
Haloo semuanya! terima kasih banyak yang mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Terima kasih
"---"
Hari pernikahan candice semakin dekat dan bandara kota A telah kedatangan banyak orang istimewa untuk menghadiri acara pernikahan.
Bernard dan adrian gong juga menerima undangan pernikahan.
Sebagai calon pengantin candice menjadi sedikit panik dan mungkin karena tekanan menjadi gugup.
Bernice kembali ke istana gong setelah nickson kembali ke pangkalan,merawat putri kecilnya bermain bersama dengan beatrix.
Bernett sendiri 3 hari ini sibuk di perusahaan hingga pulang agak terlambat,setelah menikah akan berbulan madu ke luar negeri selama satu minggu dan tidak ingin ada suatu pekerjaan yang mengganggunya.
Di halaman rumput dua gadis kecil bermain dengan gembira, candice dan bernice mengawasi mereka sambil duduk di bawah pohon.
"Kakak, apakah ada yang belum siap?" bernice bertanya.
"Semuanya sudah siap, hanya tinggal menunggu hari pernikahan tiba"
"Apakah kakakmu juga akan datang?"
"Ya, bernett telah menyiapkan ruangan pribadi untuk kakakku, ibuku dan keluarga,mereka tidak akan muncul di hadapan tamu undangan"
"Baguslah kalau begitu, kalau kakakmu muncul akan mencuri perhatian semua orang" bernice tertawa.
"Iya" candice ikut tertawa.
Lagipula candice tidak ingin identitas sebagai anggota keluarga kerajaan terexspos keluar, meskipun ini adalah acara yang penting, namun akan menyebabkan banyak masalah.
Sebagai menantu keluarga gong saja identitasnya sudah terkenal.
Acara pernikahan ini di rahasiakan, namun dua hari yang lalu sebuah surat kabar memberitakan selamat untuk pernikahan bernett.
Saat ini daniel sedang di istana presiden dan mendapat telepon dari ibunya."Halo ma"
"Daniel, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu, kamu masih ingat direktur Yang, kah? kebetulan dia akan menghadiri pernikahan candice,namun sedang tidak enak badan dan mengutus putrinya yang pergi,aku akan meminta candice agar bisa duduk dengan kita"
Alis daniel berkerut, pasti ibunya mempunyai maksud yang lain.
"Baiklah, ibu yang atur saja"
"Daniel, anak ini baru berumur 24 tahun dan lulusan universitas luar negeri, wajahnya juga cantik,nak,kuharap kamu bisa dekat dengan gadis ini" nyonya xi menyiapkan kencan buta untuk anaknya.
Nyonya xi khawatir dengan masalah pernikahan anaknya.
Daniel juga tidak tega menolak niat ibunya.
"Baiklah ma, nanti saat bertemu aku akan pertimbangkan lagi"
"Baguslah, ibu hanya ingin memberitahumu masalah ini" nyonya xi langsung menutup telepon.
Thomas yang berada di sebelah daniel tersenyum."Tuan presiden,apakah ibumu mengatur sebuah kencan buta?"
"Karena dia adalah ibuku, aku akan membuatnya senang" selesai berkata daniel melihat keatas seolah-olah membayangkan wajah seseorang.
Thomas mendesah, sepertinya di hati presiden hanya ada gadis yang telah tiada, di masa depan akan sulit wanita untuk masuk ke dalam hatinya.
"Tuan presiden,apakah kamu sedang memikirkan gadis itu lagi?"
Lagipula jika gadis itu masih hidup akan sangat sulit bersanding dengan tuan presiden.
Daniel mendesah."Aku hanya teringat dia, hal ini tidak boleh di sebutkan di depan orang lain"
"Tenang saja, selain aku tidak ada yang mengetahui masalah ini" thomas menjamin.
Keesokan hari
Para pelayan membawa barang-barang dengan hati-hati tidak menimbulkan kebisingan, mereka tahu saat ini nona masih tidur.
Harry ingin memberikan yang terbaik untuk veren.
