
"Adik Hua apa kamu masih membenci kakak hingga sekarang..?"
Tanya Yu Ti sambil menatap Hua Sien Ku.
Dia sedikit tidak enak hati dan agak canggung.
Bila bukan karena putri kandungnya ada di sini.
Mungkin diundang sekalipun, dia belum tentu, bersedia datang ketempat yang hanya akan menimbulkan kecanggungan ini.
Hua Sien Ku tersenyum pahit dan berkata,
"Kami yang rendah mana berani.."
"Yang rendah ini, hanya merasa heran saja."
"Dewa Yang berstatus paling Mulia dan bijaksana, sudi datang mengunjungi tempat kotor yang di huni oleh Dewi kelas rendahan seperti kita ini.."
Ucap Hua Sien Ku memberikan sindiran pedas tanpa sungkan.
Meski dia tidak dendam tidak membenci kakak nya, tapi begitu bertemu langsung rasa ketidakpuasan, atas ketidakadilan yang dia alami bersama suami dan putrinya tetap lah ada.
Hua Sien Ce sendiri begitu ibunya muncul, dia sudah mundur bersembunyi di balik punggung ibunya.
Dia tidak berkomentar apapun, hanya berdiri diam menatap Kaisar Langit dan Ratu Langit dengan penuh keheranan.
Wang Mu Niang Niang yang melihat putri kandungnya, menjauhinya.
Dia hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak ingin menahan tangan Hua Sien Ce agar tidak pergi menjauh darinya.
Tapi akal warasnya, berhasil melarangnya, untuk tidak bertindak sembarangan yang akan mengacaukan semuanya.
Akhirnya dengan wajah sedih dan kecewa, dia hanya bisa merelakan Hua Sien Ce mundur kebelakang Hua Sien Ku.
"Kaisar Langit hanya bisa tersenyum pahit, menanggapi sindiran adiknya.
Urusan diri nya, dan adiknya yang rumit, sudah membuat Maha Dewa Agung marah dengan nya.
Tentu saja dia tidak berani, semakin memperumit masalah, yang akan semakin membuat dirinya terpojok di mata para Maha Dewa Agung.
Sambil berusaha bersikap sesabar mungkin Yu Ti menatap kearah Hua Sien Ku dengan serius dan berkata,
"Adik Hua hari ini kami datang tidak ada maksud buruk, kami hanya ingin memberitahu mu suatu kenyataan.."
"Suatu kenyataan yang merupakan sebuah kesalahan fatal yang di lakukan oleh kepala dayang istana kami.."
Hua Sien Ku hanya diam membiarkan kakaknya berbicara dan bercerita.
Dia tidak memotong, hanya mendengarkan semuanya dengan seksama.
Hingga kakak nya sepenuhnya selesai bercerita dia baru berkata,
"Lalu maksud tujuan kalian kemari, adalah ingin membawa pergi putri satu satunya, yang ku besarkan dengan susah payah pergi bersama kalian..?"
"Sedangkan putra kandung ku, kalian jatuhi hukuman dan di kirim ke Utara sana tanpa batas waktu jelas..!"
"Begitu maksud mu..!"
Bentak Hua Sien Ku emosi.
Rasa ketidakpuasan di masa lalu yang bertumpuk tumpuk terpendam selama ini.
Kini kembali meledak tak terkendali, saat mendengarkan penjelasan Yu Ti sampai habis.
"Adik Hua kamu tenanglah dulu, mengenai Ming Er kami juga tidak mau.."
"Itu adalah sebuah keputusan yang juga tidak mudah bagi kami.."
"Kami juga terpaksa memutuskan hal itu, itu adalah dua hal yang berbeda."
Hua Sien Ku mendengus dingin dan berkata,
"Kalian pergilah dari tempat ini, tempat ini tidak menyambut gembira kedatangan kalian.."
"Silahkan aku tidak antar.."
Ucap Hua Sien Ku tegas, lalu dia menarik tangan putrinya yang masih berdiri bengong untuk ikut dengan nya masuk kedalam pondok.
Yu Ti dan Wang Mu Niang Niang saling pandang.
