LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT

LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT
WILAYAH BARAT


Singa salju akhirnya di paksa bertekuk lutut oleh Ping Ru Meng .


Ping Ru Meng setelah membuat singa salju jatuh bertekuk lutut dia berkata,


"Singa salju apa kamu masih meneruskan perlawanan mu..?"


"Satu tusukan dari ku, akan segera mengirim mu, menjadi patung es singa singa an.."


"Kamu boleh pilih mau hidup atau mati..?"


Singa salju yang tadinya berusaha meronta dan mengeram, seketika menghentikan gerakannya.


"Apa yang kamu inginkan dari ku..?"


tanya Singa salju yang tiba tiba mampu berbicara seperti manusia.


"Mudah saja, setia lah dengan ku, jadi tunggangan ku.."


"Aku lah tuan mu, mulai saat ini.."


"Bagaimana..?"


Singa salju terdiam sejenak dan akhirnya dia berkata,


"Aku akan ikut dan mendengarkan mu.."


"Tapi mengenai setia dengan mu, menjadi tunggangan mu selamanya aku tidak janji.."


"Bila aku merasa kita tidak sejalan dan tidak cocok, suatu hari aku pasti akan pergi.."


"Aku akan kembali ke kehidupan ku yang bebas.."


"Bila kamu setuju, kita boleh bekerja sama."


"Bila tidak silahkan saja, siapa kuat dia yang ucapan nya di hitung.."


Ucap Singa salju serius.


Ping Ru Meng mempertimbangkan sejenak, ucapan singa salju yang belum sepenuhnya bersedia menjadi bawahannya.


Sesaat kemudian dia baru berkata,


"Baiklah aku setuju dengan persyaratan mu.."


"Sekarang lekas antar aku ke wilayah barat, aku harus menjumpai Mongolana murid Buddha Sakyamuni."


Singa Salju sedikit meragu, mendengar di sebut nya wilayah barat.


Ping Ru Meng menyadarinya, jadi dia langsung berkata,


"Mengapa apa kamu takut..?'


Singa Salju tentu saja tidak terima dirinya di katakan penakut oleh majikan barunya.


Singa Salju langsung mengembangkan sepasang sayapnya lebar lebar dan berkata


"Siapa takut, berpegang lah dengan baik."


"Ayo kita berangkat.."


"Wuttttttt..!!"


"Wuttttttt..!!"


"Wuttttttt..!!"


"Wuttttttt..!!"


Singa salju mengerakkan gerakan sepasang sayap lebarnya, sambil melompat ke udara.


Segera tubuhnya langsung terbang menuju arah matahari tenggelam.


Sebentar saja Singa salju sudah terbang menembus awan dan terus bergerak kearah barat.


Ping Ru Meng memilih untuk memejamkan matanya dan meneruskan pelatihan ilmu pernafasan nya.


Ping Ru Meng sudah merasakan manfaat ilmu barunya.


Dulu dia malas berlatih, selalu mengandalkan Ayahnya juga Yu Ming.


Sehingga saat terjadi sesuatu pada mereka, dia tidak mampu melakukan apapun untuk mereka.


Kini dia sudah di beri kesempatan, dia tidak akan menyia nyiakan waktunya lagi.


Dia harus terus berlatih dan berlatih agar bisa membalas dendam ayahnya, sekaligus bisa membersihkan nama baik suaminya dan segala macam tuduhan keji yang di lepaskan oleh saudaranya Yu Long.


Ping Ru Meng menjadi jauh lebih dewasa sekarang setelah pembelajaran yang di tebusnya dengan harga yang sangat mahal itu.


Perjalanan jauh mereka menjadi tidak terasa, karena Ping Ru Meng menggunakan waktunya untuk di isi dengan berlatih dan berlatih.


Dari kejauhan sana bangunan bangunan kuil di surga barat mulai terlihat.


Semakin lama semakin jelas, hingga akhirnya Singa Salju membawa Ping Ru Meng mendarat di depan halaman bangunan kuil yang paling besar dan megah.


Bila dibandingkan dengan seluruh bangunan kuil yang banyak berdiri di sekitarnya.


Dengan suara tenang dia berkata,


"Maaf area ini adalah area suci, tidak sembarang tamu boleh datang kemari.."


