
Hua Sien Ce menyingsingkan lengan bajunya dan berkata dengan marah,
"Berani sekali lagi kamu bicara sembarangan, lihat bagaimana aku menyiksa mu, dasar ulat bulu pemalas dan manja..!"
Yu Lek meleletkan lidahnya, dia bergerak mundur menjauh setelah tulang keringnya tinggal rasa kesemutan saja.
Tidak lagi terasa kiut miut seperti tadi.
"Sudah katakan saja langsung, apa yang kakak inginkan.."
"Aku biar dengar dari sini."
Ucap Yu Lek cepat.
Hua Sien Ce mengangguk dan berkata,
"Besok kamu pergi temui Yu Long, tantang dia melakukan pertandingan apapun yang kamu bisa.."
"Sebisa mungkin tahan dia bersama mu, aku akan menemanimu di sana.."
Ucap Hua Sien Ce serius.
"Sudah aku duga dari awal, semua masalah ini pasti bermula dari bajingan itu.."
"Baiklah bila melawan dia, aku setuju.."
"Aku akan melawannya habis habisan.."
Ucap Yu Lek bersemangat.
Yu Lek memang sangat membenci Yu Long yang sering meremehkan nya.
Dia tidak akan melepaskan setiap kesempatan, bila bisa mengerjai saudaranya yang songong itu.
Sesuai rencana yang sudah di atur keesokan paginya, Yu Long dan Hua Sien Ce sengaja pergi mengunjungi Yu Long dengan alasan basa basi mengantar Hua Sien Ce berkeliling melihat lihat, sekalian mengunjungi Yu Long untuk lebih akrab.
Yu Long meski kurang percaya dengan niat kedua saudaranya yang datang mengunjunginya.
Tapi sebagai formalitas, karena tidak memahami niat kedua saudaranya ini
Dia terpaksa menerima mereka dengan baik, mengundang mereka untuk sarapan bersama di taman samping rumah nya.
Sambil sarapan Yu Lek pun berkata,
"Kakak Long bagaimana setelah sarapan kita main kartu bersama.."
"Yang kalah hukumannya adalah minum arak.."
"Sebelum mabuk tidak boleh bubar.."
Ucap Yu Lek bersemangat.
Peraturan di langit ada larangan minum arak, jadi para dewa yang minum arak sangatlah jarang.
Kalaupun ada, biasanya dewa dewa itu memilih tidak minum di kahyangan.
Mereka melakukannya di tempat lain di tempat persembunyian mereka di tempat tempat yang sepi.
Jadi sebagai dewa, Yu Long tentu saja termasuk dalam itu, dia tidak pandai minum.
Begitupula dengan Hua Sien Ce, dia juga tidak pandai minum.
Sebenarnya ajakan Yu Lek ini dia ingin menolaknya.
Tapi saat menimbang kesuksesan rencananya, dia mau tidak mau harus menerimanya.
Tidak mungkin dia menolaknya, yang nantinya berkemungkinan mengacaukan rencana Ping Ru Meng .
Berbeda dengan Yu Long dan Hua Sien Ce, Yu Lek yang nakal dan suka melanggar aturan.
Dia justru sangat kuat minumnya, karena dia secara diam diam sering minum dan bersenang senang bersama para pelayan dan dayang dayang di tempat kediamannya.
Jadi terhadap minuman jenis ini,.dia sudah tidak asing.
Bahkan kemampuan minumnya masih di atas Lie Tie Koai, salah satu anggota delapan dewa yang paling hobi minum arak.
Akhirnya dia menerima tantangan Yu Lek makanan di meja segera dia perintahkan untuk di singkirkan.
Setelah meja bersih, Yu Lek mengeluarkan kartu kartu permainannya dari dalam gelang.
Kartu kartu itu ternyata adalah kartu kartu yang terbuat dari kayu hitam berukiran halus.
Di bagian sisi depan ada titik titik bulat, yang terbagi oleh sebuah garis sehingga menjadi dua bagian.
Sedangkan sisi belakang di biarkan mulus.
