
Tersenyum lembut dan berkata, "Kalau begitu senyumnya untuk mu saja gimana. ?"
"Cuppp..!"
"Ihhh..!"
"Ming ke ke ini..!"
"Apaan sih .!"
"Malu di lihat orang .!"
"Lihat tuh pada ngetawain kita kan..!"
Ucap Ping Ru Meng mendumel sambil mencemberutkan bibirnya.
Dia juga menggunakan tangannya menggosok gosok pipinya yang terlihat merah padam.
Tapi meski mulutnya mengomel, tapi Yu Ming tahu kekasihnya tidak benar benar marah.
Dia hanya malu saja, gengsi mengakui sebenarnya dia lebih senang, ketimbang sebelumnya.
Jadi Yu Ming pilih pura pura tidak mendengarkan omelan kekasihnya.
Sebaliknya dia sengaja mengeratkan pelukannya.
Seperti dugaan nya, Ping Ru Meng tidak menolaknya.
Dia pura pura tidak tahu akan hal itu, dan sudah tidak mengomel lagi.
Bahkan kini terlihat senyum senyum sendiri.
Melihat hal itu, Yu Ming kembali menyandarkan dagunya di pundak kekasihnya.
Setelah menuruni lereng bukit kebun teh dan tanaman sayur sayuran.
Mereka mulai memasuki area perkebunan jagung yang tumbuh subur.
Di sana mereka kembali bertemu beberapa penduduk yang sedang memanen jagung, dan mengemas hasil panen mereka kedalam karung karung besar.
Setelah beberapa saat melewati perkebunan jagung, Yu Ming dan Ping Ru Meng mulai bisa melihat mulut desa yang dengan rumah rumah sederhana penduduk setempat.
Ping Ru Meng membelokkan arah jalan kudanya memutar kesebelah kiri.
"Loh kita tidak melewati desa di depan..?"
Tanya Yu Ming heran.
Ping Ru Meng berkata pelan, Lewat sini lebih cepat, jalannya sepi dan tenang. "
"Kalau melewati desa, kita harus melewati pasar yang ramai, dengan berkuda kurang leluasa.."
Yu Ming mengangguk pelan, tidak membantah lagi, dia mengikuti saja, keputusan kekasihnya.
Sambil menjalankan kudanya, Ping Ru Meng berkata,
"Lagian dengan sikap Ming ke ke yang genit tidak ketulungan itu.."
"Jalanan sepi memang yang paling cocok buat kita.."
Yu Ming sambil menahan senyum berkata,
"Bersama orang genit, malah milih jalan sepi.."
"Apa gak salah..?"
"Atau jangan jangan..."
Ucap Yu Ming sengaja menggantung kata katanya.
Memancing rasa penasaran kekasihnya, benar saja sesuai dugaan Yu Ming.
Ping Ru Meng langsung meresponnya dengan cepat.
Dia langsung menoleh melotot kearah Yu Ming dan berkata,
"Jangan jangan apa..?"
"Ayo katakan, jangan bikin penasaran.."
Yu Ming sambil menahan senyum berkata,
"Jangan jangan kekasih ku minta di geniti dan diterkam.."
Selesai berkata Yu Ming langsung memeluk kekasihnya kemudian pura pura ingin mencium leher dan tengkuk kekasihnya .
"Ihhh lepaskan..!"
"Dasar...jangan geli..!!"
Jerit Ping Ru Meng meronta pelan, sambil menggeliat kan tubuhnya.
Melihat respon kekasihnya, Yu Ming justru sengaja menciuminya.
"Ufffhh..!"
Ping Ru Meng terlihat memejamkan matanya diam pasrah.
Melihat hal ini, Yu Ming malah menghentikan pergerakan nya, dan berusaha menahan tawa.
Ping Ru Meng segera menyadari Yu Ming tidak serius, hanya sedang menggoda nya saja.
Dengan kesal dia segera mendaratkan cubitan keras di paha Yu Ming.
"Dasar nyebelin..!"
"Nih rasakan..!"
"Aduhhh...!"
"Ampunn sakit sayang..,!"
Ringis Yu Ming.
Ucap Ping Ru Meng sambil menahan tawa.
Hatinya puas bisa mengerjai balik Yu Ming.
Mereka berdua terus bercanda dan tertawa, tidak terasa akhirnya mereka tiba juga, di rumah masa kecil Ping Ru Meng, yang di bangun di atas bukit itu.
Suasana di tempat itu terlihat sepi, hanya angin sejuk menyegarkan yang terus menerpa lembut kearah mereka.