"Harap nona dan hewan buasnya ini bisa segera tinggalkan tempat ini.."


Ucap keempat biksu itu sopan tapi tegas.


Singa Salju hampir saja menyerang mereka, yang dia anggap kurang sopan dan kurang menghargainya.


Tapi dia kepalanya, keburu di tahan oleh remasan lembut tangan Ping Ru Meng, yang membelai rambut halus di kepala nya.


Ping Ru Meng memberi kode agar Singa'Salju bersikap tenang, tidak boleh gegabah.


Ping Ru Meng segera melompat turun dari punggung singa salju.


Dia segera bergerak maju kedepan, memberi salam dengan sikap tangan beranjali.


"Terimakasih atas informasinya, para guru terhormat sekalian.."


"Bila guru guru muda sekalian, tidak merasa repot, saya harap para guru sekalian, bisa tolong membantu saya menyampaikan ke pada guru besar Mongolana.."


"Bahwa saya ada keperluan ingin meminta waktunya sebentar.."


Salah satu dari mereka dengan sikap sopan dan tegas, dengan sikap tangan masih membentuk Anjali di depan dada.


Dia berkata,


"Maaf guru Mongolana, saat ini sedang menutup diri bermeditasi.."


"Beliau tidak bisa di ganggu.."


"Nona silahkan kembali.."


Ucap biksu itu sambil memberi tanda agar Ping Ru Meng segera meninggalkan tempat tersebut.


Ping Ru Meng menghela nafas panjang dan berkata,


"Guru muda sekalian, kedatangan saya ada urusan sangat penting tidak bisa di tunda.."


"Harap berbaik hatilah, tolong sampaikan saja dulu kedalam sana ."


Ucap Ping Ru Meng berusaha bersikap sesabar mungkin.


Karena dia tahu dengan jelas daerah barat dan timur adalah gudangnya dewa berkepandaian tidak terbatas.


Dia tidak boleh bersikap kurang ajar dan gegabah di kedua tempat tersebut.


Tapi biksu itu tetap menggeleng tegas, dan tetap dengan kode tangannya, meminta Ping Ru Meng segera berbalik arah tinggalkan tempat itu.


Sesabar sabarnya Ping Ru Meng akhirnya habis juga kesabaran nya.


Ping Ru Meng berpikir bila hari ini tidak menunjukkan sedikit kemampuan nya.


Maka biksu biksu muda ini, pasti tidak akan bergeming.


Mereka tidak bergeming, artinya perjalanan nya akan sia sia.


Dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan maha guru Mongolana yang di carinya.


Berpikir sampai di sana, Ping Ru Meng akhirnya menghunus Pedang Inti Es Abadi nya di tangan dan berkata,


"Bila seperti itu keputusan guru sekalian, maafkan saya yang bersikap tidak sopan dan menyinggung.."


Selesai berkata, Ping Ru Meng langsung melepaskan tebasan Pedang Inti Es Abadi nya.


Jurus pertama,


"Angin berhembus semua mahluk membeku,..!"


Begitu jurus tersebut di lepaskan serangkum hawa pedang berkilauan, membawa kabut es beku bagaikan awan langsung datang mengurung keempat biksu itu dari 4 penjuru.


Permainan jurus Ping Ru Meng otomatis meningkat, seiring dengan meningkatnya ilmu pernafasan yang terus dia latih.


Sehingga jurus sederhana itu kini tampak semakin berbahaya efek yang di timbulkan nya.


Tapi keempat biksu muda penjaga gerbang juga bukan orang sembarangan.


Dengan menggabungkan kekuatan mereka, mereka segera membentuk sebuah perisai lonceng emas melindungi mereka dari serangan Ping Ru Meng .


"Trangggg...!!!"


Suara gema langsung memenuhi tempat itu, saat hawa pedang membentur Genta emas.


Suara keras itu seperti suara lonceng di pukul dengan kuat, menggunakan benda logam yang sangat keras.


Lonceng emas yang tertutup oleh kabut awan dingin seketika langsung membeku.


Genta emas terlihat diselimuti oleh es tipis.


Melihat serangan pertama nya gagal, Ping Ru Meng langsung melanjutkan dengan serangan jurus kedua nya.


"Kilatan cahaya Hawa Qi beku.."