Bayi Ceo Tampan

Bayi Ceo Tampan
Membasuh tubuhnya


Setelah mobil keluar dar istana bernett mulai berbicara.


"Candice"


"Iya?"


"Kamu berhutang sebuah hadiah padaku, kapan kamu berikan padaku?"


"Hah, bukankah ulang tahunmu sudah lewat?"


"Kamu kira telah lewat, terus kamu tidak memberikan hadiah padaku?aku beri kamu waktu 1 mimggu untukmu memilih hadiah"


"Kamu kekurangan apa?"


"Kekurangan wanita"


"Kamu....baiklah aku akan memilihkan wanita untukmu, kamu jangan protes" candice kesal.


Percakapan terhenti bernett merasa ngantuk, tubuhnya sedang tidak sehat ditambah tadi minum bir.. ia kemudaian terlelap di kursi mobil.


Pagi hari dia masih demam tinggi , dan masih belum minum obat, pria ini benar- benar tidak bertanggung jawab pada tubuhnya sendiri.


Candice biasanya merawat putranya yang sakit, ia akan mengingatkan minum obat tepat waktu.


Setelah mengendarai selama tigapuluh menit candice tiba di parkiran depan apartement..Ia mematikan mesin mobil, melihat bernett gong masih tertidur di sebelahnya.


Candice turun, membuka pintu sebelah bernett untuk membangunkannya." Hei, bernett bangun, sudah sampai rumah"


Sepasang mata bernett gong terbuka, ia melihat sekeliling, ia merasa sedikit pusing di kepalanya.


"Candice, tolong tuntun aku masuk ke rumah, kepalaku pusing dan badanku lemas"bernett berkata lirih.


Candice memegang dahinya, benar yang ia khatirkan terjadi lagi, pria ini demam lagi..


Tubuh besar bernett merangkul pundak candice dan tangan satunya memeluk pinggangnya.. Mereka berjalan pelan menuju lift...


Nafas candice mulai tidak beratur, pria ini sungguh berat, ditambah tangan pria ini memeluknya..


Sialan.


Candice mulai mengomel di dalam lift."Jelas- jelas kamu masih demam,mengapa kamu masih minum bir?kamu pantas mendapatkannya"


Bernett gong merasa lucu, melihat wanita marah, tangan di pingganggya memijit tubuhnya pelan."Baiklah, aku memang pantas mendapatkan demam lagi"


"Dirumah masih ada obat, nanti kamu harus minum obatnya"


"Baiklah" bernett merasa senang di perhatikan.


Masuk ke rumah candice menuangkan air hangat dan membawa obat ke hadapan bernett yang duduk di sofa ruang tamu."Ceptlah ,kamu minum obatnya"


Bernett mengambil obat dan meminumnya.,


"Bolehkah malam ini kamu menemani aku tidur?" bernett bertanya dengan lirih.


"Tidak boleh, kamu hari ini tidur lebih awal saja"


"Jika malam hari aku demam lagi bagaimana?


kamu tidak mau mengawasiku?


selesai bicara candice berjalan ke kamarnya.


Bernett mengambil remot lampu dan hanya menghidupkan lampu redup di ruang tamu, ia berbaring di sofa.. Ia tertidur.


Di dalam kamar candice malah tidak bisa tidur. Hatinya gelisah dan tidak bisa tenang.Ia teringat putranya kalau demam bisa berulang sampai dua hari, tapi pria itu berulang apa tidak candice tidak tahu ..


Sudah berada di dalam kamar hampir satu jam candice tidak bisa tidur..Ia ingin mengecek bernett,saat keluar kamar ruangan hanya menyisakan lampu redup, ia melihat bayangan bernett tidur di atas sofa..


Candice menyalakan lampu kecil, bernett tidak mengganti pakaian.Ia mendekati tubuhnya wajahnya memerah dan ia tertidur dengan tidak nyaman.


Ia mengambil termometer, ternyata suhunya 39 derajat, ini suhu yang cukup berbahaya..


Candice merasa panik" bernett bangun, kita pergi ke rumah sakit"


Bernett membuka matanya." Tidak pergi"


"Kamu sudah 39 derajat, jangan keras kepala , cepat bangkit" candice kesal, apakah pria ini demam tinggi, jadi otaknya menjadi bodoh?


"Di dalam kotak obat ada alkohol, kamu oleskan saja ke seluruh tubuhku"


Wajah panik candice sudah mulai berkeringat. Disaat seperti ini nyawa orang ini bukan untuk bercanda, ia hanya bisa menuruti mengambil alkohol,ini merupakan alkohol yang di gunakan dokter untuk menurunkan suhu panas.


Candice sudah membawa handuk kecil dan alkohol, ia merasa bingung kalau harus mengusap bukankah harus membuka pakaian bernett.


Bernett merasa kesal melihat wanita ini, dia sudah siap malah diam saja."Sudah zaman apa sekarang,jika kamu adalah dokter dan mendapati pasien pria, maka bukankah pasien pria akan meninggal"


Candice menggigit bibirnya membuka kancing baju bernett, rasa malu dan takut terlukis di wajahnya.


Bernett menyetujui dia membuka bajunya, lalu berkata" masih ada celana"


"Mengusap di tubuh bagian atas sudah cukup"


Bernett mengerutkan alisnya."Apakah kamu tidak tahu, mengusap alkohol harus seluruh tubuh"


Otak candice menjadi kacau, ia membuka celana bernett menurunkan sampai telapak kakinya.


Candice membuang rasa malu mulai menggunakan handuk dan alkohol mengusap leher,dada,perut secara perlahan, namun saat mau mengusap pahanya candice melihat tiang listrik tegak berdiri di bawah perut bernett..


"Hei, kenapa bisa berdiri , apakah kamu berpikir mesum lagi?"candice antara malu dan canggung berdiri."Kamu usap sendiri bagian perut ke bawah aku akan mengambil selimut untukmu"


Candice kabur ke kamar bernett, daripada melihat burung berdiri itu, malunya setengah mati, sekitar sepuluh menit candice keluar dengan membawa selimut..untung saja pria itu sudah berpakaian lengkap.


Ia menyelimuti bernett , dan berjalan ke arah dispenser menuangkan air hangat dan menyuruhnya minum, bernett juga minum langsung kembali memejamkan matanya..Efek obat menjadi mengantuk..


Candice sudah merasa kelelahan ia tertidur duduk di sofa sebelah bernett..


Tengah malam bernett terbangun, melihat wanita tidur terduduk di sebelahnya, ia membuka selimut dan menggendong tubuh candice.


Candice merasa tubuhnya seperti terbang dan mengira ia sedang bermimpi.Bernett membawa ke kamarnya membaringkan candice dan mereka tidur sambil pelukan.


Pagi hari


Candice membuka matanya dan melihat bernett sedang memeluknya, ia tidak menyalahkan mereka tidur bersama, ia menyentuh dahi bernett, ia merasa lega suhu tubuhnya hampir normal..


Ia membuka pelukan bernett secara perlahan dan pergi ke kamarnya sendiri, mungkin bernett kelelahan tidak terbangun saat candice kabur ke kamarnya sendiri..