Bayi Ceo Tampan

Bayi Ceo Tampan
Percaya padanya


Haloo semuanya! terima kasih banyak yang mau baca novel ini.Semoga kalian suka.


Tolong berikan like dan komen.


Terima kasih


"---"


Semangat harry saat ini penuh, mengemudi di temani cewek cantik adalah sebuah kenikmatan.


Candice pergi ke butik untuk memilih gaun untuk menemani bernett menghadiri pernikahan temannya.Karena candice adalah tamu istimewa pelayanannya cukup spesial.


Ia memilih gaun berwarna biru polos, tampilannya elegan dan tidak fulgar.


Sekitar jam lima bernett pergi dari butik, ia memegang tangannya untuk menuju mobilnya.


Candice memiliki rasa aman di genggam olehnya,ini seperti memiliki rasa aman.


Pesta dilaksanakan di hotel bintang 7 di pusat kota dan tamunya begitu ramai.


Membuat orang-orang seperti sedang menghadiri pesta keluarga kerajaan.Orang-orang yang datang kebanyakan dari pemerintah dan kalangan bisnis.


Banyak orang yang memandang kearah sepasang kekasih, bernett sendiri sudah terkenal di kota A, namun orang-orang jarang melihat candice yang sebagai pasangannya.


Namun tidak banyak yang mengetahui status candice yang sebenarnya,mereka menghina wanita yang pernah bercerai.


Candice juga merasakan banyak wanita memandang ke arahnya dan melihat bernett dengan tatapan terpesona.


Namun candice tetap santai menemani bernett menyapa beberapa kenalannya.


Juga banyak pria yang terpikat dengan kecantikan candice dan bertanya putri cantik dari keluarga mana.


Tapi wanita itu adalah pendamping bernett dan tidak berani untuk mendekatinya.


Saat candice ingin pergi ke toilet bernett menunggu agak jauh dari kamar kecil dan hanya menunggu di lorong.


Setelah masuk ke toilet candice melihat wanita yang dikenalnya,dia adalah lauro huo.Lauro berjalan ke luar dari toilet dan pura-pura bertemu dengan bernett.


"Bernett, kebetulan sekali bertemu denganmu disini" padahal lauro sudah melihat bernett saat di aula utama.


Bernett melihatnya dengan datar dan tanpa menjawab.


Laura menampilkan expresi kasihan."Kamu masih marah padaku kah? aku sungguh menyesali perbuatanku yang dulu, aku minta maaf padamu,aku harap kamu tidak perhitungan lagi denganku"


Bernett menyipitkan matanya."Sudah selesai bicara, kah?"


Bernett tidak ingin candice salah paham dengannya, lauro pura-pura keseleo kakinya dan mencoba untuk memeluk tubuh bernett.


Namun bernett dengan sigap berpindah posisi hingga laura hanya bisa memegang dinding.


"Kamu jangan pura-pura lagi"


"Bernett,kakiku keseleo"


Candice bingung dengan wanita yang memanggil bernett dengan namanya, apakah mereka berdua saling mengenal?


"Kenapa?" candice bertanya dengan penasaran.


"Barusan kakiku keseleo" ucap laura


Namun candice tidak memperdulikan masalah kecil ini."Aku sudah lapar, ayo temani aku makan"


Bernett juga tersenyum senang mendapatkan kepercayaannya.


Laura menjadi kesal dan bingung, mengapa candice bahkan tidak meliriknya?


Mengapa wanita itu sekarang penuh dengan toleransi, anggun dan berkharisma?


Saat berjalan candice masih penasaran."Siapa wanita tadi, apakah kalian saling mengenal?"


Bernett baru teringat candice sekarang hilang ingatan."Tidak akrab, wanita tadi menyebalkan"


Candice mengangguk."Aku percaya padamu"


"Selain dirimu tidak ada wanita yang membuatku tertarik"


"Sepengetahuanku masih ada seorang"


"Siapa?" bernett menjadi agak gugup.


Bernett mencubit pelan wajahnya."Kamu masih berani mempermainkanku"


Candice lanjut memegang piring dan memilih makanan kesukaannya, bernett juga mengambil beberapa makanan untuk menemaninya.


Saat harry dan veren tiba di kota seberang sudah jam sembilan malam, harry menginap di hotel bintang lima dan memesan kamar presiden,disana terdapat dua kamar tidur, veren juga tidak menolak.


Veren percaya harry bukanlah pria yang sembarangan.


Mereka makan malam di hotel tersebut, suasana restoran sangat bagus, terdapat lampu kecil diatas kepala mereka dan disekitarnya tampak redup, ini seperti dunia hanya milik mereka berdua.


