan ruangan aula sidang utama tersebut.
Dengan perginya, Ciu Thian Sen Ni tanpa komentar, jelas menunjukkan dia cukup puas dan setuju dengan keputusan, yang di buat oleh Kaisar Langit.
Hua Sien Ku sambil menangis bercucuran air mata berlutut menghadap kearah kepergian Ciu Thian Sen Ni, dan berkata,
"Hua Er dan anak dalam kandungan ku ini, sampai mati tidak akan melupakan Budi besar Sen Ni terhadap kami..!"
"Terimakasih Sen Ni..!"
Ucap Hua Sien Ku sambil menyembah kearah bayangan punggung Ciu Thian Sen Ni.