LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT

LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT
18 ARAHAT


Sebuah cahaya laksana kilat petir menyambar kuat kearah Genta emas yang di bekukan.


"Blaaarrr...!"


Bayangan Genta emas yang melindungi keempat biksu meledak hancur berkeping-keping, setelah tersambar cahaya kilat, saat dalam posisi di bekukan.


Alhasil keempat biksu muda, langsung terpental keluar dari formasi pertahanan mereka.


"Brakkkk...!"


Pintu gerbang kuil yang tertutup rapat, di tabrak keempat orang itu, susul menyusul hingga roboh kedalam daun pintunya.


Setelah berhasil menghajar keempat biksu yang menghadang langkah nya.


Ping Ru Meng melanjutkan langkahnya, melewati pintu gerbang, langsung berjalan memasuki halaman bagian dalam kuil tersebut.


Langkah Ping Ru Meng terhenti oleh 8 biksu yang wajahnya jauh lebih senior dari keempat biksu muda tadi.


Mereka menghadang Ping Ru Meng di halaman bagian dalam kuil.


Mereka berdelapan terlihat berdiri gagah dengan sepasang kaki terpentang selebar bahu.


Kedua tangan bersikap anjali di depan dada, wajah mereka ramah tapi tatapan mata mereka tajam dan tegas.


Salah satu dari mereka yang ada titik merah di tengah dahinya berkata,


"Nona muda, keempat adik seperguruan kami benar, Maha Guru Mongolana memang sedang menutup diri.."


"Beliau sedang tidak bisa di ganggu, mohon di mengerti dan segera tinggalkan tempat ini.."


"Jangan menambah dosa tidak perlu.."


Ping Ru Meng membalas penghormatan kedelapan biksu itu dan berkata,


"Aku ada perlu dengan Maha Guru Mongolana, karena ingin meminjam sesuatu darinya.."


"Harap guru guru sekalian mau berbaik hati, menyampaikan pesan ku ini ke beliau ."


"Sebagai murid Buddha yang berhati welas, bukankah sudah seharusnya, selalu mengulurkan tangannya memberikan bantuan pada semua mahluk, saat mereka membutuhkan pertolongan..?'


Biksu yang ada titik merah di dahinya, tersenyum sabar dan berkata,


"Nona benar setengah, kami memang harus selalu mengulurkan tangan untuk membantu.."


"Tapi semua bergantung pada jodoh dan takdir, kami tidak berani memaksa, .."


"Bila anda berjodoh dengan guru kami.."


"Tanpa perlu anda maksa sekalipun, beliau akan keluar sendiri, untuk menemui anda.."


"Seperti saat ini, beliau memilih tetap melanjutkan Siu Lian nya, itu berarti beliau punya pertimbangan khusus, tidak bersedia keluar menemui dan membantu mu.."


"Mungkin saja beliau tahu, bila dia keluar membantu mu, dia justru tidak membantu, malah akan mencelakai dan mendatangkan petaka untuk mu.."


"Kami harap nona bisa mengerti.."


"Biarkanlah semua berjalan sesuai takdir jodoh dan karma masing masing.."


Ucap biksu itu menjelaskan dengan sabar.


Tapi penjelasan itu belum mampu menggoyahkan niat dan tekad Ping Ru Meng .


Ping Ru Meng malah mengeras wajahnya dan berkata,


"Maaf bila seperti itu keputusan kalian, maka hari ini kalianlah yang tidak memberi ku pilihan.."


"Aku akan memukul siapapun yang berani menghalangi ku, hingga beliau keluar memenuhi permohonan ku.."


Biksu yang memilki titik merah di tengah dahinya, tersenyum kecut dan berkata,


"Bila itu keinginan nona, maka kami hanya akan membela diri, hingga Nona puas."


Mereka masing masing langsung bersiaga dengan perisai lonceng berlian menaungi tubuh mereka masing masing.


Warna warni berkilauan terpancar dari bayangan lonceng yang menaungi tubuh mereka berdelapan.


Ping Ru Meng tidak membuang waktu lagi, dia langsung melepaskan tebasan jurus pertamanya.


"Angin musim dingin berhembus semua mahluk membeku.."


Begitu jurus tersebut di lepaskan, delapan sinar berkilauan, membentuk 8 bayangan pedang, menerjang kearah 8 bayangan Genta berlian.


Aura yang membawa hawa dingin membekukan menyusul delapan bayangan pedang, yang melesat menerjang kearah 8 biksu itu.


"Tangggg..!" Tangggg..!"


"Tangggg..!" Tangggg..!"


