
Yu Ming dan Ping Ru Meng menikmati kemegahan bangunan tembok besar .
Bangunan itu terdiri dari bangunan menara 4 lantai menjulang megah tinggi keatas.
Menara tersebut di gunakan sebagai markas besar militer dan pusat penyimpanan logistik militer.
Menara yang indah itu, di jaga dengan ketat, sehingga Yu Ming dan Ping Ru Meng hanya bisa mengawasinya dari luar.
Mereka tidak punya pass masuk, tidak di perkenankan untuk masuk.
Yu Ming dan Ping Ru Meng setelah puas, mengamati bangunan tersebut dari halaman luas baik dari depan maupun dari belakang.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan, menuju sebuah tembok pertahanan kecil.
Setelah melewati pintu gerbang tembok pertahanan kecil.
Mereka tiba di sebuah jalan bebatuan selebar 3 tombak.
Setelah melintasi jalan tersebut mereka tiba di depan pintu gerbang besar Yek Men Kuan, yang terlihat ramai orang berlalu lalang di sana.
Tidak jauh dari kiri kanan pintu gerbang, terlihat ada menara pengawas, yang di bangun menyatu dengan tembok besar memanjang tidak berujung pangkal.
Yu Ming dan Ping Ru Meng sambil bergandengan tangan, mengikuti keramaian lautan manusia.
Bergerak keluar dari bagian samping pintu gerbang, yang tinggi besar dan megah itu.
Untuk yang keluar tidak mengalami pemeriksaan ketat, tapi bagi yang masuk, mereka akan di arahkan melewati pintu gerbang besar yang di jaga ketat.
Di sana mereka di periksa surat ijin lewat dan melalui pemeriksaan berlapis baru boleh masuk.
Hal itu di lakukan untuk mencegah masuknya, suku nomaden yang sering datang menyerang merampok, menculik, dan membuat kerusuhan di kota kota, sebelah dalam pintu gerbang Yek Men Kuan.
Kota kota di balik tembok adalah kota perdagangan yang sangat ramai dan hidup.
Karena di sana adalah pusat perdagangan pedagang dari daerah Utara Barat Timur, yang terletak di luar tembok, dengan pedagang dari daerah selatan, yang berasal dari wilayah di balik tembok besar.
Yu Ming dan Ping Ru Meng tanpa mengalami kesulitan berarti, mereka berhasil keluar dari tembok besar wilayah kekuasaan kekaisaran China.
Di sebelah luar gerbang, juga ada beberapa pasar yang cukup ramai.
Di sana Yu Ming mengajak Ru Meng, menghampiri seorang pedagang kuda.
Yu Ming sedikit tertarik untuk memilih kuda, agar bisa membantu dia dan Ru Meng melanjutkan perjalanan dengan santai.
"Meng Er kamu bisa menunggang mahluk ini..?"
Tanya Yu Ming sambil menoleh kearah kekasihnya.
Ru Meng sambil menahan senyum berkata,
"Aku besar di wilayah Padang rumput, tentu saja aku bisa.."
"Ming ke ke sendiri bagaimana..?"
Yu Ming tersenyum dan berkata, kalau yang bersayap seperti Lung Ma aku bisa.
Tapi kalau yang ini, aku kurang ngerti, karena Lung Ma kita bisa berkomunikasi lewat pikiran.
"Kalau mahluk ini, aku kurang paham cara berkomunikasinya.."
Ucap Yu Ming jujur.
Ping Ru Meng sambil menahan tawa berkata,
"Lah kalau tidak tahu cara menungganginya, buat apa Ming ke ke membelinya..?"
Yu Ming tersenyum canggung dan berkata,
"Bila lewat udara, aku takut perjalanan terlalu cepat."
"Sehingga ada kemungkinan tempat yang kita tuju, terlewatkan tanpa kita menyadarinya.."
"Makanya aku memilih jalur darat, tapi jalur darat, kurasa akan lebih nyaman, bila kita menunggangi mahluk ini.."
Ucap Yu Ming menjelaskan pemikiran nya.
Ping Ru Meng mengangguk dan berkata,
"Baiklah kalau begitu aku akan bantu Ming ke ke pilih kuda tunggangan.."