Rumah itu kini terlihat tertutup semak belukar yang tinggi tinggi, tidak terurus.
"Di mana letak makam ibu mertua..?"
Tanya Yu Ming pelan.
"Di halaman belakang rumah ku.."
Jawab Ping Ru Meng.
Yu Ming mengangguk dan berkata,
"Aku bantu bersihkan dan rapikan dulu, setelah itu baru kita ke makam ibu mu.."
"Kamu duduk santai aja dulu.."
Ucap Yu Ming sambil melompat turun dari punggung kuda Ping Ru Meng.
"Tidak biar aku ikut membantu mu.."
Ucap Ping Ru Meng sambil ikut melompat turun dari punggung tunggangan nya.
Yu Ming tidak menjawabnya, dia hanya mengeluarkan pedang Xuan Yuan nya.
Pedang Xuan Yuan begitu di lepaskan kedepan oleh Yu Ming, pedang itu langsung membelah diri menjadi ribuan bayangan pedang
Kemudian ribuan bayangan pedang mengikuti arah dorongan kedua jari Yu Ming bergerak menebas semua rumput yang tumbuh di halam rumah sederhana itu.
Ribuan bayangan pedang bekerja dengan sangat cepat, sekejab saja rumput rumput yang tumbuh tinggi hingga menutupi rumah.
Langsung di buat berhamburan di udara, daun rumput pohon semua tertebas bersih.
Setelah semua rumput liar dan tanaman liar habis tertebas, pedang Xuan Yuan terbang kembali kedalam telapak tangan Yu Ming.
Yu Ming menyimpan pedang Xuan Yuan, lalu dengan kedua telapak tangannya yang sarat dengan Hawa Dewa.
Yu Ming menggerak gerakkan kedua telapak tangannya, dua rangkum angin kuat langsung melesat kedepan.
Menyapu bersih rumput, ranting, pohon, dan dedaunan di sekitar sana.
Hingga semuanya terkumpul dalam beberapa tumpukan, yang tersebar di beberapa tempat.
Yu Ming memberikan beberapa pukulan jarak jauh kearah tumpukan rumput ranting dan dedaunan itu
"Wussssh..!"
"Wussssh..!"
"Wussssh..!"
"Wussssh..!"
Api langsung berkobar kobar membakar tumpukan sampah daun dan rumput itu.
Ping Ru Meng hanya berdiri diam di sana, tidak ada yang bisa dia bantu.
Yu Ming sambil tersenyum menoleh kearah kekasih dan berkata,
"Biarkan api membantu kita mengurus sampahnya.."
"Sekarang kita urus rumah mu.."
Ucap Yu Ming sambil melangkah menuju rumah sederhana Ping Ru Meng.
Ping Ru Meng menyusul Yu Ming, saat tiba di depan pintu rumah tersebut.
Yu Ming pun mendorong pintu rumah itu hingga terbuka lebar, di dalam rumah yang tidak terurus itu, terlihat berantakan dan penuh dengan debu.
Yu Ming segera menyingkirkan lengan bajunya, lalu dia dan Ping Ru Meng melangkah masuk kedalam rumah.
Mereka berdua bekerja sama membersihkan dan memperbaiki bagian bagian rumah yang rusak.
Hingga matahari mulai terbenam akhirnya pekerjaan mereka berdua rampung.
Selesai membersihkan diri, mereka berdua duduk santai di halaman depan rumah, sambil menikmati pemandangan langit merah menjelang matahari terbenam sepenuhnya.
"Besok pagi kita baru urus halaman belakang dan membersihkan makam ibu mu.."
Ucap Yu Ming sambil menatap kearah kejauhan sana.
Di mana langit di kala senja, terlihat berwarna lembayung sangat indah mempesona.
Ping Ru Meng juga ikut menatap kearah itu dan berkata,
"Ya kita urus besok saja,.."
"Sekarang kita bersantai dulu, sambil menikmati pemandangan menakjubkan itu.."
"Malam kita baru berkunjung ke desa cari makan dan jalan jalan melihat keramaian.."
Ucap Ping Ru Meng.
"Andaikan boleh memilih, aku lebih suka hidup di sini, seperti ayah dan ibu mertua, sambil membesarkan anak anak kita.."
Ucap Yu Ming sambil menghela nafas berat.
Ping Ru Meng menyentuh tangan kekasihnya dengan lembut dan berkata,
"Tidak perduli harus hidup di mana."
"Harus melewati kesulitan ujian dan cobaan seperti apapun juga.."
"Aku tetap akan selalu setia menemani mu sampai kapan pun juga.."