
Siu Ni yang sepasang matanya tadi tertutup perlahan lahan terbuka kembali.
Dia menatap kearah putranya dengan wajah sayu dan berkata,
"Siao San putra ku yang baik, jangan menangis.."
"Ibu hanya lelah mau tidur, ibu tidak akan pernah pergi meninggalkan mu.."
"Ibu akan selalu ada di sini untuk mu.."
ucap Siu Ni sambil menunjuk kearah dada putranya.
Siao San mengangguk dengan airmata bercucuran berkata,
"Baik ibu, Siao San berjanji tidak akan menangis dan akan jadi anak baik.."
Siu Ni tersenyum dengan bibirnya yang semakin pucat dan kering.
Dia kini menatap kearah A Niu dan istrinya.
"Lan er,..maukah kamu memaafkan kakak, kamu bantu gantikan lah kakak merawat A Niu ke dan Siao San.."
"Kamu mau kan memenuhi permintaan terakhir ku ini..?"
Siu Lan mengangguk cepat dengan airmata bercucuran, hingga jatuh menetes netes.
Dia tidak bisa berkata-kata selain menangis sedih.
Siu Ni menatap kearah A Niu sejenak, lalu dia beralih ke Lu Pai, yang sedang memeluknya dengan airmata bercucuran.
"Pai ke ke ma..ma..maafkan Siu..Siu.."
Ucapan nya belum selesai tangannya yang penuh noda darahnya sendiri.
Belum juga berhasil menggapai wajah suaminya, tangan itu sudah terkulai kebawah.
Sepasang matanya kembali terpejam rapat, kepalanya terkulai kedalam pelukan Lu Pai.
Siu Ni telah pergi, pergi untuk selama lamanya, meninggalkan dunia yang fana dan penuh derita itu.
Lu Pai memeluk tubuh istrinya erat erat, sambil menangis sedih, dia terus bergumam seorang diri.
"Siu Ni,..mengapa kamu begitu bodoh.."
"Segala sesuatu bisa di bicarakan, mengapa... mengapa..? mengapa kamu harus pilih jalan pendek ini.."
"Ahhh Siu Ni istri ku,.. kamu sungguh sungguh bodoh.."
"Siu Ni istri ku..ohh Siu Ni.."
"Hu.hu..hu...hu..!"
"Maafkan aku,.. maafkan kata kata ku sebelumnya, bila itu menyakiti perasaan mu..!"
"Maafkan aku sayang..maafkan aku.."
Ucap Lu Pai penuh kesedihan.
Tidak ada yang tahu, apa yang terjadi,, apa yang di ucapkan oleh Lu Pai, sehingga berakhir menjadi penyesalan seumur hidupnya.
Hanya dia dan Siu Ni yang telah pergi yang tahu persis, apa yang terjadi di antara mereka.
Ping Ru Meng di kejauhan sana sudah tidak dapat menahan diri untuk tidak menangis sedih, dalam pelukan Yu Ming kekasihnya.
Sebelum Siu Ni meninggal, dia sempat meminta Yu Ming, untuk menyelamatkan nyawa Siu Ni.
Tapi Yu Ming menggelengkan kepalanya, Yu Ming meski mampu tapi dia tidak berani melanggar takdir.
Lagipula Yu Ming paham, menghidupkan Siu Ni kembali, hanya akan menambah masalah baru, yang akan berkembang menjadi semakin kacau.
Mungkin kepergian Siu Ni menjalankan takdir hidupnya, yang menyedihkan adalah yang terbaik.
Dari ucapan Siu Ni sebelum meninggal, Yu Ming bisa menarik beberapa kesimpulan.
Siu Ni sebelum menikah dengan Lu Pai, sudah menjadi milik A Niu.
Siu Ni menikahi Lu Pai untuk membantu melunasi hutang keluarganya terhadap keluarga Lu.
Setelah menikah, Siu Ni baru menyadari dirinya telah mengandung putra A Niu.
Dia tidak pernah berani memberitahu A Niu di awal, karena takut terjadi keributan yang akan mencelakai A Niu dan keluarganya.
Dalam perjalanan, dia semakin tidak berani memberitahu siapa pun, selain menelannya sendiri.
Karena A Niu kekasihnya telah menikah dengan adiknya.
Dia tidak ingin menjadi perusak rumah tangga mereka.
Siu Ni yang malang, hidup dalam beban dan tekanan seorang diri.
