
Siau Sien Ce dengan wajah cemberut, mengikuti Yu Ming masuk kedalam pondok.
Yu Ming menurunkan tubuh bibinya, untuk di dudukkan bersandaran disebuah kursi bambu, yang biasanya di gunakan oleh Hua Sien Ku untuk bersantai.
Kursi dengan sandaran tinggi, dan derajat kemiringan sekitar 25°, sangat tepat di gunakan saat ini.
Yu Ming setelah membantu bibinya setengah berbaring, dia mulai mengurut, memijat, kening dan tengkuk bibinya.
Sesaat kemudian, sepasang mata bibi nya mulai terbuka.
Dia menatap Yu Ming sebentar kemudian dia berkata pelan.
"Keponakan ku, mana jasad paman mu..?"
Yu Ming menatap kearah bibi nya dengan penuh simpati.
"Bibi aku akan mengeluarkan dan mengembalikan nya ke sisi bibi.."
"Tapi bibi harus janji dulu, bibi tidak boleh terlalu bersedih.."
"Bibi harus ingat, untuk menjaga kesehatan diri bibi sendiri.."
Ucap Yu Ming serius.
Hua Sien Ku mengangguk pelan dan berkata,
"Terimakasih banyak keponakan ku, bibi janji padamu.."
"Bibi tidak akan seperti tadi lagi.."
Yu Ming pun mengeluarkan kembali Batu Kristal Es Abadi, yang membungkus seluruh tubuh Raja Iblis Che You, yang sedang duduk bersila.
Hua Sien Ku perlahan-lahan bangkit dari kursi bersantai nya.
Dia lebih memilih duduk bersimpuh di hadapan Batu Kristal Es Abadi itu.
Dengan airmata bercucuran, sambil menahan diri, agar tidak menangis lagi.
Hua Sien Ku mengulurkan tangannya menyentuh Batu kristal yang membungkus seluruh tubuh suaminya.
"Pulang sudah baik.."
"Syukurlah kamu bisa kembali lagi kesamping kami.."
Ucap Hua Sien Ku sambil berusaha untuk tersenyum.
Tapi hal itu sungguh adalah pekerjaan yang sangatlah tidak mudah.
Hua Sien Ku menoleh kearah Siau Sien Ce dan berkata pelan,
"Sian Ce,.. kemarilah, berilah salam pada ayah mu.."
"Bukankah selama ini, kamu selalu ingin tahu siapa ayah mu.."
"Hari ini ibu tidak akan menutupinya lagi dari mu, dialah ayah mu Che You.."
Ucap Hua Sien Ku, dengan wajah yang lebih mirip meringis ketimbang sedang tersenyum.
Siau Sien Ce ikut duduk di samping ibu nya, dia memeluk ibunya dan berkata,
"Ibu, aku sudah tahu semuanya.."
"Guru sudah menceritakan semuanya pada ku.."
"Jasad ayah pun aku sebenarnya sudah tahu, aku dan Yu Ming ke ke menemukannya di sebuah Gua di wilayah ujung Utara sana.."
"Aku juga tahu, suatu hari Yu Ming ke ke pasti akan mengantar ayah pulang kemari.."
Ucap Siau Sien Ce menjelaskan ke ibunya.
Hua Sien Ku mengangguk pelan, lalu dia menoleh kearah Yu Ming dan berkata,
"Ming Er terima kasih banyak."
"Terus terang saja, selain berterimakasih, bibi benar benar sudah tidak tahu bagaimana cara membalas Budi besar mu ini.."
"Harta bibi kini satu satunya hanya adik misan mu ini.."
"Menjodohkan kalian berdua, bibi jelas tidak berani.."
"Ayah ibu mu tidak bakalan setuju, mereka pasti akan marah besar.."
"Bibi tidak mau melihat kamu di hukum karena hal ini.."
"Mungkin hanya di kehidupan berikutnya, bibi bisa membalas Budi baik mu ini, Ming Er.."
Ucap Hua Sien Ku dengan wajah menyesal.
"Ming ke ke mana mungkin akan tertarik dengan putri mu, di mata Ming ke ke putri mu ini paling hebat, ya cuma seorang pelayan kecil.."
"Pelayan kecil yang perempuan bukan laki laki bukan.."
Ucap Siau Sien Ce menyindir Yu Ming, melampiaskan rasa keki nya tadi.
