
"Ibu ku hampir mati di serang orang tak di kenal, demi menolong putrinya, yang tidak berguna.."
"Putrinya yang tidak tahu diri dan tidak bisa membantu ibu nya, malah datang kemari menyaksikan.."
"Sudahlah itu sudah tidak penting lagi, lepaskan aku..!"
"Aku mau pulang..!"
Ucap Hua Sien Ku sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Yu Ming.
Tapi Yu Ming tidak bersedia melepaskan nya, dua malah menarik Hua Sien Ku yang sedang meronta ronta kedalam pelukannya dan berkata,
"Ayo aku antar kamu pulang, kita harus menolong bibi.."
"Apapun juga alasannya, aku tidak bisa diam berpangku tangan melihat bibi ku celaka.."
Ucap Yu Ming sudah melesat menghilang dari tempat itu menembus hujan langsung meninggalkan kediaman nya.
Hua Sien Ku sangat kaget, melihat apa yang Yu Ming lakukan.
"Yu Ming Ke ke kamu jangan gila, pesta mu sedang berlangsung, bagaimana kamu bisa pergi begitu saja..!?"
"Bagaimana kamu nanti akan menjelaskan pada Meng cie cie, yang sedang menanti mu di kamar sana..?!"
"Bagaimana kamu nanti akan mempertanggungjawabkan semua nya pada keluarga mu dan keluarga nya..!"
Ucap Hua Sien Ku kaget dan cemas.
"Aku tidak ada waktu pergi jelaskan pada mereka.."
"Keselamatan bibi nomor satu.."
"Aku rasa mereka akan mengerti.."
Ucap Yu Ming dengan suara ragu.
"Sudah kamu jangan banyak bicara lagi.."
"Pejamkan mata mu, aku harus mempercepat pergerakan ku.."
Ucap Yu Ming langsung melesat cepat meninggalkan Nan Thian Men.
Di tempat lain, pelayan yang berjaga di depan pintu, saat payungnya di rebut oleh Yu Ming dan pergi memayungi Hua Sien Ce.
Dia langsung bergegas pergi melaporkan hal itu ke Ping Lian tuannya.
Ping Lian yang sedang duduk di samping suami nya.
Begitu mendapatkan bisikan dari pelayan itu.
Sepasang matanya langsung berbinar, dia segera berjalan meninggalkan Yu Ti.
Langsung pergi menghampiri Ping Sien yang sedang mengobrol dan bersulang dengan tamu tamu yang di kenal nya.
Setelah berada di samping Ping Sien, Ping Lian pun menarik tangan kakak misan nya.
Memberi kode agar kakak misannya, mengikutinya menjauh dari tempat tersebut.
Ping Sien mengerti kode dari Ping Lian adik misan nya itu.
Dia segera pamit permisi dengan teman temannya.
Lalu menyusul kearah Ping Lian pergi.
Ping Lian mencari suatu pojok yang agak jauh dari keramaian, dia di sana menunggu Ping Sien dengan wajah tidak sabaran.
Begitu Ping Sien tiba, dengan tidak sabar Ping Lian berkata,
"Kakak Misan, pelayan ku tadi datang melapor.."
"Dia melihat Yu Ming pergi meninggalkan pesta pernikahan bersama seorang gadis muda.."
"Apa maksud mu..?"
Tanya Ping Sien kurang senang.
Ping Lian mengangkat kedua bahunya dengan sikap cuek dia berkata,
"Aku tidak ada maksud apapun, aku hanya mengatakan fakta saja.."
"Percaya atau tidak terserah kakak misan.."
"Ini urusan keluarga kakak Misan, kakak misan bisa pergi mencari tahunya sendiri.."
Ucap Ping Lian dengan gaya santai, berjalan melewati samping badan kakak misan nya.
Dia sudah kembali duduk di samping Yu Ti.
Seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
Ping Sien sebaliknya dengan wajah menahan kesal dan sepasang tangan terkepal.
Dia langsung bergerak dengan langkah terburu buru meninggalkan tempat acara pesta yang sedang berlangsung.
"Ming Er kamu sebaiknya jangan macam macam dan bisa memberikan jawaban tepat untuk ku.."