Hingga masalah timbul, saat putranya di culik, tidak tahu ada pertengkaran hebat apa antara dia dan suaminya.
Di tambah dengan secara kebetulan A Niu lah yang menyelamatkan putranya, bukan Lu Pai suaminya.
Sehingga tragedi berdarah yang menyedihkan ini, akhirnya terjadi.
Yu Ming setelah menenangkan Ping Ru Meng dari kesedihannya, dia menghampiri kepala desa Lu dan berkata,
"Kepala desa Lu, aku turut berduka atas tragedi ini.."
"Tapi ada satu kabar baik untuk anda, dan penduduk desa ini."
"Kedepannya, Siluman Kelelawar Hijau, tidak akan menganggu ketenangan desa ini lagi.."
"Kalian boleh hidup dengan tenang dan bebas kembali.."
Ucap Yu Ming lalu menjura kearah kepala desa Lu.
Setelah itu, dia langsung membalikkan badannya meninggalkan tempat itu.
"Ehhh anak muda tunggu .!"
Ucap kepala desa Lu, sambil menyusul langkah Yu Ming.
"Apa kamu yang telah membantu membasmi Siluman itu, ? dan menolong Siao San..?"
Yu Ming mengangguk pelan, sambil meneruskan langkahnya.
Dia berkata,
"Aku tahu kepala desa Lu pasti ingin membalasnya dengan ungkapan rasa terimakasih.."
"Tapi itu tidak perlu, cukup setiap tahun penduduk sini, bisa naik keatas bukit."
"Membantu ku membersihkan dan merawat pondok dan makam ibu mertua ku, di atas bukit sana."
"Itu sudah merupakan balas Budi terbaik untuk ku.."
Ucap Yu Ming, sebelum dia melesat menghilang dari sana.
Sambil merangkul Ping Ru Meng kekasihnya, mereka berdua langsung menghilang dari hadapan penduduk desa itu.
"Ohh Dewata Agung, terimalah sujud sembah kami semua..!"
Ucap kepala desa Lu sambil berlutut menyembah kearah Yu Ming menghilang tadi.
Istri kepala desa juga ikut menyembah, mengikuti suaminya
Seluruh penduduk desa yang hadir di sana, mereka semua nya juga ikut menyembah mengikuti kepala desa mereka.
Hanya Lu Pai A Niu Siu Lan dan Siao San yang sedang larut dalam kesedihan masing masing, setelah kehilangan Siu Ni.
Mereka tidak ada yang ambil pusing dengan kepergian Yu Ming.
Yu Ming sendiri setelah tiba di dalam pondok, tepat nya di dalam kamar Ping Ru Meng , dia baru menurunkan Ping Ru Meng keatas ranjangnya dengan hati hati.
"Selamat malam, jangan terlalu bersedih lagi.."
"Cepat istirahat, cepat bangun,.. besok kita masih ada pekerjaan lain menunggu.."
Ucap Yu Ming sambil mencium lembut kening kekasihnya.
Setelah itu Yu Ming pun memutar badannya, hendak meninggalkan kamar itu
Tapi tiba tiba tangan nya di tahan oleh Ping Ru Meng,
"Ming ke ke,.. aku sedang tidak ingin sendiri.."
"Maukah Ming ke ke menemani ku tidur malam ini..?'
Ucap Ping Ru Meng sambil menatap kearah Yu Ming, dengan penuh permohonan.
Yu Ming membalas menatap kearah Ping Ru Meng dan berkata,
"Kamu tidak takut aku akan lepas kontrol, menerkam dan memangsa mu.?"
Ping Ru Meng sambil tersenyum menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku tidak takut, dan aku menebak kamu juga tidak akan berani begitu pada ku.."
Yu Ming sambil tersenyum menyeringai, dia duduk di samping ranjang Ping Ru Meng .
Dia mendorong Ping Ru Meng hingga tidur terlentang di bawah, dan dia menindihnya dari atas dengan wajah hampir saling menempel.
"Kamu yakin dan tidak takut aku melakukan nya..?"
Ping Ru Meng sambil tersenyum, malah balas merangkul belakang leher Yu Ming dan berkata,
"Takut apa,? kamu kan suami ku.."
"Bila Ming ke ke tega melakukan nya, lakukan saja.."
"Kita lihat, aku takut atau tidak..?"
Ucap Ping Ru Meng tersenyum menantang.