LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT

LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT
TIDAK DI AJAK


Yu Ming yang di kawal oleh Jendral You dan Jenderal Cuo, saat tiba di tepi Danau Es Beku.


Di sana yang hadir, baru terlihat Dewa Er Lang, Siau Thian Cuan, Dewa Pagoda, Nacha dan barisan pasukan kahyangan, yang di bawah wewenang mereka.


"Ming Er kamu sudah tiba, mana Siau Sien Ce dan Lek er, kenapa mereka tidak terlihat..?"


Tanya Dewa Er Lang heran.


Karena biasanya setahu Dewa Er Lang, kedua bocah ajaib itu, satu kemayu, satu lagi cerewet tiada dua, mereka selalu mengekor di samping Yu Ming tak terpisahkan.


Yu Ming tersenyum canggung dan berkata,


"Ini misi serius, yang sangat berbahaya, ada baiknya mereka berdua tidak ikut.."


"Daripada saat pertempuran sebenarnya pecah, mereka berdua malah merepotkan kita.."


"Kita semua juga tahu bagaimana tingkatan Siu Lian mereka.."


Ucap Yu Ming menjelaskan alasan kedua bocah ajaib itu, tidak di bawa nya


Dewa Er Lang mengangguk paham, ucapan Yu Ming sangat tepat dan masuk akal.


Memang seharusnya seperti itu, dia juga di dalam hati sangat setuju, dan memiliki pemikiran yang sama.


Hanya dia tidak enak hati mengungkapkan nya.


Dia tadi hanya bertanya basa basi, untuk menghilangkan rasa penasaran nya saja.


Sesaat kemudian berturut turut 8 Dewa, Dewa Bintang, Dewa Matahari, Dewa Bulan, Dewa Angin, Dewa Hujan, Dewa Petir, mereka satu persatu mulai hadir di tempat tersebut.


Kemudian menyusul Yu Long, yang datang bersama gadis misterius itu.


Mereka pun terlihat hadir disana memimpin barisan Pasukan Kerajaan Es Abadi.


Fei Ying adalah yang paling akhir sampai di sana, memimpin Pasukan Dewa Dewi Bersayap yang berbaris rapi di belakang nya.


Fei Ying. begitu tiba, dia langsung mengedarkan pandangannya, mencari cari.


Saat tidak menemukan seteru nya, dia menatap kearah Yu Ming dan berkata,


"Pangeran Mahkota,.. di mana si mulut comberan Yu Lek adik mu itu..?"


Yu Ming sambil tersenyum berkata,


"Tuan putri tidak cocok dengan nya, dari pada menimbulkan masalah.."


"Aku memintanya tinggal di kemah bersama asisten pelayan pribadi ku.."


Fei Ying mengangguk dan berkata,


"Ya memang ada bagusnya seperti itu, dari pada si sayap bebek itu, nantinya menyusahkan kita kita.."


Yu Ming memberi hormat dengan menjura, tapi dia tidak berkomentar apapun.


Karena sejelek apapun Yu Lek, tetap adalah adik sekandung yang sangat di kasihi nya.


Yu Ming menoleh kearah Dewa Er Lang, selaku pimpinan pasukan gabungan mereka.


"Kakak misan, semuanya sudah hadir, aku rasa sudah waktunya kita berangkat.."


Dewa Er Lang mengangguk, dia pun berkata,


"Semua pasukan dengar perintah..!"


"Kita berangkat sekarang..!"


Dewa Er Lang, Dewa Pagoda dan an Nacha, memimpin 50.000 pasukan kahyangan bergerak di barisan terdepan.


Di barisan kedua di sisi kanan, terlihat Dewa Matahari dan ke 9 putranya, mereka memimpin barisan pasukan Kerajaan Matahari yang berjumlah 10.000 personil, bergerak mengikuti barisan pasukan Dewa Er Lang.


Yu Ming di temani 8 dewa, Dewa Bintang dan Dewa Bulan, Hou Yi , Chang Er dan putri mereka Hou Ruo Lan.


Mereka bergerak memimpin 50.000 pasukan kahyangan bergerak, di barisan kedua dari sisi kiri.


Barisan ketiga ditempati oleh barisan pasukan Fei Ying, yang memimpin 30.000 Pasukan Dewa Dewi Bersayap yang berbaris rapi beterbangan di udara.


Barisan Keempat adalah barisan terakhir, Di bawah pimpinan Yu Long, yang di kawal oleh gadis misterius itu.


Mereka memimpin 30.000 Pasukan Kerajaan Es Abadi yang terlihat berbaris rapi di belakang mereka.


Dewa Angin, Dewa Hujan, Dewa Petir mereka bergerak ikut mengawal di depan, barisan pasukan Kerajaan Es Abadi mendamping pangeran Yu Long.


Sementara pasukan gabungan sedang bergerak melintasi Danau Es Beku.


Di kemah Yu Ming, Siau Sien Ce dan Yu Lek, yang baru saja tertidur menjelang pagi.


