LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT

LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT
PENDERITAAN YU MING


Hua Sien Ce mempelototi ibunya penuh teguran.


Karena hal seperti itu di bahas dengan orang asing, tentu sangatlah memalukan.


Meskipun mereka berdua adalah orang tua kandung, tapi kebersamaan mereka.


Aslinya belum terhitung satu hari.


Dia memang pernah mengenal mereka.


Tapi waktu itupun hanya sekedar kenal sekilas saja, tidak ada perasaan ataupun ikatan emosi apapun diantara dia dengan kedua orang tua kandungnya tersebut.


Hua Sien Ku dan kedua orang tua kandung Hua Sien Ce tersenyum mengerti.


Hua Sien Ku kembali melanjutkan berkata,


"Kamu jangan kesal dulu, dengarkan dulu ibu.."


"Ibu bahas hal ini dengan mereka, karena ibu tahu persis, kamu sangat menyukai dan mencintai Ming Ke ke.."


"Dalam hal ini, kedua orang tua kandung mu, justru merespon baik.."


"Menurut mereka, hubungan perjodohan Yu Ming dan Ping Ru Meng, sepenuhnya telah putus dan bubar.."


"Sebagai orang tua angkat Yu Ming, mereka sangat menyukai Yu Ming dan sangat berharap Yu Ming bisa tetap menjadi putra mereka.."


"Bila kamu dan Yu Ming bisa di persatukan dalam satu tali perjodohan.."


"Tentu saja mereka berdua akan menyambut baik dan sangat berbahagia.."


"Karena lewat ikatan kalian berdua, Yu Ming tetap akan menjadi anak mereka.."


Ucap Hua Sien Ku menjelaskan dengan sabar.


Sedangkan Hua Sien Ce meski di dalam hati sangat bahagia, tapi dia juga merasa malu dan sungkan.


Untuk menutupi rasa malunya Hua Sien Ce pun mencari alasan pengalihan pembicaraan yang canggung dan memalukan tersebut.


"Ibu masakan sudah siap, lebih baik kita makan sama sama di belakang sana.."


"Nanti kalau dingin jadi tidak enak.."


Ucap Hua Sien Ce , sambil bangkit berdiri.


Lalu dia dengan kepala tertunduk dan wajah merah padam, buru buru ngeloyor pergi dari sana.


Dia langsung bergegas meninggalkan mereka bertiga menuju dapur untuk menyiapkan nasi dan lain sebagainya.


Untuk menjamu Kaisar Langit dan Wang Mu Niang Niang.


Hua Sien Ku dan kedua tamunya saling pandang, mereka sama sama tersenyum.


Lalu mereka segera bergerak menyusul kearah kepergian Hua Sien Ce barusan.


Hua Sien Ku selalu tuan rumah membawa kedua tamunya menuju halaman belakang rumah, di mana dapur dan meja makan menyatu di sana.


Meski sederhana tempatnya tapi cukup bersih dan layak di gunakan.


Demi kebahagiaan putra putri mereka, baik Hua Sien Ku, Yu Ti dan Wang Mu Niang Niang terpaksa mengalah, menyimpan ego masing masing.


Adalah Yu Ti yang tadinya sudah pergi, tapi melihat istri nya terus termenung dan bersedih.


Terlihat jelas sangat tidak bahagia, dan agak sedikit menyalahkan sikapnya.


Yu Ti akhirnya mengalah, memilih berputar balik kembali.


Dia mencoba untuk berbicara dengan cara lebih baik dan lebih banyak mengalah.


Bahkan meminta maaf dan memberikan berbagai janji, dan bersedia menerima segala persyaratan Hua Sien Ku.


Termasuk yang paling berat, seperti tidak akan membahas meributkan kembali masalah yang telah berlalu dengan Che You.


Akhirnya Hua Sien Ku, bersedia mengalah selangkah, memberikan mereka kesempatan untuk lebih dekat dengan putrinya.


Di dapur atas saran dari Hua Sien Ku yang sangat mengenali sifat putrinya.


Mereka tidak lagi membahas tentang hubungan Hua Sien Ce dan Yu Ming.


Mereka hanya fokus makan bersama untuk saling lebih mengakrabkan diri.