Wang Mu Niang Niang menatap sedih kearah suaminya.
Yu Ti menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kita harus memakluminya, bila kita ada di posisinya, mungkin kita juga akan bersikap sama, atau mungkin lebih dari itu.."
Wang Mu Niang Niang menghela nafas sedih, lalu dia mengangguk pelan.
Kemudian mengikuti suaminya berjalan kembali menuju kereta kencana mereka.
Sambil melangkah menyusul suaminya Wang Mu Niang Niang terlihat berulang kali menoleh kearah pondok sederhana itu dengan hati hancur dan wajah basah airmata.
Hingga tiba di depan kereta, dia menoleh sekali lagi yang terakhir kalinya.
Sesaat kemudian dia menghapus sisa airmata di wajahnya, setelah mengerjakan hati nya, dia pun naik keatas kereta kencana nya.
Tak lama kemudian kereta kencana terlihat dibawa oleh Lung Ma terbang menuju angkasa, menghilang di balik Mega.
Hua Sien Ce yang sedari awal berdiri di belakang Hua Sien Ku ibunya, diam tidak berkata-kata.
Hanya mendengarkan saja, pembicaraan Kaisar Langit dan Ibu yang membesarkannya.
Meski perasaannya sedang kacau balau mendengar tentang masalah jati dirinya yang sebenarnya.
Tapi yang membuatnya cemas dan khawatir bukan hal itu, dia justru khawatir dan cemas dengan nasib Yu Ming.
Setelah mengikuti ibunya masuk kedalam rumah duduk berhadapan dengan ibunya.
Dia saling menatap dengan ibunya yang sedang menatapnya dengan sedih.
Hua Sien Ku perlahan-lahan buka suara dan berkata,
"Hua er bagaimana pikiran dan keputusan mu, atas kabar yang di bawa oleh ayah ibu kandung mu tadi..?'
Hua Sien Ce menyentuh tangan ibunya dengan lembut dan berkata,
"Aku tidak perduli dengan cerita mereka, sial jati diri ku.."
"Hua Er selamanya tetap adalah putrinya ibu, itu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun juga.."
"Kini yang menjadi pemikiran ku justru adalah kondisi Yi Ming ke ke yang sedang menjalani hukuman yang tidak dia buat.."
"Aku yakin Yu Ming ke ke tidak mungkin berbuat seperti itu.."
"Dia juga tidak punya alasan untuk berbuat seperti itu, ini pasti semua jebakan dari Ping Lian dan si bajingan Yu Long itu.."
Ucap Hua Sien Ce kesal.
Hua Sien Ku membalas menggenggam tangan putrinya dengan erat dan berkata,
"Lalu apa yang bisa kita lakukan, ibu tidak punya kekuatan untuk menentang keputusan itu.."
"Ibu juga tidak bisa pergi meninggalkan tempat ini, pergi menjaganya..'
"Ayah mu juga belum pulih, serangan orang baju hitam itu, membuat kepulihan nya terganggu dan kembali lagi ke titik 0.."
Ucap Hua Sien Ku dengan serius.
Dia terlihat bingung harus berbuat apa.
"Ibu bagaimana bila aku saja yang pergi menemani Yu Ming ke ke di sana..?"
Hua Sien Ku memegang tangan putrinya dengan erat dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak nak tempat itu sangat berbahaya, sangat tidak cocok untuk mu.."
"Kamu seorang gadis, kemampuan mu juga terbatas.."
"Yu Ming seluruh kemampuannya terkunci, bila kamu hadir di sana dan terjadi masalah.."
"Itu bukan hanya mencelakai dirimu sendiri, Yu Ming juga akan terbawa celaka.."
"Tidak nak ide itu ibu tidak setuju.."
Ucap Hua Sien Ku tegas.
Hua Sien Ce menatap ibunya dengan wajah memelas dan berkata,
"Tapi Bu, .. aku tidak bisa tenang, bila Yu Ming ke ke menghadapi semua kesulitan itu sendiri.."
"Aku ..aku..."
Ucapan belum selesai.
Airmata Hua Sien Ce sudah meleleh dan dia mulai terisak sedih.