Veren sesekali memandang wajah harry, saat mata mereka berpapasan veren yang malu akan menundukkan kepala.


Seorang pelayan datang dan berkata dengan ramah."Halo pelanggan, malam ini restoran memiliki kegiatan untuk sepasang kekasih, sepasang kekasih yang datang akan mendapatkan hadiah,silahkan dinikmati" veren terkejut, padahal mereka berdua bukan sepasang kekasih.


Harry takut veren akan membongkar dan mempermalukan dirinya,ia segera berkata.


"Diberi hadiah masih tidak suka? cepat ucapkan terima kasih"


Veren tersenyum,setelah mengucapkan terima kasih, ia membuka hadiah.Isinya adalah mawar kristal,walaupun tidak mahal bagi wanita ini adalah hadiah yang berharga.


"Cantik sekali" veren terlihat bahagia.


Selesai makan mereka menuju kamar presiden suite, Harry memberikan kamar utama untuk veren sedangkan dirinya menggunakan kamar tamu, veren juga mengerti tentang managemen perhotelan,ia dulu sering melayani tamu, ia menikmati angin sepoi-sepoi di balkon hotel.


Harry adalah orang yang cinta kebersihan, setelah masuk ke kamar langsung mandi.Ia mengira veren sudah masuk ke kamarnya dan hanya memakai handuk untuk mengambil air minum di aula.


Veren yang akan masuk ke kamanya, mereka berdua bertemu."Kenapa kamu tidak memakai baju?"


"Kamu balik badan dulu, aku hanya ingin mengambil air minum dan kembali ke kamar" Harry tidak menyangka ini akan mengejutkannya.


Veren juga belum pernah melihat tubuh seorang pria, ia tidak berani untuk menoleh ke belakang.


Harry setelah mengambil air minum menahan tawa."Aku sudah selesai, selamat malam"


Veren dengan cepat kembali ke kamar dan terbayang tubuh harry yang hanya memakai handuk di pinggang, tubuhya bagus dan otot-ototnya terlihat jelas.


Ia segera menghilangkan pikiran liarnya, ia masuk ke kamar mandi dan selesai mandi menikmati malam yang hening,ia memakai jubah mandi dan berjalan ke balkon, saat menikmati keramaian dan keindahan kota, ia mendengar suara yang sexy."Hai.. "


Veren menoleh, ia terkejut melihat harry, ternyata balkon terhubung dengan kamarnya, saat ini harry sedang memakai jubah hitam dan tangannya memegang segelas anggur merah.


Lelaki itu seperti lelaki vampir di film yang bisa saja menerkamnya kapan saja.Jantung veren berdetak sangat kencang,wajahnya perlahan memerah."Aku tidur dulu"


"Jangan pergi, temani aku mengobrol dulu" saat ini harry belum merasa mengantuk.


Veren melihat otot-otot di perutnya, wajahnya memerah sampai ke telinga.


"Ingin ngobrol apa...ngobrol apa?" saat ini veren sudah gugup.


"Hanya ngobrol tentang kehidupanmu yang lama, aku masih belum terlalu mengenalmu, sebelumnya aku pernah mencari di rumah kakekmu, kenapa kamu pindah?"


"Demi memperlancar pekerjaan saja, jadi aku pindah"


"Oh! apa kamu punya kerabat yang lain?"


Veren berpikir sebentar, ia masih memiliki kerabat dekat dan jauh,tapi ia tidak pernah menghubungi mereka."Punya, tapi aku tidak mempunyai kontak mereka"


Harry merasa kasihan dan berempati padanya.


"Kamu tenanglah, di kehidupanmu selanjutnya aku akan bertanggung jawab sampai akhir" harry berkata dengan serius.


Kalimat ini seperti batu besar menimpa hati veren."Tanggungjawab sampai akhir?"


Harry berjalan mendekat kearahnya dan memegang tangannya."Veren, apakah kamu pernah berpikir untuk menikah denganku?"


Veren selama ini tidak pernah membayangkan lelaki setampan dan sekaya harry akan menjadi suaminya, perbedaan mereka bagaikan langit dan bumi.


Tentu saja veren pernah membayangkan tentang masa depannya, ia ingin menikah dengan lekaki yang dicintainya dan memiliki dua anak.


Harry mengerti dengan keraguan veren."Tidak usah buru-buru,kamu bisa pikirkan dulu pelan-pelan"


Veren menghela nafas,lalu mengangguk."Baiklah, aku pertimbangkan dulu"


Veren kembali ke kamarnya dan teringat dengan ucapan harry."Veren, apakah kamu pernah berfikir untuk menikah denganku?"


Hati veren menjadi kacau dan Perlahan-lahan tertidur lelap.