
Kepala mata mata itu mengangguk cepat dan berkata,
"Baik siap laksanakan Yang Mulia.."
"Hamba pamit permisi dulu."
Selesai berkata, dia segera mengundurkan diri dari ruangan kerja Ping Ru Meng .
Ping Ru Meng sendiri juga segera bergegas meninggalkan ruang kerjanya.
Dia langsung berangkat menuju Ching Ti.
Tidak lama kemudian terlihat Ping Ru Meng sudah mendarat ringan di depan halaman Ching Ti.
Dari depan gerbang pintu gapura, Ping Ru Meng pun berteriak keras dari sana.
"Para tetua sekalian, maaf Ping Ru Meng terpaksa datang menganggu ketenangan kalian semua..!!"
"Ada apa gerangan sehingga kamu datang kemari..!?"
Jawab sebuah suara halus dari balik pintu gapura..
"Para sesepuh yang terhormat, Ping Ru Meng ada suatu yang sangat penting, ingin memohon petunjuk dari para sesepuh..!"
"Harap para sesepuh tidak berkeberatan untuk menerima kunjungan Ping Ru Meng ..!"
"Mohon para sesepuh sudi berikan sedikit petunjuk pada Ping Ru Meng ..!"
"Baiklah kamu tunggu sebentar, biar aku hubungi yang lain dulu.."
Ucap suara lembut itu.
"Terimakasih sesepuh..!"
Ucap Ping Ru Meng sambil menjura penuh hormat.
Setelah itu keadaan di tempat itupun kembali hening.
Tidak lama kemudian kelima sesepuh yang berada di Ching Ti.
Mereka berlima dengan kompak berjalan menghampiri Ping Ru Meng .
"Ping Ru Meng sekarang katakan lah, apa yang ingin kamu ketahui..?"
Ucap salah satu tetua itu dengan suara sabar.
"Begini tetua,.. Ping Ru Meng ingin bertanya sedikit tentang Siluman Rubah Ekor Sembilan.."
"Di mana mahluk itu punya kemampuan membaca pikiran dan perasaan lawan.."
"Apa para tetua ada yang tahu kelemahan mahluk itu, dan cara jitu untuk menahlukkan nya.?"
Kelima tetua itu saling pandang, mereka saling berunding dengan cara berbisik bisik dan saling berdiskusi dengan serius.
Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya tetua yang bersuara halus dan sabar angkat bicara..
"Untuk menahlukkan Siluman itu, bukan tidak ada caranya, tapi untuk menahlukkan nya menjadi sulit.."
"Karena dua hewan yang akan menjadi kunci untuk menahlukkan Siluman itu, tidaklah mudah untuk di dapatkan."
Ping Ru Meng menatap dengan penuh perhatian dan berkata,
"Apapun itu, katakan saja.."
"Ping Ru Meng pasti akan berusaha untuk mendapatkan nya ."
Ucap Ping Ru Meng tegas.
Tetua bersuara halus dan sabar itu menghela nafas panjang dan berkata,
"Di wilayah barat ada seorang Budhisatva murid Buddha bernama Mongolana.."
"Siswa Buddha yang memilki kesaktian tidak berbatas itu, memilki seekor hewan peliharaan bernama Suara emas dari surga barat.."
"Bila kamu bisa meminjam hewan itu darinya, kamu dapat menggunakan nya, untuk memancing Siluman itu menunjukkan dirinya.."
"Berikutnya kamu juga harus menemukan Singa salju, mahluk itu aumannya sangat dahsyat.."
"Dia akan mampu membuat mahluk itu tidak berkutik, saat mendengar suara auman nya itu.."
"Sehingga kamu bisa menangkap nya dengan mudah..'
"Tapi kedua hewan itu adalah binatang ajaib yang sudah mencapai tahap kedewaan.."
"Kamu tidak akan mudah untuk mendapatkan mereka.."
"Semua bergantung pada jodohmu ."
Ucap tetua bersuara sabar itu mengingatkan.
"Terimakasih petunjuknya tetua, Ping Ru Meng akan selalu mengingatnya.."
Tetua bersuara sabar tersenyum sabar, lalu melanjutkan berkata,
"Siluman Rubah Ekor Sembilan itu sangat takut diambil kulitnya untuk di jadikan hiasan.."