Kartu kartu kayu yang halus dan potongannya sangat rapi, sehingga bisa di susun menjadi suatu kotak hitam besar persegi panjang itu, terdiri dari dua puluh delapan kartu.
Setelah mengacak ngacaknya diatas meja dalam keadaan tertutup bagian depan nya.
Dengan gerakan cepat tanpa terlihat, Yu Lek segera menyusun kartu kartu itu menjadi tumpukan 3 lapis berbentuk kotak persegi panjang.
Sebelum memulainya dengan lemparan dadu menentukan siapa yang berhak mengambil kartu pertama hingga siapa yang berhak mengambil kartu paling akhir.
Yu Lek segera menjelaskan aturan permainan yang akan mereka bertiga mainkan.
Yu Long yang hati hati agar dia tidak di kerjai oleh aturan buta Yu Lek.
Dia memerintahkan pelayannya untuk mencatat setiap aturan permainan yang di sebutkan oleh Yu Lek.
Setelah mereka semua sepakat untuk memulai permainan, Yu Lek segera memberikan dua butir dadu ke Yu Long untuk di lemparkan ke atas meja.
Yu Long mengikuti saja secara asal melempar kedua dadu itu berputaran di atas meja, sesuai ketentuan yang di gariskan oleh Yu Lek.
Setelah Yu long di lanjutkan dengan Yu Lek, baru Hua Sien Ce .
Yu Long dari lemparan dadu mendapatkan sepasang angka 4, sedangkan Yu Lek mendapatkan sepasang angka 5, Hua Sien Ce dalam lemparan paling akhir mendapatkan angka 5 dan 6 sehingga total skornya adalah 11.
Dia mengalahkan Yu Lek, sehingga dia lah orang pertama yang mengambil kartu, baru di susul dengan Yu Lek dan di akhiri oleh Yu Long.
Permainan pun segera berlangsung, pada putaran pertama Yu Lek kalah, sehingga dia yang menerima hukuman pertama minum arak.
Yu Lek minum dengan santai.
Pada putaran kedua giliran Hua Sien Ce yang terkena hukuman minum arak.
Hua Sien Ce terpaksa minum dengan mimik wajah aneh, menahan rasa pahit getir pedas dan panas dari arak yang memasuki mulut dan tenggorokannya hingga kedalam perutnya pun terasa panas.
Pada putaran ketiga baru giliran Yu Long mencicipi kerasnya arak di hadapannya.
Setelah merasakan arak yang memasuki perutnya, Yu Long yang tidak terbiasa minum seperti hal nya Hua Sien Ce .
Dia langsung merasakan kepalanya terasa ringan dan melayang layang setelah minum arak.
Pada putaran keempat dan kelima, Yu Lek secara licik, diam diam mengajak Hua Sien Ce tukaran kartu, selagi Yu Ling sibuk memperhatikan kartunya.
Hal ini membuat Yu Long selalu kalah dan minum arak.
Semakin banyak arak yang masuk, Yu Long semakin kacau.
Alhasil dia semakin di kerjai oleh Yu Lek untuk terus minum arak.
Wajahnya Yu Long sudah merah padam setelah berulang kali menegak arak hukuman.
Dia masih bertahan belum tumbang, semua hanya karena dia memiliki Hawa Dewa dan Iblis yang sangat kuat dan terlatih.
Hawa hawa ini yang membantunya mempertahankan kesadarannya.
Melihat kesempatan tiba, Hua Sien Ce diam diam melepaskan si suara emas yang di berikan oleh Ping Ru Meng padanya.
Begitu Si jago berbulu emas itu di.lepaskan dan berkeliaran kesana kemari, sambil memperdengarkan suara emasnya.
Hal ini seketika mengundang rasa penasaran rubah ekor sembilan untuk memunculkan kepalanya.
Mengamati suasana di luar sana, karena terlalu antusias dan tertarik melihat si bulu emas.
Rubah ekor sembilan yang cerdik sampai lupa mengamati jalan pikiran Yu Lek dan Hua Sien Ce.