
Aksi penari itu di tanggapi dingin oleh Siau Sien Ce.
Sedangkan Yu Ming dia terlihat cukup menikmati tarian dari penari itu.
Melihat respon rekannya, yang kelihatannya sangat mengagumi tarian penari itu
Siau Sien Ce hanya mendengus dingin, lalu berbisik pelan pada Yu Ming.
"Kakak, kamu teruskan saja, aku mau cari udara segar di luar.."
Selesai berkata tanpa menunggu respon jawaban dari Yu Ming, Siau Sien Ce segera beranjak dari sana.
Yu Ming menjadi serba salah, satu sisi tidak enak dengan penyelenggara acara, yang khusus menyuguhkan tarian dan makanan untuk menghibur di dan Siau Sien Ce.
Tapi di lain sisi, dia juga tidak enak hati dengan temannya Siau Sien Ce, bila dia membiarkan Siau Sien Ce pergi seorang diri begitu saja.
Rasa setia kawan nya membuat dia merasa bersalah dengan Siau Sien Ce.
Dalam keadaan serba salah, penari di hadapan Yu Ming.
Justru tiba tiba bergerak memutar tubuhnya memunggungi Yu Ming.
Lalu menari nari dengan goyangan tubuh bagian belakang nya menghadap kearah Yu Ming.
Dia mempertontonkan bagian belakang tubuhnya, yang sangat menawan.
Tidak cukup sampai di situ, dia bahkan melakukan gerakan dengan tubuh melengkung kebelakang.
Sehingga dalam posisi menghadap terbalik kearah Yu Ming, penari utama itu.
Melakukan gerakan membantu menuangkan arak ke cawan di hadapan Yu Ming.
Gerakan itu sangat indah memukau, karena dalam posisi seperti itu menuang arak ke dalam cawan kecil, tanpa ada setetes pun arak yang tumpah, itu termasuk hal luar biasa.
Sangat tidak mudah bisa melakukan nya.
Setelah memenuhi cawan penari itu dengan sepasang jemarinya yang lentik, dia membantu menyuguhkan cawan tersebut ke hadapan Yu Ming.
Ini adalah gerakan yang sulit, bila tidak memilki ketrampilan khusus, akan sulit melakukan nya.
Tapi penari itu bisa melakukan nya dengan santai.
Gerakan terbalik dengan tubuh melengkung kebelakang ini, membuat sepasang bukit indah penari itu sedikit terlihat mengintip keluar dari pakaian tipisnya.
Sebuah pemandangan lembah celah sempit yang putih mulus, sebagian terpampang indah.
Cadar penutup wajahnya, sebagian juga ikut tersingkap menampilkan dagu bibir dan hidungnya yang mancung.
Sedangkan dari bagian mata keatas, kini yang justru tertutup cadar tipis.
Yu Ming menerima cawan tersebut dan berkata pelan,
"Terimakasih Ratu Mariam, atas suguhan tarian terbaiknya.."
"Seumur hidup Yu Ming tidak akan pernah lupa dengan arak kehormatan ini.."
"Tapi setelah arak ini, Yu Ming mohon maaf."
"Yu Ming harus sampai kan pada ratu, waktu perpisahan kita telah tiba.."
Ucap Yu Ming sambil menegak arak di dalam cawan, yang berada ditangannya.
Setelah itu Yu Ming langsung menghilang seperti angin, meninggalkan ruangan tersebut.
Tanpa memberikan kesempatan kepada Ratu Mariam, untuk memberikan alasan agar bisa menahan kepergiannya.
Ratu Mariam berusaha bersikap setenang mungkin, setelah membubarkan acara pesta tersebut.
Dimana semua yang hadir di sana telah pergi semua, hanya tersisa dua pelayan setianya, yang berdiri diam di sana menemani nya.
Ratu Mariam dengan wajah sedih dan airmata bercucuran, jatuh terduduk bersimpuh di depan meja Yu Ming tadi berada.
Dia duduk di sana menghadap ke arah meja Yu Ming.
Lalu sang ratu dalam diam, menuang arak memenuhi cawan bekas Yu Ming minum tadi.
Kemudian isi cawan itu dia bawa ke mulutnya, sekali tegak habislah seluruh isi cawan itu.
Ratu Mariam yang tidak pandai minum sedikit mengernyit, menahan rasa nyeri panas membakar di tenggorokan nya.
Tapi rasa nyeri itu tidak mampu mengalahkan rasa perih di hatinya.
Sambil termenung, dia kembali mengisi cawan nya, lalu menghabiskan nya.
Begitu berulang ulang, hingga akhirnya dia terkulai kepalanya bersandaran di atas meja.
Mengoceh menangis dan tertawa sendiri.
Kedua pelayan nya hanya bisa menatap dengan kasihan ke Sang Ratu, tapi mereka sama sekali tidak berani pergi menganggu nya.
Yu Ming sendiri setelah menghilang dari ruangan aula istana.
Dia muncul tepat di samping Siau Sien Ce dan berkata,
"Ayo Siau Sien Ce sudah saat nya kita lanjutkan perjalanan kita.."