Mereka berdua tidak menyadari, Yu Ming dan yang lainnya sudah berangkat ke Medan perang


Hingga matahari naik tinggi, di mana sinarnya menembus kemah, menyinari mata Siau Sien Ce.


Siau Sien Ce yang merasa terganggu oleh sinar menyilaukan mata itu.


Akhirnya dia terbangun dari tidur pulas nya.


Melihat di dalam kemah sepi sepi saja, hanya ada Yu Lek dan dirinya, sedangkan matahari sepertinya sudah naik tinggi.


Siau Sien Ce pun kaget dan dia segera bergerak membangunkan Yu Lek.


"Yu Lek,..! Yu Lek,..! bangun Yu Lek..!"


"Kita sudah di tinggalkan oleh kakak..!"


"Ayo cepat bangun..!"


Teriak Siau Sien Ce sambil menguncang guncang lengan Yu Lek.


"Apa sih..? ganggu aja..!"


"Orang masih ngantuk juga..!"


Jawab Yu Lek kesal, sambil mengibaskan tangan Siau Sien Ce, yang sedang menarik narik lengannya, agar dia bangun.


Yu Lek setelah mengibaskan lengan Siau Sien Ce dia bergerak menarik selimut menutupi kepalanya.


Lalu memutar badannya memunggungi Siau Sien Ce.


"Kamu ini..! Hais..! ya sudah terserah kamu lah..!"


"Yang jelas aku memang di larang ikut oleh kakak,..!"


"Mengenai kamu, dasar pecundang, nanti kalau bangun jangan menyesal dan menyalahkan aku, tidak membangunkan mu..!'


Ucap Siau Sien Ce kesal, sambil memutar badannya, lalu membanting kakinya kesal, dengan wajah cemberut, dia bergerak meninggalkan kemah.


Siau Sien Ce langsung pergi kearah dapur, untuk mencari makan, sekaligus membersihkan diri.


Beberapa waktu setelah Siau Sien Ce pergi, Yu Lek akhirnya terbangun dengan wajah kaget.


Dia buru buru berlari keluar dari kemah, dia berlari kesana kemari dengan panik, tapi dia hanya menemukan kenyataan semua kemah telah kosong.


Dengan wajah cemas, Yu Lek mengedarkan pandangannya mencari cari, saat melihat bagian belakang, yang merupakan bagian dapur, terlihat ada asap mengepul keatas.


Yu Lek buru buru berlari menuju kearah dapur, saat tiba di sana dia hampir saja bertabrakan dengan Siau Sien Ce, yang sedang membawa sepiring Bakpao di tangannya.


"Hei..!"


Teriak Siau Sien Ce kaget, sambil bergerak mundur menghindari tabrakan.


"Siau Sien Ce di mana mereka semua !?"


"Kenapa kamu malah asyik bikin bakpao isi dapur..!?"


Tanya Yu Lek panik.


Siau Sien Ce dengan wajah cemberut berkata,


"Itulah kamu, saat waktu tidur ngoceh tidak berhenti.."


"Saat waktu bangun, malah tidur.."


"Di bangunkan tidak mau.."


"Sekarang baru panik dan bertanya pada ku.."


"Aku katakan pada mu, sudah telat.."


"Mereka semua sudah pergi, mungkin sebentar lagi sudah kembali.."


"Makanya aku siapkan Bakpao, untuk menyambut kakak Ming pulang.."


Jawab Siau Sien Ce menahan kesal.


Melakukan hal Yu Lek bengong terpaku di sana menghalangi jalan nya.


Siau Sien Ce pun langsung mendorong Yu Lek minggir ke damping, dan berkata dengan ketus,


"Minggir jangan halangi aku .!"


Setelah itu Siau Sien Ce pun menerus kan langkahnya berjalan kembali ke kemah.


"Hei tunggu..! kamu kenapa tidak ikut..!?"


Tanya Yu Lek penasaran, sambil berlari menyusul Siau Sien Ce.


Siau Sien Ce menjawab santai tanpa menoleh,


"Aku cuma pelayan, tuan ku suruh tidak ikut.."


"Lalu buat apa aku maksa ikut, lebih baik aku di sini, siapkan sesuatu yang bermanfaat, bila tuan ku pulang.."


"Haiss kamu ini,! bagaimana bila terjadi sesuatu dengan kakak dan dia tidak bisa pulang, !?"


"Kamu bukannya ikut pergi membantu, malah menunggu dengan bodoh di sini, dengan Bakpao bodoh mu itu..!"


"Apa gunanya coba .!?"


Ucap Yu Lek dengan wajah kesal. dan panik.


Mendengar ucapan Yu Lek, Siau Sien Ce buru buru meletakkan piring berisi Bakpao nya keatas lantai dan berkata,


"Apa maksud mu kakak tidak bisa balik..? kamu si mulut comberan jangan bicara sembarangan..!"


"Kakak sangat sakti, mana seperti kamu si sayap bebek..!"


Bentak Siau Sien Ce kasar, tapi jelas wajahnya terlihat cemas.


Dia tampak sedikit gelisah, setelah mendengar ucapan Yu Lek tadi