"Setelah itu Ming ke ke bisa coba belajar menungganginya, nanti saya akan ajarkan caranya.."
Ucap Ping Ru Meng sambil tersenyum.
Yu Ming mengangguk, dia kini berbalik mengikuti Ping Ru Meng melihat lihat kuda yang sedang di perdagangkan di sana.
Kuda itu terlihat cantik sehat dan kuat.
Setelah mendapatkan kuda pilihan nya, Ru Meng menoleh kearah Yu Ming dan berkata,
"Ming ke ke tertarik dengan kuda yang mana..?"
Yu Ming mengedarkan pandangannya sekilas, lalu dia berkata,
"Yang hitam itu sepertinya cocok.."
"Hitam yang mana,? di sini banyak yang berwarna hitam.."
Tanya Ping Ru Meng bingung.
"Itu Hitam yang dari kepala hingga ke leher memilki surai yang panjang itu."
"Maksudnya yang ada di pojokan, dengan kandang terpisah, sendirian dan kepala nya terus merunduk itu .?"
Tanya Ping Ru Meng memastikan.
Yu Ming mengangguk cepat dengan penuh semangat, dia berkata,
"Ya benar, yang itu maksud ku.."
Ping Ru Meng sambil menahan tawa berkata,
"Selera Ming ke ke bagus juga, tapi aku katakan dulu dari awal.."
"Kuda itu adalah Raja kuda Padang stepa, dia sulit di tundukkan, apalagi di tunggangi.."
"Dia akan menyulitkan Ming ke ke yang belum biasa menunggang kuda ."
"Tapi dia adalah kuda yang terbaik dari yang terbaik, bila Ming ke Ke bisa menjadi tuannya."
"Kuda seperti itu, seumur hidupnya hanya akan memilih satu orang tuannya saja.."
"Setelah itu dia akan lebih memilih mati, daripada ditunggangi orang lain.."
Ucap Ru Meng menjelaskan.
Mendengar penjelasan Ping Ru Meng, Yu Ming bukannya mundur.
Dia malah menjadi penasaran dan ingin mencobanya.
Yu Ming menoleh kearah Ping Ru Meng dan berkata,
"Yang itu saja, katakan pada penjualnya aku pilih yang itu.."
"Negosiasi kan saja harganya.."
Ping Ru Meng mengangguk, lalu dia segera berbicara dalam bahasa yang Yu Ming tidak mengerti.
Pedagang itu terlihat terus menggelengkan kepalanya menunjuk nunjuk kearah kuda itu.
Terkadang dia menggoyang goyangkan tangan nya di depan wajah Ping Ru Meng.
Terakhir dia menunjukkan 5 jarinya dan berbicara dengan ekspresi wajah yang sangat serius kearah Ping Ru Meng.
Yu Ming tidak mengerti pembicaraan mereka, dia hanya menebak nebak apa yang kira kira mereka perdebatkan.
Dari gerak gerik penjual itu, Yu Ming menebak penjual itu berusaha meyakinkan Ping Ru Meng agar tidak membeli kuda itu.
Melihat proses negosiasi yang lama dan alot, Yu Ming jadi bosan.
Iseng iseng Yu Ming langsung berjalan menuju istal kuda di mana kuda hitam itu berada.
Saat Yu Ming memasuki kandang kuda itu, kuda itu sedikit mengedikkan kepalanya menatap kearah Yu Ming.
Tapi sejenak kemudian, dia sudah kembali menundukkan kepalanya, mendengus dengus kesal.
Kaki kanan depannya, dia gunakan untuk mengais ngais tanah di hadapan nya.
Saat kuda itu mengedikkan kepalanya, melihat kearah Yu Ming.
Yu Ming menghentikan langkahnya, sejenak menatap tajam kearah kuda itu.
Sesaat kemudian setelah kuda itu kembali menunduk, Yu Ming baru melanjutkan langkahnya mendekati kuda tersebut.
Dengan langkah pelan, tanpa menimbulkan suara berisik, Yu Ming sedikit demi sedikit mendekati kuda tersebut.
Saat berhasil tiba di samping kuda itu, Yu Ming baru mengulurkan tangannya, dengan lembut membelai leher dan bulu halus di tengkuk kuda itu