Melihat Yu Ming sudah melesat meninggalkan tempat tersebut, terbang keatas awan.
"Kakak tunggu aku..!"
Yu Ming memperlambat pergerakannya, menunggu Siau Sien Ce menyusul nya.
Setelah Siau Sien Ce berhasil menyusulnya, Yu Ming baru mencekal lengan Siau Sien Ce.
Dia membawanya melesat kearah selatan.
Dia sudah mengunjungi daerah timur, membunuh siluman gurita,
Mengunjungi daerah Utara, bertemu dengan Garuda Putih, dan menyelamatkan Siau Sien Ce.
Mengunjungi daerah barat memusnahkan siluman Naga, Phoenix, harimau, kura kura dan Kirin.
Kini hanya tersisa wilayah selatan, yang belum dia kunjungi.
Yu Ming ingin segera menyelesaikan tugas nya di dunia, membasmi siluman di empat penjuru dunia.
Setelah itu dia bisa segera kembali ke kahyangan, untuk memberikan laporan kepada ayahnya, Yu Huang Da Ti.
"Ahhh..!"
teriak Siau Sien Ce kaget, saat dia di bawa terbang secepat kilat menuju wilayah selatan.
Saking cepatnya, dia sampai membuka matanya saja terasa perih dan sulit.
Siau Sien Ce akhirnya terpaksa memejamkan sepasang matanya, membiarkan Yu Ming membawanya kemanapun dia suka.
Yu Ming tidak perlu waktu lama, sudah memasuki wilayah selatan.
Begitu.memasuki Wilayah selatan, Yu Ming langsung mencium bau siluman yang sangat kuat.
Berasal dari hamparan hutan rimbun dan lebat di wilayah selatan tersebut.
Gunung gunung tinggi dan besar di wilayah selatan, menjulang tinggi keangkasa, hingga puncaknya tertutup oleh awan putih dan kabut halimun.
Yu Ming saat memasuki wilayah selatan, cahaya matahari baru saja mulai keluar dari peraduannya.
Udara sejuk wilayah selatan, berhembus menerpa wajah Yu Ming dan Siau Sien Ce.
Siau Sien Ce terlihat masih asyik tidur di pangkal lengan Yu Ming.
Yu Ming tidak membangunkan nya, dia membiarkan Siau Sien Ce untuk bangun sendiri.
Sesuai perkiraan Yu Ming, Siau Sien Ce memang tidak mungkin bisa tidur berlama-lama, setelah sinar mentari pagi.mulai menyoroti wajahnya.
Siau Sien Ce mengerjap ngerjap pelan kedua pelupuk matanya, terganggu oleh silaunya sinar mentari.
Perlahan-lahan sepasang mata Siau Sien Ce pun terbuka dengan sendirinya.
Dia harus sedikit memicingkan matanya, untuk menghindari cahaya menyilaukan yang masuk ke matanya.
"Kita sudah sampai wilayah selatan ya kak..?"
tanya Siau Sien Ce pelan.
"Ehmm..!"
jawab Yu Ming singkat, menanggapi pertanyaan Siau Sien Ce.
Yu Ming terus melayang menuju sebuah Gunung yang terlihat berwarna hitam kelam, bila di lihat dari kejauhan.
"Wah udara di sini sangat sejuk kak, pemandangan nya juga sangat indah.."
ucap Siau Sien Ce yang mulai bisa melihat dengan jelas keadaan di sekitarnya.
Yu Ming melirik kearah temannya dan berkata pelan,
"Siau Sien Ce kita semakin dekat dengan tempat siluman itu berada."
"Kamu harus lebih berhati hati, setelah kita memasuki wilayah gunung, yang berwarna hitam kelam di sebelah sana itu.."
ucap Yu Ming sambil menunjuk kearah sebuah gunung, yang berwarna hitam kelam, menghadap kearah laut luas tak berbatas.
Siau Sien Ce mengangguk paham dan berkata singkat,
"Baik kak.."
Siau Sien Ce tidak banyak bersuara lagi, dia terlihat tegang saat mereka berdua semakin mendekati gunung tinggi berwarna hitam kelam itu.
Setelah mendekat, Siau Sien Ce baru bisa melihat dengan lebih jelas, apa yang menjadi penyebab gunung itu berwarna kehitaman bila di lihat dari kejauhan.
Semua ini terpantul keluar dari dinding tebing batu granit hitam, yang banyak tersebar di wilayah pegunungan itu.
Setelah mencapai kaki gunung, yang di kelilingi oleh hutan lebat.
Di sana terlihat ada beberapa desa kecil, mengelilingi sebuah kota yang cukup besar.
Yu Ming memutuskan tidak banyak mampir, agar tidak menimbulkan banyak urusan tidak perlu.
Dia langsung melayang menghampiri lereng pegunungan yang berudara sejuk itu.
Yu Ming mendeteksi hawa siluman yang sangat kuat, keluar dari balik tebing tinggi, yang selalu tertutupi oleh tirai air terjun.
Di kaki air terjun, Yu Ming melihat sekelompok orang, sedang berkumpul sambil membawa 10 anak kecil, yang terlihat dalam kondisi kaki dan tangan terikat.