Siau Sien Ce menatap kearah Yu Ming seolah-olah menantang Yu Ming, mau jawab apa di depan ibunya.
Yu Ming menjadi serba canggung, dia agak sulit bicara, dengan sedikit gugup dia berkata,
"Bibi pikiran bibi itu sangat tidak benar.."
"Semua yang Yu Ming lakukan ini, belumlah cukup untuk menebus dosa dan kesalahan ayah ibu ku, terhadap bibi dan Siau Sien Ce.."
"Ini hanya lah jasa kecil, untuk sedikit mengurangi dosa ayah ibu ku.."
Hua Sien Ku menghela nafas panjang dan berkata,
"Masalah lalu, biarlah berlalu.."
"Bibi juga sudah melupakan nya, tidak lagi membenci dan menyesali mereka.."
Yu Ming ikut menghela nafas dan mengangguk pelan dengan kepala tertunduk.
Hua Sien Ku tanpa sadar mengulurkan tangannya, membelai kepala Yu Ming, dengan lembut, dan penuh kasih sayang.
Dia sendiri juga tidak tahu kenapa, Dia hanya merasa ada perasaan akrab dan hangat, yang sulit diungkapkan.
Bila dia berdekatan dengan Yu Ming
Mungkin karena sepasang mata Yu Ming yang sangat mirip dengan suaminya.
Mungkin juga karena merasa berhutang Budi pada Yu Ming, yang telah membantu mengembalikan jasad suaminya.
Banyak faktor yang sulit dijelaskan dengan kata kata, dia hanya bisa merasakan begitu saja di hatinya.
Dia sangat ingin menyayangi Yu Ming, seperti dia menyayangi anaknya sendiri.
Hua Sien Ku sambil membelai lembut kepala Yu Ming, dia berkata.
"Ming Er, kamu memang anak yang sangat baik, bibi turut merasa bangga, punya keponakan seperti mu.."
"Ohh ya Ming Er, tidak tahu putri nakal ku ini, pernah merepotkan hal apa pun pada mu.."
"Demi memandang muka bibi, kamu maafkan lah dia, jangan pernah ambil hati dengan nya.."
"Bibi tidak tahu kenapa kamu panggil dia Siau Sien Ce, nama aslinya sebenarnya adalah Hua Sien Ce.."
"Kedepannya, lebih baik kamu panggil seperti itu ke dia.."
Hua Sien Ce dengan wajah cemberut berkata,
"Ya terus aja puji dia setinggi langit, belai aja terus.."
"Orang lain yang melihatnya, pasti akan menduga dia lah putra mu, aku lah anak yang kamu pungut dari tempat sampah."
Sela Hua Sien Ce, dengan wajah cemberut.
Hua Sien Ku menggeleng gelengkan kepalanya dan berkata,
"Ming Er harap jangan ambil hati dengan mulutnya yang setajam silet itu.."
"Bibi lah yang salah terlalu memanjakan nya, sehingga jadi begini.."
Selesai berkata Hua Sien Ku menarik kembali tangannya yang membelai kepala Yu Ming tadi.
Kini sepenuhnya dia menarik Hua Sien Ce kedalam pelukannya dan membelai kepala putrinya, dengan lembut, dan berkata,
"Maafkan ibu nak, karena ibu dan ayah, kamu jadi harus ikut hidup menderita di sini.."
Hua Sien Ce menghapus sisa airmata di wajah ibunya dengan lembut dan berkata,
"Ibu jangan bicara begitu, justru Hua Sien Ce, sangat bangga dan bahagia bisa menjadi anak ibu dan ayah.."
"Di sini setidaknya hidup kita lebih bebas, natural, tidak munafik, didepan saling tersenyum, di belakang saling iri, saling bersaing, saling membenci, bahkan saling tusuk.."
Ucap Hua Sien Ce sambil melirik kearah Yu Ming.
Ucapan Hua Sien Ce yang polos tanpa dia sadari, telah membuat Yu Ming tersenyum pahit.
Ucapan Hua Sien Ce sangat tepat, justru hal itulah yang dia rasakan dan terima sejak kecil.
Meski ayah ibunya termasuk sangat menyayanginya, semua serba kecukupan.
Tapi bila boleh pilih, dia malah lebih suka hidup ditempat seperti ini, dan menjadi putera bibinya ini.