Sepanjang makan, baik Yu Ti maupun istrinya, mereka terus memuji masakan Hua Sien Ce sangatlah lezat.


Mereka berdua juga memuji muji kecantikan dan sifat Hua Sien Ce yang menurut mereka sangat baik.


Di penghujung acara, mereka berdua pun pamit untuk pulang ke tempat asal mereka.


Saat itulah Hua Sien Ce akhirnya buka suara, dengan suara agak canggung dia berkata,


Yu Ti dan Wang Mu Niang Niang saling pandang sejenak.


Setelah memperoleh kesepakatan lewat tatapan mata masing masing.


Yu Ti pun berkata,


"Tentu saja bisa, tapi pertama tama kamu harus ganti panggilan mu,.."


"Mulai saat ini panggillah kami ayah dan ibu.."


Hua Sien Ce menoleh kearah ibunya, menunggu persetujuan, setelah mendapatkan anggukan kepala persetujuan dari ibunya Hua Sien Ku.


Hua Sien Ce baru berani buka suara pelan.


"Ayah Ibu..aku.."


Dia sedikit gugup dan kurang biasa, sehingga tidak tahu harus bagaimana bersikap.


Yu Ti dan Wang Mu Niang Niang tersenyum bahagia, Yu Ti pun berkata,


"Kalau begitu kamu sekarang ikut kami ke istana, setelah itu aku baru bisa aturkan pengawal.."


"Untuk mengawal mu ke wilayah Utara sana.."


Hua Sien Ce kembali menoleh kearah ibunya meminta pendapat.


Hua Sien Ku sambil tersenyum lembut, menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Hua er kamu pergilah, tidak perlu ragu.."


"Ibu bisa menjaga diri sendiri.."


"Tolong sampaikan salam ibu, buat Ming Er.."


Hua Sien Ku sengaja menggunakan nama Yu Ming, sebagai alasan untuk menguatkan tekad Hua Sien Ce agar bersedia pergi ke Istana Halimun Mukjizat bersama kedua orang tua nya.


Hua Sien Ce akhirnya mengangguk, dia kembali memeluk ibunya dengan erat.


Setelah itu dengan suara sedikit terisak, dia berkata pelan.


"Ibu, aku pasti akan membawanya pulang, aku janji itu.."


"Ibu tunggulah kabar baik dari ku.."


Hua Sien Ku mengangguk pelan dengan airmata berlinang membasahi kedua pipinya.


Hua Sie Ce mencium kedua pipi ibunya yang basah.


Setelah itu dia pun melepaskan pelukannya.


Kemudian dia mengikuti Yu Ti dan Wang Mu Niang Niang d meninggalkan tempat itu.


Sesaat kemudian mereka bertiga telah pergi menggunakan kereta kencana terbang menembus langit.


Saat tiba di istana Halimun mukjizat, sesuai janji nya


Demi .untuk mendapatkan kepercayaan dari putri kandungnya, yang sekian lama terpisah dari sisi mereka.


Yu Ti segera mengutus pengawal kerajaan langit, untuk mengawal Hua Sien Ce menuju daerah Utara.


Berbeda dengan Yu Ming yang menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.


Hua Sien Ce yang menempuh perjalanan dengan kereta kencana.


Tentu saja, dia sudah tiba jauh lebih awal ketimbang Yu Ming.


Tiba di wilayah Utara, tidak berhasil menemukan Yu Ming.


Dengan kecewa Hua Sien Ce pun berkata,


"Segera kalian harus temukan dia, lalu bawa dia kemari secepatnya untuk menghadap ku..!"


Pengawal kerajaan langit tentu tidak berani membantah, mereka segera memberi hormat dan berkata,


"Siap tuan putri..kami akan segera pergi menemukannya."


Sesaat kemudian mereka berempat pun bergerak cepat pergi menemukan Yu Ming.


Sementara itu Yu Ming yang sedang menempuh perjalanan manual kondisinya terlihat makin menyedihkan.


Sepasang sepatu nya sudah jebol, dia harus meneruskan perjalanan dengan tanpa Alas kaki.


Meski kedua telapak kakinya sudah terlihat melepuh dan mengalami luka lecet di sana sini.


Sambil menahan rasa nyeri yang luar biasa, Yu Ming terpaksa harus terus melanjutkan langkahnya.