Veren di dalam kamarnya baru bangun dan tidak mengetahui harry sudah menyiapkan banyak barang untuknya.
Dua pelayan yang biasa melayani veren membawa sarapan ke balkon yang terkena sinar matahari,veren sendiri suka berjemur di bawah sinar matahari.
Harry muncul dari lorong, walaupun sudah bangun daritadi ia menahan lapar untuk menemani veren sarapan.
"Kau sudah bangun, apakah tidurmu semalam nyenyak?" harry tersenyum.
"Sangat nyenyak, apakah kamu belum makan?"
"Belum, aku menunggumu" Harry duduk di depannya, ia memandang serius wajah cantik di depannya.
Dipandang seperti ini veren menjadi malu, ia mengusap wajahnya dengan pelan."Apakah ada kotoran di wajahku?"
Harry tersenyum lebar."Mengapa kamu berpikir seperti itu? aku memandangmu karena terlalu cantik"
Pengakuan tiba-tiba membuat pipi veren memerah, saat ini sikap harry semakin hangat dan kesan pertama yang jelek telah memudar.
"Aku... darimana aku cantik?" veren merasa tidak percaya diri.
Apalagi menghadapi pria tampan seperti harry, ia terlihat rendah di hadapannya.
"Dilihat dari manapun kamu tetap cantik"
Veren teringat tubuhnya yang pernah dilihat harry saat telanjang, ini membuat wajah dan telinga veren memerah.
"Kamu jangan berfikir sembarangan, wajahmu yang cantik" harry segera menjelaskan.
"Kamu tidak perlu menjelaskan,aku sudah tahu" veren menjadi canggung dan sedikit kesal.
Setelah sarapan selesai harry berkata."Aku tadi pagi sudah menyuruh pelayan membawa gaun dan perhiasan,pilihlah salah satu untuk menghadiri acara pernikahan"
Veren mengangguk."Baiklah"
Saat veren sampai di ruang ganti terkejut, harry menyuruh orang menyiapkan barang sebanyak ini?
"Pilihlah yang kamu sukai, semua ini adalah milikmu" harry tersenyum.
"Terlalu banyak, apakah setelah aku memilih, sisanya bisa dikembalikan?" veren merasa ini berlebihan dan terlalu membuang-buang uang.
Harry mengerutkan alisnya."Tidak bisa, ini semua sudah dibayar, kalau tidak dipakai bisa dimasukkan kedalam lemari terlebih dahulu"
Veren hanya bisa terdiam, pria ini sungguh keras kepala.
Veren juga mengetahui harry sangat mementingkan acara kali ini dan tidak ingin membuatnya malu,ia memilih gaun yang paling disukai untuk pergi ke pesta pernikahan.
Semuanya adalah gaun kualitas bagus, ia memilih gaun yang berwarna cerah, warnanya biru muda di bawah lutut, ini sesuai dengan usianya, tampak muda dan modern.
Veren mengambil dan mencobanya di kamar ganti, saat veren keluar mata harry berbinar, walaupun veren belum memakai riasan sudah sangat cantik dengan wajah polos dan putihnya.
"Sayang sekali, sekarang kakiku masih sakit, aku tidak bisa menggunakan sepatu hak tinggi"
"Tidak apa-apa,kamu bisa menggunakan sepatu flat juga bagus"
"Tapi... aku akan sangat pendek di sebelahmu" veren sedikit protes
"Apa yang kamu cemaskan, aku tidak masalah" veren merasa harry adalah suaminya yang terus mendukungnya, ini membuat veren merasa malu.
Veren segera menundukkan kepalanya dan merapikan baju-baju yang berserakan.
Harry memilihkan satu set perhiasan untuknya, veren juga menyukai pilihan harry.Permata biru yang memukau tampak serasi dengan gaun yang dipakai.
Harry membantu memasangkan sebuah kalung."Aku bantu kamu untuk memakainya"
Veren menaruh rambutnya di satu sisi, harry memakaikan kalung di lehernya, harry menyentuh kulit leher yang putih dan halus, ini membuat hatinya merasa bahagia.