Bayi Ceo Tampan

Bayi Ceo Tampan
Pria yang kasihan


Sore hari jam 16.30 mobil bernett sudah parkir di depan perusahaan candice. Candice masuk ke pintu belakang bernett sedang memegang dokumen di tangannya.


"Jika kamu sibuk,biar aku saja yang menjemput bryan"


Bernett tidak menjawab, hanya menoleh sebentar.


Candice tidak menggganggunya, ia masih kesal dengan masalah tadi siang.


Sampai di sekolah begitu mobil berhenti, si pria kecil sudah berlari dengan tas di punggungnya.


"Mommy, apakah paman pei sudah datang? apakah dia sudah kembali dalam negeri?"


"Huum, dia sudah kembali" candice mengelus putra kecilnya.


"Dia ada dimana?" bryan bertanya dengan semangat.


"Dia sudah kembali ke hotel, apakah kamu ingin bertemu dengannya?"


"Sangat ingin" bryan menganggukkan kepala.


Bernett yang berdiri di belakang ibu dan anak, melihat kerinduan anaknya pada alexander, Bernett merasa sedikit sakit hati, Karena kebahagian sikecil juga kebahagian bernett.


"Malam ini aku telah memesan restoran,kamu bawa pergi bryan bertemu dengannya" kata bernett.


Candice menoleh ke arah bernett, ia mengira pria ini juga ikut."Aku akan kembali ke perusahaaan untuk lembur, setelah kalian selesai aku akan datang menjemput"


"Daddy ayo pergi bersama, aku akan mengenalkanmu dengan paman pei" sikecil memeluk kakinya.


Bryan tidak tahu sang daddy sudah bertemu dengan alexander.Bernett mengelus kepala bryan."Hari ini daddy ada kerjaan, kamu dan mommy saja yang bertemu dengan paman pei"


"Aku pesan restoran sendiri" candice tidak mau merepotkannya.


"Aku sudah pesankan"


Dalam perjalanan ke perushaan gong's corp, candice sudah menelepon alex untuk bertemu di restoran yang telah di pesan.Bernett turun di depan perusahaan."Baik- baik temani bryan bertemu dengannya"


Ini berarti, bernett mengizinkan bertemu hanya demi putranya.


Mereka berdua diantar pengawal ke restoran paling mewah di kota ini.


Kedua orang baru masuk, pria dewasa masuk ke ruangan vip restoran."Halo, teman kecil"


"Paman pei" bryan turun dari kursi minta gendong olehnya.


"Kenapa aku tidak melihat ayah bryan?"


tanya alex


"Dia sedang lembur di perusahaan,tidak datang" candice tersenyum.


"Apa yang dia lakukan? Bahkan malam masih harus bekerja?" alex malah semakin penasaran.


Pada saat ini sikecil menunjuk gedung dan berkata."Paman pei,lihat itu adalah gedung perusahaan daddyku"


Alexander menyipitkan matanya, ia tidak melihat jelas gedung yang ditunjuk sikecil, candice menambahkan kalimat."Gedung yang mirip menara emas itu"


Alex melototkan matanya."Gedung itu adalah milik ayah bryan?Kalau begitu dia adalah?"


"Presdir" candice tidak enak mengatakannya, karena tadi siang alex menebak identitas bernett.


Benar saja alex begitu terkejut, pantas saja restoran yang dipilih begitu mewah.


"Kalau begitu dia pasti sangat kaya raya" alex berkata dengan sembarangan.


Pria kecil tersenyum bahagia."Daddyku sekarang menduduki pria terkaya di dunia"


Di wajah alexander ada perasaan di kalahkan, tidak menyangka pria disamping candice begitu kuat dan berkuasa.Ada perasaan kagum pada bernett dan pria yang mencintai candice adalah orang yang tepat, alex merasa bahagia untuknya.


"Bryan, sudahlah cepat duduk, jangan bicara sembarangan lagi" candice tidak ingin putranya berkata keunggulan bernett, takut membuat alex merasa terpukul.


Alex tersenyum ke arah candice."Kamu khawatir aku merasa terpukul?"