"Tangggg..!" Tangggg..!"


"Tangggg..!" Tangggg..!"


Sebelum akhirnya suara itu teredam, saat kedelapan Genta berlian di bekukan oleh aura awan dingin, pasca serangan Ping Ru Meng di lepaskan.


Bekuan es yang menyelimuti lonceng berlian semakin lama semakin tebal.


Hingga membuat ke delapan lonceng berlian berubah menjadi batu kristal es beku.


Kedelapan biksu, yang terkurung di dalam nya, di mereka juga ikut mengalami pembekuan, sepasang alis mata mereka yang hitam tebal, kini berubah menjadi putih seperti diselimuti es, begitupula dengan bibir mereka yang terlihat membiru.


Hanya kabut asap tipis yang keluar dari hidung dan mulut mereka, yang menandakan bahwa mereka masih bernafas.


Di tempat lain Ping Ru Meng tanpa menghiraukan kondisi kedelapan orang itu.


Dia sudah kembali melepaskan serangan jurus ketiganya.


"Selaksa Hawa Pedang.."


Begitu jurus tersebut di lepaskan, bayangan pedang yang jumlahnya tidak terhitung, melesat menerjang kedepan.


Di tengah jalan, serangan tersebut baru membelah diri menjadi 8 kelompok, kemudian menerjang deras ke delapan biksu, yang berlindung di dalam Genta cahaya berlian, yang tertutup es tebal.


"Boooommm..! Boooommm..!"


"Boooommm..! Boooommm..!"


"Boooommm..! Boooommm..!"


"Boooommm..! Boooommm..!"


Terjadi 8 kali ledakan beruntun, yang menyebabkan ke delapan bayangan Genta berlian. yang di selimuti es beku, hancur berkeping-keping.


Tubuh kedelapan orang itu terpental mundur kebelakang, mereka masing masing membentuk mudra.


Memunculkan perisai cahaya emas membentuk lambang Swastika.


Menahan terjangan cahaya pedang inti es abadi, yang masih saja terus bergerak mengejar mereka.


Dalam keadaan terjepit dan terdesak, di mana terlihat Ping Ru Meng sudah bersiap melepaskan jurus pedang nya yang lain, dengan kekuatan jauh lebih dahsyat .


Tiba tiba di belakang 8 biksu itu, muncul 10 biksu lainnya.


Mereka kini menjadi berjumlah delapan belas orang.


Diantara 10 orang yang baru muncul, dua di antaranya bergerak kedepan melepaskan dorongan tapak tangan kosong kedepan.


"Rooaaarrrrrrr...!"


"Groowaaarrrrrrr...!"


Terlihat dua bayangan Naga dan Harimau melesat kedepan menerjang kearah Ping Ru Meng .


Dua orang yang baru muncul terakhir, mereka adalah arahat ke 17 Luo Han Penakluk Naga (Luo Han Xiang Lung dan arahat ke 18 Luo Han Penakluk harimau ( Luo Han Xiang Hu ).


Kekuatan serangan mereka langsung menghancurkan serangan bayangan pedang Ping Ru Meng .


Ping Ru Meng menyadari datangnya bahaya, dia buru buru membatalkan jurus serangan.


Menggantinya dengan jurus pertahanan,


"Hawa Es pelindung diri..."


Muncul kabut es yang membentuk awan bergulung gulung melindungi seluruh tubuh Ping Ru Meng .


Sehingga tidak butuh waktu sedetik, sudah tercipta dinding es menghadang serangan Naga dan harimau yang datang.


"Boooommm...!"


"Boooommm...!"


Terjadi dua ledakan dahsyat beruntun saat bayangan Naga dan harimau, yang memancarkan cahaya merah keemasan, membentur, dinding es pelindung diri Ping Ru Meng .


Dinding Es tidak kuat menahan terjangan serangan bayangan harimau dan Naga yang kuat dan ganas.


Ping Ru Meng terpaksa meningkatkan jurus pertahanan nya.


Ping Ru Meng memainkan jurus ke 6 "Lembut mengalahkan keras.."


Telapak tangan kanan yang memegang pedang, membentuk lingkaran pusaran awan dingin.


Dia gunakan untuk menahan serangan Naga.


Sedangkan dari telapak tangan kirinya yang kosong, dia gunakan untuk menyelimuti tubuh harimau yang datang dengan awan beku.


Bayangan Naga dan Harimau terbawa tergulung dalam pusaran pedang dan putaran telapak tangan Ping Ru Meng .


Di bawa berputaran kemudian di retur kembali ke Luo Han Xiang Lung dan Luo Han Xiang Hu.