"Bola tidak masalah diantara kita tidak akan selesai.."
Ucap Ping Sien penuh nada ancaman.
Sampai di sana dia justru melihat Yu Ming sedang memeluk erat Hua Sien Ce .
Belum sempat dia menegurnya, Yu Ming sudah terbang pergi meninggalkan tempat tersebut sambil merangkul Hua Sien Ce .
Melihat hal itu terjadi di depan matanya, Ping Sien merasa dadanya sesak, hingga mau meledak saking emosinya.
Ping Sien segera melesat melakukan pengejaran, tapi saat keluar dari Nan Thian Men.
Ping Sien kalah cepat, dia sedikit tertinggal sehingga akhirnya dia kehilangan jejak Yu Ming.
Ping Sien segera menghampiri kempat penjaga gerbang yang berjaga di sana dan berkata cepat.
"Apa kalian berempat ada melihat Yu Ming bersama seorang gadis pergi dari sini..?"
Mo Li Qing salah satu dari empat raja langit, segera memberi hormat kearah Ping Sien dan berkata,
"Maaf Yang Mulia raja Ping Sien.."
"Kami hanya melihat dia melesat turun kebawah dari sebelah sana.."
"Sedangkan kemana dia pergi, kami kurang tahu.."
Ucap Mo Li Qing jujur.
"Terimakasih informasinya, kalau begitu aku permisi dulu.."
Ucap Ping Sien sopan lalu dia terus melesat melakukan pengejaran mengikuti petunjuk Mo Li Qing.
Sementara Ping Sien dan Yu Ming sedang saling mengejar dengan cepat menembus langit lapis demi lapis menuju kebawah.
Di tempat lain pertarungan di langit lapis ke 36 mulai memasuki babak baru.
Di mana Hua Sien Ku kini terpaksa membuang sisa potongan selendang yang masih berada di tangan nya.
Selendang yang sudah hampir, tinggal potongan nya, tersisa dalam genggaman tangan Hua Sien Ku akhir nya terpaksa di buang keatas tanah.
Hua Sien Ku dengan setengah terpaksa, akhirnya harus membuang sisa potongan kain selendang, di kedua genggam tangannya.
Setelah itu dia segera mencabut sebuah pedang lentur, untuk melayani permainan pedang sosok bayangan hitam itu.
Sambil menyerang, Hua Sien Ku kembali membentak dengan kesal.
"Siapa kamu sebenarnya, ? diantara kita tidak pernah ada permusuhan.."
"Buat apa kamu harus lakukan hal memaksa begini..!?"
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan..!?"
Bentak Hua Sien Ku penasaran.
Sosok berpakaian hitam itu hanya menanggapi dengan jengekan dingin.
Dia tidak mau bersuara, apalagi menjawab, dia malah mempergencar serangan nya.
Dia kini malah mengeluarkan sebatang pedang yang memancarkan cahaya 9 warna, menyerang ganas kearah Hua Sien Ku.
"Pedang 9 Permata iblis..!!"
Teriak Hua Sien Ku kaget.
"Siapa kamu..!?"
"Kamu iblis Asura kah..!?"
Tanya Hua Sien Ku penasaran.
Sosok berbaju hitam itu mengangguk pelan.
"Tahan...! kamu salah paham..!"
"Cu Kung mu ada di dalam, dia masih hidup..!"
"Cepat hentikan serangan mu..!"
Bentak Hua Sien Ku mengingatkan sambil melompat mundur menjauh.
Siapa sangka ucapan nya, bukan memancing simpati sosok berpakaian hitam itu.
Kini sosok itu malah memainkan jurus pertama Ilmu Golok Tebasan Pemusnah menyerang Hua Sien Ku dengan Pedang 9 Permata iblis di tangannya.
"Singgg...!"
"Duaaar...!"
Hua Hua Sien Ku terlihat terpental tidak kuat menahan serangan ganas itu.
Belum juga Hua Sien Ku, siap.
Tebasan kedua sudah tiba.
"Singgg..!"
"Blaaarrr..!"
Di jurus kedua ini, Hua Sien Ku setelah menangkisnya, dia merasa dada didadanya bergolak hebat.