"Jadi kamu bisa mengancam nya dengan itu, dia pasti akan bekerja untuk mu.."
"Tapi kamu harus ingat, mahluk itu licik dan tidak punya kesetiaan, jadi janganlah terlalu dekat dengan nya.."
"Manfaatkan saja seperlunya.."
Ucap tetua bersuara sabar itu mengingatkan.
Ping Ru Meng mengangguk patuh, dia lalu menjura dalam dalam kearah kelima tetua itu
Saat Ping Ru Meng mengangkat kepalanya, kelima tetua sudah menghilang dari hadapan nya.
Ping Ru Meng juga ikut membalikkan badannya, lalu melayang meninggalkan tempat.itu.
Ping Ru Meng setelah mengatur segala sesuatu kepada orang orang kepercayaannya.
Dia segera meninggalkan Kerajaan Es Abadi langsung menuju wilayah paling ujung dari selatan.
Di mana untuk menuju wilayah itu, Ping Ru Meng harus melewati telaga biru yang di kelilingi oleh pepohonan Pinus.
Tempat itu pernah menjadi tempat penuh kenangan bagi dirinya dan Yu Ming.
Ping Ru Meng berhenti sejenak di tepi telaga tersebut.
Dia berdiri diam cukup.lama di sana dan terus menghela nafas sedih.
"Entah bagaimana keadaan mu saat ini..?"
"Maafkan aku suami ku.."
gumam Ping Ru Meng pelan penuh nada penyesalan.
Sesaat kemudian Ping Ru Meng baru melayang menuju tempat yang menjadi sumber datangnya air telaga.
Melewati undakan tangga yang menjadi sumber datangnya air telaga.
Ping Ru Meng akhirnya tiba di hadapan sebuah gunung es yang menjulang tinggi menembus langit.
Ping Ru Meng mengamati sebentar, lalu dia mulai melayang ringan keatas, mencoba melewati puncak gunung, yang menghadang perjalanan nya.
Tapi baru setengah jalan, Ping Ru Meng sudah harus menghadapi rintangan hembusan angin yang sangat kuat.
Hal ini membuat nya kesulitan untuk meneruskan perjalanan mendaki gunung es yang ada di hadapannya.
Berulang kali Ping Ru Meng mencoba, tapi hasilnya sama saja, dia selalu terhempas mundur.
Ping Ru Meng akhirnya memutuskan mendaki tebing terjal itu secara manual.
Dengan berlompatan ringan, sambil memegangi tonjolan ataupun cekungan di tebing gunung, yang curam dan terlihat berdiri tegak lurus menjulang keatas.
Sedikit demi sedikit dengan susah payah, sambil berusaha menghindari dan bertahan dari hembusan angin kencang yang mengeluarkan hawa membekukan.
Sedikit demi sedikit Ping Ru Meng terus bergerak naik, hingga akhirnya dia tiba juga di bagian paling puncak yang tertutup awan menembus langit.
Ping Ru Meng akhirnya berhasil mencapai bagian paling puncak yang merupakan sebuah dataran yang tidak begitu luas.
Tapi meski dataran itu tidak luas, tapi angin yang melewati tempat itu sangatlah kencang.
Ping Ru Meng yang berusaha melangkah maju setindak demi setindak, berulang kali selalu terdorong mundur.
Setelah berulang kali maju dan selalu terdorong mundur dan hampir saja di sapu terbang jatuh dari ketinggian tersebut.
Ping Ru Meng mencoba menggunakan pedang Inti Es Abadi untuk di tancapkan ke atas tanah beku di bagian puncak sana .
Setelah itu, dia baru kembali untuk melangkah maju setindak demi setindak.
Selain menggunakan pedang di tancap kan keatas tanah beku untuk membantunya bertahan.
Ping Ru Meng juga menggunakan tangan nya yang lain menciptakan dinding es beku.
Untuk menjadi tembok perisai penghalau angin.
Dengan cara itu, sedikit demi sedikit dia mulai punya harapan untuk terus bergerak maju kedepan.
Mencoba melewati dataran beku di puncak gunung yang tidak begitu luas.
Setelah melalui perjuangan susah payah yang mengurus energi dan pikirannya.
Ping Ru Meng akhirnya sampai juga di penghujung tebing lainnya.
Tapi dia kembali menghadap tantangan baru.