
Setelah menidurkan bryan , bernett meneamani candice di ruang tamu.
"Bagaimana dengan malam ini?" candice bertanya.
"Kamu ingin tahu, berikan aku sesuatu" bernett tersenyum licik.
Bernett mengetahui candice sangat penasaran dengan pertemuan malam ini, makanya mengambil sedikit keuntungan.
"Kamu ingin apa, kamu mau bilang apa tidak?" candice kesal.
"Cium aku, aku kan membertahumu"
Candice sangat ingin tahu sikap putranya dengan laura bagaimana."Asalkan aku menciummu akan memberitahukanku"
"Ya, mencium pipi tidak di hitung"
Candice mendekat mencium bibir bernett, namun kepalanya di tahan oleh tangan bernett. Ciuman berlangsung selama satu menit.
"Cepat katakan"
"Putra kita tidak menyukai laura"
"Benarkah?anak tidak suka, bagaimana denganmu, apakah suka?"
Bernett tersenyum."Aku menyukai apa yang putraku suka, aku juga benci apa yang putraku benci"
Candice merasa senang mendengar perkataan ini.Hatinya terasa hangat.
Ponsel candice saat ini berbunyi, ia merasa terkejut jam segini siapa yang masih meneleponnya?
Ia mengambil ponselnya, di layar muncul nama alexander pei.
Dia adalah tuan muda kaya waktu di luar negeri , dia adalah keturunan cina dan waktu di luar negeri sudah berusaha mendapatkan hati candice. Sebelum candice pulang dia dan teman- temannya pergi ke antartika,setidaknya butuh waktu setengah tahun baru kembali.
Candice melihat ke arah bernett."Aku akan pergi mengangkat telepon dulu".
Ia berjalan ke arah jendela."Halo"
"Candice kamu benar- benar keterlaluan,pulang ke negaramu tanpa berpamitan,kamu pikir aku tidak dapat menemukanmu?"
Candice merasa cukup lucu."Kamu di antartika, bagaimana aku bisa menghubungimu, apakah di antartika ada signal?"
"Kamu seharusnya memberi pesan pada asistenku, percuma saja kita sudah berteman selama dua tahun, lihat saja besok aku akan menemuimu"
"Apa?Kamu jangan bercanda" candice terkejut
"Aku tidak bercanda,aku sudah membeli tiket malam ini jam 8, besok siang kamu harus mentraktirku makan"
"Hei,kamu benar- benar kembali"
"Aku merindukan bryan,lagipula aku punya waktu senggang, berikan ponsel pada bryan,aku ingin berbicara dengannya"
"Jam segini bryan sudah tidur, kamu benar akan kembali"
"Benar, bibimu juga menitipkan beberapa botol saus yang dia bikin sendiri"
Candice dan bryan sama- sama suka saus sapi bikinin bibi.
"Baik,besok aku akan mentraktirmu makan"
"Baiklah, setengah tahun tidak berjumpa, aku semakin tampan"
"Jangan sombong"
"Tidak percaya,besok kamu bisa jatuh cinta padaku"
"Sudah kukatakan sebelumnya hal ini adalah tidak mungkin"candice berkata dengan tegas.
"Sampai jumpa besok"
"Baik, sampai jumpa besok"
Candice kembali duduk di kursi, ia melihat muka bernett masam."Ada apa?"
"Tadi yang berbicara denganmu, apakah seorang pria?"
"Ya, teman lama"
"Kamu kelihatan bahagia" bernett kelihatan tidak senang.
"Lumayanlah"
"Aku tidak perduli siapa pria itu menjauhlah" bernett memberikan ancaman.
Candice menghela nafas." Dia adalah alexander pei, dia salah satu pelangganku saat di luar negeri,saat bryan berusia satu tahun lebih dia sering membelikan mainan untuk bryan,dia adalah lelaki yang disukai bryan dan bukan lelaki sembarangan."
Bernett semakin masam.
"Bryan menyukainya, bagaimana denganmu?"
"Besok siang antarkan aku menemuinya"
"Untuk apa?"candice merasa bingung.
"Aku ingin mengenalnya"Bernett penasaran dengan orang yang membuat anaknya menyukainya.
Bernett berjalan ke kamarnya dengan muka masam
Candice tertegun, bernett tidak mengenalnya, tidak baik mempertemukan dengannya.
Candice pergi ke kamarnya mandi dan membaca berita.
Jam sebelas candice belum merasa ngantuk, ia tadi siang sudah tidur terlalu lama.Lagipula dia sedang datang bulan, perutnya terasa kram.
Jam 23.30
Pintu kamar candice terbuka,ia melihat bernett berjalan masuk dengan piyama abu- abu." Kenapa kamu belum tidur?"
"Aku ingin tidur disini" Bernett naik ke kasur
dan berbaring di samping candice.
"Hei, kamu ada kamar sendiri,mengapa harus tidur di tempatku"candice berkata dengan sedikit kesal.
"Aku senang tidur denganmu,aku juga tidak menyentuhmu, apa yang kamu takutkan?"
Tangan bernett masuk ke baju candice, candice berfikir bernett akan memegang dadanya, ternyata tangan besar bernett berhenti di perutnya untuk menghangatkan.
"Kamu...kamu seperti ini akan sulit tidur" candice berkata dengan pelan.
"Jangan berisik"bernett menutup matanya.
Candice merasakan rasa kram di perutnya berkurang.Ia juga ikut mememjamkan matanya.
Pagi hari.
Candice membuka matanya, ia melihat wajah tampan sedang memandang wajahnya.
Wajah candice memerah."Kamu kenapa melihatku tidur?"
Bernett tidak menjawabnya malah membuka selimut turun dari ranjang.Ia berjalan ke kamarnya sendiri.
Setelah mandi candice keluar dari kamar, ia melihat bryan sedang bermain di atas sofa ruang tamu dan memberinya kabar baik.
"Bryan, coba tebak siapa yang akan datang melihatmu?"
"Siapa?"
"Kamu tebak dulu"
"Adik, nenek?"
"Bukan, mereka masih belum ada waktu luang, kamu harus bersabar dulu"
"Kalau begitu siapa?coba aku beri tahu sedikit"
"Pinguin"candice memberi kata kunci
"Apakah paman pei?Dia sudah pulang dari antartika, apakah dia membawakan pinguin untukku?" bryan merasa senang.
"Sepertinya tidak membawa pinguin, disini cuacanya tidak cocok, hari ini dia akan kesini"
"Ye, aku sudah lama tidak bertemu dengan paman pei" bryan bersemangat.
"Apa kamu sangat merindukannya?"
"Benar" bryan mengangguk.
Candice juga merasa pasti anaknya merindukannya, mereka sudah berteman lebih dari dua tahun, sifat alexander juga seperti anak kecil cocok dengan bryan.
Bernett keluar dari kamar, ia melihat putranya bahagia, candice sudah memberitahu kedatangan paman pei.
"Ayo sudah waktunya kamu berangkat sekolah, ketika paman pei datang kamu akan melihatnya"
"Mungkin saja dia benar- benar membawakan pinguin untukku"
"Aku akan menanyakannya nanti" kata candice.
Bernett berjalan ke arah anaknya."Aku dengar dari mommymu, kamu mempunyai paman yang ingin melihatmu, benarkah?"
"Iya, namanya paman alexander pei"
"Baiklah, daddy akan meluangkan waktu untuk menyambutnya, karena dia sudah menjaga kalian"
"Ya" bryan merasa senang daddy menyambutnya.