"Kamu juga jangan tersinggung"


"Jujur saja, aku merasa bahagia untukmu dan bryan, setidaknya kamu tidak perlu memusingkan apa- apa lagi" alex mengatakan dengan tulus, di luar negeri, ia merasa kasihan dan ingin melindungi candice dan bryan.


Candice juga tahu alex tulus."Terima kasih"


Selanjutnya alex bercerita petualangan di antartika, bryan dengan semangat mendengarkan ceritanya, sebenarnya candice dan bryan ingin kesana, tapi, apadaya terbentur waktu dan tenaga.


Di kantor gong's corp.


Bella yan mengantar makan malam untuk bernett."Ceo gong ini makanan anda, silahkan dimakan"


Bella melihat sosok bernett kesepian malam ini.Malam ini nona cheng dan bryan pergi kemana, tumben bosnya lembur di perusahaan.


Dada bernett terasa sesak dan sakit, ia memikirkan putranya sedang apa dengan alex dan apa yang dilakukan candice?


Di restoran candice hanya menjadi pendengar bryan dan alex bercerita.


Alex bertanya pada candice."Bagaimana bisa kalian mengenal ayah bryan?"


"Bryan tidak sengaja mengenalnya"


"Coba ceritakan"


Candice tidak merahasiakan masalah ini, ia bercerita semua pada alex.


Jam delapan kurang sedikit candice memanggil pelayan."Mau bayar"


"Nona, makanan anda sudah di bayar"


"Siapa yang bayar?" candice merasa terkejut.


"Sudah dihitung di akun tuan bernett"


Candice melihat ke arah alex." Kalau begitu, ayo pergi"


"Aku membawa mobil, biar aku antar kalian" alex berkata.


"Tidak perlu,mobil bernett seharusnya sudah di bawah" selesai berkata candice menelepon bernett.


"Aku sudah di bawah"


"Baik"


Candice berkata dengan alex."Dia sudah berada di bawah"


Ketika di lift candice memegang tangan bryan,


Begitu melihat mobil ayahnya bryan berlari duluan.


"Daddy" panggil bryan.


Begitu sikecil berlari, alex bertanya pada candice."Apakah sekarang kalian tinggal bersama?"


"Iya" candice menunduk.


Alexander segera mengerti, mereka tinggal bersama, berarti sudah mendekati pernikahan.


"Meskipun aku tidak mendapatkanmu,aku tetap mendoakanmu, semoga kamu selalu bahagia"


Candice cukup terharu, ia tersenyum ke arah alex."Terima kasih, alexander"


Candice dan bryan sudah masuk ke dalam mobil, bernett masih berdiri di luar mobil."Tuan pei,aku sangat berterima kasih atas perhatianmu pada mereka di luar negeri, jika ada kesempatan aku akan membalasmu"


Alex tertegun sebentar."Tidak usah sungkan"


Candice dalam mobil begitu terkejut, jarang sekali bernett berbicara ramah dan lembut pada orang lain.


"Tunggu dulu, ada sesuatu yang ingin aku berikan pada candice" Alex berjalan cepat ke arah mobilny, ia mengabil saus titipan bibi candice.Candice merasa senang dan bahagia memiliki bibi yang perhatian.


Di dalam mobil sikecil bercerita tentang pertemuan dengan paman pei,bernett hanya mendengarkan, candice merasa pasti malam ini suasana hati bernett sedang tidak baik.


Demi kebahagian putranya, bernett mengalah.


"Apakah kamu sudah makan malam?" candice yang perduli bertanya .


"Sudah makan"


"Kamu makan dimana?"


"Di kantor"


"Daddy, kamu sudah makan belum?" sikecil.ikut bertanya.


"Sudah makan"


"Aku juga sudah makan, apakah kamu mau mengelus perutku sebentar" Bryan memajukan sedikit perutnya.


Bernett mengelus sebentar perut buncit bryan dan memuji."Kamu sangat hebat"


"Aku masih bisa makan lebih banyak dan banyak lagi"bryan berkata dengab bangga.


"Malam jangan terlalu kenyang,kekeyangan tidak baik" candice mengingatkan.Putranya diberi sedikit pujian sudah riang sekali.